CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

10 Nov 2014

Dialog Al Habib Ali Al-Jufry dengan Kurt Westergaard (Pembuat Karikatur Rasulullah SAW)



Habib Ali adalah sosok da`i muda yang energik, santun selalu tersenyum dan mengingatkan kita kepada Allah bila melihat wajahnya. Dakwahnya di fokuskan ke Negara-negara Eropa hingga Amerika, beliau salah satu murid dari guru mulia Al- Arif Billah Al- Allamah Habib Umar bin Hafidz, atas perintah gurunya beliau datang ke Indonesia dan memberikan tausyiah di Monas acara Dzikir Akbar bersama Majelis Rasulillah SAW pimpinan Sayyid Munzir Al-Musawa. Dengan zin Allah Ta`ala beliau terpilih untuk bertemu dengan Kurt Westergaard seorang
yang membuat karikatur Nabi Muhammad SAW yang nyeleneh
dan menyebar ke pelbagai penjuru dunia, membuat ummat islam marah. Kurt tampak gelisah,berbicarapun terlihat super hati-hati, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Habib Ali, tenang, khusu`, ramah, santun dan senantiasa tersenyum. Sama sekali tidak terlihat kemarahan di wajahnya. Sampai-sampai Kurt terheran-heran, mengapa Habib Ali Al Jufri yang
sosok perawakannya seperti manusia yang pernah ia gambar, Rasulullah SAW yang bersorban dan berjubah bersikap sedemikian rupa.

“Mengapa anda menerima saya? padahal saya ini dicari-cari orang-orang Islam sedunia untuk di bunuh. Mereka menganggap saya menghina Rasulullah SAW karena membuat gambarnya. Tapi ketika saya bertemu anda. Anda tidak marah malah sebaliknya. Mengapa?”, Tanya Kurt.

Habib Ali dengan lembut menjawab, Mengapa saya harus marah kepada anda?” Apakah karena anda menggambar Rasulullah SAW dengan karikatur?” Kalau anda menggambar seperti itu, saya menyadari bahwa anda tidak kenal dengan Rasulullah SAW. Anda tidak mengetahui figur Rasulullah SAW yang sebenarnya.
Jadi wajar saja anda berbuat seperti itu. Seandainya anda bertemu Rasulullah SAW, saya yakin beliaupun
tidak akan marah dengan apa yang anda gambarkan. Saya juga yakin, anda akan dikasihi dan di sayangi oleh beliau shalallahu alaihi wasallam.

Beliau (saw) itu mempunyai sifat kasih sayang kepada setiap umat manusia, kepada umatnya, bahkan kepada musuhnya, kepada siapa saja….karena beliau saw diberi tugas oleh Allah sebagai rahmat didunia ini, dan menyampaikan agama islam,
agama yang baik untuk semua orang.
Jika sudah mempelajari figur nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam secara obyektif, anda pasti akan mencintai beliau. Anda menggambarkan seperti itu karena anda tidak tahu siapa beliau.”

Kurt pun terperanjat dengan ucapan Habib Ali ini. Dia lantas memuji-muji Habib Ali dan merasa bangga karena telah bertemu dengannya. Habib Ali Al-jufri dikenal sebagai da`i yang
santun banyak dari para cendikiawan non muslim dari negara- negara Eropa sampai Amerika masuk agama Islam.

Habib Ali menghimbau kepada umat islam agar menyikapi para pencela Islam dengan santun, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam

Menurutnya sikap santun dan ramah serta penuh kasih itu akan membuka mata orang-orang non muslim bahkan berdampak positif bagi umat
islam yang tinggal di negara-negara
berpenduduk minoritas muslim.

Allahumma Shalli `ala Sayyidina Muhammad wa`ala alihi washahbihi wasallim

Dipetik dari 'Idolaku Nabi Muhammad SAW'

Dalil Julukan ‘Sayid’ Untuk Keluarga Nabi dan Sahabat



Sebagian orang hingga saat ini masih terasa gatal telinganya ketika mendengar sebutan ‘Sayid’ untuk Nabi, sahabat dan keluarga Nabi, serta ingin tergesa-gesa menvonis bid’ah. Padahal berdasarkan hadis-hadis sahih di bawah ini menunjukkan bahwa sejak masa sahabat sudah ditemukan istilah ‘Sayid’ bagi sebagian sahabat Nabi dan keluarga Nabi.

Syaikh Fuad Abd al-Baqi mendefinisikan ‘Sayid’ sebagai berikut:

قَالَ الْهَرَوِي السَّيِّدُ هُوَ الَّذِي يَفُوْقُ قَوْمَهُ فِي الْخَيْرِ (صحيح مسلم - ج 4 / ص 1782)

“al-Harawi berkata: Sayid adalah seseorang yang memiliki keunggulan dalam kaumnya dari segi kebaikan” (Catatan dalam Sahih Muslim 4/1782)

- Sayidah Fatimah al-Zahra’

قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فَاطِمَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه البخارى)

Rasulullah Saw bersabda: “Fatimah adalah pemuka wanita penduduk surga” (HR al-Bukhari)

- Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar
Rasulullah Saw bersabda: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ (رواه الترمذي)

“Abu Bakar dan Umar adalah pemuka orang tua penduduk surga, dari orang terdahulu dan yang akhir” (HR al-Turmudzi)

Terkait hadis ini, ulama Wahabi Syaikh Albani menilainya sahih dan berkata:

روي عن جمع من الصحابة منهم علي بن أبي طالب و أنس بن مالك و أبو جحيفة و جابر بن عبد الله و أبو سعيد الخدري . (السلسلة الصحيحة - ج 2 / ص 323)

“Hadis ini diriwayatkan dari sekelompok sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abu Juhaifah, Jabir bin Abdillah dan Abu Said al-Khudri” (Silsilah Shahihah 2/323)
Bahkan Sayidina Umar pun menyebut ‘Sayid’ kepada Sayidina Abu Bakar:

