CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

20 Jul 2013

Antara Haji Shaleh, Pesan Muhammad dan Yesus Kristus

Ketika saya sibuk ngubek2 dunia maya sambil nunggu pulang hehehe iseng2 baca dan nemu tulisan "cerdas" ini, yuk simak:


Membaca novel religi “Robohnya Surau Kami” bak membaca perilaku sebagian muslim tanah air. Dengan cerdasnya AA Navis menyentil perilaku sebagian dari kita melalui tokoh fiktif karyanya, H. Saleh sebagai gambaran dari realita kebanyakan umat Islam saat ini.

Digambarkan tokoh H. Saleh ialah tokoh yang religious dalam ritual (baca: Ibadah kepada Tuhan), tetapi kurang religious dalam sosial. Hari-harinya disibukkan dengan shalat, puasa sunnah, wirid dan baca Alquran. Sementara kemiskinan terhampar jelas di sekitarnya. Dan H. Saleh tak peduli dengan semua itu.

Kita akan dengan mudahnya menemukan sosok individu seperti H. Saleh, yang Saleh hanya untuk dirinya tapi tidak untuk orang lain. Bukan tak mungkin H. Saleh adalah saya, anda, atau kita sendiri. Kita yang tekun dalam melaksanakan ritual saleh, tetapi melupakan ritual sosial.

Kita sibuk dengan ibadah kepada Tuhan, tetapi melupakan Ibadah kepada makhluk Tuhan. Kita boleh saja tertalar Alquran, tetapi kita tak mengamalkan nilai-nilai yang dikandung oleh Alquran.

Kita boleh saja “kuat” menahan lapar dan haus di siang hari Ramadhan, namun melupakan makhluk Tuhan yang menjerit kelaparan di waktu yang sama. Malam-malam Raman kita isi dengan tadarus dan tarawih, namun ada hak orang lain yang masih tertahan dalam harta kita.

Tak ada yang melarang kita untuk haji sebanyak puluhan kali dan umrah yang tak terhitung. Namun, jangan lupakan bahwa selain diri kita, masih ada saudara-saudara yang lainnya yang sedang menunggu kuotanya untuk haji pertama kalinya. Jangan sampai kita berbangga dengan surban dan gamis putih serta panggilan haji, namun mirisnya kita berada di tengah-tengah perkampungan yang kumuh.

Ketika agama menyuruh kita bersujud, agama tidak mengajarkan sekedar “tunggang-tungging” belaka. Sesungguhnya Tuhan ingin agar suju tercermin dalam perilaku kita sehari-hari, yakni kerendahan diri. Takkala agama menyuruh kita berpuasa, maka agama tidak sedang mengajarkan kita untuk mengosongkan perut belaka. Sebenarnya agama menyuruh kita agar memiliki rasa keprihatinan terhadap sesama yang kurang mampu.

Seorang Rumi pernah mengatakan, bahwa Tuhan tak akan kalian temui di dalam masjid. Ucapan Rumi ini selaras dengan perkataan Bunda Teresa yang menyatakan “Tuhan hanya bisa ia temui saat mengusap orang-orang yang kelaparan”.

Rumi tidak sedang menggampangkan syariat. Tapi Rumi menekankan agar ada keselarasan antara ritual saleh dengan ritual sosial. Seseorang, apapun agamanya, jangan pernah berharap surga Tuhan, bila ia tak memiliki keseimbangan perilaku, antara saleh dan sosial. Dan AA Navis dengan cerdasnya menangkap pesan moral agama ini, untuk Ia tuangkan ke dalam sebuah novel Religi “Robohnya Surau Kami”.

Bukankah Ali Syariati pada buku Haji-nya pernah berkata, “jika kita mengamati seluruh isi Alquran, niscaya kita akan menemukan bahwa yang terbanyak ialah penekanan pada kemanusian”. Dengan kata yang lain, Syariati menegaskan: Alquran 80 persen-nya berisi ritual sosial.

Lebih jauhnya Rasulullah Muhammad SAW pun menegaskan, “Khairun Nas Anfauhum Lin Nas”. Manusia yang terbaik ialah yang paling memberi manfaat kepada manusia lainnya. Demikian pula dengan Yesus yang menegaskan bahwa ajaran ke dua yang paling utama yaitu menebar kasih kepada seluruh umat manusia.

Dalam salah satu hadis-nya, Rassul pernah memberi isyarat kepada umat yang hendak bertemu dengan Tuhan. Hendaknya temui Tuhan dalam laparnya orang-orang yang kelaparan dan rintihan kaum-kaum mustad’afin. Kira-kira demikian.

Senada dengan pesan yang diterima oleh Yesus dalam Matius; Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Jadi, sudahkah kita memberi manfaat kepada sesama makhluk Tuhan? Sudahkah ibadah kita berdampak sosial? Apapun manfaatnya, baik lidah, tangan maupun tindakan. Sehingga Nabi SAW dalam satu hadistnya pernah menegaskan: “Tidak akan masuk surga orang yang tidur nyenyak sementara tetangganya kelaparan di tengah malam”. Sudahkan anda memberi manfaat?

Gitu aja koq repot!

Sumber:
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: