CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

17 Mei 2013

"Peti Rahasia" Rasulullah SAW




Suatu ketika para sahabat memperkatakan pribadi Abdullah bin Mas’ud, kata mereka: “Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku Rasulullah)..”. Maksud mereka ialah bahwa Abdullah r.a. beruntung mendapat kesempatan berdekatan dengan Rasulullah, suatu hal yang jarang didapat oleh orang lain.

Abdullah r.a. lebih sering masuk ke rumah Rasulullah dan menjadi teman duduknya. Terlebih lagi ia adalah tempat menumpahkan keluhan dan mempercayakan rahasianya, hingga ia diberi gelar “Peti Rahasia”. Rasulullah amat menyayanginya, terutama kesalehannya dan kecerdasannya serat kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah pernah bersabda dan berwasiat mengenai Abdullah bahwa jika harus mengangkat seseorang sebagai amir tanpa musyawarah dengan Kaum Muslimin, tentulah Rasulullah akan mengangkat Abdullah bin Mas’ud. Rasulullah pun berwasiat agar berpegang teguh kepada ilmu Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah layak memperoleh keistimewaan ini. Karena walaupun pergaulannya rapatb seperti ini akan memberikan keuntungan, tetapi ia hanya bertambah khusyu’, tambah hormat dan sopan santun. Orang yang banyak bergaul dengan Rasulullah, penilaiannya terhadap kemuliaan Rasulullah lebih tepat. Dan itulah sebabnya adab sopan santunnya terhadap Rasulullah ketika beliau hidup, begitu pun kenangan kepada beliau setelah wafatnya, merupakan adab sopan santun satu-satunya dan tak ada duanya.

Abdullah bin Mas’ud tak hendak berpisah dari Rasulullah, baik di waktu bermukim maupun di waktu bepergian. Ia telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Khalifah-khalifah dan para sahabat Rasul mengakui kedudukannya ini, hingga ia diangkat oleh Amirul Mu’minin Umar sebagai Bendaharawan di Kota Kufah. Dan penduduk Kufah pun mencintainya, suatu hal yang belum pernah diperoleh orang-orang sebelumnya, atau orang-orang yang setaraf dengannya. Sungguh, kebulatan penduduk Kufah untuk mencintai seseorang, merupakan suatu hal yang mirip dengan mu’jizat.

Kecintaan penduduk Kufah kepadanya demikian rupa, sampai-sampai mereka mengerumuni dan mendesaknya sewaktu ia hendak diberhentikan oleh Khalifah Utsman r.a. dari jabatannya, kata mereka: “Tetaplah Anda tinggal bersama kami di sini dan jangan pergi, dan kami bersedia membela Anda dari malapetaka yang akan menimpa Anda!”. Tetapi dengan kalimat yang menggambarkan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, Ibnu Mas’ud menjawab, “Saya harus taat kepadanya, dan di belakang hari akan timbul peristiwa-peristiwa dan fitnah, dan saya tak ingin menjadi orang yang mula-mula membukakan pintunya…!”.

Pendirian mulia dan terpuji ini mengungkapkan kepada kita hubungan Ibnu Mas’ud dengan Khalifah Utsman. Di antara mereka telah terjadi perdebatan dan perselisihan yang makin lama makin sengit, hingga gaji dan tunjangan pensiunnya ditahan dari Baitulmal. Walau demikian tidak sepatah katapun yang tidak baik keluar dari mulutnya mengenai Utsman. Bahkan ia berdiri sebagai pembela ketika terbetik berita ke telinganya mengenai percobaan untuk membunuh Khalifah Utsman. Maka keluarlah dari mulutnya ucapan yang terkenal: “Sekiranya mereka membunuhnya, maka tak ada lagi orang sebanding dengannya yang akan mereka angkat sebagai khalifah…”.

Allah telah menganugerahkan hikmah sebagaimana telah memberinya sifat takwa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke dasar yang dalam, dan mengungkapkannya secara menarik dan tepat. Abdullah bin Mas’ud berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus dan hina, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya salah seorang imam di antara imam-imam kebaikan, petunjuk dan cahaya





Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: