CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

28 Agu 2014

Renungan Untuk ISIS dan Simpatisannya



Untuk para pendukung daulah islam irak dan syam(isis) yang sekarang menjadi IS(islamic state) karena ingin menerapkan di seluruh wilayah, coba jawab pertanyaan ini, pertanyaan ini penting mengingat perlunya diuji kelayakan seorang khalifah
Tentang Al-Baghdadi,

1. Lulusan Ma'had/Hauzah/Universitas mana ??
2. Ulama mana saja yg pernah jadi gurunya dan dari mazhab apa saja?? 
3. Sudah berapa juz Qur'an yg dia hafal ??
4. Berapa hadits beserta sanad dan takhrij yg dia hafal ??
5. Bagaimana penguasaannya soal fiqh antar mazhab islam ??
6. Berapa kitab Tafsir yg sudah dia hasilkan ??
7. Berapa kitab Fatwa yg sudah dia hasilkan dan bisa didapat dimana ??
8. Berapa kitab Tarikh yg dia kuasai ?? 
9. Seberapa besar penguasaannya soal Qur'an, Sunnah, Ijma', Ijtihad dan Qiyas ??
10. Seberapa besar penguasaannya soal Fiqh, Politik dan Akhlaq ?? 
11. Di Ma'had/Pesantren mana saja dia pernah mengajar ?? 
12. Bagaimana sejarah keulamaan keluarganya ??
13. Karya-karya apa saja yg pernah dihasilkannya dan keluarganya terutama ayah, kakek dan saudaranya dalam islam ??
14. Lembaga nasab/Rabithah mana yang sudah mengesahkan nasabnya sebagai seorang Sayyid (Dzurriyat Nabi) ??
15. Siapa saja ulama yang telah membaiat dia sebagai Amirul Mu'minin, siapa yg bermusyawarah dan dari mazhab mana saja ulama-ulama tersebut ??
16. Sebelum dia dibaiat oleh pengikutnya, apa pekerjaan dia ??
17. Apa dia punya keahlian lain selain mengkafirkan, memenggal kepala dan mengebom makam para Nabi dan Wali ??

semoga para simpatisan ISIS segera menyadari bahwa mereka selama ini hanya taqlid buta dan ikut-ikutan membaiat manusia antah-berantah sebagai Amirul Mu'minin. 

Padahal di dalam Qur'an, Allah SWT telah berfirman “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(QS Al-Israa: 36)

Tidak sepantasnya seorang muslim membaiat Khalifah seperti membeli kucing dalam karung. Membaiat seorang pemimpin yang tidak ia ketahui secara mendalam asal-usul dan rekam jejaknya. Apalagi ini pemimpin bagi 2 Milyar lebih umat Islam di seluruh dunia.


Dikutip dari FB Fadhil Rumi

Sejarah dan Kisah Logo Tauhid dalam Khilafah Islam



Kala Islam mulai menyebar begitu pula kebutuhan Nabi (ﷺ) untuk memiliki beberapa bentuk dialog dengan penguasa asing dan raja, ini dilakukan dalam bentuk surat. Nabi (ﷺ) diberitahu bahwa raja-raja asing hanya akan menerima surat yang disegel, sehingga Nabi (ﷺ) membuat cincin perak yang dengannya nabi (ﷺ) menyegel surat. Hal ini dilakukan sekitar tahun ke 7 Hijrah.

Cincin itu terukir dengan tulisan 'Muhammad' di bagian bawah, 'Rasulullah' di tengah dan 'Allāh' di bagian paling atas. Jadi Anda membacanya dari bawah ke atas, hal ini dilakukan sedemikian rupa karena adab, tak akan mungkin nabi untuk menuliskan namanya di atas nama Tuhannya.

Cincin ini kemudian diteruskan dan dikenakan oleh Sayyidina Abu Bakar ketika jadi khalifah, oleh beliau cincin nya dipercayakan untuk di pegang oleh sahabat Mu'ayqīb RA untuk menyimpannya. Dia menjaga cincin atas nama khalifah berturut-turut, hanya ketika mereka membutuhkan untuk menutup surat mereka cincin itu diminta, mesti Kadang mereka akan mengambilnya dari dia dan memakainya untuk barokah. 
Pada satu kesempatan Sayyidina Usman (waktu jadi khalifah) meminjam cincin tsb, dan secara tidak sengaja menjatuhkan dalam sumur Aris, dekat Masjid Qubā' - meskipun Beliau sendiri bersama teman turun kedalam sumur ikut mencari selama tiga hari tiga malam hingga sumur itu kering cincin tsb tetap hilang dan tak pernah di temukan lagi..
ini terjadi pada tahun ke-6 dari kekhalifahan sayyidina Usman bin Affan RA

Banyak ulama besar telah menunjukkan bagaimana setelah hilangnya cincin Nabi (ﷺ) ini paruh kedua pemerintahan kekhalifahan Sayyidina Usman mengalami keguncangan, menandakan era eskalasi parah berupa pengkhianatan dan ketidakharmonisan yang berakhir tragis....

*catatan samping: akhir-akhir ini karena semakin banyak orang telah membuat klaim tidak masuk akal dan seram untuk Khilafah, (contoh,ISIS dan Boko Haram) segel Nabi kembali di terbitkan dan telah menjadi identik dengan hal-hal yang tak pernah dilakukan Nabi (ﷺ).. 
Kemurnian ajaran Nabi kita (ﷺ) telah dicampur dengan vulgar (kasar,cabul, dan tak berakhlak) oleh orang-orang ini; ini adalah mengapa begitu banyak dari ulama kita dari semua sisi telah mengutuk mereka.

اللَّهُمَّ ياربَّ سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ و آلِ سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ ، أَسْأَلُكَ بِحَقِّ سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ أَنْ تُصَلِّيَ على سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ و أَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْنا سيِّدَنا محمَّداً ﷺ و أَنْ تُحَبِّبَنا إِلى سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ و أَنْ تُخَلِّقَنا بِأَخْلاقِ سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ و أَنْ تَرْزُقَنا المُتابِعَةَ لِسيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ و أَنْ تَرْفَعَ الحِجَابَ بَيْنَنا وَبَيْنَ سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ و أَنْ تَجْمَعَ بَيْنَنَا وَبْينَ سيِّدِنا محمَّدٍ ﷺ فِي الأوَّلِ وَالآخِرِ وَالظَّاهِرِ وَالباطِنِ والسِّرِّ والعَلانِيَةِ واليَقَظَةِ والمَنَام والحَيَاةِ والمَمَاتِ فِي الدُّنْيا والآخِرَةِ فِي لُطْفٍ وَعافِيَةٍ

Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad ﷺ dan Tuhan dari keluarga Nabi Muhammad ﷺ Aku memohon Pada Mu dengan hak Nabi Muhammad ﷺ limpahkan Sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ Cintailah Nabi Muhammad ﷺ dan membuat kami dicintai Nabi Muhammad ﷺ dan untuk memberkati kami dengan akhlak yang mulia dari Nabi Muhammad ﷺ dan memungkinkan kami untuk mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dan menghapus tabir antara kami dan Nabi Muhammad saw ﷺ dan membawa kami bersama-sama dengan Guru kami Sayyidina Muhammad ﷺ di awal dan di akhir, lahir dan batin, secara rahasia dan di depan umum, dalam keadaan terjaga dan dalam mimpi kami, dalam hidup dan mati, dalam kehidupan ini dan berikutnya dengan mudah dan kesejahteraan.
Aamiin..Allhumma Aamiin..

(Sholawat yang diajarkan oleh Al Imam Al Habib Ahmad Bin Hasan Al Attas)

dikutip dari FB Habib Adeng Fadaq

27 Agu 2014

Ketika Habib Munzir Al-Musawwa Menangis Menyampaikan Tausiyah, Orang Yang Paling Mencintai Allah SWT



Sulthonul Qulub Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa Alaihi Rahmatullah ,Saat menyampaikan Tausiyah ini beliau menangis.

Orang yang paling mencintai Allah, Nabiyyuna Muhammad Saw.

Rahmatan Lil Alamin, Muhammad Rasulullah. Orang yang paling tidak tega melihat umatnya padahal beliau paling benci dengan dosa. Kalau diseluruh dunia ini manusia benci dengan dosa, yang paling benci dengan dosa adalah Nabi Muhammad Saw. Paling benci dengan maksiat tapi beliau juga yang paling perduli kepada para

pendosa. Tidak ada yang lebih perduli terhadap para pendosa dari manusia melebihi Nabiyyuna Muhammad Saw.

Ketika umatnya berdatangan dan mereka dihalau dari Sang Nabi Saw, seraya berkata “kenapa mereka dihalau?”, “ya Rasulullah mereka berubah, berbuat dosa setelah kau wafat”. Maka Rasul saw berkata “biarkan mereka pergi..,kemanapun mereka mau pergi, silahkan!! Celaka orang yang berubah setelah aku wafat”.

Maka umatnya mencari syafa’at kepada Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan semua Nabi menolak.
Kembali lagi kepada Nabi Muhammad saw dan beliau tidak tega. Tadi beliau sudah mengusir tapi ketika mereka kembali karena tertolak oleh semua orang, muncul sifat tidak tega beliau. Beliau berkata Ana Lahaa ( akulah yg akan membantu masalah kalian ) ini para pendosa, tidak ada lagi yang mau membela di hadapan Allah, tidak ayahnya, tidak ibunya, tidak kekasihnya, tidak keluarganya”. Siapa berani membela pendosa? bayarannya adalah api neraka.

Maka Beliau saw pun datang Kehadirat Allah dan bersujud “wahai Allah umatku. umatku..”, Allah berikan syafa’at bagimu wahai Muhammad, beri syafa’at orang yang akan kau beri syafa’at.
Kemudian Hb Munzir Al Musawa terdiam sesaat dan mengalirkan airmata dan kehilangan kata kata ketika tausiyahnya.

Hadirin hadirat saya tidak perlu berpanjang lebar atas kasih sayang Nabi Muhammad Saw terhadap kita. Renungkan betapa indahnya idola kita, budi pekertinya dan beliau itu ciptaan Allah yang terindah.
سبحانالله


Sumber : 
Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fath Al Baari bisyarh Shahih Al Bukhari

25 Agu 2014

Ketika Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi RA Sakit Menjelang Ajal



Ketika Sultan Sholahuddin Al Ayyubi (RA) sakit menjelang ajalnya, seseorang berkata padanya, "duhai al ayyubi, anda adalah pahlawan besar dalam islam, pahlawan yang tegak di jalan Allah, tak terhitung betapa banyak pertempuran yang anda ikuti, betapa banyak musuh yang anda taklukkan, sayang sekali anda tidak ditakdirkan untuk syahid di medan juang"..

Al Ayyubi berkata: "sepanjang hidup, aku selalu punya keinginan dan kerinduan yang dalam untuk bisa syahid di jalan Allah... Tapi tahukah anda, tak ada musuh yang sanggup menyentuhkan pedangnya pada leherku"..

Mengapa? Pada waktu aku masih kecil, aku pernah di ajak ayahku pergi menemui sultan auliya, syekh Abdulqadir al jailani..tangan mulia dan penuh berkah beliau memeluk dan berulang kali mengusap leherku.. Setelah itu Bagaimana mungkin tangan tangan musuhku mampu menyentuh leherku???"..

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَالأَصْحَاب،
صَلاةً وَسَلامًا تَرْفَعُ بِهِمَا بَيْني و بَيْنَهُ الحِجَاب، وَتُدْخِلُنِي بِهِمَا عَلَيْهِ مِنْ أَوْسَعِ بَاب، وَتَسْقِينِي بِهِمَا
بِيْدِهِ الشَّرِيفَةِ أَعْذَبَ الْكُؤُوسِ مِنْ أَحْلَى شَرَاب

dikutip dari FB Habib Adeng Fadaq

21 Agu 2014

Kewalian Diseburuknya Tempat



Konon ada seorang wali kekasih Allah, sebut saja namanya Syeikh Habiburrahman. Beliau termasuk wali yang diberi keistimewaan dapat mengetahui derajat kewalian yang diberikan oleh Allah kepada orang lain. Anehnya salah satu cara kemampuan Syeikh Habiburrahman dalam mendeteksi kewalian orang lain itu dengan ketajaman penciumannya.

Syeikh Habiburrahman ini juga mempunyai kebiasaan senang keliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Beliau melakukannya itu dengan tujuan untuk bertafakkur, memikir-mikir tentang lika-liku alam semesta ciptaan Allah SWT. Sebagaimana hal itu diperintahkan, 
Tafakkaru fi aalaaillaahi walaa tatafakkaruu fii dzaatillaahi
Berfikir/pelajarilah tentang alam semesta ciptaan Allah itu, dan jangan kalian berpikir tentang hakikat Dzat Allah.

Orang yang rajin mempelajari alam semesta, maka akan menimbulkan daya keimanan yang sangat dalam kepada Allah, sebaliknya orang yang selalu memikirkan hakikat Dzat Allah, jika tidak pandai mengatur pikirannya dengan ilmu Tauhid yang memadai, maka rawan terjerumus ke dalam kesesatan beraqidah.

Dalam sebuah perjalanan, Syeikh Habiburrahman melewati sebuah pasar tradisional di suatu dusun yang cukup ramai. Syeikh Habiburrahman pun berusaha memperhatikan kehidupan masyarakat yang komplek dengan segala aktifitasnya di pasar itu. tentunya ada yang positif namun ada juga yang negatif.

Maklumlah kehidupan di pasar, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW : 
Khairu biqaa’il ardli masaajiduha wa syarru biqaa’il ardli aswaaquha 
Sebaik-baik tempat di muka bumi itu adalah masjid dan seburuk-buruk tempat di muka bumi itu adalah pasar. 

Namun, dalam hiruk-pikuk keramaian pasar yang dicermati oleh Syeikh Habiburrahman, ternyata ada satu kejanggalan yang saat itu hanya beliau saja yang dapat mengetahuinya.
Konon Syeikh Habiburrahman mencium aroma harumnya kewalian yang terpancar dari tengah-tengah pasar itu. Tentu saja hati beliau tak kuat menahan keingintahuannya, kira-kira berasal dari mana bau harum kewalian yang terus menggelitik penciuman tajam beliau itu.

Maka beliau memutuskan untuk mencari sumber keharuman tersebut, hingga beliau memasuki pasar dengan penuh selidik. Semakin beliau masuk ke dalam pasar, semakin jelas saja bau harum kewalian yang menusuk hidungnya, hal itu mendorong semakin besar keingintahuannya itu.
Hingga sampailah beliau ke sebuah toko kecil berada tepat di tengah-tengah pasar yang benar-benar menjadi sentral kehidupan pasar itu. Toko yang beliau temui itu menjual bumbu masak mentah, semacam merica, garam, gula, bawang, terasi, petis, jahe, kunyit dan sejumlah bumbu dapur lainnya.

Sedangkan pemiliknya adalah seorang ibu tua yang layak disebut nenek-nenek. Kondisi toko milik si nenek itupun tidak bisa dikatakan laris, namun tidak dapat pula dikatakan tidak laku. Tapi yang terjadi adalah terkadang ada pembeli yang datang, dan sesaat kemudian kosong tanpa pembeli. Demikian dan seterusnya.

Syeikh Habiburrahman terus memperhatikan situasi toko ini dengan sedikit bertanya-tanya dalam hati, mengapa beliau justru mencium bau harum kewalian yang menusuk penciumannya itu bersumber dari toko milik nenek ini?
Maka Syeikh Habiburrahman berusaha mendekati toko itu dengan mencari posisi sekira nenek pemilik toko itu tidak memperhatikan keberadaan dirinya. Hingga akhirnya Syeikh Habiburrahman mengetahui bahwa di tangan nenek ini tergenggam sebuah tasbih kecil. Di saat tokonya luang tidak ada pembeli, maka lisan nenek ini terus membaca sesuatu dan memutar tasbihnya, dan tatkala ada pembeli datang, maka tasbih pun diletakkan pada paku gantungan yang menempel di dinding toko. Rupanya demikianlan yang selalu dilakukan oleh nenek pemilik toko bumbu masak ini.
Setelah itu, Syeikh Habiburrahman memberanikan diri mendatangi nenek itu, hingga beliau berhasil menanyakan bacaan apa yang selalu menghiasi lisan nenek itu tatkala menunggu pembeli datang. Maka terkuaklah bahwa nenek ini sudah sejak masa mudanya berjualan di pasar, dan sejak menjaga toko itu pula selalu bershalawat kepada Nabi SAW sambil menunggu pelanggan yang datang.

Katanya, konon nenek ini di masa mudanya pernah mengikuti pengajian yang diasuh seorang ulama, dan ia mendapatkan motifasi agar di saat-saat luang, dimana saja berada, hendaklah selalu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai ungkapan rasa cinta kepada beliau SAW.

Maka sejak itu pula nenek ini tidak pernah meluangkan waktu kecuali selalu bershalawat kepada Nabi SAW, tanpa pernah mengetahui apa yang hakikatnya sedang terjadi pada dirinya.

Syeikh Habiburrahman pun memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan dengan nenek ini, dan tidak ingin mengusik kehidupan nenek pemilik toko dengan memberitakan aroma harumnya kewalian yang beliau dapati bersumber dari nenek tersebut.

Tentunya kearifan Syeikh Habiburrahman ini juga termasuk yang menjadikan salah satu pelestari kebersihan hati nenek, yang mana nenek ini dengan ikhlasnya selalu membaca shalawat di waktu-waktu luang hanya karena termotifasi oleh sebuah pengajian yang pernah dihadirinya, tanpa pernah berpikir apa yang akan dan sedang terjadi pada dirinya.


19 Agu 2014

Alasan Kita Kenapa Harus Mencintai Rasulullah SAW



A. Pendahuluan
Pada suatu ketika Nabi Muhammad Saw. membaca ayat berisi keluhan Nabi Isa As.:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (QS. al-Maidah ayat 118).

Dan beliau membaca lagi ayat berisi keluhan Nabi Ibrahim As.:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Barangsiapa yang mengikutiku maka ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim ayat 36).

Lalu Nabi Muhammad Saw. berdoa mengangkat kedua tangannya dan bersabda:

اَلّلهُمَّ أُمَّتِي

“Ya Allah, umatku…”

Beliau Saw. bersujud dan menangis (benar-benar memohon dikabulkannya dari Allah Swt.). Selanjutnya. Allah Maha Mendengar doa keluhan itu dan mengutus Malaikat Jibril untuk menanyakan apa sebab Nabi Muhammad Saw. menangis. Setelah Malaikat Jibril melakukan tugas lalu melaporkan kembali kepada Allah Ta’ala. Lalu Allah memerintahkan kembali Malaikat Jibril untuk menyampaikan keputusanNya kepada Nabi Saw.:

إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوْءُكَ

“Sesungguhnya Aku meluluskan kerelaanmu buat umatmu, dan Aku tidak menimpakan kejelekan atasmu.” (HR. Muslim).

Melihat kisah tersebut kita mengetahui betapa besar tanggung jawab Nabi Saw. untuk menyelamatkan umatnya, kaum muslimin. Dan betapa besar anugerah Allah Swt. yang dilimpahkan kepada kita lantaran permohonan beliau Saw. itu.

Nabi Muhammad Saw. benar-benar agung jasanya buat kita bahkan terlalu agung. Tidakkah kita perlu membalas jasanya itu? Dalam batas yang paling kecil saja, misalnya; seberapa besar kecintaan (mahabbah) kita kepada Nabi Saw.?

Mahabbah kepada Nabi Saw. adalah pertanda keimanan. Nabi Saw. pernah mendoakan Sayyidina Harmalah bin Yazid yang datang menghadapnya:

اَلّلهُمَّ اجْعَلْ لَّهُ لِسَانًا صَادِقًا وَقَلْبًا شَاكِرًا وَاْرزُقْهُ حُبِّي وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي

“Ya Allah jadikanlah lisan Harmalah berkata jujur, hatinya syukur, dan anugerahilah kecintaannya kepadaku dan kepada sekalian orang yang mencintaiku.” (HR. ath-Thabarani).

Dari hadits ini bisa kita petik suatu hikamah, yaitu betapa besarnya nilai mahabbah kepada Nabi Saw.

Mahabbah atau rasa cinta bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan. Tetapi yang terpenting adalah sikap hati. Setelah hati cinta, maka lisan akan menyatakan dan dengan sendirinya perbuatan anggota badan akan siap mengabdi dan berkorban. Apabila kita benar-benar mencintai Nabi Saw., maka hati kita selalu tertambat pada beliau, lisan kita selalu menyebut asma beliau, dan kita kerahkan diri kita untuk memenuhi petunjuk beliau.

Tuntutan rasa cinta murni tidak sekedar begitu. Tetapi kita selalu ingin duduk berdampingan, melihat beliau dan mengunjungi kediaman beliau. Seperti inilah cinta yang sejati. Hal ini tidak beda dari sebait syair yang digubah oleh seseorang yang mencintai Nona Laila:

أَرَاْلأَرْضَ تُطْوَى لِي وَ يَدْ نُوْ بَعِيْدُهَا # وَكُنْتُ إِذَا مَا جِئْتُ ليلي أَزُرُوْهَا

“Dan jika aku berkunjung kepada Laila, kurasakan sang bumi terlipat kecil, jarak jauh terasa dekat.”

Dengan demikian kita bisa mengukur seberapa kadar mahabbah kita kepada Nabi Muhammad Saw. Berapa menit sehari hati kita tertambat kepada Nabi Saw.? Berapa puluh kali sehari lisan kita membaca Shalawat Nabi? Dan berapa banyak tuntunan Nabi Saw. telah kita kerjakan? Demikian pula, berapa kali kita telah mengunjungi Nabi Saw. –tempat kediaman Nabi Saw.? Atau berapa kali kita telah niat untuk ziarah kepada Nabi Saw, dan seterusnya?

B. Ziarah Ke Makam Nabi Muhammad Saw.
Ziarah makam Nabi Saw. adalah salah satu bentuk ekspresi rasa mahabbah kepada beliau. Selain itu, Nabi Saw. sendiri telah bersabda:

مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِى بَعْدَ وَفَاِتي فَكَأنَّمَا زَارَنىِ فِى حَيَاتى

“Barangsiapa berhaji lalu ziarah ke kuburku setelah wafatku, maka bagaikan ia mengunjungiku saat masih hidupku.” (HR. al-Baihaqi, ath-Thabarani dan lainnya).

مَنْ زَارَ قَبْرِى وجبت له شفِاعتى

“Barangsiapa ziarah ke kuburku, maka pastilah ia mendapat syafaatku.” (HR. al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

مَنْ جَاءَنِى زَائِراً لَايَعْلَمُ حَاجَةً إِلاَّزِيَارَتِى كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Barangsiapa berziarah kepadaku dan hanya itu saja keperluannya, maka kewajiban atasku untuk mensyafaatinya di hari kiamat.” (HR. ath-Thabarani dan ad-Daruquthni).

Demikianlah tiga dalil hadits secara tegas menerangkan keutamaan ziarah ke makam Nabi Saw. Dalam hadits berikut bisa kita ketahui adanya anjuran untuk kita melakukannya:

مَامِنْ أَحَدٍ مِنْ اُمَّتِي لَهُ سَعَةٌ ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِى فَلَيْسَ لَهُ عُدْرٌ

“Tak seseorangpun dari umatku yang telah berkesempatan (untuk ziarah) kemudian tidak mau melakukan ziarah kepadaku, melainkan tiada lagi alasan baginya.” (HR. Ibn Najjar).

C. Keutamaan Ziarah Ke Makam Nabi Muhammad Saw.
Dari hadits di atas telah kita ketahui bahwa ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw. adalah sama utamanya dengan ziarah kepada Nabi Saw. sewaktu hidupnya. Dalam hadits lainnya dikatakan:

لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa ada tiga masjid yang mempunyai keutamaan. Selain yang tiga itu tingkat keutamaannya sama saja; masjid besar terletak di kota besar dan dihuni oleh orang-orang besar, tingkat keutamaannya sama saja dengan masjid kecil di kota kecil dibangun dan dihuni oleh orang-orang kecil.

1. Masjid al-Haram di Makkah mempunyai keutamaan shalat di dalamnya bernilai 100.000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai Baitullah dan di sini pula terletak Ka’bah yang menjadi kiblat kaum Muslimin.
2. Masjid al-Aqsha di Palestina mempunyai keutamaan shalat di sana bernilai 500 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid tempat peribadahan para nabi Bani Israel. Dan bahkan di sini pula mereka disemayamkan.
3. Masjid Nabawi mempunyai keutamaan shalat di dalamnya bernilai 1000 kali lipat, yaitu dua kali keutamaan Masjid al-Aqsha. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid yang dibangun oleh Nabi Saw., tempat beribadahnya Nabi Saw., pusat pennyiaran Islam di hari-hari pertamanya, dan bahkan di situ pula Nabi Saw. dikuburkan. Jadi keutamaan yang besar yang dimiliki Masjid Nabawi adalah semata-mata karena diri Nabi Saw. Nabi Saw. lah yang menjadi sumber keutamaan masjid tersebut. Kalau bukan karena Nabi Saw. ada di situ, maka niscaya sama saja dengan masjid-masjid yang lain.

Sekarang kita sudah mengetahui Masjid Nabawi mempunyai keutamaan sebesar itu dikarenakan ada Nabi Saw. Hal ini berarti sumber keutamaannya adalah Nabi Saw. dan Masjid Nabawi tersebut dapat menimbulkan curahan rahmat dan berkah bagi orang yang mengunjunginya dan beribadah di dalamnya.

Ada satu pertanyaan dari sekelompok orang yang salah memahami dalil bahwa: “Memang benar ziarah ke Masjid Nabawi akan memperoleh berkah, tetapi ziarah ke makam Nabi yang menjadi sumber berkah masjid tersebut justru tidak memperoleh berkah, dan bahkan dilarang melakukannya.”

Menurut pembaca risalah ini, benarkah logika kaum yang salah paham tersebut? Kami yakin, Anda sepakat dengan kami dan bahwa logika sekelompok orang itu salah. Anak yang baru tingkat ibtidaiyyah (SD) pun akan mampu menunjukkan kesalahan logika tersebut.

Syaikh Abu Said al-Hammami, seorang ulama al-Azhar Mesir, menilai bahwa logika itu hanya mungkin diucapkan oleh:

المَجَانِيُن اْلَّذِيْنَ لاَيَعُوْنَ مَا يَقُوْلُوْنَ أَوْ يَقُوْلُهُ عَدَوُّالإِسْلاَمَ وَرَسُوْلِ اْلإِسْلاَمِ

“Orang-orang gila yang tidak paham lagi perkataannya sendiri atau perkataan itu dikemukakan oleh musuh Islam dan musuh Rasulullah Saw.” (Lihat dalam Ghauts al-‘Ibad halaman 105 karya Syaikh Abu Yusuf al-Hammami, cet. Isal Babil Halabi, Mesir, tahun 1350 H).

D. Ada yang Salah Paham
Seperti telah kami singgung di atas ada sekelompok orang yang melarang untuk ziarah ke makam Nabi Saw. Mereka berdalil pada hadits:

لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kami merasa aneh bin ajaib. Mengapa hadits tersebut dikatakan menunjukkan adanya larangan ziarah ke makam Nabi Saw.? Uraian lebih lanjut dan lebih lengkap terlalu panjang ditulis di sini. Kami persilakan Anda membaca buku kami yaitu “Hujjatu Ahlissunnah wal Jama’ah” halaman 27-35.

Untuk menambah keterangan, dalam kitab asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ziarah makam Nabi Saw. adalah merupakan keutamaan dan hal itu telah menjadi ijma’ seluruh kaum Muslimin. Demikian, Wallahu A’lam. 

(Diedit ulang dari catatan Ustadz Muhammad Yusuf Anas, MA Unggulan Al-Imdad).


Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Habib Ustman, Kiblat Masjid



Dulu saat Syaikh Nawawi al-Bantani masih muda, sekitar usia belasan tahun, pernah shalat di Masjid Pekojan Jakarta Kota dekat kediaman Habib Utsman bin Yahya. Usai shalat Syaikh Nawawi menghampiri dan berkata kepada Habib Utsman, yang waktu itu juga berada di masjid, dengan nada lemah lembut dan penuh hormat: “Wahai Habib yang saya hormati. Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Ya, ada apa anak muda?” Jawab Habib Utsman. 

“Begini Habib, masjid ini kurang ngiblat dan kurang nyerong ke sebalah kanan (ke arah utara).”

Karena Habib Utsman adalah seorang pakar ilmu falak, beliu pun heran dan menyanggah: “Masid ini sudah saya ukur dengan alat kompas dan berdasarkan ilmu falak.”

Kemudian Syaikh Nawawi al-Bantani dengan sopannya menunjuk ke arah kiblat. Dan seketika itu juga Ka’bah terlihat sangat jelas di hadapan mereka berdua. Menyaksikan itu, Habib Utsman bin Yahya terperanjat dan kemudian langsung menubruk ingin mencium tangan Syaikh Nawawi al-Bantani. Namun Syaikh Nawawi menarik dan menolak tangannya untuk dicium oleh Habib Utsman bin Yahya. Dan beliau berkata: “Wahai Habib yang mulia. Saya tidak pantas untuk dicium tangani oleh Habib. Karena, Habib adalah orang mulia dan keturunan Rasulullah, sedangkan saya adalah orang kampung biasa.”

Mendengar kata-kata itu, Habib Utsman bin Yahya langsung merangkul badan Syaikh Nawawi dan mereka saling berpelukan sambil menangis dengan bercucuran air mata.
________________
Syaikh Nawawi al-Bantani juga termasuk salah seorang ulama pakar ilmu falak. Banyak kitab-kitab karyanya yang menerangkan tentang ilmu falak. Hanya saja kitab yang masuk ke Indonesia (yang saya tahu) adalah kitab Sullam al-Munajat. 

Di dalam kitab Sullam al-Munajat halaman 23-24, cetakan Darul Kutub al-Islamiyyah Kalibata-Jakarta Selatan, Syaikh Nawawi menerangkan tentang ilmu arah kiblat beserta hukumnya. Hanya saja untuk menghitung arah kiblat wilayah Banten, beliau menggunakan sebagai bujur nol derajatnya adalah “Az-Zajairatul Khalidat”, bukan Greewich. Tapi setelah saya hitung dan saya bandingkan dengan perhitungan ilmu falak arah kiblat “Sistem Kontemporer” hasilnya tidak beda jauh alias hampir sama. 

(Diedit dari tulisan KH. Thobary Syadzily al-Bantani, cucu Syaikh Nawawi al-Bantani dan Pengasuh PP Al-Husna Tangerang).



Habib Lutfi Bin Yahya: Syariat Islam Tidak Perlu Diformalkan



Jihad saat ini bukan dengan mengangkat pedang atau senapan. Jihad di jaman ini adalah jihad ekonomi, pedang ekonomi dan pendidikan. Musuh utama kita adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme dan lemahnya keyakinan, bukan ‘nonMuslim’. Dan itu semua menjadi sebab tumbuh terorisme.

Ayat-ayat tentang qital (perang) seluruhnya bersifat depensif; mempertahankan diri baik dari serangan nyata baik potensi yang membahayakan. Tidak ada dalam sejarahnya Rasulullah Saw. membunuh nonMuslim apalagi Muslim. Rasul menjaga hak hidup bangsa-bangsa, nonMuslim sekalipun.

Yang menjadikan 1 orang/kelompok/komunitas/bangsa sah diperangi bukan karena ia nonMuslim melainkan ‘al-harabah/harbi’; melakukan penyerangan. Dalam Piagam Madinah Rasulullah Saw. menjamin kebebasan beragama antara Muslim, Yahudi dan keyakinan lainnya. Dengan komitmen yang sama.

Kita juga perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara, apapun namanya tidak efektif dalam transformasi agama dalam masyarakat. Bandingkan proses Islamisasi di Andalusia dan Indonesia. Islamisasi di Andalusia dengan formal kekuasaan, Indonesia melalui kebudayaan.

Indonesia dijajah sejak tahun 1500 oleh Portugis, Belanda dan Jepang, penduduk Muslim 99%. Dan Anda lihat bagaimana fakta di Andalus! Andalusia yang mempunyai ulama kaliber Ibn Malik, Ibn Rusydi dll, luluh lantah. Masih mau memformalkan syariat Islam?

Tidak ada Negara Muslim yang bebas melakukan praktik keagamaan sebaik Indonesia, HTI bebas berteriak, NU, Muhammadiyah, dll berdampingan. Negara Islam itu ilusi, bagaimana mungkin menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan khilafah. Perebutan 1 pulau saja berpuluh-puluh tahun.

Persoalan semacam ini yang membuat banyak negara Islam sangat tertinggal dalam segala aspek. Pemimpinnya sibuk mengurusi muslim-muslim radikal. Energinya habis untk melawan bangsa sendiri; terorisme, radikalisme, fanatisme dan perang saudara antara Sunni-Syi’ah. Kapan membangun?

Umat Islam bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Jika ada yang kurang mari kita perbaiki bertahap. Jangan beri kesempatan sekecil apapun perpecahan, jaga NKRI. Satu kali mereka tumbuh, maka kita menambah ‘daftar’: Afganistan, Irak, Syiria, Mesir.

Perbedaan itu dinamika, pedang, senapan dan bom bukan penyelesaian. Negara ini sesuai dengan syariat, cukup, dan tidak perlu diformalkan. Al-Quran mengajarkan toleransi: “Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah...” (QS. al-An’am ayat 108). Ini untuk nonMuslim, bagaimana dengan Muslim?

Mari rekatkan persaudaraan dan persatuan. Rajut keutuhan NKRI. Hormati pemimpin, aparat, TNI-POLRI dan pemerintah, rawat kebinekaan. Kita jaga negara tercinta ini. NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati. Teriakkan itu dimanapun/kapanpun. Bersama kita menyongsong hari yang lebih baik. Dengan kebersamaan kita akan selalu optimis. Sekali lagi NKRI harga mati.

Sumber: Kultweet Habib Luthfi bin Yahya, Rais ‘Am Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyah (JATMAN): @HabibluthfiYahy 4 Agustus 2014.

18 Agu 2014

Alasan Bung Karno Memproklamirkan 17 Agustus 1945 Sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia




Bismillah, Puji Syukur ke hadirat ILLAHI hari ini hari kemerdekaan Bangsa Indonesia Raya. Mengapa Pak Bung Karno memilih hari Jum'at Tgl 17 hari di proklamirkannya kemerdekaan?

Pen,
Inilah Alasan Soekarno Memilih 17 Agustus 1945 Sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia - 17 Agustus 1945 merupakan waktu yang sakral bagi bangsa Indonesia. Saat itu, Presiden RI pertama, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang sekaligus menjadi tonggak baru perjalanan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku itu. 

Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch Hatta, mengumandangkan proklamasi tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing (Balanda Bunrang Mata).

Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan. Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik.

Alasan itu disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta 'diculik' oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang.

'Penculikan' itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel Jepang.

"Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17," kata Bung Karno.

Mendengar pernyataan Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. "Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?" tanya Sukarni.
Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi.

Kemudian pada sore harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada, proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB.

Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammadin Wa Alaa 'Aali Sayyidunal Musthafa Wa Habibunal Muqarraabbuun..

14 Agu 2014

Kisah Habib Seggaf Parung: Kata Siapa NonMuslim Dilarang ke Masjid?



1. Habib Seggaf Mengajak Pendeta Hindu Masuk Masjid, Akhirnya Meraih Hidayah

Dahulu pernah ada seorang pendeta Hindu dari India datang ke tempat Habib Seggaf bin Mahdi BSA di Parung Bogor. Setelah ngobrol-ngobrol lalu oleh beliau diajak ke masjid. Mendengar ajakan Habib Seggaf untuk ikut ke masjid, pendeta itu terkejut dan berkata: “Saya ini orang kafir (kata orang Islam) dan sejak muda hingga umur 80 tahun sekarang ini tidak ada satupun orang Islam yang mengajak saya masuk masjid.”

Habib Seggaf berkata: “Ya, sekarang saya yang ajak kamu.”

Lalu si pendeta pun mau diajak ke masjid. Ketika sampai depan masjid pendeta itu berkata: “Apa yang menyebabkan kamu mengajak saya masuk ke dalam masjid?”

“Sebab kamu disayang Allah”, jawab Habib Seggaf.

Pendeta tambah bingung, lalu bertanya: “Hah, saya disayang Allah? Apa buktinya?”

“Buktinya kamu tetap dijadikan manusia. Jika Allah tidak sayang sama kamu mungkin sekarang kamu sudah dikutuk jadi anjing atau babi,” kata Habib.

Pendeta itu langsung sujud di depan masjid (di tanah, bukan di ubin) dan berkata bahwa dia ingin masuk agama Islam. “Hati saya seperti dihantam pakai palu mendengar perkataan Anda,” kata si pendeta kepada Habib Seggaf. Akhirnya sang pendeta itu pun bersyahadat memeluk agama Islam.

2. Habib Seggaf dan Teman Hindu

Ketika Idul Adha, Habib Seggaf bin Mahdi nyembelih sapi untuk kurban. Ketika menyembelih beliau menelfon temannya yang beragama Hindu dan mengundangnya untuk melihat prosesi penyembelihan sapi di rumahnya. “Teman, sekarang saya sedang menyembelih sapi, saya undang kamu untuk datang ke tempat saya.”

Temannya itu menjawab: “Aduh Pak Habib, di agama saya tidak boleh menyembelih sapi.”

Habib Seggaf kemudian berkata: “Kalau makan dagingnya, boleh?”

Dijawab: “Boleh.”

Habib Seggaf berkata: “Bagaimana bisa dimakan dagingnya jika tidak disembelih?”

Lalu temannya itu menjawab: “Ya itulah Pak Habib, saya juga bingung sama agama saya.”

Habib Seggaf cuma bisa ngikik, sambil bilang ke putranya yang bernama Habib Muhammad: “Lihat Muhammad, dia sudah mulai mencong-mencong.”

“Jadikan sahabat, hilangkan keyakinan yang salah dari apa yang dia yakini. Tunjukkan kebenaran dan buktikan kebenaran yang kita yakini itu benar,” pungkas Habib Mumu Bsa mengakhiri kisahnya

12 Agu 2014

Dosa Diampuni Karena Menolong Anak Kucing

Assalamu'alaikum wr. wb.


