CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

6 Agu 2013

Temuan Ilmiah Dari Al Qur'an



Ayat Al Quran Dan Alam Semesta

Dalam Surat al-Isra ayat ke-88, Allah menunjukkan keagungan Al Quran:

"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'" (QS. Al Isra: 88)

Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.

Dalam Al Quran, terdapat banyak bukti bahwa Al Quran berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al Quran yang terdapat di alam semesta.

Sesuai dengan ayat "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushilat: 53), banyak informasi yang ada dalam Al Quran ini sesuai dengan yang ada di dunia eksternal. Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan karenanya memiliki pengetahuan mengenai semua itu. Allah juga yang telah menurunkan Al Quran. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al Quran yang dapat mereka lihat dan pelajari.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Al Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan. Tujuan diturunkannya Al Quran adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:

"Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 1)

"… untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir." (QS. Al Mu'min: 54)

Singkatnya, Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Al Quran menjelaskan kepada manusia cara menjadi hamba Allah dan mencari ridha-Nya.

Betapapun, Al Quran juga memberi informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta, kelahiran manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan di langit dan di bumi. Kenyataan bahwa informasi dalam Al Quran tersebut sesuai dengan temuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal penting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al Quran adalah "firman Allah". Menurut ayat "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" (Surat an-Nisa: 82), terdapat keserasian yang luar biasa antara pernyataan di dalam Al Quran dan dunia eksternal.

Pada halaman-halaman berikut kita akan membahas kesamaan yang luar biasa antara informasi tentang alam semesta yang ada dalam Al Quran dan dalam ilmu pengetahuan.

"Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (Surat Al Mulk: 3-4)

Teori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya

Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.

Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut "model alam semesta yang statis", alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.

Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.

Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Surat al-Hadid: 1-2)

Pemuaian Alam Semesta


Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.

Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.

Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah "konstanta" untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai "kesalahan terbesar dalam kariernya".

Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?

Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa "satu titik tunggal" yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki "volume nol" dan "kepadatan tak terbatas". Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.

Harus dikatakan di sini bahwa "volume nol" adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep "ketiadaan", yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai "titik yang memiliki volume nol". Sebenarnya, "titik yang tidak memiliki volume" ini berarti "ketiadaan". Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.

Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:

"Dia Pencipta langit dan bumi." (QS. Al An'am:101)

Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.

Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:

"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa." (Surat Adz-Dzariyat:47)

Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.

Bukti "yang seharusnya ada" ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut "radiasi latar belakang" ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.

Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.

Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.

Semua bukti kuat ini memaksa komunitas ilmiah untuk menerima teori Ledakan Besar. Model ini merupakan titik terakhir yang dicapai oleh para ahli kosmologi berkaitan dengan awal mula dan pembentukan alam semesta.

Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut. Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.

Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.

Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep "zat yang kekal" yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini "ada" melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini "tidak ada"? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta "yang tidak menguntungkan secara filosofis" (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:

Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.

Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:

Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya

Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.

Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.

Kesempurnaan Di Alam Semesta

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (QS. Al Mulk: 3-4)

Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.

Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Misalnya, bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan rata-rata 1.670 km/jam. Dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar.

Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.)

Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.

Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki "cacat" atau "tidak seimbang". Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan "sendiri" dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.

"Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya." (QS. AlAn'am: 101-104)

Orbit Dan Alam Semesta Yang Berotasi

Salah satu sebab utama yang menghasilkan keseimbangan di alam semesta, tidak diragukan lagi, adalah beredarnya benda-benda angkasa sesuai dengan orbit atau lintasan tertentu. Walaupun baru diketahui akhir-akhir ini, orbit ini telah ada di dalam Al Quran:

"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS. Al Anbiya:33)

Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

"Selagi berotasi mengitari matahari, bumi mengikuti orbit yang berdeviasi sebesar 2,8 mm dari lintasannya yang benar setiap 29 km. Orbit yang diikuti bumi tidak pernah berubah karena penyimpangan sebesar 3 mm akan menyebabkan kehancuran yang hebat. Andaikan penyimpangan orbit adalah 2,5 mm, dan bukan 2,8 mm, orbit bumi akan menjadi sangat luas dan kita semua akan membeku. Andaikan penyimpangan orbit adalah 3,1 mm, kita akan hangus dan mati." (Bilim ve Teknik, Juli 1983)

Matahari

Berjarak 150 juta km dari bumi, matahari menyediakan energi yang kita butuhkan secara terus-menerus.

Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium. Setiap detik 616 miliar ton hidrogen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.

Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan untuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.

Sifat lain dari matahari adalah memuai secara berkala seperti lonceng. Hal ini berulang setiap lima menit dan permukaan matahari bergerak mendekat dan menjauh 3 km dari bumi dengan kecepatan 1.080 km/jam.

Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)

Perjalanan Matahari

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Yasin:38)

Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa yang dekat dengan bintang Vega. (Ini berarti matahari bergerak sejauh kira-kira 720.000x24 = 17.280.000 km dalam sehari, begitu pula bumi yang bergantung padanya.)

Langit Tujuh Lapis

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS. Ath-Thalaq:12)

Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.

Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.

Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.

Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.

Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat

Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.

Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.

Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.

Gunung Mencegah Gempa Bumi

"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang." (QS. Luqman:10)

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An-Naba:7)

Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini "mengikat" lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.

Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.

Air Laut Tidak Saling Bercampur

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." (QS. Ar-Rahman:19-20)

Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut "tegangan permukaan".

Dua Kode Dalam Besi

Besi adalah satu dari empat unsur yang paling berlimpah di bumi. Selama berabad-abad besi merupakan salah satu logam terpenting bagi umat manusia. Ayat yang berkenaan dengan besi adalah sebagai berikut:

"…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia." (QS. Al Hadid:25)

Ayat ini melibatkan dua kode matematika yang sangat menarik.

"Al Hadid" (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem "Abjad" Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata "Al Hadid" jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.

Nilai numerik (Abjad) dari kata "Hadid" (besi) sendiri, tanpa penambahan "al", jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.


Sumber: 

Harun Yahya

Piri Reis, Pencipta Peta Dunia Pertama



Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Al-Kahfi:109).

Di surat Al-kahfi tersebut jelas tertulis bahwa sains dan teknologi yang dikuasai oleh manusia bukanlah sesuatu yang besar sepertihalnya yang pernah diagung-agungkan manusia. Hingga seberapa kuat dan pandainya manusia memikirkan apa yang diciptakan oleh Allah SWT, maka tetap dipenghujung urat syaraf ini akan ditemui sebuah jalan buntu. Cerita berikut ini tentu saja akan mengubah pola pandang pikiran Anda yang selama ini telah terdoktrin dengan ilmu-ilmu dan penemu dari Barat.

Sebuah pameran yang diadakan di Malaysia awal tahun ini membuka tabir bagaimana hebatnya para penemu Islam dalam mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan. Di dasari pemikiran bahwa tidak ada ilmu selain bersumber dari Allah dan hanya sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh manusia ini, tersirat berbagai revolusi dan inovasi yang berhasil dibuat pada masa keemasan Islam.

Berbagai hasil karya berhasil dikoleksi dan ditemukan sedikitnya sebanyak 148 replika dihasilkan oleh para pemikir dan ilmuwan Islam. Replika tersebut antara lain berupa instrumen peralatan dan poster. Kesemuanya itu pada Januari 2007 lalu dipajang di Pusat Konvensyen Kuala Lumpur (KLCC), Malaysia. Ilmu-ilmu dan hasil karya ratusan abad silam ini hingga sekarang dijadikan sebagai dasar pengetahuan ilmu-ilmu baru.

Contoh nyata paling rumit, detail dan bagaimana pandainya para ilmuwan Islam masa lalu ini adalah seperti karya arsitektur yangterdapat pada ubin-ubin di masjid Timur Tengah. Hingga puluhan tahun diperhitungan baru pada tahun ini karya seni yang sudah ratusan tahun selalu dibuat dan tanpa kesalahan pengulangan tersebut berhasil dipecahkan oleh ilmuwan saat ini dengan hitungan matematis.

Dr. Fuat Sezgin yang juga Pengarah dan Pengasas Institut Sejarah Sains Arab-Islam, Universiti Johann Wolfgang, Goethe, Frankfurt, Jerman, mengatakan bahwa kehebatan ilmuwan Islam ratusan abad silam adalah kehebatan yang tidak ternilai. Pada abad kegemilangan Islam banyak orang-orang Eropa yang belajar untuk menuntut ilmu di berbagai cabang pengetahuan dari para pakar Islam. Tetapi setelah zaman kegelapan datang banyak pula hasil-hasil ilmuwan tersebut yang juga diselewengkan dan kemudian disebarluaskan dengan informasi yang salah secara meluas.

Ia memberi contoh seperti Al-Razi, adalah ilmuwan terkemuka yang menjadi penemu teknik jahit luka. Ilmuwan kelahiran Iran tersebut tidak sangat terkenal dibandingkan dengan Ibnu Sina yang sebenarnya adalah muridnya. Tokoh ilmuwan Islam ini yang sebenarnya bernama Muhammad bin Zakaria juga terkenal tidak tertandingi pada masanya ditahun 240 Hijriah/854 Masehi. Di dunia pengobatan ia sangat pandai meramu, mengenali dan menemukan obat. Al-Razi selain menjadi orang pertama yang membuat jahitan dengan benang terbuat dari serat juga dikenal sebagai orang pertama yang berhasil membedakan antara penyakit cacar dengan campak.

Peta Dunia Pertama oleh Kaum Muslimin

Jika Anda ditanya siapa penemu benua Amerika? Tentu jawaban yang terlintas adalah Columbus. Pria penjelajah dari Spanyol yang lahir di tahun 1451 dan memiliki nama lengkap Christopher Columbus ini oleh para siswa dan guru sangat dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang pertama kali menemukan benua tersebut. Namun apakah itu benar? Ternyata tidak.

Catatan berbagai sejarah dan penemuan-penemuan yang berhasil dikumpulkan oleh para sejarahwan terungkap bahwa telah banyak orang-orang yang berprofesi sama dari Negeri Eropa juga pernah mengekspansi dagangannya ke benua tersebut. banyak sejahrawan pula yang berdebat bahwa para pedagang dari Negeri Chinalah yang pertama kali mendaratkan kakinya di benua Paman Sam tersebut pada abad ke-11.

Namun terlepas dari bukti-bukti dan perdebatan yang panjang, tahukah Anda bagimana mereka bisa berjalan-jalan dan menyeberangi lautan yang maha luas tersebut. Jawaban sederhananya tentu saja dengan berbekal peta dan penunjuk arah mereka bisa menyeberangi lautan. Dari perjalanan mereka tersebut maka tersingkaplah peta-peta yang terus berevolusi berdasarkan pengamatan para pelaut yang terus turun temurun. Dan untuk pertama kalinya peta dunia terlengkap dibuat pada tahun 1513.

Adalah karya seorang pelaut Piri Reis yang membuat para peneliti dan sejahrawan terkagum-kagum. Tidak hanya kagum dengan bagimana hasil pemetaan tersebut dapat digambarkan, akan tetapi para ahli satelit sendiri pun merasa terkejut dengan model pemetaan yang dibuat oleh tokoh Muslimin tersebut.

Bagimana tidak, peta yang dibuat diatas sepotong kulit rusa berukuran 90×65 centimeter tersebut benar-benar digambarkan lengkap dan cukup detail. Bahkan hasil perbandingan dengan pemotretan dari angkasa luar yang dilakukan menggunakan satelit saat ini memiliki bentuk yang sangat mirip.

Mulanya para sejahrawan tidak percaya akan bukti keberadaan peta tersebut. Di peta yang terlihat jelas hanyalah kawasan Laut Timur Tengah. Sementara kawasan lainnya seperti benua Afrika dan Amerika sama sekali tergambar sangat berbeda. Baru setelah gambar hasil pemotretan satelit jaman modern ini dipadukan dengan peta kuno karya muslimin bangsa Turki tersebut sangat nyata kebenarannya bahwa gambar yang ditorehkan dalam kulit tersebut memang sangat detail dan terperinci.




Penemuan kuno tersebut memberikan bukti bahwa memang ilmu kemajuan jaman dahulu sudah sangat maju dalam bidang astronomi. Entah bisa disangkal atau tidak akan tetapi bukti-bukti lain beserta keajaiban dunia yang ditinggalkan masa pemerintahan masa lalu menunjukkan bahwa ilmuwan pada masa itu menguasai ilmu pengetahuan dengan sangat baik dan bisa menyamai peralatan canggih yang dimiliki oleh manusia jaman modern saat ini.

Meski sejahrawan masa sekarang tidak mengetahui bagaimana Piri Reis bisa menggambarkan peta dunia tersebut dengan sangat akurat, namun Piri Reis mengungkapkan semasa hidupnya bahwa peta tersebut berhasil ia buat dari penyatuan beberapa peta yang dibuat oleh para pelancong dari berbagai negara. Ia menyebutkan menggunakan 34 sumber yang berbeda. Karya tersebut berasal dari jaman Alexander sebanyak 20 peta, 8 peta dari karya ahli geografi Muslim, 4 peta dari Portugis dan 1 peta dari Columbus.

                                                                             *****

Syaikh Abdul Qodir Jailani RA Menghidupkan Orang Mati



Suatu hari Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani berjalan-jalan dan dalam perjalanan itu berjumpa dengan dua orang, satu orang muslim dan yang satu orang nasrani. Mereka berdebat hebat sampai Al jaelani mendekat ingin tahu apa yang terjadi. Kemudian seorang Muslim menjelaskan perihal apa yang sedang mereka perdebatkan kepada Al Jaelani. Si muslim mejelaskan bahwa Al Isuwi nama dari orang nasrani tersebut mengatakan bahwa Nabi Isa lebih utama dari Nabi Muhammad. Kemudian Al Jaelani menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya bahwa nabi terakhir dan penutup bagi para nabi adalah Muhammad SAW. Namun orang nasrani tersebut selalu membantah dan tak mau menerima penjelasan dari AL Jaelani. 

Akhirnya Al Jaelani meminta bukti dari orang nasrani tersebut. Al Isuwi menjawab bahwa nabinya mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Al Jaelani menjawab, "Aku bukanlah seorang Nabi, namun aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW, jika nanti dengan izin Allah aku bisa menghidupkan orang mati sebagaimana Isa Nabimu,,, Apakah kamu mau beriman kepada Allah dan mau mengakui Bahwa Nabi penutup adalah Muhammad SAW?"

Kemudian Al Jaelani meminta kepada orang nasrani supaya menujukan kuburan yang mana yang ingin dihidupkan lagi hingga sampailah mereka pada kuburan yang dituju. Sebelum dihidupkan, Al Jaelani menjelaskan dulu perihal orang yang telah mati tersebut dulunya semasih hidup didunia.

Al Jaelani berkata" dahulu orang ini adalah seorang penyanyi,,, Bagaimana kalau ahli kubur ini saya bangunkan dan saya suruh dia bernyanyi..?"
"Silahkan saja,,," dengan nada tak percaya dan bingung bahwa Al Jaelani mampu menghidupkan orang tersebut.

Sesaat kemudian Al Jaelani melangkah kedepan kuburan lalu dia berkata seperti apa yang diucapkan Nabi Isa ketika menghidupkan orang yang sudah mati. ''Bangunlah Dengan Izin Allah"

Serta merta kuburan itupun bergerak dan membelah seketika, dan munculah orang yang sudah mati tersebut dan Al Jaelani menyuruhnya bernyanyi.

Dengan rasa tak percaya dan takjub dengan kejadian tersebut kedua orang tersebut saling bertatapan keheranan. Namun kejadian itu adalah kejadian yang nyata yang dilihat dengan kedua mata mereka sendiri. Dan akhirnya AL Isuwi mau mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabinya dan diapun masuk Islam dihadapan AL Jaelani.

Kisah Ini Diambil Dari "Sejuta Keajaiban Dalam Dunia Sufi"

3 Agu 2013

Pemahaman Kafir Dalam Islam



Perkenalkan nama saya Ida Bagus Nyoman Ari Sanjaya, saya dari Bali dan beragama Hindu. Saya ingin bertanya pada ustaz yang bijak: Sering saya mendengar kalimat yang mengatakan “orang yang bukan muslim adalah orang kafir” dan “tiada tuhan selain Allah”. Apa intisari makna kalimat tersebut? Bagaimana pengategorian kafir menurut Islam? Bapak Ustaz yang bijaksana, dengan rasa tulus saya mohon pencerahannya, terimakasih dan selamat menunaikan ibadah puasa.
Ida Bagus Nyoman Ari Sanjaya

Jawaban:
Pak Ida Bagus Nyoman yang saya hormati, terima kasih atas pertanyaannya. Saudara-saudara dari kalangan nonmuslim kerap bertanya seperti ini. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap kaum nonmuslim ? Apa intisari kata “kafir”?

Menyebut kafir bukan karena benci 
Orang Islam tidak boleh memaksakan ajaran agamanya kepada umat lain karena diharamkan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalam agama.”

Selain itu, umat Islam juga tidak boleh menyimpan kebencian terhadap umat lain. Banyak sekali kisah teladan yang bisa disebut sebagai contoh sikap seharusnya muslim kepada nonmuslim.

Dalam setiap perang, pasukan muslim dilarang menguasai atau menghancurkan tempat ibadah nonmuslim. Khalifah Umar menghapus kewajiban jizyah (pajak tambahan bagi orang nonmuslim) bagi kafir yang miskin. Beliau bahkan memberi infak secara rutin kepada kafir yang miskin itu. Ada lagi kisah lain.

Mungkin Pak Nyoman pernah mendengar kisah Muhammad SAW dengan nenek Yahudi yang selalu memusuhi dan menghasut orang-orang untuk membenci Muhammad. Meski demikian, Nabi Muhammad selalu datang tiap pagi dan sore untuk menyuapi si nenek itu (yang buta dan ompong).

Nenek yang buta dan ompong itu tidak mengetahui bahwa yang tak bosan-bosan dan telaten menghaluskan makanan untuk disuapkan kepadanya justru adalah orang yang dibenci dan dimusuhinya.

Esensi kata ‘kafir’ dalam Islam
Jika Islam sedemikian sayangnya kepada nonmuslim, maka apa sebenarnya esensi kata kafir yang merujuk kepada semua nonmuslim itu?

Harus kami tegaskan bahwa semua orang yang tidak memeluk Islam, dalam pandangan kitab suci Quran memang disebut kafir. Secara bahasa, kata ini bisa bermakna mengingkari, menolak, menentang atau menyangkal.

Secara sederhana, mereka yang disebut kafir bisa kita klasifikasikan menjadi tiga kelompok. Pertama, mereka yang disebut oleh Quran sebagai Ahli Kitab, yaitu umat Yahudi dan Nasrani.

Kedua, kelompok musyrik. Mereka inilah para penyembah berhala, api, matahari dan sebagainya.

Ketiga, kelompok munafik. Dari luar, orang-orang ini tampak bagai muslim. Namun dalam hatinya, terdapat kekafiran. Dengan kekafiran inilah, kaum munafik harus terjerembab ke dalam kerak terdalam di neraka kelak. 

(Dengan demikian, sebutan kafir sebenarnya berlaku juga bagi orang muslim.) 

Bahkan orang muslim pun harus kafir
Ketika Pak Nyoman merasa heran mengapa kaum muslim menyebut umat lain kafir, maka kami ingin memberitahukan bahwa bukan hanya umat lain saja yang bisa disebut kafir. Bahkan kami kaum muslimin pun harus kafir.

Kafir secara bahasa bermakna mengingkari, menolak dan menyangkal. Ketika saudara-saudara nonmuslim menolak masuk Islam, mengingkari dan menyangkal kebenaran Islam, maka mereka kami sebut kafir.

Kaum muslim sendiri, dalam sebuah ayat (QS Al Baqarah: 256), diperintahkan untuk beriman kepada Allah SWT dan mengingkari, menyangkal dan menolak taghut — yakni sesembahan selain Allah.

Di satu sisi kami harus beriman kepada Allah SWT, dan di sisi lain kami juga harus menjadi kafir terhadap taghut. Bila kekafiran ini tidak dilaksanakan, ada potensi kami menuju kekafiran yang dimiliki oleh saudara-saudara nonmuslim.

Waallahua’lambisshawab

Ahmad Sarwat, Lc., M.A


Sumber:

30 Jul 2013

Pendapat Ulama Tentang Tarian Sufi



Assalamu'alaikum

Izinkan kami mengutip beberapa perkataan ulama tentang tarian sufi :

1.  Ibn Hajr Al-Haytami dalam Fatawaa Hadithiyya الفتاوى الحديثية 

"Dibolehkan berdiri dan menari saat berdzikir kepada Allah dan audisi menurut sebagian besar ulama, termasuk Shaykh-ul-Islaam Al-’Izz ibn Abdus-Salaam.”

Beliau juga mengatakan bahwa tarian sufi ada dasarnya dari hadits di mana Ja'far Ibn Abi Thalib menari mengelilingi Nabi SAW.

ن
فع الله به عن رقص الصوفية عند تواجدهم هل له أصل ( فأجاب ) بقوله
نعم له أصل فقد روى في الحديث أن جعفر بن أبي طالب رضي الله عنه رقص بين يدي النبي [ ] لما قال له
أشبهت خَلقي وخُلقي وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر عليه [ ] وقد صح القيام والرقص في مجالس
الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم عز الدين شيخ الإسلام ابن عبد السلام


2. Imam An-Nawawi dalam Minah atThalibin منهاج الطالبين وعمدة المفتين

"Boleh asalakan tidak dilakukan seperti perempuan"

لا الرقص إلا أن يكون فيه تكسر كفعل المخنث


3.  Imam Suyuthi

وكيف ينكر الذكر قائما والقيام ذاكرا وقد قال الله تعالى (الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم) وقالت عائشة رضي الله عنها كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه، وإن انضم إلى هذا القيام رقص أو نحوه فلا إنكار عليهم فذلك من لذات الشهود أو المواجيد وقد ورد في الحديث رقص جعفر بن أبي طالب بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم لما قال له أشبهت خلقي وخلقي وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر ذلك عليه النبي صلى الله عليه وسلم فكان هذا أصلا في رقص الصوفية لما يدركونه من لذات المواجيد وقد صح القيام والرقص في مجالس الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم شيخ الإسلام عز الدين بن عبد السلام.

Bagaimana bisa orang menyalahkan orang yang berdzikir saat berdiri, atau berdiri dan berdzikir, saat Allah SWT berfirman "..(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring .."(QS 3:191).  Dan Aisyah rah berkata "Nabi SAW selalu berdzikir dalam setiap waktunya" (Shahih Muslim : 1 : 282 :373).  Dan jika menari dilakukan/ditambahkan saat berdiri, hal ini tidak bisa disalahkan, karena hal ini adalah sebuah kegembiraan spritual, dan kegembiraan yang luar biasa (ecstasy), dan hadits mendukungnya bahwa Ja'far ibn Abi Thalib menari dihadapan Rasulullah SAW, ketika Nabi SAW mengatakan , "Engkau menyerupaiku dalam rupa dan character".  Menari karena kebahagiaan yang dirasakannya karena perkataan itu, dan Nabi SAW tidak menyalahkannya.  Hal ini yang menjadikan dasar bahwa dibolehkannya tarian sufi yang datang dari kebahagiaan yang luar biasa yang mereka rasakan".

4.  Imam Ali Qari 

وأما الرقص مع أنه نوع من النقص فذهبت طائفة الى الكراهة وذهبت طائفة الى الاباحة منهم الرافعي والغزالي والنووي وذهبت طائفة الى التفرقة بين ارباب الأحوال فيجوز لهم ويكره لغيرهم وهذا القول هو المرضي عند جمهورهم وعليه أكثر الصوفية

Dan mengenai tarian, ada beberapa perbedaan, ada golongan ulama sekarang yang memakruhkan, dan golongan ulama lain membolehkan, seperti Ar-Rafi, Al-Ghazali, An-Nawawi, Golongan ulama berbeda pendapat antara tarian yang mengolah keadaan spritual, dan mereka mengatakan ini diperbolehkan, dan selain dari itu adalah makruh.  dan hal ini disetujui oleh mayoritas ulama itu, dan mayoritas sufi adalah sesuai denan itu (mengolah keadaan spritual / jadi boleh").

5.  Hafiz Ibn Hajar.

Hafiz Ibn Hajar juga dilaporkan membolehkan tarian sufi 

Syaikh Yusuf Khattar di dalam bukunya Al-Mawsu’ah Al-Yusufiyyah fi Bayaan Adillat As-Sufiyyah mengutip perkataan Hafiz Ibn Hajar melalui Imam Suyuthi :

"Al-Hafiz Ibn Hajar ditannya tentang tarian sufi, apakah itu ada dasarnya ?  Apakah Sahabat melakukan tarian dihadapan Rasulullah SAW ?"

Beliau menjawab : Ya ! Sungguh Ja'far Ibn Abi Thalib menari dihadapan Rasulullah SAW, ketika Nabi SAW berkata kepadanya bahwa "Engkau menyerupaiku dalam rupa dan kharakter", dan hal penting bagi Nabi SAW untuk mengklarifikas atas tindakan Ja'far tersebut (menari) apakah halal atau haram, namun Nabi SAW tidak melarangnya.  Dan ini dikenal dalam Mustalah Al-Hadith sebagai “Iqraar“, atau "dibolehkan" dan disetuji oleh Nabi SAW.  Dan Nabi SAW tidak akan mendiamkan hal-hal yang haram atau makruh.

Wallahu 'alam

Wassalamu'alaikum

Sumber:

29 Jul 2013

Akhlak Cicit Rasulullah SAW

Jakfar Al Mansur adalah salah seorang khalifah dari dinasti Abbasiyah, dan ternyata dia memiliki dendam kepada Hisyam bin Abdul Malik.
Suatu saat ia bertemu dengan Muhammad bin Hisyam, Jakfar pun ingin membalas dendam. Hal ini membuat Hisyam cemas, namun pada akhirnya Hisyam diselamatkan oleh Muhammad bin Zaid, cicit Rasulullah SAW.



Kisahnya.
Pada suatu hari, Jakfar menunaikan ibadah haji. Ketika sedang menjalankan ibadah di Masjidil Haram, tiba-tiba ia melihat ada seseorang yang memperlihatkan mutiara indah yang bernilai sangat mahal. Langsung saja ia teringat bahwa mutiara itu milik Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi.

"Aku sekarang ingat, mutiara itu milik pembunuh ayahku," katanya dalam hati.
Karena pemegang mutiara itu adalah anak muda, maka ia berfikir bahwa anak muda itu pastilah anak Hisyam.
Menurut orang yang duduk di sebelahnya, anak muda itu bernama Muhammad bin Hisyam. Setelah mengetahui pemilik mutiara itu, darah Jakfar langsung tersirap di sekujur tubuhnya, dendamnya terhadap keturunan Dinasti Umayyah bangkit.
Karena itulah ia berniat mengambil mutiara itu dengan kekerasan, dan tak lama kemudian ia memanggil ajudannya yang bernama Rabi.

"Besok pagi aku akan melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Haram. Kalau seluruh hadirin sudah berkumpul, maka kuncilah seluruh pintu dan panggillah sekelompok orang kepercayaan untuk menjaga pintu keluar. Pintu yang dibuka hanya satu saja serta perhatikan pula setiap orang yang keluar dari pintu itu, dan jika kamu menemukan orang yang bernama Muhammad bin Hisyam, segeralah dia kamu bawa ke hadapanku," pesan Jakfar kepada Rabi.

Akan Dibunuh.
Pada pagi harinya, perintah Jakfar ini langsung dikerjakan oleh Rabi.
Semua pintu Makkah ditutup, dan menyisakan hanya satu pintu saja yang dibuka. Muhammad bin Hisyam merasa terancam, namun tanpa diduga, ada seseorang yang mendekati, beliaulah Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein bin Ali (cucu Fatimah Az-Zahra, Puteri Rasulullah SAW).

Setelah duduk dan berdekatan, cucu Fatimah ini membuka pembicaraan,
"Ada apa Tuan?" tanya cucu Fatimah.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa," sahut Muhammad bin Hisyam dengan muka pucat.
"Ceritakanlah kepadaku dengan terus terang, engkau akan aku lindungi," ujar cucu Fatimah lagi.
"Siapakah Anda, saya belum pernah mengenal Anda?" tanya Muhammad bin Hisyam.
"Aku adalah Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein, cucu Fatimah binti Rasulullah SAW.

Mendengar jawaban itu, tubuh Muhammad bin Hisyam langsung menggigil ketakutan. Keringat dingin langsung bercucuran membasahi pakaiannya. Muhammad bin Hisyam mengira bahwa tamatlah riwayatnya kali ini, karena ayahnyalah yang membunuh ayah cucu Fatimah ini. Namun semua perasaan Muhammad bin Hisyam sebenarnya keliru, cucu Fatimah ini sungguh mulia dan baik hatinya. Muhammad bin Hisyam mengira pula bahwa cucu Fatimah ini akan membalas dendam, namun dugaannya salah.

Setelah melihat hal yang demikian, cucu Fatimah ini berusaha menghibur,
"Janganlah engkau takut dan khawatir, kamu bukanlah pembunuh bapak dan kakekku. Demikian itu tidak beralasan jika aku merasa dendam kepadamu. Namun Insya Allah aku akan berusaha melepaskanmu dari bahaya yang tengah engkau hadapi ini," jelas cucu Fatimah.