قَالَ عُمَرُ بَلْ نُبَايِعُكَ أَنْتَ ، فَأَنْتَ سَيِّدُنَا وَخَيْرُنَا وَأَحَبُّنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم – (رواه البخارى)

“Umar berkata: “Tetapi kami membaiatmu (sebagai pemimpin). Engkau (Abu Bakar) adalah pemuka kami, orang terbaik kami dan yang paling dicintai diantara kami oleh Rasulullah Saw” (HR al-Bukhari)

- Sayidina Hasan dan Sayidina Husain

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ - رضى الله عنه - أَخْرَجَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - ذَاتَ يَوْمٍ الْحَسَنَ فَصَعِدَ بِهِ عَلَى الْمِنْبَرِ ، فَقَالَ « ابْنِى هَذَا سَيِّدٌ ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ » (رواه البخارى)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah, suatu ketika Nabi membawa Hasan dan naik ke atas mimbar. Nabi bersabda: “Anakku ini adalah sayid (pemuka). Semoga Allah menjadikan damai dua kelompok besar dari umat Islam dengan Hasan” (HR al-Bukhari)

Di hadis lain Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه الترمذي)

“Hasan dan Husain adalah pemukan pemuda penduduk surga” (HR al-Turmudzi)

Hadis ini dinilai sahih oleh ulama Wahabi, bahkan sudah mencapai derajat Mutawatir karena diriwayatkan dari 10 sahabat:

ورد من حديث أبي سعيد الخدري و حذيفة ابن اليمان و علي بن أبي طالب و عمر بن الخطاب و عبد الله بن مسعود و عبد الله بن عمر و البراء بن عازب و أبي هريرة و جابر بن عبد الله و قرة بن إياس . (السلسلة الصحيحة - ج 2 / ص 295)

“[1] Abu Said al-Khudri, [2] Hudzaifah, [3] Ali bin Abi Thalib, [4] Umar bin Khattab, [5] Abdullah bin Mas’ud, [6] Abdullah bin Umar, [7] al-Barra’ bin Azib, [8] Abu Hurairah, [9] Jabir bin Abdullah, dan [10] Qurrah bin Iyas” (Silsilah Sahihah 2/295)

- Sayidina Bilal bin Rabah

قَالَ (جابر) كَانَ عُمَرُ يَقُولُ أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا ، وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا . يَعْنِى بِلاَلاً (رواه البخارى)

“Kata Jabir, Umar berkata: “Abu Bakar adalah pemuka kami dan telah memerdekakan pemuka kami [yakni Bilal]” (HR al-Bukhari)

Jika sudah terbukti nyata bahwa Nabi Muhammad Saw menyebut beberapa sahabat dan keluarganya sebagai ‘Sayid’ bahkan diantara para sahabat pun sudah mengucapkannya, lalu apakah bagaimana bila menyebut kalimat Sayidina kepada Rasulullah Saw? Masihkan disebut bid’ah? Sementara Rasulullah Saw sendiri mengakui bahwa beliau adalah ‘Sayid’:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ (رواه مسلم)

“Aku adalah pemuka anak Adam di hari kiamat, kuburku yang pertama kali terbuka, pertama kali memberi syafaat dan pertama kali yang diterima syafaatnya” (HR Muslim)

Nama Nama Istri dan Anak Sayyidina Imam Ali Ibn Abi Thalib Karamallahu Wajha



NAMA-NAMA ISTRI DAN ANAK-ANAK DARI SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB

• فاطمة الزهراء بنت محمد بن عبد الله الهاشمية القرشية. أم: 
o الحسن بن علي.
o الحسين بن علي.
o المحسن بن علي. (مختلف عليه)
o زينب بنت علي.
o أم كلثوم بنت علي.

Pernikahan dengan Fatimah az-Zahra, keturunannya adalah:
1. Hasan bin Ali.
2. Husain bin Ali.
3. Muhsin bin Ali,terjadi perbedaan pendapat atasnya karena meninggal pada waktu masih dalam kandungan.
4. Zainab binti Ali.
5. Ummu Kultsum binti Ali.

• خولة بنت جعفر بن قيس الحنفية البكرية وكانت من سبايا حرب اليمامة, أم: 
o محمد الأكبر وهو محمد بن الحنفية.

Pernikahan dengan Khawlah binti Ja'far al-Hanafiah
1. Muhammad Al-Akbar yakni Muhammad bin al-Hanafiah (Muhammad Abu Abdullah bin Ali)

• الصهباء أم حبيبة بنت ربيعة التغلبية, أم: 
o عمر بن علي.
o رقية بنت علي.

Pernikahan dengan Al-Sahba' binti Rabi'ah
1. Umar bin Ali
2. Ruqayyah binti Ali

• أمامة بنت أبي العاص بن الربيع العبشمية القرشية (بنت زينب بنت النبي محمد, أم: 
o محمد الأوسط بن علي.

Pernikahan dengan Umamah binti Zainab
1. Muhammad al-Ausath bin Ali 

• أم البنين فاطمة بنت حزام بن خالد الكلابية, أم: 
o العباس بن علي.
o عثمان بن علي.
o جعفر بن علي.
o عبد الله بن علي.
قتلوا جميعا في كربلاء.

Ummu Banin fatimah binti Hizam bin Khalid:
1. Abbas bin Ali
2. Utsman bin Ali
3. Ja’far bin Ali
4. Abdullah bin Ali
Semuanya meninggal di karbala

• ليلى بنت مسعود بن خالد التميمية -قتلت في كربلاء-, أم: 
o أبي بكر بن علي.
o عبيد الله بن علي.

Pernikahan dengan Laila binti Mas'ud bin Khalid At-Tamim - terbunuh dikarbala'.
1. Abu Bakar bin Ali
2. Ubaidullah bin Ali

• أسماء بنت عميس بن معاذ الخثعمية, أم: 
o يحيى بن علي.
o محمد بن علي.
o وقيل عون بن علي.

Pernikahan dengan Asma' binti Umais
1. Yahya bin Ali
2. Muhammad Al-Ashghar bin Ali 
3. (dikatakan) 'Aun bin Ali 

• أم سعيد بنت عروة بن مسعود الثقفية, أم: 
o رملة بنت علي.
o أم الحسن بنت علي.

Pernikahan dengan Ummu Sa'id binti Urwah bin mas'ud
1. Romlah binti Ali
2. Ummul hasan binti Ali 

• الصهباء أم حبيبة بنت زمعة بن بحر التغلبية, أم: 
o رقية بنت علي.
o أم عمر بنت علي.

Pernikahan dengan Ash-Shahba' Ummu Habibah binti Zam'ah
1. Ruqayyah binti Ali
2. Ummu Umar binti Ali 

• محياة بنت امرئ القيس بن عدي بن أوس الكلبية, أم: 
o جارية بنت علي.

Pernikahan dengan Mahyat binti Imru'u Al-qias bin Adi :
1. Jariyah binti Ali.

**
Gak ada alasan buat siapapun (terutama Syi'ah) untuk membenci para sahabat, apalagi ketiga Khalifah; Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. 
Untuk apa Ali bin Abi Thalib menamakan anak-anaknya dengan nama beliau bertiga? Jawabannya Ini adalah Isyaroh bahwa Sayyidina Ali sangat menghormati beliau bertiga, bukan membencinya.

Nama Golongan Pertama Masuk Islam (Assabiqunal Awwalun)



Memang terdapat perbedaan pendapat dikalang para ulama tafsir tentang apa, bagaimana kriteria, dan jumlah orang yang disebut dengan "as-sabiqunal awwalun" (orang yang pertama masuk islam) yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, Ibnu hisyam dalam Syirah nabawiyah menyebutkan ada 40 orang, sedangkan Imam Adz-Dzahabi mengatakan ada 50 orang. seperti dikutip dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala, berikut nama-nama orang yang akan masuk surga selamanya (seprti dlm Al-Qur'an surat At-Taubah : 100) 

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (Qur'an surat At-Taubah : 100) 

السابقون الأولون هم:
oreng yang golongan pertama yang masuk Islam, mereka adalah :

1 - خديجة بنت خويلد.
1. Khadijah binti khuwailid
2 - وعلي بن أبي طالب.
2. Ali bin Abi Thalib
3 - وأبو بكر الصديق.
3. Abu Bakar Ash-Shidiq
4 - وزيد ابن حارثة النبوي.
4. Zaid bin Haritsah
5 - ثم عثمان.
5. Utsman bin Affan
6 – والزبير.
6. Zubair
7 - وسعد بن أبي وقاص.
7. Sa'ad bin Abi Waqash
8 - وطلحة بن عبيد الله.
8. Thalhah bin Ubaidillah
9 - و عبد الرحمن بن عوف.
9. Abdurrahman bin Auf
10 - ثم أبو عبيدة بن الجراح.
10. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
11 - وأبو سلمة بن عبد الأسد.
11. Abu Salamah bin Abdul Asad
12 - والأرقم بن أبي الأرقم بن أسد بن عبد الله بن عمر، المخزوميان.
12. Arqom bin Abil Arqom
13 - وعثمان بن مظعون الجمحي.
13. Utman bin Madz'un
14 - وعبيدة بن الحارث بن المطلب المطلبي.
14. Ubaidah bin Al-Harits
15 - وسعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل العدوي.
15. Said bin Zaid bin amru
16 - وأسماء بنت الصديق.
16. Asma' binti As-Shadiq
17 - وخباب بن الأرت الخزاعي، حليف بني زهرة.
17. Khabab bin Al-Arat Al-Khaza'i
18 - وعمير بن أبي وقاص، أخو سعد.
18. Amir bin abi waqash
19 - وعبد الله بن مسعود الهذلي، من حلفاء بني زهرة.
19. Abdullah bin mas'ud
20 - ومسعود بن ربيعة القارئ من البدريين.
20. Mas'ud bin Rabiah
21 - وسليط بن عمرو بن عبد شمس العامري.
21. Sulaith bin Amru
22 - وعياش بن أبي ربيعة بن المغيرة المخزومي.
22. 'Iyas bin abi robiah
23 - وامرأته: أسماء بنت سلامة التميمية.
23. Istrinya, Asma' binti salamah
24 - وخنيس بن حذافة السهمي.
24. Khunais bin khudafah As-sahmi
25 - وعامر بن ربيعة العنزي، حليف آل الخطاب.
25. Amir bin Rabiah
26 - وعبد الله بن جحش ابن رئاب الأسدي، حليف بني أمية.
26. Abdullah bin jahsy
27 - وجعفر بن أبي طالب الهاشمي.
27. Ja'far bin Abi Thalib 
28 - وامرأته: أسماء بنت عميس.
28. Istrinya, Asma' binti umais
29 - وحاطب بن الحارث الجمحي.
29. Hathib bin Harits
30 - وامرأته فاطمة بنت المجلل العامرية.
30. Istrinya, Fatimah binti Al-Mujlal
31 - وأخوه خطاب.
31. Saudarnya, Khattab
32 - وامرأته فكيهة بنت يسار.
32. Istrinya, Fakihah binti yasar
33 - وأخوهما معمر ابن الحارث.
33. Mu'mar bin Al-Harits
34 - والسائب ولد عثمان بن مظعون.
34. Saib ayah utsman bin madz'un
35 - والمطلب بن أزهر بن عبد عوف الزهري.
35. Muthallib bin Azhar
36 - وامرأته رملة بنت أبي عوف السهمية.
36. Istrinya, Romlah binti Abi Auf
37 - والنحام نعيم بن عبد الله العدوي.
37. Niham nu'aim bin Abdullah
38 - وعامر بن فهيرة، مولى الصديق.
38. Amir bin Fahirah
39 - وخالد بن سعيد بن العاص بن أمية.
39. Khalid bin Said
40 - وامرأته أميمة بنت خلف الخزاعية.
40. Istrinya Khalid, Amimah 
41 - وحاطب بن عمرو العامري.
41. Hathib bin amru
42 - وأبو حذيفة بن عتبة بن ربيعة العبشمي.
42. Abu hudaifah bin utbah
43 - وواقد بن عبد الله بن عبد مناف التميمي اليربوعي، حليف بني عدي.
43. Waqid bin Abdullah
44 – وخالد.
44. Khalid
45 – وعامر.
45. Amir
46 – وعاقل.
46. Aqil
47 - وإياس، بنو البكير بن عبد يا ليل الليثي، حلفاء بني عدي.
47. Iyas 
48 - وعمار بن ياسر بن عامر العنسي بنون، حليف بني مخزوم.
48. Amar bin yasar
49 - وصهيب بن سنان بن مالك النمري، الرومي المنشأ، وولاؤه لعبد الله بن جدعان.
49. Shohib bin sinan
50 - وأبو ذر جندب بن جنادة الغفاري.
50. Abu dzar jundab bin junadah
51 - وأبو نجيح عمرو بن عبسة السلمي البجلي، لكنهما رجعا إلى بلادهما.
51. Abu najih amru bin abasah as-sulaimi, tapi keduanya pulang ke negaranya (tdak ikut hijrah).

قال: فهؤلاء الخمسون من السابقين الأولين، وبعدهم أسلم: أسد الله حمزة بن عبد المطلب، والفاروق عمر بن الخطاب، عز الدين، رضي الله عنهم أجمعين.

Mushonnif mengatakan : mereka ke 50 orang tsb adlah bagian dr Assabiqunal Awwaluun, dan setelah mereka, maka Hamzah bin Abdul Muthallib, Umar bin Khattab dan Izzuddin Radiyallahu anhum ajma'in memeluk agama Islam. 

Sumber:
سير أعلام النبلاء ج 1 ص 144
Siyar a'lam An-Nubala' lidz-dzahabi 1/144

Wabah Penyakit Pes Yang Tercatat Dalam Kitab



Taukah anda Bahwa pernah terjadi lima kali Tho'un/ wabah penyakit pes yg sangat terkenal dan sangat besar di dunia islam :

1. Tho'un syirowaih di daerah madain pada zaman Rasululloh shollallohu alaihi wasallam .

2. Tho'un 'amwaz terjadi pada zaman umar bin khotob di daerah syam , yg meninggal ada 25.000 orang.

3. Tho'un di zaman ibnu zubair tahun 69 H, terjadi selama tiga hari dan seharinya ada 70.000 orang yg meninggal, putra anas bin malik yg meninggal saat kejadian itu ada 83 anak, sedangkan putra abdurrahman bin abi bakroh yg meninggal ada 40 anak.

4. Tho'un fatayat, dinamakan spt itu karena banyak sekali perawan2 yg meninggal, terjadi pada tahun 89 H.

5. Tho'un yg terjadi pada tahun 131 H pada bulan rajab dan sangat parah pada bulan romadhon, mulai mereda pada bulan syawal. 
saat itu terjadi di jalan besar mirbad terdapat 1.000 jenazah setiap harinya.

Dan di Madinah maupun di Makkah belum pernah terjadi Tho'un sama sekali.

wallohu a'lam.

Referensi kitab Adzkar Nawawi :

قال أبو الحسن المدائني: " كانت الطواعين المشهورة العظام في الإِسلام خمسة: طاعون شيرويه بالمدائن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم سنة ستّ من الهجرة، ثم طاعون عمواس في زمن عمر بن الخطاب رضي الله عنه كان بالشام، مات فيه خمسة وعشرون ألفاً، ثم طاعون في زمن ابن الزبير في شوّال سنة تسع وستين مات في ثلاثة أيام في كلّ يوم سبعون ألفاً، مات فيه لأنس بن مالك رضي الله عنه ثلاثة وثمانون ابناً، وقيل: ثلاثة وسبعون ابناً، ومات لعبد الرحمن بن أبي بكرة أربعون ابناً، ثم طاعون الفتيات في شوّال سنة سبع وثمانين، ثم طاعون سنة إحدى وثلاثين ومائة في رجب، واشتدّ في رمضان، وكان يُحصى في سكة المِربد في كل يوم ألف جنازة، ثم خفّ في شوّال.
وكان بالكوفة طاعون سنة خمسين، وفيه توفي المغيرة بن شعبة.
هذا آخر كلام المدائني.
وذكر ابن قُتيبة في كتابه " المعارف " عن الأصمعي في عدد الطواعين نحو هذا، وفيه زيادة ونقص.
قال: وسمي طاعون الفتيات، لأنه بدأ في العذارى بالبصرة، وواسط، والشام، والكوفة، ويقال له: طاعون الأشراف، لِما مات فيه من الأشراف.
قال: ولم يقع بالمدينة ولا مكة طاعون قطّ.

الأذكار للنووي

Yaa Allah , semoga Engkau jauhkan kami dari Tho'un khususnya dinegara kami Indonesia....

Aamiin...

8 Nov 2014

Sepenggal Kisah Tawakal Seekor Kijang



Cerita ini berpangkal dari kisah seorang musafir bernama Malik bin Dinar.

Ketika Malik melintasi sebuah gurun dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, Kiai Ghoffar memulai kisahnya, dia melihat seekor burung gagak terbang sambil menggigit sepotong roti. Malik berpikir, tentu ada hal yang aneh di balik kejadian yang dilihatnya tersebut.

Lalu burung itu diikutinya hingga akhirnya masuk sebuah gua. Malik mengikutinya dari belakang. Sekonyong-konyong tampak seorang lelaki tergeletak di tanah, sedangkan kedua tangan dan kakinya terikat erat.

Pada saat itu, si burung gagak sedang menyuapi seorang lelaki tadi, sepotong demi sepotong, hingga semua roti tersebut habis dimakan oleh lelaki tersebut. Setelah itu, burung gagak terbang keluar dan tidak kembali lagi.

Malik bertanya kepada orang yang disuapi burung gagak tadi: “Dari manakah tuan?”  Orang itu menjawab, “Saya adalah salah seorang haji. Penyamun telah merampas semua harta benda saya, lalu mengikat saya dan melemparkan saya di tempat ini. Aku telah bersabar menahan lapar selama lima hari.

Kemudian setelah itu aku berdoa, ‘Wahai Tuhan yang telah berfirman dalam Kitab-nya, ‘Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?’. Akulahorang yang kesulitan itu, maka kasihanilah aku!”

“Kemudian Allah mengutus burung gagak tadi. Setiap hari ia datang member makan dan minum kepadaku,” ungkapnya.

Setelah ikatannya dibuka oleh Malik, maka keduanya pun melanjutkan perjalanan bersama-sama. Di tengah jalan mereka kehausan, padahal keduanya tidak membawa air sedikit pun.

“Lalu keduanya mencari-cari air di gurun itu. Bersamaan dengan itu, tampak oleh keduanya sebuah sumur dikerumuni beberapa ekor kijang. Melihat keduanya, kijang-kijang itu berlompatan lari,” terang Kiai Ghoffar.

Dilanjutkan Kiai Ghoffar, tatkala keduanya hendak mengambil air dalam sumur, tiba-tiba airnya menyusut sampai ke dasarnya. Kemudian keduanya menimba dan minum bersama.

“Setelah puas minum, Malik berucap: ‘Wahai Tuhanku, kijang-kijang itu sama sekali tidak pernah ruku’ dan sujud, namun Engkau beri air di permukaan sumur dengan mudah, sedang kami harus menimba seratus hasta, baru dapat mengeluarkan air dari sumur tadi!”

Maka terdengar jawaban,” Hai Malik, kijang-kijang itu bertawakkal kepadaku, sehingga Aku beri mereka minum. Sedangkan engkau, bertawakal kepada tambang dan timbamu!”

Menurut Kiai Ghoffar, kisah tersebut berpangkal pada pola hidup para sufi tempo dulu. Di dunia pesantren, cerita tersebut serta cerita-cerita lainnya, disampaikan secara istikamah atau berkesinambungan. Selain kisah kijang, Kiai Ghoffar coba menerangkan kisah-kisah lain yang selama ini ‘terabadikan’ dalam setiap pengajian kitab dilangsungkan.

“Kisah-kisah para sufi, penting untuk selalu diketengahkan dalam kehidupan pesantren. Sebab, adakalanya para santri justru lebih menghayati cerita yang mengandung hikmah dibanding penjelasan kitab yang disampaikan secara menoton,” ujar Pengasuh Pesantren Riyadus Sholihin, Desa Laden, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan tersebut.

Mengenai ketawakalan kisah kijang, hikmah yang bisa dipetik menurut Kiai Ghoffar terbilang banyak. Salah satunya ialah totalitas penghambaan manusia kepada Tuhannya. Kehidupan dunia, kerapkali membuat manusia lupa kepada Allah.

“Manusia juga sering abai terhadap karunia yang Allah berikan. Sebut saja dalam kisah tadi. Seandainya si Malik berpikir dan mensyukuri pemberian Allah berupa air di daerah gurun, pasti dia akan sangat bersyukur. Mengingat, di gurun pasir sangat sulit mendapatkan pasir,” tekannya.

Ditanya kebenaran kisah tersebut, Kiai Ghoffar menyatakan agar kita tidak melihat alur cerita semata. Terlepas dari benar tidaknya, ujar Kiai Ghoffar, hikmah rasa syukur dan tawakal kepada Allah merupakan segala-galanya.

“Ulama-ulama terdahulu, dalam menyampaikan hikmah atau nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, tak sedikit yang mengemasnya dalam bentuk kisah atau cerita. Dan dakwah dengan pola seperti itu mudah diserap dan bisa mewarnai kehidupan kita, ketimbang dakwah maupun nahi mungkar yang dilakukan dengan cara paksaan atau dengan cara mungkar saja” tukasnya


Kisah Hikmah Zuhud, Masuk Neraka Gara-gara Air Wudhu?



Berikut ini adalah cerita tentang dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki kaya raya dan perempuan papa. Dalam keseharian pun, keduanya tampak begitu berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita yang miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah.

Kesungguhan dan kerja keras lelaki tersebut membawanya pada kemapanan ekonomi yang diidamkan. Kekayaannya tak ia nikmati sendiri. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya merasakan dampak ketercukupan karena jerih payahnya. Lelaki ini memang sedang berkerja untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

Nasib lain dialami si perempuan miskin. Para tetangganya tak menemukan harta apapun di rumahnya. Kecuali sebuah bejana dengan persediaan air wudhu di dalamnya. Ya, bagi wanita taat ini, air wudhu menjadi kekayaan yang membanggakan meski hidup masih pas-pasan. Bukanah kesucian menjadikan ibadah kita lebih diterima dan khidmat? Dan karenanya menjanjikan balasan yang jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi yang fana ini?

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”

Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?

Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuatnya larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.

Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serbakekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainkan “dipaksa” oleh keadaan.

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.

Nasihat ulama sufi ini juga berlaku kebalikannya. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.


Dosa Terhapus karena Anak Kecil



Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“Bukan termasuk dari golongan kami orang yg tak menyayangi anak kecil dan  tak menghormati orang tua (orang dewasa).” (HR. Hadits Tirmidzi No.1843)

Selain mendapat pengakuan sebagai umat dari Nabi Muhammad, juga akan dilebur dosa-dosanya walaupun itu besar.

Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Qâm‘uith Tughyân halaman 18 menjelaskan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah menceritakan, bahwa ada seorang tamu datang kepada bagina Nabi Muhammad untuk melaporkan bahwa ia telah melakukan perbuatan maksiat, dan meminta kepada Nabi agar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa tamu tersebut.

Sebelum permintaan itu dipenuhi, Rasulullah pun bertanya kepada si tamu tersebut, “maksiat apa yang telah kamu lakukan?

“Saya malu mengungkapkan perbuatan masiat tersebut, Ya Rasulullah SAW,” Jawab si Tamu.

Kemudian Nabi mendesak, “Kenapa kau harus malu menceritakan di depan saya tentang dosa-dosa yang telah kamu perbuat, sedangkan kepada Allah swt. yang selalu memantaumu tidak malu?

Setelah itu Rasulullah meminta kepada si tamu untuk segera pergi. “Pergilah, sebelum api neraka datang ke sini karena ulah dosa-dosamu!”

Akhirnya si tamu tersebut pergi sambil menangis dengan perasaan sedih bercampur kecewa.

Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril datang dan menenggur Nabi, “Ya Muhammad janganlah membuat si tamu yang melakukan maksiat merasa sedih dan putus asa, karena si tamu sudah membayar kafarat (denda) atas dosanya, walaupun dosa tersebut besar”.

Nabi Muhammad pun bertaya, “Apa kafaratnya?

“Kafaratnya adalah anak kecil. Ketika tamu yang datang tadi tiba di rumahnya, tiba-tiba ada anak kecil mencegatnya dan meminta sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya tamu itu memberikan makanan. Lantas anak itu pergi dengan perasaan senang dan bahagia. Itulah kafarat atas dosa si tamu,” jelas Malaikat Jibril kepada Rasulullah

Kisah Rasulullah SAW Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi



Dirinya sungguh tak menyangka bakal sembuh dengan cara istimewa. Semula orang laki-laki ini sehari-hari diliputi gelap karena kondisi matanya yang sama sekali tak dapat melihat. Dalam kebutaan tersebut, hanya satu dalam dirinya yang menyala sangat terang: semangat untuk sembahyang berjamaah.

Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ mengisahkan, laki-laki buta itu biasa berjalan menuju masjid tanpa dipandu tongkat selayaknya penyandang tunanetra pada umumnya. Jatuh cintanya yang amat pada shalat jamaah telah meruntuhkan rasa khawatir akan celaka akibat sikap pasrahnya itu.

Namun musibah tak bisa ditolak. Suatu hari laki-laki tersebut terjatuh di jalan hingga kepalanya terluka. Perjalanan menuju masjid gagal. Ia harus dibawa kembali ke rumah untuk istirahat.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Di rumah, laki-laki buta yang kini batok kepalanya terluka itu malah mendapatkan “semprot” dari istrinya.

“Beginilah akibatnya. Padahal, shalat jamaah itu tidak wajib!” sergah istrinya.

“Meski telah mengambil cahaya bola mataku, tapi Allah tetap memelihara cahaya hatiku. Aku sanggup tidak absen dari shalat jamaah,” jawabnya.

Malam harinya, tidur si lelaki buta terasa spesial. Rasulullah SAW menjumpainya dalam mimpi. “Kenapa kau bertengkar dengan istrimu?” tanya Nabi.

“Karena mengikuti sunnahmu, ya Rasulullah.”

Rasulullah lantas mengusapkan tangannya di atas mata laki-laki itu. Seketika penglihatan si buta pulih. Berkah tangan mulia Nabi dan sunnahnya memancarkan keajaiban bagi cahaya matanya yang tertutup sekian lama

Berkah Memberi Kegembiraan di Hari Asyura



Umat Islam dianjurkan untuk berbagi kebahagiaan pada hari Asyura atau 10 Muharram. Kisah yang termaktub dalam kitab an-Nawadir karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy ini mungkin dapat menjadi salah satu acuan mengapa pula banyak diadakan kegiatan penyantunan kepada fakir miskin dan anak yatim di hari Asyura.

Suatu hari, bertepatan dengan Asyura ada seorang fakir yang memiliki tanggungan anak pergi ke rumah tuan Qadli (hakim). Sebetulnya dia enggan meminta karena dia juga seorang Alawiyyin, akan tetapi melihat anaknya yang sudah berhari-hari tidak makan ia pun pergi menuju kota.

Untuk menuju ke kota, ia harus berjalan cukup jauh melewati padang pasir. Akhirnya, tibalah ia di rumah tuan Qadli. Kemudian menceritakan keadaannya.

“Inii rajulun fakirun dzu ‘iyalin (saya ini lelaki fakir yang punya banyak tanggungan keluarga). Hari ini bertepatan 10 muharam, saya mau minta kepada anda tidak banyak: 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham,” kata si fakir.

“Iya Pak, nanti siang anda ke sini lagi,” jawab Qadli.

Lalu pulanglah ia ke desa, sementara itu anaknya melihat kedatangan sang ayah merasa gembira. Berharap membawa sesuatu untuk dimakan. Akan tetapi kali ini ia pulang dengan tangan hampa.

“Sabar ya nak, nanti siang ayah kembali lagi ke sana,” jawab sang ayah.

Siangnya, si fakir kembali menemui Qadli dan mendapat jawaban sama. “Maaf, nanti sore kembali lagi ya, Pak,” jawab Qadli.

Jawaban tersebut terulang lagi, ketika pada sore harinya si fakir menemui Qadli. Bahkan, ia justru mendapat makian dari Qadli karena meminta-minta.

Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. “Ya Allah! mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!” pinta fakir.

Maka ia pun pulang dengan langkah gontai. Namun, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang Nasrani bernama Saiduk

“Ada apa Pak, kenapa menangis?” tanya Saiduk.

“Jangan tanya kondisi saya,” jawab fakir.

“Saya tanya, billahi, mengapa kamu menangis?” tanya Saiduk kembali.

Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba, kemudian ia bertanya. “Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?” tanya Saiduk.

“10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,” jawab fakir.

“Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta” jawab Saiduk.

Tidak hanya itu, bahkan Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan kepada si fakir. Hal ini membuat fakir bahagia. Ia pun pulang dengan disambut gembira anak-anaknya, sebab kali ini ia pulang dengan membawa sejumlah makanan dan uang.

“Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,” ungkap anak-anaknya.

Sementara itu, pada malam harinya tuan Qadli bermimpi. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif).

“Angkat kepalamu!” dilihatnya dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak.

“Ini untuk siapa?” tanya Qadli.

“Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhannya orang fakir tadi, tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk,” jawab hatif.

Esok hari, tua Qadli bergegas menuju ke rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam. “Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?” tanya Qadli. Saiduk pun menceritakan kembali, tentang seorang fakir yang bertemu dengannya semalam..

“Baiklah saiduk, apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,” kata Qadli.

Namun, di luar dugaan tawaran tersebut ditampik Saiduk. “Tuan Qadhi, jangankan sejumlah yang anda tawarkan. Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan dan pegang tangan saya, Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” tukas Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah menjadi orang yang beruntung, sesuai dengan namanya

KIsah Teladan Pemimpin dari Rasulullah SAW



Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW adalah ketika beliau dan sahabatnya kehabisan air minum. Nabi, Abu Bakar dan kedua Sahabat yang lain singgah di sebuah perkemahan yang dihuni oleh seorang perempuan miskin bernama Umi Ma’bad.

Ternyata Umi Ma’bad hanya mempunyai seokor hewan perahan yang sudah dalam kondisi kurus kerontang. “Jangankan susu, air kencing hewan itu pun sudah tidak ada,” kata Umi Ma’bad.

Nabi mengambil gelas dan mendekati hewan itu lalu memeras kantong susunya. Dengan izin Allah hewan itu pun keluar air susunya.

Apa yang dilakukan Nabi? Pertama-tama Nabi memberikan gelas berisi susu itu kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar minum, gelas berisi susu itu diberikan kepada dua Sahabat yang menuntun onta Nabi.

Setelah semua minum, baru kemudian Nabi meminum sisanya.

Umi Ma’bad heran dan bertanya kepada Nabi. “Kenapa Anda tidak minum terlebih dahulu?” Nabi menjawab:

خَادِمُ اْلأُمَمِ آخِرُهُمْ شُرْباً

Khodimul umam, akhiruhum syurban. “Wakil rakyat itu minumnya belakangan.”

7 Nov 2014

Apakah Negeri Saba Itu Indonesia?

Sekedar menambah Khazanah berpikir kita hehehe, mohon maaf jika ada yang kurang setuju, kalau penulis anggap sebagai Khazanah berpikir saja.. Wallahu A'lam

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?


Sebelum kita jawab tentang pertanyaan diatas, marilah kita ikuti rangkuman dibawah ini.

Menurut hasil Riset Lembaga Study Islam dan Kepurbakalaan yang di pimpin oleh KH. Fahmi Basya, Dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah yang mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah bangunan yang dibangun oleh Tentara Nabi Sulaiman As yang termasuk di dalamnya dari Bangsa Jin dan Syetan yang tersebut dalam Alqur'an sebagai Arsy Ratu Saba atau Princes of Saba atau Ratu Balqis adalah Ratu Boko yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa. Sementara patung-patung yang ada di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagaiPatung Budha sejatinya adalah patung-patung Bidadari dari Surga yang menjadikan Nabi Sulaiman As sebagai model yang berambut keriting. 

Dalam literatur Bani Israel dan Barat, Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting. Tetapi pada kenyataannya Bangsa Jawa yang menjadi tukang dan berambut keriting (Perhatikan Patung Nabi Sulaiman As di Candi Borobudur).

Hasil riset tesebut menyebutkan bahwa "Suku Jawa" disebut juga sebagai "Bani Lukman" karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran Lukmanul Hakim sebagaimana yang tertera di dalam Alqur'an. Perlu diketahui bahwa satu-satunya Nabi yang termaktub dalam Alqur'an yang menggunakan nama depan "SU" hanya Nabi Sulaiman as dan negeri yang beliau wariskan ternyata secara kebetulan diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU seperti Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono serta meninggalkan negeri yang bernama Sleman di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Nabi Sulaiman As mewarisi kerajaan dari Nabi Daud As yang dikatakan dalam Alqur'an dijadikan khalifah di bumi (menjadi penguasa dunia dengan Benua Atlantis sebagai pusat Peradabannya). Nabi Daud As juga di katakan Raja yang mampu menaklukan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan dan juga bersuara merdu). Dapat menaklukan Gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Indonesia yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah "Syaelendra". Menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata Saila dan indra. saila=gunung, indra=Raja.

Jadi sebenarnya Bani Israel yang sedang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri dari 12 suku tetapi mereka menamakan diri sebagai suku ke-13 yaitu Suku Khazar (yang asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami Diaspora dengan penduduk lokal, Posisi Suku Khazar mayoritas di seluruh dunia. Sedangkan Yahudi yang asli telah menghilang yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang "The Lost Tribes". yang mana mereka pergi ke Timur dan banyak menuju ke "The Promised Land" yaitu Indonesia.

Menurut KH. Fahmy Basya tentang Candi Borobudur, maka akan semakin nampak jelas bahwa ketika beliau menjelaskan tentang Negeri Saba' disitu dikatakan bahwa sebuah pemerintahan yang sangat kuat karena dipimpin oleh Nabi Sulaiman As dan Ratu Balqis dari hasil riset dengan di dukung data-data yang ada bahwa terbukti Negeri Saba itu adalah Indonesia dengan Pusat Pemerintahan di Jawa dengan Arsy Saba yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman As adalah Candi Borobudur yang dipindahkan dari Istana Ratu Boko, dan Negeri Saba' inilah yang kemudian dikatakan oleh KH. Fahmi Basya ada kemiripan cerita antara Benua Atlantis yang hilang itu. Dan sungguh sangat luar biasa kalau fakta itu benar bahwa negeri ini telah mewarisi peradaban besar bangsa-bangsa.

Kembali ke pembahasan Negeri Saba', Dibawah ini ada 15 (lima belas) point penting yang menjadikan bukti berdasarkan Alqur'an bahwa Saba itu ada di Pulau Jawa (Indonesia) dan bukan di Yaman.

1. Dalam buku-buku Ilmu Sejarah disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan pada abad ke-7 Masehi. Tetapi menurut teori Paruh Waktu, bahwa pada penelitian terhadap Batu Candi tersebut tidak bisa dihitung umurnya dengan isotop C (carbon) sehingga bisa ditarik hipotesa, bahwa Candi Borobudur tidak dibuat pada abad ke-7 Masehi.

2. Adanya fenomena angka 19 di Cnadi Borobudur. 
Adapaun fenomena angka 19 itu terdapat dalam Alqur'an berasal dari kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim yang terdiri dari 19 huruf kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim ini yang memperkenalkannya kepada kita adalah Nabi Sulaiman As ketika beliau berkirim surat kepada Ratu Saba, Kop surat dari surat Nabi Sulaiman As itu adalah kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim. Isi suratnya adalah "Alla ta'luu 'alaiyya, wa'tuunni muslimin" (Jangan menyombong kepadaku dan datanglah kepadaku dengan menyerah diri). Dan perlu diketahui bahwa lempengan surat itu masih berada di Museum Nasioanl berupa lempengan emas bertuliskan bismillah. Surat itu ditemukan di kolam dekat Candi Borobudur.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

 Lempengan emas bertuliskan kalimat bismillah

Jadi dapat dikatakan bahwa fenomena 19 itu sudah diketahui Nabi Sulaiman As. Oleh sebab itu di Candi Borobudur ada fenomena 19.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Fenomena angka 19  Candi Borobudur   

3. Adanya fenomena posisi 3 buah candi terletak segaris lurus yaitu pada Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Karena yang membuat Candi Borobudur bukan dari Golongan Manusia saja, tetapi juga dari bangsa jin, maka segaris lurusnya tiga candi yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut bukanlah hal yang kebetulan karena Jin bisa melihatnya dari atas.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

Untuk apa mereka membuat ketiga candi tersebut segaris lurus?
Untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Candi Borobudur adalah Matahari, Candi Pawon adalah Bulan dan Candi Mendut adalah Gambar Bumi. Kenapa Mendut mewakili bumi? Karena disana ada sebuah patung Manusia, sebagai wakil penduduk bumi adalah manusia.
Mengapa Candi Borobudur mewakili Gambar Matahari? Karena dulunya Ratu Saba itu Penyembah Matahari Jadi Arsy' itu ada nuansa mataharinya.
4. Diceritakan pula di dalam Alqur'an istananya berbentuk piring-piring dan patung-patung. Sementara itu Candi Borobudur berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir sebagai Patung Nabi Sulaiman As.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
    
5. Candi Borobudur adalah Peninggalan Nabi Sulaiman As dan Indonesia adalah Negeri Saba yang diceritakan Alqur'an pada Surat As-Saba' (34) karenanya ada nama daerah Sleman di daerah D.I Yogyakarta - Jawa Tengah yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Peta Daerah Sleman - Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia 
   
6. Sementara masih di kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Candi Prambanam ada sebuah candi yang bernama Candi Ratu Boko yang di ambil dari nama Ratu Bulqo/Ratu Bilqis.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Candi Ratu Boko

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Kolam Pemandian Di Candi Boko

7. Didalam Alqur'an Surat As-Saba tanda-tanda daerahnya ada buah pahit, sementara disekitar Candi Borobudur ada buah Mojo Pahit, bahkan sebuah kerajaan besar yang pernah jaya di Pulau Jawa rela menamakan kerajaannya dengan nama Kerajaan Majapahit.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Peta Kesultanan Islam Majapahit

8. Lalu diceritakan di dalam Alqur'an lagi bahwa daerah Saba' dikelilingi dua hutan, sementara Candi Borobudur disana ada daerah Wanagiri dan WanaSABA, Dimana dalam kamus Bahasa Jawa Kawi, Wana=Hutan, Saba=Pertemuan. 

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

9. Dimana seperti dalam Alqur'an Nabi Sulaiman As menggunakan dua lembar kain dan kain yang luar adalah Sutera seperti patung di Candi Borobudur yang terdapat lipatan Sutera.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

10. Diceritakan lagi Nabi Sulaiman As sering beristirahat dan berlibur dipantai sebelah timur Negeri Saba, Sementara disebelah timur Indonesia dekat Papua ada sebuah pulau yang bernama Solomon yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
      
11. Relief-relief di Candi Borobudur menggambarkan cerita tentang Nabi Sulaiman diantaranya Gambar Burung yang mengantar Surat kepada Ratu Balqis.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
 
Sedangkan relief yang bergambar burung berkepala manusia, yang menjelaskan bahwa burung hud-hud tersebut bisa berbicara dengan Nabi Sulaiman As. 

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
12. Dalam Alqur'an surat As-Saba' diceritakan Negeri Saba telah di azab Allah SWT karena penduduknya kufur dan tidak beriman, yaitu berupa dengan mengirim banjir besar yang menghancurkan Negeri Saba' menjadikan berkeping-keping. Karenanya hanya Indonesia lah satu-satunya negara yang mempunyai 17.000 pulau lebih.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
13. Indonesia adalah Negeri Saba' yang hilang, yang oleh Plato dan para Ilmuwan Barat di istilahkan dengan Benua Atlantis Yang Hilang.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
14. Diantara ribuan jumlah para Nabi, Hanya Nabi Sulaiman As yang mempunyai nama Jawa "Su" sebagaimana seperti nama Pemimpin Indonesia Ketuunan Jawa sepeti Sukarnao, Suharto, Susilo Bambang Yudhoyono.

15. Adanya Angin Muson di Indonesia menguatkan bukti bahwa Indonesia adalah Negeri Saba'.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Dan masih banyak lagi fakta-fakta yang lainnya.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

Nah kalau hasil penelitian ini benar adanya, bahwa yang dimaksud dengan Negeri Saba' adalah Indonesia hasil peninggalan Nabi Sulaiman As dan Ratu Bilqis, Sungguh luar biasa bangsa ini, Kita telah mewarisi peradaban yang mulia tersebut.

Bagaimana menurut anda?

Sumber