CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

15 Nov 2017

Akhlaq dari Guru dari Guru Habib Kadzim Assegaff



Sayyidi Habib Kadzim Assaqqaf:

Salah satu kakek guruku (guru dari guruku) adalah seorang wali yg terkenal di tarim, sebelum meninggal beliau menulis wasiat agar jenazahnya dikuburkan dekat dengan ibunya, dan diposisikan dimana bagian kepala beliau diletakkan dibawah kaki ibunya, beliau seharusnya dikuburkan berdampingan dengan para auliya lainnya tapi memilih untuk berada dikaki ibunya, itu adalah akhlak beliau dalam menafsir hadits Rasulullah ﷺ‎ bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu, tidak hanya ketika hidup beliau berbakti, saat meninggalpun tetap saja beliau ingin terus berbakti..


Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aalihi wasallam

Cara Dakwah Rasulullah SAW



Selama bertahun-tahun, ayah dari Syaikh Muhammad Sa'id Ramadan al-Buti (Syaikh Mulla Ramadan) dianiaya dan diejek oleh seorang preman di daerahnya. Preman tsb menghabiskan waktu hidupnya untuk mabuk dan bermaksiat, dan dia sangat membenci semua orang yg suka beribadah. Dia akan bersumpah serapah, mengutuk, menghina dan memaki Syaikh Ramadan setiap kali bertemu, saat sang syaikh akan pergi ke masjid, dan dia berusaha membuat kehidupan Syaikh sangat sulit dan sengsara.

Setelah bertahun-tahun hal itu berlangsung, pada suatu hari pria itu tiba tiba berubah secara ajaib menjadi baik, dan yg pertama kali dilakukan dia langsung menemui Syaikh dan meminta maaf, sang syaikh berkata, 'Selama bertahun-tahun, aku telah menghabiskan setiap waktu malamku untuk menangis dalam sujud sambil berdoa,'Ya Allāh, aku memaafkan dia (si preman) untuk segala perbuatannya, aku memohon pada-Mu meridhoinya dan untuk membimbingnya kembali dalam ketaatan pada-Mu'.
Mendengar ucapan Syaikh ini, si preman hanya bisa menangis dan mencium kepala serta tangan Mulla Ramadan..

Saudaraku.. Itulah cara berdakwah Rasulullah ﷺ‎ yg sebenarnya..
Habib Ali Al Jufri bercerita dikala umurnya masih belasan tahun, dia selalu hadir dalam majlis Habib Abdulqadir bin Ahmad Assaqqaf (jeddah), suatu ketika masuk juga dalam majlis itu seorang preman yg terkenal bermoral bejat, Habib Abdulqadir berhenti berceramah, bangun berdiri penuh hormat dan menyalami si preman sambil berkata, 'duhai anakku yg soleh!', kami semua dalam majlis tercenggang, bagaimana seorang ahli maksiat bisa dikatakan seorang soleh?. Tak lebih dari enam bulan kemudian.. anda tidak akan bertemu orang yg lebih banyak beribadah dikota jeddah seperti si preman tadi..!!

Saudaraku.. itulah cara dan akhlak Rasulullah ﷺ‎ mengajak orang kedalam kebaikan..
Ada lagi cerita dari Syaikh Muhammad Aslam, bahwa Temannya pernah menghabiskan waktu beberapa malam bersama Habib 'Umar bin Hafidz di dalam perjalanan dakwahnya. Habib 'Umar mengajar dan berceramah sepanjang hari penuh sehingga dia berharap bisa tenang beristirahat di malam hari. Teman ku berkata, 'aku tertidur, tapi setiap kali mataku terbuka, aku melihat Habib sedang dalam posisi sujud panjang dalam sholatnya. Setelah beberapa malam melalui hal kejadian yang sama, aku bertanya kepadanya,

 'Apakah habib tidak tidur?' Beliau menjawab, 'Bagaimana mungkin kami bisa beristirahat ketika ada seseorang dari umat Nabi ﷺ‎ sedang sakit? Bagaimana kami bisa tidur ketika seorang wanita dari Ummah Sayyidah Fatimah رضي الله عنها masih sengsara dan Tidak bahagia?!.

Saudaraku.. Anda mungkin tidak selalu berada di dekat orang-orang alim dan soleh. Anda mungkin tidak terlalu sering melihat mereka, tapi jangan pernah berhenti mencintainya karena doa mereka untuk Anda selalu dekat dan hadir; dan akan menguntungkan Anda saat Anda sangat membutuhkannya.
Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aalihi wasohbihi wasallam

Kisah Muhammad ibn Abu Bakar

                                                                      makam beliau

Muhammad Ibn Abu Bakar dilahirkan tahun 10H. Ia adalah sahabat setia dan pengikut Imam Ali Ibn Thalib dan diangkat menjadi anak oleh Imam Ali Ibn Thalib. Ibunya bernama Asma binti Umais yang pernah menikah dengan Ja’far Ibn Abi Thalib, saudara dari Imam Ali Ibn Thalib. Setelah Ja’far Ibn Abi Thalib syahid, Asma binti Umais menikah dengan Abu Bakar dan kemudian keduanya dianugerahi putera yang diberinama Muhammad Ibn Abu Bakar. Muhammad Ibn Abu Bakar lahir kira-kira saat haji wada (haji terakhir) pada tahun 9—10H. Setelah Abu Bakar meninggal, Imam Ali menikahi Asma binti Umais dan keduanya diberi anugerah seorang putera bernama Yahya. Muhammad Ibn Abu Bakar sendiri akhirnya dibesarkan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib kw, ketika usianya masih belia yaitu kurang lebih 3 tahun. Kemudian ia menjadi pengikut setia dari Imam Ali.

DIBUNUH DAN DIBAKAR DALAM PERUT SEEKOR KELEDAI 

Muhammad Ibn Abi Bakar dibunuh Mu’awiyyah Ibn Abu Sofyan dan Amr Ibn al-Aas. 
“Tahukah kamu apa yang akan aku lakukan atasmu? Aku akan memasukkan kamu dalam bangkai seekor keledai dan kemudian membakarnya.”
Muhammad Ibn Abu Bakar—pengikut setia Imam Ali—menjawab:
“Kalau kamu melakukan begitu kepadaku, seperti itulah seringkali para kekasih Allah diperlakukan. Aku berharap api yang membakar itu akan dijadikan Allah sejuk dan sejahtera seperti ia dijadikan seperti itu pada Ibrahim (as). Mudah-mudahan Allah memperlakukan kamu seperti IA memperlakukan Namrud dan para pendukungnya…………….”
Demi mendengar jawaban itu, Mu’awiyyah murka sekali. Ia kemudian memasukkan Muhammad Ibn Abu Bakar kedalam perut bangkai keledai dan membakarnya.
Ketika ‘Aisyah mendengar berita itu, ia menangis sepedih-pedihnya dan berkunut setiap shalat mendo’akan kebinasaan untuk Mu’awiyyah dan Amr Ibn al-Aas.
Muhammad Ibn Abu Bakar ”tumbuh berkembang bersama Imam Hasan dan Imam Husein kedua cucu Nabi saw pemuda surga. Ia tumbuh dalam keluarga yang paling diberkahi di dunia ini. Muhammad Ibn Abu Bakar tumbuh menjadi pemuda yang gagah berani dan ikut dalam berbagai peperangan bersama Imam Ali bin Abuthalib kw. Salah satu dari peperangan itu menempatkan dirinya berhadapan dengan saudarinya yaitu A’isyah binti Abu Bakar, dalam perang Jamal.

Pada saat rezim pemerintahan Utsman Ibn Affan, Muhammad Ibn Abu Bakar sedang berada di Mesir karena ditugaskan oleh Imam Ali sebagai gubernur di sana. Dari Mesir, ia mulai melancarkan penentangannya terhadap rezim Utsman Ibn Affan. Ia membentuk aliansi untuk menentang kekuasaan Utsman Ibn Affan.
Ketika Imam Ali akhirnya dipilih umat manusia untuk menjadi khalifah, Muhammad Ibn Abu Bakar memutuskan untuk bersama-sama dengan Imam Ali menjalankan roda pemerintahan yang adil. Sebelum Perang Jamal atau Perang Unta dimulai, Muhammad Ibn Abu Bakar ditugaskan sebagai komandan pasukan infanteri untuk menyampaikan pesan dari Imam Ali (as) kepada orang-orang Kufah. Setelah Imam Ali memenangkan peperangan Unta (melawan pasukan pemberontak yang dikomandoi oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar, Thalhah Ibn Ubaydillah, dan Zubayr Ibn Awwam), Muhammad Ibn Abu Bakar mengambil alih urusan-urusan ‘Aisyah sesuai perintah dari Imam Ali dan membawa saudarinya itu kembali ke kota Madinah setelah pasukannya dikalahkan oleh pasukan Imam Ali.

Muhammad Ibn Abi Bakar itu dikenal sebagai orang yang sangat rajin dan giat serta penuh semangat dalam melancarkan jihad dan ibadah lainnya. Ia dikenal sebagai orang yang sangat bertakwa. Orang-orang memanggilnya sebagai orang yang bertakwa dari suku Qurays. 

Pada tahun 36H (ketika Muhammad Ibn Abu Bakar berusia 26 tahun), Qiys Ibn Sa’ad dilengserkan dari kekuasaannya sebagai gubernur Mesir dan kemudian Imam Ali menunjuk Muhammad Ibn Abu Bakar sebagai gubernur menggantikan Qiys Ibn Sa’ad. Setelah diangkat menjadi gubernur, ia langsung membuat gebrakan. Sisa-sisa sifat korup dan nepotis Utsman Ibn Affan yang telah menular kemana-mana di jajaran pemerintahan daerah dan pusat dengan segera ia bersihkan. Orang-orang yang masih memiliki sifat-sifat tak terpuji itu merasa resah karena Muhammad Ibn Abu Bakar mengancam keselamatan mereka.

Sumber - Refrensi Kitab Nahjul Balaghah

8 Sep 2017

Kisah Pengaku Keturunan Nabi SAW dan Singa



Alkisah, di masa Daulah Abbasiyah, tepatnya ketika Khalifah Al Mutawakkil menjabat sebagai kepala negara, seorang wanita bernama Zainab, mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah cucu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyebut dirinya adalah putri dari pasangan; Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma. 
.
Bagaimana mungkin ia masih hidup ketika itu? Berarti ia hidup selama dua ratus tahun lebih, karena rentang masa antara zaman nubuwah dan Daulah Abbasiyah, berkisar dua abad lamanya. 
.
Meskipun pengakuannya ini tidak masuk akal, tetapi di tengah masyarakat, Zainab merupakan orang yang cukup berpengaruh. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan ia mampu mengeksploitasi harta pengikutnya. Maka Khalifah Al Mutawakkil pun mengeluarkan perintah untuk mengundangnya ke istana. 
.
“Kamu ini seorang gadis dan Rasulullah telah wafat ratusan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? ” khalifah mencecar Zainab.
.
Kemudian Zainab berkata, “Sesungguhnya Rasulullah megusap kepalaku dan berdoa kepada Allah untuk mengembalikan masa mudaku setiap empat puluh tahun sekali.” 
.
Masih belum yakin dengan jawaban yang tidak masuk akal ini, Khalifah Al Mutawakkil mengumpulkam masyayikh (para tetua) keturunan Ali bin Abi Thalib, putra-putra Al-‘Abbas, segenap warga Quraisy, dan memberitahu mereka perkara Zainab yang sangat kontroversial. Dan kemudian mereka pun menyebutkan sebuah riwayat bahwa Zainab telah wafat. 
.
“Apa yang kamu katakan untuk menjawab pernyataan mereka?” khalifah kembali bertanya penuh selidik kepada Zainab.
.
“Itu riwayat palsu dan keji. Karena sesungguhnya, privasiku terjaga dari pengetahuan orang-orang. Bahkan mereka tidak tahu tentang kehidupan dan kematianku.” Zainab mematahkan tuduhan itu dengan penuh percaya diri.
.
Kemudian Khalifah bertanya kepada jama’ah yang dia kumpulkan, “Adakah kalian memiliki bukti yang dapat mengungkap tipu daya wanita ini selain riwayat yang kalian sampaikan?” Sayangnya mereka menjawab, “Tidak.” 
.
Namun beberapa saat kemudian, sebagian mereka menawarkan satu solusi untuk memecahkan masalah ini dengan mendatangkan Ali bin Muhammad bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang mempunyai laqob (nama panggilan) “Al-Haadi.”
.
Setelah disampaikan kepadanya apa yang sedang terjadi, Al Hadi pun menegaskan bahwa Zainab putri Ali sudah lama meninggal dengan menyebutkan tahun, bulan, dan hari kematiannya. Tetapi bukan jawaban seperti ini yang diinginkan Sang khalifah. Beliau bahkan berjanji tidak akan melepaskan Zainab sebelum membungkamnya dengan hujjah yang kuat.
.
“Jika benar dia adalah anak Fathimah”, akhirnya Ali Al Hadi kembali bersuara, berusaha mengungkap tipu daya Zainab dengan mengajukan sebuah tantangan, “Sesungguhnya jasad keturunan Fathimah tidak akan dimangsa oleh hewan-hewan buas. Maka datangkanlah hewan buas kepadanya. Dan lemparkan ia di tengah kerumunan hewan buas itu.”
.
“Tidak!” teriak Zainab yang raut wajahnya tetiba berubah ketakutan. “Ini hanyalah cara agar dia bisa membunuhku! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya.” katanya berusaha membela diri.
.
Dengan tenang, Ali Al Hadi berkata, “Ya. Aku berani membuktikannya.” Dan beberapa saat kemudian, ia dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Perlahan-lahan, enam ekor singa yang ada di dalam kandang itu, mendekati Ali satu per satu. Dengan lembut, tangan Ali membelai kepala singa-singa yang mendekatinya. Binatang-binatang buas itu, di hadapan Ali Al Hadi, menjadi jinak dan penurut. 
.
Begitu melihat Ali keluar dari kandang dengan selamat, dan dilihatnya dengan mata kepala sendiri sebuah pemandangan yang langka, Zainab pun hanya terdiam seribu bahasa. Dan, akhirnya, ia akui kebohongan yang selama ini ia desuskan, tipu daya yang selama ini dia mainkan. Masyarakat yang mengetahui kejadian ini, menjulukinya dengan sebutan, “Zainab Al Kadzaabah.”
.

Referensi: Al Mafakhir karya An Naisaburi. Lisan Al Mizan karya Ibnu Hajar Al ‘Asqallani. Dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi.
Share status M Ilham Maulana dari Penggali Hikmah: Muhammad Faishal Fadhli a.k.a Ichang Stranger.
Alfaqir juga pernah mendengar kisah ini dari KH. Mas Gholib bin Zahid bin Ibrahim bin Gholib Basyaiban, Sidoresmo - Surabaya.

31 Jan 2017

Kisah Jinten dan Karomah Guru Ibnu Arabi



Gurunya ini berasal dari kabupaten al-Jarafe di kota Sevilla. Di luar kota Sevilla tidak banyak yang mengenal karomah sang guru, bukan saja karena sang guru menempuh laku spiritual yang keras, seperti 40 tahun tinggal di rumah tanpa lampu dan perapian, tapi juga karena sang guru termasuk sufi yang menyembunyikan kedudukannya.

Suatu hari Syekh al-Syarafi berjalan ke pasar dan menemui seorang anak kecil yang mengangkat keranjang berisi Adas/Jinten. Anak itu berkisah bahwa ia seorang yatim. Ibunya harus mengasuh sejumlah anaknya yang masih kecil. Sejak pagi mereka belum makan. Ibunya menyuruhnya menjual biji jinten ini ke pasar. Jika uangnya cukup ibunya berharap bisa membeli makanan untuk mereka.

Syekh al-Syarafi meneteskan air mata menyimak kisah si bocah. Akan tetapi, alih-alih membeli jinten itu, Syekh al-Syarafi memasukkan tangannya ke keranjang, menggenggam sejumlah biji jinten. "Ini jinten yang bagus," begitu komentar sang syekh. Kemudian Syekh al-Syarafi berkata pada bocah yatim itu:

"Beritahu ibumu bahwa paman al-Syarafi dari al-Jarafe mengambil beberapa biji jinten ini dan meminta ibumu menghalalkannya."

Sampai di sini, tindakan Syekh al-Syarafi ini di luar nalar. Bocah yang keluarganya sedang kesusahan dan hendak menjual biji jinten yang mereka punya, malah sebagian diambil oleh Syekh al-Syarafi. Bahkan tidak membayar dan malah minta ikhlas dihalalkan saja untuk dia.

Namun karomah beliau muncul pada titik ini. Saat ia angkat tangannya menggenggam biji jinten, hatinya berdoa kepada Allah maka luluh hati mereka yang berada di sekitar itu. Tiba-tiba ada yang berkata: "Biji jinten yang telah disentuh oleh seorang Syekh pasti barokah." Orang yang berkerumun berebut membeli biji jinten itu. Walhasil, anak itu pulang membawa 70 dinar emas ke rumah ibunya. Subhanallah!

Ibnu Arabi bercerita bagaimana di depan matanya sendiri ia menyaksikan karomah sang guru menolong anak kecil itu dengan cara yang di luar nalar.

Kawan, seringkali di saat kesusahan kita malah mengalami kerugian. Kata orang, ini ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Namun yakinlah dengan kekuatan doa dan keikhlasan hati. Apa yang sudah direnggut oleh tangan-Nya tidaklah tersisa kecuali barokah. Bi yadikal khair. Di tangan-Nya semua kebajikan. 

Di balik kesulitan, ada kemudahan

Sungguh di balik kesulitan, ada kemudahan

Begitu Al-Qur'an merekam janji Allah SWT. Masihkah kita tidak mempercayainya?

Para kekasih Allah itu bekerja menurut apa yang Allah skenariokan. Apa yang terlihat sebuah kerugian di mata manusia boleh jadi merupakan sarana datangnya keberkahan. 

Untukmu kawan yang tengah dirundung berbagai kesulitan hidup, berdoalah agar hati kita seperti biji jinten yang disentuh oleh tangan kekasih-Nya. Ikhlaskanlah apa yang telah terambil, nanti Allah ganti semuanya dengan caraNya. Berkah... berkah… berkah.


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Kisah Jinten dan Karomah Guru Ibnu Arabi
Dalam kitabnya Ibnu Arabi bercerita mengenai seorang gurunya yang bernama Abu Abdillah Muhammad al-Syarafi. Gurunya ini berasal dari kabupaten al-Jarafe di kota Sevilla. Di luar kota Sevilla tidak banyak yang mengenal karomah sang guru, bukan saja karena sang guru menempuh laku spiritual yang keras, seperti 40 tahun tinggal di rumah tanpa lampu dan perapian, tapi juga karena sang guru termasuk sufi yang menyembunyikan kedudukannya.

Suatu hari Syekh al-Syarafi berjalan ke pasar dan menemui seorang anak kecil yang mengangkat keranjang berisi Adas/Jinten. Anak itu berkisah bahwa ia seorang yatim. Ibunya harus mengasuh sejumlah anaknya yang masih kecil. Sejak pagi mereka belum makan. Ibunya menyuruhnya menjual biji jinten ini ke pasar. Jika uangnya cukup ibunya berharap bisa membeli makanan untuk mereka.

Syekh al-Syarafi meneteskan air mata menyimak kisah si bocah. Akan tetapi, alih-alih membeli jinten itu, Syekh al-Syarafi memasukkan tangannya ke keranjang, menggenggam sejumlah biji jinten. "Ini jinten yang bagus," begitu komentar sang syekh. Kemudian Syekh al-Syarafi berkata pada bocah yatim itu:

"Beritahu ibumu bahwa paman al-Syarafi dari al-Jarafe mengambil beberapa biji jinten ini dan meminta ibumu menghalalkannya."

Sampai di sini, tindakan Syekh al-Syarafi ini di luar nalar. Bocah yang keluarganya sedang kesusahan dan hendak menjual biji jinten yang mereka punya, malah sebagian diambil oleh Syekh al-Syarafi. Bahkan tidak membayar dan malah minta ikhlas dihalalkan saja untuk dia.

Namun karomah beliau muncul pada titik ini. Saat ia angkat tangannya menggenggam biji jinten, hatinya berdoa kepada Allah maka luluh hati mereka yang berada di sekitar itu. Tiba-tiba ada yang berkata: "Biji jinten yang telah disentuh oleh seorang Syekh pasti barokah." Orang yang berkerumun berebut membeli biji jinten itu. Walhasil, anak itu pulang membawa 70 dinar emas ke rumah ibunya. Subhanallah!

Ibnu Arabi bercerita bagaimana di depan matanya sendiri ia menyaksikan karomah sang guru menolong anak kecil itu dengan cara yang di luar nalar.

Kawan, seringkali di saat kesusahan kita malah mengalami kerugian. Kata orang, ini ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Namun yakinlah dengan kekuatan doa dan keikhlasan hati. Apa yang sudah direnggut oleh tangan-Nya tidaklah tersisa kecuali barokah. Bi yadikal khair. Di tangan-Nya semua kebajikan. 

Di balik kesulitan, ada kemudahan

Sungguh di balik kesulitan, ada kemudahan

Begitu Al-Qur'an merekam janji Allah SWT. Masihkah kita tidak mempercayainya?

Para kekasih Allah itu bekerja menurut apa yang Allah skenariokan. Apa yang terlihat sebuah kerugian di mata manusia boleh jadi merupakan sarana datangnya keberkahan. 

Untukmu kawan yang tengah dirundung berbagai kesulitan hidup, berdoalah agar hati kita seperti biji jinten yang disentuh oleh tangan kekasih-Nya. Ikhlaskanlah apa yang telah terambil, nanti Allah ganti semuanya dengan caraNya. Berkah... berkah… berkah.


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Yang Dilakukan Imam Syafi’i saat Ziarahi Makam Abu Hanifah



Beliau bisa dikatakan sebagai perintis ilmu fiqih yang madzhabnya diikuti jutaan umat Islam hingga kini. Ulama yang juga kerap disapa Imam Hanafi ini menginspirasi banyak ulama sesudahnya, tak terkecuali Muhammad bin Idris atau Imam Syafi’i yang juga amat berpengaruh dalam tradisi keilmuan hukum Islam sampai sekarang.

Keduanya, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i, adalah ulama fiqih generasi awal. Meski alim di bidang yang sama, gagasan kedua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah ini tak selalu sejalan. Perbedaan pendapat terjadi dalam banyak hal furu’ (cabang), seperti qunut, rukun shalat, wudhu, dan sejenisnya. Ajaran masing-masing pun di kemudian hari menjadi madzhab tersendiri: produk pemikiran Abu Hanifah disebut madzhab hanafi sementara produk pemikiran Imam Syafi’i disebut madzhab syafi’i.

Imam Hanafi wafat lebih dulu daripada Imam Syafi’I dan saat itulah cerita mengesankan tentang kebesaran pribadi ulama dimulai. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam karyanya, kitab at-Tibyân, mengisahkan, suatu kali Imam Syafi’i berziarah ke kuburan Abu Hanifah. Tak seperti peziarah pada umumnya, Imam Syafi’i rela menginap di area makam hingga tujuh hari.

Selama tinggal di area makam tersebut, Imam Syafi’i tak henti-hentinya membaca Al-Qur’an. Tiap kali khatam, ia selalu menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an itu kepada Imam Abu Hanifah. Yang unik tentu saja adalah tata cara shalat Imam Syafi’i yang lain dari biasanya. Pengarang kitab induk usul fiqh ar-Risâlah ini tak membaca qunut tiap sembahnyang shubuh selama mukim di qubbah makam Abu Hanifah. Padahal dalam madzhab syafi’i, qunut hukumnya sunnah ab’adl (kalau lupa/tertinggal disunatkan sujud sahwi). Hal ini didasarkan pada hadits “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan qunut shubuh sampai beliau berpisah dari dunia (wafat)” (HR. Ahmad dan Abd Raziq). Mengapa?

Jawab Imam Syafi’i:

لأن الإمام أبا حنيفة لا يقول بندب القنوت في صلاة الصبح، فتركته تأدبا معه

“Karena Imam Abu Hanifah menolak kesunahan membaca qunut dalam shalat subuh. Saya tak membaca qunut sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau.”

Menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, kenyataan tersebut menunjukkan keluhuran budi para ulama salaf dalam menyikapi perbedaan (ikhtilâf). Kenyataan serupa juga terjadi pada generasi sahabat Nabi, perbedaan pemikiran tak menjadikan mereka saling mencaci dan saling bermusuhan. (Mahbib)

Yang Dilakukan Imam Syafi’i saat Ziarahi Makam Abu HanifahIlustrasi (muslimvillage.com)
Perkembangan dunia fiqih tak bisa dilepaskan dari Abu Hanifah atau yang bernama lengkap Nu’man bin Tsabit. Ia bisa dikatakan sebagai perintis ilmu fiqih yang madzhabnya diikuti jutaan umat Islam hingga kini. Ulama yang juga kerap disapa Imam Hanafi ini menginspirasi banyak ulama sesudahnya, tak terkecuali Muhammad bin Idris atau Imam Syafi’i yang juga amat berpengaruh dalam tradisi keilmuan hukum Islam sampai sekarang.

Keduanya, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i, adalah ulama fiqih generasi awal. Meski alim di bidang yang sama, gagasan kedua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah ini tak selalu sejalan. Perbedaan pendapat terjadi dalam banyak hal furu’ (cabang), seperti qunut, rukun shalat, wudhu, dan sejenisnya. Ajaran masing-masing pun di kemudian hari menjadi madzhab tersendiri: produk pemikiran Abu Hanifah disebut madzhab hanafi sementara produk pemikiran Imam Syafi’i disebut madzhab syafi’i.

Imam Hanafi wafat lebih dulu daripada Imam Syafi’I dan saat itulah cerita mengesankan tentang kebesaran pribadi ulama dimulai. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam karyanya, kitab at-Tibyân, mengisahkan, suatu kali Imam Syafi’i berziarah ke kuburan Abu Hanifah. Tak seperti peziarah pada umumnya, Imam Syafi’i rela menginap di area makam hingga tujuh hari.

Selama tinggal di area makam tersebut, Imam Syafi’i tak henti-hentinya membaca Al-Qur’an. Tiap kali khatam, ia selalu menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an itu kepada Imam Abu Hanifah. Yang unik tentu saja adalah tata cara shalat Imam Syafi’i yang lain dari biasanya. Pengarang kitab induk usul fiqh ar-Risâlah ini tak membaca qunut tiap sembahnyang shubuh selama mukim di qubbah makam Abu Hanifah. Padahal dalam madzhab syafi’i, qunut hukumnya sunnah ab’adl (kalau lupa/tertinggal disunatkan sujud sahwi). Hal ini didasarkan pada hadits “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan qunut shubuh sampai beliau berpisah dari dunia (wafat)” (HR. Ahmad dan Abd Raziq). Mengapa?

Jawab Imam Syafi’i:

لأن الإمام أبا حنيفة لا يقول بندب القنوت في صلاة الصبح، فتركته تأدبا معه

“Karena Imam Abu Hanifah menolak kesunahan membaca qunut dalam shalat subuh. Saya tak membaca qunut sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau.”

Menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, kenyataan tersebut menunjukkan keluhuran budi para ulama salaf dalam menyikapi perbedaan (ikhtilâf). Kenyataan serupa juga terjadi pada generasi sahabat Nabi, perbedaan pemikiran tak menjadikan mereka saling mencaci dan saling bermusuhan.

17 Jan 2017

Kisah Kyai Bisri Mustofa dan Kyai Abdul Hamid



Memasuki halaman kediaman Mbah Kyai Abdul Hamid Pasuruan rahimahullah pada suatu sore, Kyai Bisri Mustofa Rembang(Allah yarham) mendapati seorang santri sedang menyirami halaman itu dengan air dari selang untuk menekan debu agar tak berterbangan.
“Sungguh sayang”, gumam Mbah Bisri, “sráná kok dibuang-buang…”
Pintu rumah Mbah Hamid tertutup. Sejumlah orang yang punya hajat hendak sowan, menunggu dengan khusyuk di sekitarnya.
Tanpa sungkan-sungkan, Mbah Bisri meneriakkan salam,
“Assalaamu’alaikum!”

Tak ada jawaban. Orang-orang ngeri melihat kekurangajaran Mbah Bisri, tapi ragu-ragu untuk menegur. Mungkin mereka pikir, kalau usaha Mbah Bisri ada hasilnya, mereka akan ikut untung juga…

“Assalaamu’alaikooom!” teriakan Mbah Bisri lebih keras lagi. Tetap tak dijawab.
Santri yang menyirami halamanlah yang kemudian menegur,
“Maaf, Pak”, katanya, “Mbah Yai sedang istirahat!”
Tak menanggapi teguran si santri, Mbah Bisri malah semakin meninggikan suaranya dengan nada yang nelangsa,
“Yaa Allah Gustiiii….!” ratapnya, “beginilah nasib manusia kotor macam aku ini… mau sowan wali saja kok nggak ditemuiii…!”
Suara berdehem dari dalam, disusul Mbah Hamid membuka pintu.
“Jangan begitu lah, Nda…,” tegur beliau, “sampeyan ini kok mêsthi yang ênggak- ênggak saja…”
”Nda” adalah sapaan akrab antar teman. Beliau berdua memang sama-sama santrinya Mbah Kyai Kholil Harun rahimahullah di Kasingan, Rembang.
Orang-orang —yang sejak lama menunggu— berebut menciumi tangan Mbah Hamid dengan riang-gembira, dan mereka semua dipersilahkan masuk. Tak ada yang ingat untuk mengucapkan terimakasih atas “jasa” Mbah Bisri.

Di ruang tamu, Mbah Bisri pun menyampaikan hajatnya.
“Begini, Nda”, katanya, “sampeyan ‘kan ngerti, aku ini muballigh…”
“Hm…”
“Lha… aku ini belum punya mobil”, Mbah Bisri melanjutkan, “kalau terus-terusan kesana-kemari naik bis umum ‘kan bisa jatuh wibawaku…!”
Mbah Hamid manggut-manggut.
“Terus… maksudmu gimana?” beliau bertanya.
“Yaah… sampeyan yang dekat dengan Pêngéran (maksudnya Allah SWT, pen), mbok sampeyan mintakan mobil buat aku!”
Mbah Hamid tersenyum.
“Ya sudah… ayo…”, beliau mengajak semua orang, “’alaa niyyati Kyai Bisri… al faatihah!” Kemudian menadahkan tangan membacakan doa, diamini yang lainnya.
Begitu doa selesai dibaca, Mbah Bisri langsung menyerobot,
“Mereknya apa, Nda?

Jawab Mbah Hamid atas pertanyaan Mbah Bisri: “Kalau ’ndak Fiat ya Holden”.
Tak lama sesudah didoakan Mbah Hamid, Mbah Bisri memperoleh uang min ĥaitsu laa yaĥtasib yang cukup untuk membeli mobil. Gus Mus, yang diperintah mencari mobil untuk dibeli, mengubek dari Jakarta sampai Surabaya, dan tidak menemukan mobil ditawarkan orang kecuali merek Fiat atau Holden. Akhirnya diperoleh mobil sedan Holden keluaran 1968.

By Yai Yahya Cholil Staquf
dari sumber

“Kakekku dan Kakekkmu Mempunyai Ta’aluq Bathin”

Ada sebuah kisah menarik. Diceritakan ketika zaman Alhabib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi Seiwun (pengarang Maulid Simthuddurar). Ada seorang Auliya Allah bernama Al habib Abdul Qadir bin Quthban Assegaf. Habib Abdul Qadir bin Quthban adalah seorang ‘alim yang sangat gemar bersilaturrahim kepada para ‘alim ulama’ para waliyullah yang masih hidup di zaman tersebut. Kegemaran Beliau bersilaturrahim bukan hanya terbatas di wilayah Hadramaut Yaman saja. Tapi juga sampai ke pulau Jawa Indonesia.


Bahkan juga sampai ke kediaman Hadratussyaikh KH. Mohammad Hasan Sepuh Genggong Probolinggo. Ketika tiba dikediaman Kiai Hasan Sepuh Genggong, Habib Abdul Qadir disambut dengan ramah. Beliau berdua pun berbincang bincang. Tentunya dengan bahasa arab.
Sampai pada akhirnya kiai Hasan sepuh bertanya, yang kalau diterjemahkan :
“Habib, bagaimana kabarnya Habib Ali Habsyi Seiwun (pengarang Simtudhurar)??”.
Ditanya seperti itu, Habib Abdul Qadir terkejut dan terheran-heran. Bagaimana bisa Kiai Hasan Sepuh Genggong mengenali Habib Ali Habsyi Seiwun. Sedangkan Kiai Hasan secara dzahir tidak pernah ke Hadramaut Yaman, dan Habib Ali Habsyi Seiwun juga tidak pernah ke Indonesia.
Seolah mengetahui apa yg ada dihati Habib Abdul Qadir, Kiai Hasan kembali berkata :
“Habib Ali Al Habsyi Seiwun itu kulitnya seperti ini … (menyebutkan), wajahnya begini… (menyebutkan), kalau duduk seperti ini… (disebutkan), jalannya seperti ini… (disebutkan), di kediaman Habib Ali rumahnya seperti ini… (menyebutkan), di depannya ada masjid bernama Masjid Riyadh dan tiangnya ada… (menyebutkan)”.

Dan bertambah kagumlah Habib Abdul Qadir bin Quthban. Takjub oleh Kiai Hasan Sepuh Genggong yang menyebutkan secara detail seolah-olah beliau sangat akrab dengan Habib Ali Habsyi dan mengetahui keadaan rumahnya di kota Seiwun Hadramaut Yaman. Padahal Kiai Hasan tidak pernah sampai ke sana. Lalu setelah cukup berbincang-bincang, tak lama kemudian, Habib Abdul Qadir bin Qithban pun berpamitan pulang.

Ketika sekembalinya dari tanah Jawa ke Yaman. Habib Abdul Qadir bin Quthban mengunjungi kota Seiwun, untuk bertemu dengan Al Imam Al ‘Arifbillah Al Habib Ali Al Habsyi Seiwun.
Ketika sudah sampai di kediaman Habib Ali Habsyi dan berhadapan dengan beliau, ditengah-tengah perbincangan, Habib Ali Al Habsyi bertanya :
“Wahai Sayyid Abdul Qadir, apakah di Jawa engkau bertemu dengan seorang syekh bernama Hasan Jawi (Jawa maksudnya)”.


Habib Abdul qadir teringat pertemuannya dengan Kiai Hasan Sepuh Genggong. Beliau mengangguk meng-iyakan. Lalu Habib Ali Al Habsyi berkata :
“Syekh Hasan itu kulitnya seperti ini… (menyebutkan), wajahnya seperti ini… (menyebutkan), duduknya begini… (mencontohkan), jalannya seperti ini… (menceritakan), dan di rumahnya begini… (menjelaskan)”.
Hingga Habib Abdul Qadir takjub dengan detailnya penjelasan Habib Ali Seiwun tentang Kiai Hasan seolah keduanya adalah sahabat karib yang akrab. Padahal Habib Ali Seiwun tidak pernah ke indonesia. Subhanallah.

Nah, begitulah jika seseorang telah diangkat derajatnya oleh Allah. Maka dunia tidak lebih hanyalah barang mainan saja. Meski dahulu tidak ada alat komunikasi seperti handphone ataupun TV,
namun berkat karomah dari Allah, beliau berdua telah saling mengenal dalam dunia bathiniyah.
Ketika haul Al ‘Arifbillah Al Habib Ali Habsyi Seiwun Shahib Simutuddurar di kota Solo, salah satu dari cucu Kiai Hasan Sepuh Genggong sowan ke Habib Anis bin Alwi bin Al Imam Ali Al Habsyi Seiwun. Cucu dari Habib Ali Simtudhurar.

Saat Habib Anis tahu bahwa yang sowan adalah cucu Kiai Hasan Genggong. Habib Anis tersenyum sambil berkata “Kakekku dan kakekkmu mempunyai ta’aluq bathin”.
Semoga kita yang penuh dengan dosa ini diampuni oleh Allah. Dan dengan rahmat Allah semoga kita dilayakkan untuk dimasukkan kedalam rombongan beliau para guru-guru kita auliya’ washalihin. Aamiin.
Al-Faatihah

Kuatnya Nur Nabi Muhammad Shollahu 'alaihi Wasallam



Cerita ini dari Abuya Assayyid Muhammad Alawi Almaliki, beliau mendengar dari ayahnya Assayid Alawi Bin Abbas Alamliki, yang beliau padukan dengan apa yang beliau ambil dari kitab NUZHATUN NADHIRIN.Pernah ada seekor hewan melewati atas makam RASULULLAH, burung terbang/ kucing melewati atasnya.

Lalu hewan tersebut jatuh dan mati ditempat. Kemudian lama kelamaan terciumlah bau tak sedap, hal yang menyebabkan rasa "Takdhim" mereka pada makam assyarif terpanggil untuk mensucikannya.
Lalu dipilihlah dari penjaga masjid yang paling saleh untuk mensucikan makam RASULULLAH.
Maka terpilihlah salah satu dari mereka yang paling saleh, dan langsung dia melakukan "tirakat, riyadhoh" demi membersihkan jiwa, menghadapi hal hal yang akan terjadi pada makam RASULULLAH.

Setelah berpuasa, memperbanyak ibadah, sedekah selama 40 hari 40 malam, mulailah penjaga makam tersebut mengambil tangga untuk melewati dinding pembatas.
Sebenarnya hal ini adalah dilema antara keinginan mensucikan makam dan antara perasaan kurang takdhim memanjat dinding makam, namun karena terpanggil untuk kesucian, maka hal itu harus dilalui.Dan setelah orang tersebut berhasil memasuki makam dan berhasil mengambil bangkai binatang tersebut dan keluar, tiba tiba dia mendadak buta, bisu. Dan stelah beberapa hari dia meninggal dunia.Hal ini karena dia tidak kuat memandang NUR MUHAMMAD yang ada dalam makam, dan tidak bisa berbicara karena konsentrasi lahiriyahnya belum bisa menyatu dengan dunianya, sebab seperti cerita beliau yang lain bahwa didalam masjid NABAWI bila malam hari ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kalimat.
Apalagi makam RASULULLAH. Alangkah agung derajat nabi Muhammad dan derajat SUHBAH para sahabat, sehingga mereka sendiripun tak ada yang mampu melihat cahaya ketampanannya. SOLLU ALAIH
wallahua'lam

Kisah ini diceritakan langsung dari Guru Mulia Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syaikh Abubakar bin Salim tatkala di Wisma DPR RI Bogor pada hari Kamis,24 Muharram1435 / 28 Nov 2013.Dikatakan oleh Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'roni:"Seseorang akan bisa mendengar ucapan Rasulullah SAW secara langsung tentulah ia telah mencapai 79 ribu maqam dan berhasil menghilangkan 247 ribu hijab dalam hatinya."Guru Mulia Al-Musnid Al-HabibUmar bin Hafidz menceritakan sosok gurunya, Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf,Jeddah. Suatu ketika ada seorang muhibbin datang kepada Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf seraya berkata: "Wahai Habib, sudah bertahun-tahun aku ikut ta'lim denganmu. Dan sudah lama pula aku rindu ingin bertemu Rasulullah SAW.

Namun hingga saat ini keinginanku tersebut belum dikabulkan Allah SWT. Aku ingin engkau berkenan menjadi wasilahku bertemu dengan Rasulullah SAW. "Mendengar permohonan si muhibbin tadi, Al- Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf mengajaknya ziarah ke makam Rasulullah SAW. Tatkala sudah tiba di makam Sang Rasul SAW, beliau membaca salam dan beberapa aurod. Tak berapa lama Rasulullah SAW menjawab salam dari Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Bahkan Rasulullah SAW nampak keluardari pusaranya yang mulia tersebut.Mendengar jawaban salam dan melihat RasulullahSAW, si muhibbin gemetar seakan tak bisamengendalikan dirinya, serasa tubuhnya akanluluh lantak menatap keindahan wajah Rasul SAW. Akhirnya Al-Habib Abdul
Qadir bin Ahmad Assegaf memegangnya sehingga ia mampu mengendalikan dirinya..Subhanallah..
Semoga Allah membuka segala macam hijab danmemperkenankan kita untuk memandang keindahan wajah mulia Rasulullah saw baik di dunia maupun di akherat..

ﺁﻣﻴﻦ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺁﻣﻴﻦ ﻳﺎﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
Baarakallah fiikum..
wallahu'a lam bishowab.

Oleh : Al Habib Umar Bin Sholeh AlHamid
dari page SUMBER

10 Jan 2017

Dan Rasulullah SAW pun Menangis



Suatu ketika Rasulullah SAW. pulang dalam keadaan sangat letih dari medan dakwah. Ketika hendak masuk rumah, Khadijah biasanya menyambut beliau berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri menyambut Suami tercinta, Rasulullah berkata: “Wahai Khadijah tetaplah di tempatmu.” Saat itu Khadijah sedang menyusui anaknya Fatimah yang masih bayi. Rasulullah faham dengan kesetiaan Khadijah, Rasulullah TAKJUB dengan pengorbanan Khadijah. Meskipun dalam keadaan LELAH menjaga rumah tangganya. Mekipun dalam keadaan LETIH dalam memelihara anaknya, Khadijah masih sempat menunjukkan KESETIANNYA kepada sang Suami walau dengan hal yang SEDERHANA. Bahkan seluruh harta bendanya diberikan kepada Nabi demi perjuangan Islam dan bahkan lebih dari itu, jiwa dan raganya diperuntukkan untuk Islam.

Tidak jarang Khadijah menahan lapar sambil menyusui anaknya Fatimah ra. Sehingga yang keluar bukan air susu lagi tapi DARAH yang keluar yang MASUK ke dalam MULUT Fatimah. Melihat Khadijah letih menyusui anaknya, Rasulullah mengambil Fatimah dan diletakkan di tempat tidurnya. Gantilah Rasulullah berbaring dipangkuan sang Istri. Karena Rasulullah begitu lelah dan letih dari mendakwahkan islam kepada umatnya yang menolak seruannya, beliaupun tertidur dipangkuan sang istri. Katika itulah khadijah dengan belaian kasih sayang membelai rambut Beliau. Tak terasa AIR MATA Khadijah al-Kubra menetes mengenai pipi Rasulullah SAW. Nabipun terjaga “Wahai Khadijah kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? 

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta bendamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” Khadijah al-Kubra berkata, “Wahai suamiku, wahai Nabi Allah, bukan itu yang aku tangiskan. Dulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki kebangsawanan, kebangsawanan itupun aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang ini aku tidak memiliki apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.”

 “Wahai Rasulullah, sandainya aku telah MATI sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, kemudian engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, ..engkau hendak menyebrangi sebuah sungai dan engkau tidak menemukan satu perahu pun ataupun jambatan, maka engkau gali lubang kuburku, engkau gali kuburku, kemudian ambillah TULANG BELULANGKU, engkau jadikan jembatan sebagai jalan menyeberangi sungai itu untuk menemui umatmu.
"INGATKAN MEREKA AKAN KEBESARAN ALLAH.
INGATKAN MEREKA PERKARA YANG HAQ.
AJARKAN MEREKA SYARI'AT ISLAM WAHAI...RASULULLAH.”
______________________________
______
DAN RASULULLAH PUN MENANGIS.

Dikutip dari FB Habib Agil Alattas

20 Des 2016

Ajaran Kebangsaan Maulana Habib Luthfi bin Yahya



Banyak sufi sepanjang beratus-ratus tahun sudah meninggalkan cerita mengenai kebijaksanaan mereka terkait dengan raja-raja serta penguasa. Cerita Imam al-Bashri dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, al-Junaid, al-Bisthami serta al-Karkhi dengan tokoh penguasa semasanya. Walau demikian, sekarang ini masihlah ada beberapa kiai yang mengambil posisi senantiasa berhadap-hadapan, mengritik petinggi dengan argumen itu yang diajarkan beberapa ulama kita dulu selalu untuk mengambil posisi berjarak dengan pemerintah. Lantaran argumen itu, masihlah ada penceramah yang menjamah kehormatan petinggi serta mencabik-cabik nama baiknya di hadapan khalayak, dengan argumen mengritik pejabat merupakan ajaran beberapa ulama dulu serta yang sudah mereka contohkan.

Habib Luthfi mengecam keras pandangan seperti itu. Menurut Habib Luthfi, para ulama dulu sebagian bersikap demikian lantaran sistem pemerintah waktu itu tidak sama dengan saat ini. Dulu berbentuk monarki serta rakyat sekalipun tidak bisa ikut serta dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sekarang ini kita hidup dalam alam demokrasi, dimana peran aktif orang-orang serta tokoh agama begitu perlu untuk memberikan pertimbangan pada beberapa petinggi pemerintah dalam memastikan kebijakan. Lantaran lewat masukan orang-orang serta beberapa input dari golongan cerdik pandai pemerintah dapat mengambil policy yang pas. Pendirian Habib Luthfi seperti ini pada masa Orde Baru pasti tak populis. Nyaris semuanya kiai mengambil posisi berhadap-hadapan atau sekurang-kurangnya acuh pada penguasa.

Seorang sufi besar, Ahmad bin Amad al-Barnasi al-Maghribi yang dikenal dengan Syaikh Zaruq (w. 899 H) menyampaikan: “...menjaga kestabilan itu hukumnya wajib. Serta memerhatikan kemaslahatan umum itu berbentuk pasti. Oleh karenanya beberapa ulama setuju kalau lakukan ‘makar’ pada pemimpin yang sah itu haram hukumnya, baik dalam perkataan ataupun perbuatan. Bahkan juga beberapa ulama setuju (ijma’; konsensus) sah shalat di belakang seseorang petinggi maupun orang umum yang baik ataupun yang dzalim sepanjang kefasikannya itu tak dikerjakan waktu shalat. Oleh karenanya Nabi Saw. bersabda, “Tidak mencemooh satu golongan orang-orang pada pemerintah mereka terkecuali mereka bakal terhambat dari kebaikan pemerintahnya itu.” Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, “Tidak melakukan perjalanan satu golongan orang-orang menuju tempat pemerintah dengan maksud menjelek-jelekan pemerintah, terkecuali Allah bakal mengejekkan mereka".”

Habib Luthfi memanglah cuma menyampaikan kita mesti menghormati pemerintah. Mesti menghormati Presiden. Sebab Presiden itu lambang Negara. Serta beberapa lambang Negara punya sifat sakral. Di balik ajarannya itu, nyatanya ada landasan filosofis serta didasarkan atas sebagian alasan syariat. Seperti dijelaskan dalam keterangan Syaikh Ahmad Zaruq di muka kalau menghormati pemerintah tidak cuma menjadi keharusan yang berasaskan kearifan budaya tetapi ajaran Nabi Saw. Nabi mengingatkan barangsiapa yang mencemooh pemerintah, Allah bakal mengejekkannya. Bila petinggi itu dapat dibuktikan lakukan tindak pidana, menurut Habib Luthfi ada mekanisme serta cara perlakuannya. Walau demikian pada prinsipnya jangan pernah mengakibatkan kerusakan kesakralan beberapa lambang Negara.

Dalam pandangan Habib Luthfi menghormati pemerintah yaitu sisi yang tidak terpisahkan dari bentuk kecintaan pada Bangsa serta Negara. Jalinan baik Habib Luthfi dengan pemerintah dapat dilihat dari kehadiran Presiden RI pada perayaan Maulid Nabi Kanzus Shalawat pada tahun 2004 serta 2014. Gubernur serta Wakil Gubernur dari beragam provinsi, serta menteri-menteri dalam perayaan Maulid Nabi.

(Dikutip dari buku “Sejarah Maulid Nabi; Meneguhkan Semangat Keislaman serta Kebangsaan Mulai sejak Khaizuran 173 H sampai Habib Luthfi bin Yahya 1947 M-Sekarang)

Kisah Peci Bung Karno dan Surban Diponegoro Mbah Wahab



Mbah Wahab seorang ulama yang multitalenta. Selain menguasai ilmu agama beliau juga seorang politikus ulung, jago silat dan ahli wirid. Beliau menyatakan orang Islam bukan hanya berwibawa dan disegani karena ilmunya, melainkan juga karena wiridnya. Salah satu peninggalan wirid Kiai Wahab yang terkenal dan biasa diamalkan terutama di kalangan Pesantren sampai sekarang adalah:
“Maulaya shalli wasallim da-iman abada # ‘Ala habibika khairil khalqi kullihimi
Huwal habibulladzi turja syafa’atuhu # Likulli haulin minal ahwali muqtahami.”

Di pentas politik nasional, Mbah Wahab memperoleh lawan tanding yang layak: Bung Karno. Konon pernah terjadi ketika seluruh peserta pertemuan sudah siap di ruangan ketika Presiden Soekarno datang. Berjalan menuju tempat duduknya, Bung Karno menyempatkan diri menghampiri Mbah Wahab dan menepuk bahunya, “Ikut pendapatku!” kata Bung Karno, kemudian berlalu.
Mbah Wahab tidak menjawab. Bukan karena taat atau tak punya kata-kata, tapi tubuhnya mendadak kaku, lidahnya kelu. Hampir sepuluh menit beliau terpatung seperti itu. “Astaghfirullahal ‘adzim,” batinnya, “kena aku...”

Mbah Wahab jelas bukan orang yang gampang menyerah. Bung Karno baru selesai menyapa orang-orang ketika Mbah Wahab berhasil membebaskan diri dari ‘jurus’ Bung Karno itu. Belum lagi Presiden mantap duduknya, Mbah Wahab bangkit, ganti menghampiri dan menepuk pundaknya. “Aku punya pendapat sendiri!” kata Kiai Wahab.

Setengah jam Bung Karno terhenyak tanpa bergerak, hingga hadirin bengong, tak tahu yang terjadi.
Bagi Bangsa Indonesia, peci hitam memiliki arti penting. Peci ini dipakai Presiden pertama RI keliling dunia. Tak ayal, para pemimpin negara sahabat pun akrab dengan peci tersebut. Di mana peci hitam tampak, di situlah orang Indonesia disebut. Peci hitam memang menjadi identitas kebangsaan kita. Dalam buku “Berangkat dari Pesantren”, Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri menceritakan tentang uniknya peci hitam.

Suatu ketika, di sela-sela sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959 muncul kisah menarik. Bung Karno, kata Kiai Saifuddin Zuhri, menyatakan bahwa dia sebenarnya kurang nyaman dengan segala pakaian dinas kebesaran. Akan tetapi, semuanya dipakai untuk menjaga kebesaran Bangsa Indonesia. “Seandainya saya adalah Idham Chalid yang ketua Partai NU atau seperti Suwiryo, ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” ujar Bung Karno sambil melihat respon hadirin.

Dengan yakin dan percaya, proklamator itu menegaskan tidak akan melepas peci hitam saat acara resmi kenegaraan. “Tetapi soal Peci Hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini. Benar enggak, Kiai Wahab?” tanya Bung Karno pada Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang juga anggota DPA, KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Dengan tangkas, Mbah Wahab pun segera menimpali lontaran Bung Karno itu. “Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para muballigh NU,” jawab sang kiai

Sontak, pernyataan kiai kharismatik ini langsung disambut gelak tawa seluruh anggota DPA. Suasana pun meriah oleh canda tawa dan tepuk tangan hadirin. “Dengan peci itu saudara telah mendapat banyak berkah. Karena itu, ketika berkunjung ke Timur Tengah, saudara mendapat tambahan nama Ahmad. Ya, Ahmad Soekarno,” seloroh Kiai Wahab yang lagi-lagi disambut gelak tawa hadirin.

Dalam buku saku yang diterbitkan Panitia Haul ke-43 KH. A. Wahab Chasbullah disebutkan, kiai perintis, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama itu hampir tak lepas dari sorban dalam segala situasi. Baik di rapat-rapat NU, sidang parlemen, resepsi, istana negara, atau perjalanan. Suatu ketika Kiai Wahab berbicara pada sidang parlemen. Sebelum berdiri, ia membetulkan letak sorbannya. Sekelompok anggota parlemen komentar, “Tanpa sorban, kenapa sih?”
“Sorban Diponegoro,” jawab Kiai Wahab.

Ketika berdiri di podium, Kiai Wahab mengatakan, bahwa Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Kiai Mojo, dan Teuku Umar juga mengenakan sorban. Penjelasannya itu membuat sebagian anggota parlemen tergelak, tapi kemudian terdiam.

Menurut sejarawan, silsilah keturunan Kiai Wahab jika dirunut ke atas maka akan sampai pada kisah heroik Kiai Abdus Salam. Kakek Kiai Wahab itu merupakan salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro di sektor timur (1825-1830). Kiai Abdus Salam merupakan putra Pangeran Sambo bin Pangeran Benowo bin Joko Tingkir (Mas Karebet) bin Kebo Kenongo bin Pangeran Handayaningrat bin Lembu Peteng bin Pangeran Brawijaya VI. Dari trah para pejuang ini wajar jika kemudian Kiai Wahab tampil sebagai ulama yang tak pernah berhenti berpikir dan bergerak untuk umat.

13 Des 2016

Kisah Teladan, Abu Yazid Al Busthami qs dan Seekor Anjing


\
"Siapakah Dirimu Yang Sebenarnya? "
Siapa yang tidak kenal Abu Yazid Al-Busthami Qadasallahu Sirrahu, termasuk pemimpin kaum sufi. Namun siapa sangka beliau pernah mendapat ilmu yang sangat berharga dari seekor anjing.
Seperti biasa, Abu Yazid suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu dia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya, anjing itu dengan begitu jalan tidak menghiraukan sang Syeikh, namun ketika sudah hampir dekat, Al-Busthami mengangkat jubahnya khuatir tersentuh anjing yang najis itu.
Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya,

"Tubuhku kering tidak akan menyebabkan najis padamu, kalau pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7x dgn air & tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat jubahmu kerana menganggap dirimu yang berbaju, badan manusia lebih mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan 7 samudra lautan".

Abu Yazid tersentak dan minta maaf. Lalu sebagai permohonan maafnya dia mengajak anjing itu untuk bersahabat & jalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya.
"Engkau tidak patut berjalan denganku, mereka yang memuliakanmu akan mencegahmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang Pencipta wujud ini, lihatlah aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum", lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid masih terdiam, "Duhai Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaanMU saja aku tak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan bersama denganMU, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari najis "

Sejak itu Abu Yazid memuliakan dan mengasihi semua mahluk Tuhan tanpa syarat.
"Janganlah menganggap dirimu lebih suci dari yang lain, sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang paling suci di antara hamba-hamba-Nya" (Surah an-Najm).
Wallahualam

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'ala 'alihi wa shohbihi wa salim

dikutip dari FB Diah Listyani

24 Nov 2016

Ajaran Toleransi Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya



“Jika sulit mencari alasan untuk menghormati pemeluk agama lain, alasan bahwa dia adalah manusia ciptaan Allah Swt. saja sudah cukup.” (Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya) 

Ketika kita telah menjelma kasih sayang di antara sesama kita pasti kedamaian itu akan semakin kokoh, semakin kuat dan semakin melejit. Dan cahaya kedamaian itu tidak dirasakan untuk Bangsa Indonesia saja, melainkan juga akan ditiru oleh bangsa lain.

Kita melihat tokoh-tokoh sesepuh kita, dari Budha, Hindu, Kristiani, Katolik, Protestan, dlsb. juga yang Muslim, kita melihat secara langsung ternyata semuanya koq Indonesia. Beda memang, ok, beda. Tapi saya kira tidak ada kalimat ‘Beda Indonesia’.

Rahmat Yang Maha Kuasa itu cepat turun karena kedamaian. Coba ribut terus, berkah dicabut, isinya hanya permusuhan, curiga, dan lain sebagainya. Ya ndak ada habisnya. Kalau orang selalu mencari kejelekan, saya jadi teringat nasihat guru saya, “Luth, Luth...”

“Ada apa Kiai?”

“Kamu kalau melihat orang lain, hidungmu itu dikasih minyak wangi, dioleskan. Nantinya mencium siapa pun akan wangi. Jika istrimu saat memasak maka akan berbau kompor, yang memakai kayu bakar maka berbau kayu, tapi tetap sedap karena di bawah hidungmu ada minyak wanginya. Secantik apapun jika di bawah hidungmu ada kotorannya maka jadi tak karuan. Sudah tampil cantik, mandinya sungguhan, ternyata bau kotoran. Dia tidak melihat, ternyata yang ada kotoran di bawah hidungnya adalah dirinya sendiri.”

Itulah kalau kita selalu memandang tidak baik, curiga terus, saya mengingat; ‘Eh di hidungku ada kotorannya tidak’. Nah ini suatu ajaran dari sesepuh-sesepuh kita. Dari sinilah kekuatan yang tanpa kita prediksi. 

Dengan doa bersama ini melambangkan dan menunjukkan suatu kekuatan Indonesia yang tidak main-main. Saya sedikit memperingatkan untuk kita semuanya, kalau Indonesia ini umpanya ditekan oleh oknum-oknum politik entah luar negeri atau siapapun, kita ndak mempan. Digoyahkan tentang faktor ekonomi, Indonesia masih tetap kuat. Ujungnya yang paling berbahaya adalah, ‘benturkan antar-umat beragama’. Itulah 

(Sumber: Fp IbjmArt.com)

22 Nov 2016

Tentang KHR. As'ad Syamsul Arifin



Saya belum pernah berjumpa dengan beliau, tapi saya merasa dekat dan sayang kepada beliau melalui cerita cerita indah nan hebat tentang beliau dari almarhum ayahanda
H. Nadhir Muhammad.

Di bulan dimana beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional,ingin saya mengenang beliau melalui cerita almarhum ayah;

1. "Kiai As'ad itu kiai sakti nak". kalimat dari ayah saya itu masih teringat jelas di ingatan.
bagaimana ketika almarhum ayah berkeinginan kuat melaksanakan haji namun belum memiliki bekal, maka kiai As'ad memakaikan kopiyah putih ke ayah saya sambil berucap "haji, haji". Dan Alhamdulillah setelah itu juga ayah saya mendapat beasiswa kuliah S2 ke baghdad dari kiai idham khalid, dan dari situ bisa menunaikan ibadah haji.

2. "Nak,ketika bapak ditahan tentara di kodim gara gara bapak menjadi ketua pemenangan pemilu PPP tahun 1982 dan Golkar kalah waktu itu, bapak ngamalkan wiridan dari kiai As'ad di penjara, dan alhamdulillah selesai wiridan, langsung ada telpon dari militer pusat supaya bapak dibebaskan". kalimat ini, lebih teringat lagi di benak saya. Mungkin karena waktu itu ibu saya "terpaksa" mengandung saya dalam keadaan almarhum ayah ditahan oleh rezim orde baru golkar. sebuah wirid yang ketika saya telusuri, berasal dari syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi.

3. Yang terakhir walau masih teramat banyak kenangan yang lain, dan ini menurut saya yang paling penting. "Nak, ketika pak harto memberi kiai as'ad mobil sedan karena menerima asas tunggal pancasila, mobil itu tetap diterima supaya tetap menjaga hunungan baik dengan pak harto, tapi setelah itu mobilnya langsung diberikan ke orang lain". Bagaimana Ayah saya menggambarkan kiai As'ad sebagai kiai dan tokoh yang ikhlas berjuang untuk rakyat indonesia. beliau menerima pancasila dan menjaga hubungan baik dengan pemerintah bukan karena materi apalagi jabatan. beliau lakukan itu semua karena rasa sayang kepada rakyat indonesia. Ya, rasa sayang kepada sesama inilah karakter wajib yang harus dimiliki seorang wali Allah, dalam tingkatan apapun juga.

Kiai As'ad, gelar pahlawan nasional ini pasti bukanlah yang kiai As'ad cari, gelar ini tidak lain hanya busyra -kabar gembira- dari Allah, sebagaimana syaikh ibn Athoillah sakandari berhikmah, tanda amal diterima oleh Allah di akhirat adalah adanya "tanda gembira" di dunia.gelar ini hanya salah satu pengingat dari Allah untuk rakyat indonesia, bahwa kiai As'ad memang memiliki tempat yang teramat mulia di sisi Allah. Amin Ya Allah.

الى العارف بالله الشيخ أسعد شمس العارفين ،الفاتحة...

Ahmad Gholban Aunir Rahman
Talangsari Jember

17 Nov 2016

Penyakit RASIS


Sayyidi al-Habib Umar bin Hafidz:

"Rasisme adalah penyakit dari orang-orang kafir! 
Ketika Abu Bakar RA menebus Bilal RA dari perbudakan dan kebebasannya dikabulkan, Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma memanggil Sayyidina Bilal RA dengan sebutan Tuan karena derajatnya (ketakwaannya) yang tinggi, dekat dengan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Ketika Nabi ﷺ diutus, beliau membawa kesetaraan kedudukan dalam Islam, jika kalian masih memiliki penyakit ini (rasis), ketahuilah bahwa kalian memiliki penyakit yang sama dari orang-orang kafir atau non-Muslim".

Biografi Habib Ali Al-Jufri, Sang Da'i Fenomenal



Rusaknya moral umat manusia sudah bukan lagi berita baru. Semua orang yang merenung pasti menyadarinya. Semakin lama semakin banyak hal-hal tabu yang menjadi suatu hal yang biasa bahkan istimewa. Demikian pula perseteruan antar ideologi yang tak ada habisnya. Saling tuding, saling menuduh dan saling mengafirkan sudah jadi tontonan wajib. Parahnya, saling benci hanya karena berbeda ideologi itu sudah menjadi hal lazim, bahkan saling bunuh.

Kini kita nampak hidup di zaman jahiliah. Wanita sudah malu tuk berbusana. Maksiat pun biasa dilakukan dihadapan ribuan mata. Bahkan maksiat juga bisa bikin orang bangga. Saat ombak kemiskinan moral menggunung. Di tengah gejolak pemikiran yang memanas. Dan di masa modernitas jahiliah. Masih terdapat kebaikan di dalam tubuh umat Islam. Kita masih menemukan sosok-sosok manusia jaman dulu, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya serta membawa manhaj nabawi serta menaburkannya di muka bumi.

Adalah Habib Ali al-Jufri salah satu ulama yang cukup berpengaruh dewasa ini. Sebelum terbitnya fajar Jum’at 20 Shafar 1931 yang bertepatan dengan 16 April 1971 ia meneriakkan tangisan pertamanya di Kota Jeddah, Arab Saudi. Ulama berwajah tampan ini bernama asli Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri dari keluarga Ba’alwi yang nasabnya bersambung sampai pada Rasulullah Saw.

Ayahnya adalah Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali bin Ahmad bin Alwi bin Abdurrahman Maula al-‘Ursah bin Muhammad bin Abdullah at-Turisi bin Ali al-Khawwash bin Abu Bakar al-Jufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Ubaidullah bin Ahmad bin al-Muhâjir ilallâh Ahmad bin Isa ar-Rumi bin Muhammad bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Kw. bin Abu Thalib suami Siti Fathimah binti Rasulullah Saw.

Selain mewarisi garis keturunan dari Rasulullah Saw., ia juga mewarisi ilmu dan akhlaq beliau Saw. Tumbuh di lingkungan akademis nan agamis di sekeliling keluarganya, sejak kecil ia sudah dicekoki dengan wejangan-wejangan keagamaan bernuansa sufi ala tarekat Alawiyah.



Di masa kecilnya, ia sudah banyak menerima sentuhan-sentuhan energi rohani serta pelajaran agama dari bibinya yang juga merupakan seorang wanita salehah yaitu al-Ârifah billah Hababah Shafia binti Alwi al-Jufri.

Selanjutnya ia menjalani jalan setapak para penuntut ilmu agama dengan mengambil ilmu-ilmu agama dari guru-guru yang mempunyai sanad yang bersambung sampai pada Rasulullah Saw. Sejak umur 10 tahun ia mulai berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah. Dari Habib Abdul Qadir ini ia belajar banyak ilmu agama beserta sanadnya sampai pada umur yang ke-21.

Setelah itu ia belajar kepada beberapa ulama lain, seperti Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, Habib Abu Bakar Alattas di Mekkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib Hamid bin Alwi al-Haddad, Habib Abu Bakar al-‘Adani, dan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Basyekh.

Pada tahun 1991 ia bergabung di Fakultas Dirasat al-Islamiyah Universitas San’a Yaman sampai tahun 1993. Selama jenjang waktu tersebut, ia memanfaatkannya untuk berguru kepada Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar sampai sang guru itu menghembuskan nafas terakhirnya di Kota Baidha’ Yaman. Di sini beliau banyak mengambil pelajaran dari metode dakwah Habib Muhammad. Habib Muhammad senantiasa mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dikuasainya di segala sisi kehidupannya. Dari sinilah titik tolak pandangan Habib Ali dalam penyelarasan ilmu teori dan praktik di medan dakwah.

Selanjutnya ia mengambil ilmu dari Habib Umar bin Hafidz dan menetap di kampung nenek moyangnya Tarim Hadhramaut, tepatnya di pondok Darul Musthafa milik Habib Umar dari sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2003.

Selain itu ia juga berkali-kali ke Mesir untuk berguru kepada ulama-ulama Negeri Musa seperti, Syaikh asy-Sya’rawi, Syaikh Isma’il Shadiq al-‘Adawiy Imam dan Khathib Masjid al-Azhar, dan juga berguru kepada asy-Syadzuli Kedua Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim.

Ia juga telah melalang buana ke berbagai negara lainnya hanya untuk berguru. Di Syam beliau berguru dengan Syaikh Abdurrazaq al-Halabi, Syaikh Ahmad al-Khathib, dan Syaikh Husain ‘Usairan di Lebanon. Di India berguru dengan Syaikh Muhammad In’am Hasan. Dan di Maroko dengan Syaikh Idris al-‘Iraqi. Dari perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu ini, beliau meraih lebih dari 300 Ijazah di berbagai disiplin ilmu beserta sanadnya.

Di mata pengagumnya Habib Ali dikenal sebagai da’i yang membawa manhaj moderat dalam usaha mempersempit lingkaran perbedaan antar golongan-golongan yang ada dalam agama Islam. Salah satu usahanya ini dilakukan dengan menggabunggkan metode klasik dan modern dalam berdakwah dan sangat anti untuk mengafirkan golongan lain.

Gerakannya dalam bidang dakwah ini mendapat apresiasi dari banyak ulama di berbagai belahan dunia. Diantara para ulama yang menunjukkan apresiasinya kepada Habib Ali adalah, Salman ‘Audah dan Aidh al-Qarny dari Saudi, beberapa ulama Ja’fariyah dan Zaidiyah. Mayoritas ulama Syam dari Suriah maupun Lebanon seperti, Mufti Suriah Syaikh Ahmad Kiftaro, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Bouty, Mufti Lebanon Muhammad Rasyid Qabbany. Demikian pula masyarakat Mesir pada umumnya, bahkan Mufti Mesir Syaikh Ali Jum’ah menganggap Habib Ali sebagai salah satu anggota kelompok kajian ilmiah dan dakwahnya. Habib Ali juga mempunyai pengagum setia di belahan dunia lain seperti di Indonesia, India, Afrika, Eropa dan Amerika.

Para pengamat tasawuf, khususnya para ulama Syam, Yaman, Mesir dan Maroko memandang Habib Ali sebagai tokoh sufi yang moderat, sesuai dengan yang dicontohkan oleh ulama salaf seperti Hasan al-Basri, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dan juga ulama khalaf seperti Ibnu Taimiyah. Di mata mereka Habib Ali bagaikan reinkarnasi ulama-ulama salaf. Meskipun demikian, tidak dapat diingkari bahwa masih ada beberapa yang menganggap Habib Ali sebagai sufi yang terlalu over dalam praktek tasawuf.

Selain aktif di berbagai kegiatan ilmiah dan dakwah di banyak seminar maupun muktamar internasional, ia juga aktif meramaikan dakwah melalui media masa yang ada. Ia seringkali tampil di channel-channel televisi, bahkan beberapa channel menyediakan program khusus secara bersambung yang khusus menampilkan Habib Ali seperti yang diadakan oleh channel Drama 2, Iqra’, Risalah, Mehwar, CBC dan lain-lain.

Objek dakwah Habib Ali tidak terbatas di Timur Tengah saja, disamping kesibukannya yang padat, ia masih menyempatkan dirinya untuk menyebarkan pesona Islam di negeri Paman Sam. Ia menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Amerika Serikat seperti, Universitas St. Clara, Universitas San Diego, Universitas Miami, Universitas California Selatan di Los Angels. Sebagaimana ia juga menjadi dosen tamu di Universitas SOAS di Uni Emirat Arab.

Walaupun Habib Ali memiliki jasa yang sangat besar pada umat Islam, seringkali ia menerima kritikan pedas dari pembesar-pembesar golongan Salafi Wahabi. Hal itu wajar, karena Habib Ali berafiliasi kepada akidah Asy’ari dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran tasawuf.

Namun di tengah derasnya tuduhan dari golongan Salafi, ia juga mendapat dukungan keras dari banyak ulama Ahlusunnah. Syaikh Muhammad Abdul Ghaffar Sekjen Wakaf Kuwait mengatakan, “Orang-orang yang menyerukan untuk mewaspadai dakwah Dai’ Hebat (Habib Ali) ini kebanyakan hanyalah atas dasar kedengkian.” Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Bouty mengatakan bahwa Habib Ali adalah salah satu dari ulama yang mengamalkan ilmunya dan termasuk orang saleh.

Demikianlah sekilas tentang sosok Habib Ali al-Jufri. Ia bak pemborong warisan Nabi Saw., dari nasab, ilmu sampai akhlaknya. Semoga Allah senantiasa menjaganya dan memanjangkan umurnya. Dan semoga kita mendapatkan barakah ilmunya dan mengikuti jejaknya. Amin. (*Diterbitkan di Majalah La Tansa IKPM Cab. Kairo via http://www.ikpmkairo.com).

Kisah Syaikh Muhammad Al-Ghazali dengan Wanita Tak Berhijab



Ulama sekaligus dai produktif asal Mesir yang wafat tahun 1996, Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita, “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.

Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.
Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.

Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”
Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”
Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”
Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”

Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”
Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.

Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”

Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”
Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para dai dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”
“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.

“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”
Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:
يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك
“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”

Sungguh cahaya cinta dan kasih sayang yang terpancar dari hati Rasulullah Saw. sanggup mengubah kondisi hati setiap orang yang melihatnya. Maka apakah para dai hari ini telah belajar dari sosok Nabinya, sehingga mereka menjadi dai yang menyatukan, bukan justru memecah-belah? Menjadi dai yang memberikan kabar gembira, bukan justru membuat orang-orang lari dari agama? 

(Disarikan dari kitab al-Haqq al-Murr (Kebenaran yang Pahit) hal. 23 karya Syaikh Muhammad al-Ghazali).