"Alhamdulillah, terserah kepada Anda, akan aku terima segala perlakuanmu kepadaku," sahut Muhammad bin Hisyam yang mulai agak tenang.

Akhirnya Selamat.
Setelah itu, segera saja cucu Fatimah Az-Zahra ini membebatkan baju luarnya ke muka Muhammad bin Hisyam. Dengan siasat tertentu, kepala Muhammad bin Hisyam ditundukkan kemudian diseret keluar dengan kasar. Dan setelah sampai di depan pintu, ajudan Jakfar memperhatikan keduanya.

Namun, cucu Fatimah ini segera membuat siasat baru lagi. Muhammad bin Hisyam segera saja ditempelng berulang kali seraya berkata,
"Wahai Rabi, orang jahat ini pemilik unta sewaan dari Kuffah. Di saat ini aku telah membayar uang sewa kepadanya, dia malah kabur dan menyewakannya kepada orang lain, yaitu orang Kurasan. Sekarang dia baru aku jumpai dan akan aku tahan," begitu ucap cucu Fatimah ini.

Kemudian cucu Fatimah ini langsung membebatkan kembali bajunya ke kepala Muhammad bin Hisyam sehingga mukanya tertutup kembali.
Setelah jauh dari pandangan Rabi, cucu Fatimah ini melepaskan Muhammad bin Hisyam.
"Segeralah kamu pergi dan mencari tempat berlindung," kata cucu Fatimah.

"Wahai cucu Fatimah Puteri Rasulullah SAW, aku sangat berterima kasih atas jasa Anda, jika Anda berkenan, terimalah benda ini sebagai cinderamata dan kenangan atas kebajikan yang telah Anda berikan kepadaku," ujar Muhammad bin Hisyam sambil menyodorkan mutiara yang dipunyainya.

"Ambillah kembali, dan bawalah kekayaanmu itu. Kami merupakan Ahlul Bait Rasulullah SAW, tidak boleh menerima atas kebajikan yang telah kami lakukan. Jagalah dirimu dari orang yang kini berusaha menangkapmu," kata cucu Fatimah.
Maka pergilah Muhammad bin Hisyam dengan penuh keharuan. Dia bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan karena baru saja telah ditolong dan dipertemukan dengan anak turun Nabi dan Rasul akhir zaman, Cicit Nabi Muhammad SAW.


Sumber:

Sebuah Petunjuk Dari Burung

Berkat petunjuk dari seekor burung, Syaqiq al-Balkhi menjadi lebih mengetahui hubungan antara ibadah dan rezeki. Kisah ini terdapat dalam kitab Ar-Risalah al Qusyayriyyah fi 'Ilm al Tashawwuf.



Berikut Kisahnya.
Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha yang memiliki orang tua yang juga pengusaha kaya. Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan dagang. Di tengah perjalanan, ia beristirahat disebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan di sana ia menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang.

Syaqiqi ini adalah seorang muslim yang taat, baginya, berhala adalah benda mati yang tidak patut dijadikan sesembahan.
"Kau memiliki Pencipta Yang Maha Hidup, Maha Tahu, Maha Kuasa. Dialah Allah yang seharusnya engkau sembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu," kata Syaqiq kepada penjaga itu.
"Jika benar Dia Maha Kuasa, kenapa Dia tak berkuasa memberimu harta di daerahmu sendiri agar engkau tidak perlu jauh-jauh berniaga mencarinya di daerah orang? Kenapa pula engkau capek-capek mencari harta jika Dia berkuasa memberikannya untukmu?" kata si penjaga tempat ibadah itu.

Petunjuk Burung.
Rupanya tanggapan yang tak terduga itu telah menghujam jantung hati Syaqiq. Syaqiq terdiam seribu bahasa, merenung. Ia kemudian memutuskan kembali ke daerahnya sehingga tidak jadi melanjutkan perjalanan dagang.
Ia bernia menjalani hidup zuhud dan meninggalkan segala kemewahan, menghabiskan waktu untuk beribadah.

Keyakinan Syaqiq untuk menempuh hidup zuhud semakin bertambah kuat setelah mendapatkan pelajaran dari seekor burung.
Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang tak lagi sempurna sayapnya, dan burung itu sendirian di atas tanah. Syaqiq bertanya dalam hati,
"Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup jika tidak punya sayap yang sempurna untuk terbang dan mencari makan?"

Tak lama kemudian datanglah seekor burung lain terbang merendah membawa makanan di paruhnya mendekati burung bersayap tak sempurna itu. Lalu ia menyuapinya.
"Hmmm...begitukah?" kata Syaqiq dalam hati.

Sadar.Suatu hari, Syaqiq berada di tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sampai kemudian, Ibrahim ibn Adham mendatanginya. Ibrahim ibn Adham ini juga merupakan orang yang kaya raya, dia juga berasal dari daerah Balakh, bagian dari wilayah Khurasan. Ibrahim ini juga memilih menjalani hidup zuhud.
"Kenapa engkau memilih hidup seperti ini?" tanya Ibrahim.

Syaqiq lalu menceritakan perihal burung itu, burung yang ditunjukkan kepadanya seolah untuk memberikan ilham.
"Burung itu tak lagi punya sayap yang sempurna, namun ia tetap bisa mendapatkan makanan," kata Syaqiq.

"Dia yang memberi rezeki untuk burung yang memiliki sayap tak sempurna itu dan Dia pula yang akan memberikan rezeki untukku. Burung itu telah mengajariku bertawakal. Maka, waktuku akan kuhabiskan untuk beribdah kepada Allah SWT," lanjut Syaqiq.