Inilah rahasia dari Imam As-Syibli yang memiliki nama Syeikh Abu Bakr ibn Dulaf ibn Jahdar. Ia dikenal sebagai ulama sufi yang menghabiskan banyak waktunya untuk menimba ilmu dan berguru kepada banyak ulama di zamannya. Dengan ketaatan yang tinggi dalam hal ibadah, nyatanya tidak menjadi jaminan bahwa seseorang bisa diampuni dosanya, seperti kisah Imam As-Syibli, kebaikan yang remeh pun bisa menjadi penolongnya.

Kisahnya
Imam As-Syibli dikenal juga dengan keistiqomahannya dalam beribadah dan shalat serta puasa. Akan tetapi, dari sekian banyak amal ibadah yang dialkukan Imam As-Syibli semasa hidup, hanya satu amalan yang menurut orang lain ringan, yang dapat menghapus dosa As-Sibli dan berhasil meraih ampunan Allah SWT.

Di dalam kitab Nashaih Al Ibad karya Syeikh Imam Nawai Al-Batani dikisahkan, setelah sekian waktu lamanya Imam As-Syibli wafat, ada seorang temannya yang memimpikannya. Dalam mimpinya itu terlihat Imam As-Syibli nampak mendapatkan nikmat kubur.
"Wahai Imam As-Syibli, apa yang diperbuat Allah SWT kepadamu?" tanya temannya.
"Allah telah menempatkanku di tempat yang mulia," jawab Imam As-Syibli.
"Tolong beritahu aku amal apa yang engkau perbuat sehingga mendapatkan kemuliaan itu?" pinta temannya.

Mendapatkan Ampunan Allah SWT
Imam As-Syibli pun bercerita bahwa dirinya pernah ditanya Allah SWT tentang amal yang membuat ampunan datang kepadanya. Imam As-Syibli menjawab kalau dirinya telah melakukan amal baik dan ikhlas dalam beribadah. Akan tetapi, jawaban itu disangkal oleh Allah SWT. Imam As-Syibli pun langsung menjawab amal lainnya.

"Mungkin karena ibadah hajiku, puasaku, dan shalatku," kata Imam As-Syibli.
Namun, lagi-lagi penyataan itu ditolak oleh Allah SWT. Imam As-Syibli lantas mencoba mengingat-ingat amal baiknya lagi semasa hidupnya.

"Atau mungkin karena kelanggenganku dalam mencari ilmu," tebaknya.
Pernyataan itu kembali disangkal oleh Allah SWT hingga akhirnya Imam As-Syibli menyerah. Ia kemudian berkata,
"Ya Rabbi, semua itu adalah amalanku yang karenya aku harap Engkau mau memaafkanku."

Kemudian Allah SWT berfirman,
"Semua itu tidaklah membuatKu mau mengampunimu."

Imam As-Syibli Menolong Anak Kucing
Imam As-Syibli lantas bertanya,
"Lalu, karena apa Engkau berkenan mengampuniku?"

Allah SWT berfirman,
"Ingatkah engkau, ketika engkau berjalan di pinggiran kota Baghdad, engkau menemukan seekor anak kucing yang kedinginan dan merapatkan tubuhnya ke sebuah tembok. Kemudian karena merasa kasihan, engkau mengambil anak kucing itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahmu agar ia terjaga dari kedinginan?"
"Iya," jawab Imam As-Syibli.

Allah SWT berfirman,
"Karena rasa kasihmu pada anak kucing itulah Aku berkenan mengampunimu."

Imam As-Syibli bersyukur telah mendapatkan ampunan Allah SWT. Ia sendiri tak menyangka jika amal menolong kucing itulah yang mengantarkannya mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

Setelah mendapatkan penjelasan itu, teman Imam As-Syibli sadar bahwa amal ibadah yang dilakukan di dunia aini tidak menjadi jaminan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Bisa jadi ampunan itu karena amal-amal lain yang mungkin ringan dan remeh untuk dikerjakan, seperti menolong hewan dan tumbuhan.

Wassalamu'alaikum wr. wb.


Kutipan Qur'an Sisa Bom Israel di Gaza



Di Gaza, di antara puing-puing bangunan yang berserakan seorang saudara yang sibuk membantu mencari bila ada keluarganya yang masih selamat berteriak, "Tidak ada yang hidup -. Mereka semua mati"

Beberapa saat kemudian, ia menemukan sobekan/penggalan ayat Al-Qur'an ini diantara bekas puing tersebut, (Al Baqarah 154):
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."

Subhanallah..

dikutip dari FB Habib Adeng Fadaq

5 Agu 2014

Ijazah Doa Nabi Khidlir AS

Berikut bacaannya, 
Do'a Nabi Khidir (Didalam kitab Tanwirul Qulub Hal. 484)



Bismillahi Masya Allah Laayasukul Khaira Illallah....
Bismillahi Masya Allah Laayasrifusua' Illallah.....
Bismillahi Masya Allah Maakana Minni'mati Faminallah....
Bismillahi Masya Allah Walaahaula Walaakuwwata Illabillah...

Artinya :
Dengan nama Allah, Apa yang dikehendaki Allah, Tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Allah....
Dengan nama Allah, Apa yang dikehendaki Allah, Tiada yang dapat menjauhkan kejahatan kecuali Allah....
Dengan nama Allah, Apa yang dikehendaki Allah, Segala nikmat berasal dari Allah....
Dengan nama Allah, Apa yang dikehendaki Allah, Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah.....

Ibnu Abbas r.a berkata :
Siapa yang membaca do'a ini ketika pagi dan sore 3x, maka Allah SWT akan menyelamatkannya dari tenggelam, kebakaran, pencurian, setan, penguasa dzalim, dan binatang berbisa.