"Syaqiq, kenapa engkau memilih burung dengan sayap tak sempurna, yang hanya bisa menengadahkan paruhnya untuk mendapatkan makanan? Kenapa engkau tidak memilih menjadi burng dengan sayap yang sempurna agar engkau mampu mencari rezeki sendiri bahkan membantu yang lain untuk mendapatkan rezekinya?" kata Ibrahim.
Hati Syaqiq terhujam untuk kedua kalinya. Syaqiq segera saja meraih tangah Ibrahim seraya berkata,
"Engkaulah guruku," kata Syaqiq seraya menciumi tangan Ibrahim berkali-kali.''


Sumber:

Sang Rasulullah SAW Membelah Bulan


Kisahnya.
Jumlah orang-orang mukmin terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Sementara itu, orang-orang jahat tidak juga menghentikan kekejaman mereka. Mereka bahkan terus menantang Rasulullah SAW.

Pada suatu hari, orang-orang kafir kembali mengelilingi Rasulullah SAW. Mereka punya rencana baru untuk menyudutkan beliau. Mereka meminta Rasul SAW melakukan sesuatu yang menurut mereka mustahil untuk dilakukan. Nanti saat melihat beliau tidak bisa melakukannya, mereka akan mengolok-olok beliau.

Dengan pemikiran seperti itu, mereka berkata,
"Kalau engkau memang seorang nabi, tunjukkan mukjizat kepada kamu. Misalnya, belahlah bulan purnama di atas kepala kita menjadi dua. Letakkan yang sebelah di atas gunung ini dan sebelah lagi di atas gunung itu," kata orang-orang kafir.
"Kalau aku dapat melakukannya apakah kalian akan percaya padaku?" tanya Rasul SAW.

Bulan Terbelah Menjadi Dua.
Allah Yang Maha Tinggi memberikan kekuasaan kepada Rasulullah SAW untuk menunjukkan mukjizat seperti yang telah Dia berikan kepada nabi-nabinya terdahulu. Jika Rasulullah SAW mau, beliau bisa berdoa kepada Allah SWT dan atas izin-Nya, banyak peristiwa luar biasa yang akan terjadi. Namun, beliau ingin agar orang-orang berfikir dan menemukan jalan yang benar dengan pikiran mereka sendiri.

Saat itu, Rasulullah SAW yang terlihat semakin rupawan di bawah sinar rembulan, terlebih dahulu berdoa agar orang-orang sesat itu menemukan jalan yang benar. Kemudian beliau mengarahkan telunjuknya ke bulan. Sinar perak dengan cahaya bintang terlihat membentang diatas mereka. Rasulullah SAW membuat garis dari bagian atas bulan hingga ke bawah. 

Kala itu, tak seorang pun terlihat percaya atau memperhatikan secara penuh apa yang sedang terjadi. Setelah ditunjuk oleh Rasul SAW, bulan pun terbelah menjadi dua.
Subhanallah.....Sungguh luar biasa.

Setengah dari bulan itu berada di atas gunung yang satu dan setengahnya lagi di atas gunung yang lainnya. Allah Maha Besar. Allah Maha Tinggi sudah membelah bulan untuk Nabi kesayangan-Nya itu.

Nabi pun berulang-ulang mengatakan kepada orang-orang kafir,
"Saksikanlah!!, Saksikanlah!!!."
Orang kafir pun terbelalak.
Mereka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka saling pandang setelah mengetahui hal itu. Bibir Rasulullah SAW terus menerus berzikir, bersyukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan mukjizat itu. Saat kedua bagian bulan itu kembali menyatu, orang-orang kafir sangat terkejut dan takut.
Mereka hanya berkata,
"Ini Sihir !!!, Ini Sihir !!!"

Kesaksian Seorang Musafir.
Pagi hari setelah kejadian itu, negeri Makkah gempar.

Semua orang membicarakan peristiwa ajaib tadi malam. Saat kaum muslim membicarakan keindahan peristiwa itu, orang-orang kafir malah mengatakan bahwa yang mereka lihat tadi malam adalah tidak nyata.

beberapa orang di antara mereka berkata,
"Kita bilang saja kepadanya kalau dia hanya menunjukkan sihir kepada kita."
Orang-orang kafir mengetahui bahwa pengaruh sihir itu tidak akan sampai jauh pengaruhnya. Jadi mereka pun memutuskan untuk bertanya kepada musafir yang datang dari jauh,apakah mereka juga melihat peristiwa bulan terbelah tadi malam.
Mereka pun menunggu datangnya para musafir.

Begitu para musafir datang, para orang kafir langsung mendekati mereka dan bertanya apakah mereka juga melihat bulan terbelah menjadi dua tadi malam. Ternyata mereka juga melihat bulan terbelah menjadi dua kemudian menyatu kembali. Dengan semangat, para musafir itu menceritakan secara terperinci apa yang mereka lihat tadi malam. 

Meskipun mereka sudah mendengar kesaksian para musafir, namun tetap saja orang-orang kafir tidak percaya.
mereka mengatakan,
"Sihir Muhammad bahkan sudah mencapai langit," kata orang-orang kafir.
Orang-orang kafir itu telah dikunci mata hatinya, meskipun sudah melihat hal yang benar-benar nyata, masih saja dia berpaling, mungkir.

Dan inilah hebatnya Rasulullah SAW, Beliau tidak pernah sombong, bahkan selalu bersyukur atas mukjizat yan terjadi, beliau tetap penuh kasih, tetap medoakan agarorang-orang kafir itu tidak keras kepala dan bersedia mengikuti ajaran yang beliau sampaikan.

Sumber:

Kisah Pemuda Sedekah Seluruh Harta


Subhanallah...
Sungguh luar biasa yang telah terjadi.
Karena mendengar lantunan ayat Al Qur'an, seorang pemuda akhirnya menyerahkan semua hartanya dan ia berjanji hidup di jalan Allah untuk meraih surga. Bidadari surga pun telah menantinya sebelum dia wafat.



Kisahnya.
Pada suatu hari, Al Yafi'i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, seorang ulama besar mengatakan kepada santri-santrinya ketika dirinya akan bersiap-siap hendak berangkat jihad. Ia meminta ke beberapa temannya untuk melantunkan ayat suci Al Qur'an,
"Wahai sahabat, tolonglah bacakan sebuah ayat suci Al Qur'an," pinta Abdul Wahid panggilan akrab ulama ini.

Permintaan sang ulama ini membuat orang-orang yang akan pergi menuju medan perang diam sejenak. Namun ada salah seorang laki-laki setengah baya tampil ke depan. Kemudian laki-laki yang berbaju putih itu membaca Surat At Taubah ayat 111,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 

Artinya:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.

Setelah ayat tersebut dilantunkan, semua yang hadir tidak bisa bicara. Mereka merenungkan bunyi ayat suci tersebut. Kemudian, ada seorang anak muda berusia sekitar 15 tahun, bangkit dari tempat duduknya. Pemuda ini baru saja mendapat warisan yang cukup banyak dari orang tuanya, apalagi ia adalah anak tunggal.
Pemuda ini bernama Mahmud, yang mendapat wairsan karena beberapa hari yang lalu ayahnya baru saja meninggal dunia.

Setelah berdiri, pemuda iniberkata,
"Wahai Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga?"
Mendapat pertanyaan dari seorang pemuda yang muda belia ini, Wahid geleng-geleng kepala hampir tidak percaya. Lalu Wahid menjawab,
"Ya, benar, anak muda."
Jawaban dari Wahid ini membuat pemuda ini senang,
"Kalau begitu, saksikanlah, diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan surga."

Berperang.
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan agama Islam. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak diberikan untuk diamalkan. Dalam perjalanan ke medan perang, pemuda ini diperhatikan oleh Wahid. Pada siang hari, ia rajin berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah.
"Pemuda ini selalu melakukan shalat malam, dia juga rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan, serta sering menjaga kami bila sedang tidur," tutur Wahid pelan.

Ketika sampai di daerah Romawi dan ketika Wahid sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba anak muda itu maju ke depan dan berteriak,
"Wahai, sahabatku, mari kita maju menghadapi musuh. Aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah."
Wahid menduga, pemuda ini mulai ragu dan pikirannya kacau. Ia kasihan sekali, karena itulah ia mendekatinya,
"Siapakah Ainul Mardiyah itu?" tanya Wahid.
Nampaknyta pemuda itu menjawab dengan tenangnya,
"Tadi ketika aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata,
"Pergilah kepada Ainul Mardiyah."

Kemudian ia meneruskan perkataannya,
"Ia juga mengajakku memasuki taman yang dibawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan di pinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah.

Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata,
"Inilah suami Ainul Mardiyah."

Bidadari cantik.
Bidarari-bidadari nampaknya senang sekali bertemu dengan Mahmud, ternyata bidadari itu adalah pembantu Ainul Mardiyah. Bidadari pembantu itu menyuruh Mahmud meneruskan langkahnya. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam,
"Hai Ainul Mardiyah, ini suamimu datang."

Perkataan bidadari itulah yang membuat hatiku berdebar-debar. Setelah itu, aku mendekati pintu yang di dalam ruangan itu ada wanita yang bernama Ainul Mardiyah. Lalu aku memberi salam kepadanya. Setelah menjawab salam, aku dipersilahkan masuk. Aku lihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut.

Kemudian aku dekati dia. Tapi Ainul Mardiyah itu menyuruh untuk tidak mendekat. Waktu mendekat, dia berkata,
"Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu."


Mahmud melanjutkankisah mimpinya,
"Lalu aku terbangun. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama."

Belum lagi percakapan mereka selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri dari sembilan orang menyerbu. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Anak muda ini bagaikan singa kelaparan. Ia menerjang musuh dengan gagah beraninya sambil mengucap takbir tiga kali,  
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar."

Selesai pertempuran, anak muda itu terlihat penuh luka di tubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia.

Rela Berkorban Demi Saudara



Al Barra' bin Malik adalah seorang yang gagah pemberani. Ia bahkan rela mati dan tersiksa demi menyelamatkan saudaranya. Ia juga sangat merindukan mati di dalam peperangan membela Islam.

Kisahnya.
Dia adalah saudara Anas bin Malik, namanya Al Barra' bin Malik. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga menjadi pahlawan perang. Walaupun bertubuh kerempeng alias kurus dan berkulit legam, namun ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam pertandingan satu lawan satu.

Dalam Perang Yamamah, perang melawan pasukan Musilamah Al Kadzdzab pada masa pemerintatahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, Al Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al Barra' seraya berseru,
"Wahai Al Barra', kerahkan kaum Anshar!".
Saat itu juga Al Barra' berteriak memanggil kaumnya,
"Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, Ingatlah surga!".
Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat menebas musuh-musuh Allah yang datang mendekat.

Mengalami Luka-Luka.
Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya menjadi gentar. Mereka lari tunggang langgang dan berlinding disebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut.
Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum muslimin yang mencoba masuk dengan panah.

Menghadapi keadaan yang demikian, kaum muslimin sempat kebingungan. Dalam benak Al Barra' muncul ide. Ia pun berteriak,
"Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu leparkan aku ke dalam benteng musuh, biarkanlah aku mati syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk."
Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Kaum muslimin pun banjir menerobos masuk, pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20 ribu orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka, Musilamah Al Kadzdzab.

Berdoa Mati Syahid.
Sebenarnya Al Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancahpeperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah SAW.
Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar, namun kaum muslimin mengepunng benteng tersebut dengan ketat.

Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai car untuk menaklukkan kaum muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung antai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada kaum muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu.
Banyak pasukan islam yang tersambar pengait, diantaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al Barra' bin Malik. Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya.

Tangan Al Barra' bin Malik otomatis melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun demikian ia tidak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya melepuh dan hanya tinggal kerangka.
Sungguh pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam Perang Tustar ini juga, Al Barra' bin Malik memohon kepada Allah SWT agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia.
(Sampai menetes air mata kala mendengar kata "Sangat rindu bertemu Rasulullah SAW" . Selamat Al Barra' doamu dikabulkan Allah SWT berkat sabar dan semangat yang membara).