CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

9 Jul 2013

MAKNA KATA “KAMI” DALAM AL-QURAN


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم


Terkadang, banyak orang non-Muslim yang mengganggu keimanan kaum Muslim dengan bertanya:
“Mengapa Al-Quran sering menggunakan kata ‘KAMI’ untuk ALLAH?”
“Bukankah ‘kami’ bermakna banyak?”
“Apa itu berarti Al-Quran pun mengakui bahwa ada lebih dari 1 ALLAH?”

Mungkin, kaum Muslim pun ada yang bertanya-tanya kenapa ada kata “KAMI” di dalam Al-Quran yang mengacu kepada ALLAH Ta’âla. Dalam Bahasa Indonesia, kata “kami” memang digunakan untuk bentuk jamak. Tapi, penggunaan kata “KAMI” dalam Al-Quran sama sekali tidak menunjukkan bahwa ada lebih dari 1 ALLAH Ta’âla. ALLAH hanya ada satu, Lâ Ilâha Illallâh.


1.      Kata “KAMI” bermakna penghormatan

Bahasa Arab termasuk salah satu bahasa tersulit di dunia. Hal ini karena satu kata Bahasa Arab bisa memiliki banyak makna. Sebagai contoh, suatu gender yang dalam suatu daerah bermakna pria, tapi di daerah lain bisa bermakna wanita.

Dalam Bahasa Arab, dhamir “NAHNU” adalah bentuk jamak yang berarti “kita” atau “kami”. Namun dalam ilmu nahwu sharaf (tata Bahasa Arab), maknanya tak cuma “kami”, tapi juga “aku”, “saya”, dan lainnya. Bukti bahwa “KAMI” bukan bermakna jamak adalah bangsa Muslim Arab menyembah ALLAH saja, karena mereka memang memahami tata bahasa bahasa mereka sendiri.

Dalam Bahasa Arab, banyak istilah dan kata yang tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya, apalagi bahasa Al-Quran penuh dengan nilai sastra tingkat tinggi. Contoh kata lain adalah “antum”, yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara yang meski hanya satu orang. Padahal, kata “antum” bermakna “kalian” (bentuk jamak). Namun secara rasa bahasa, penggunaan kata “antum” memberikan kesan sopan dan ramah serta penghormatan dibandingkan dengan sapaan “anta” (bentuk tunggalnya).

Kata “NAHNU” tidak harus bermakna banyak, tapi menunjukkan keagungan ALLAH Ta’âla. Dalam Bahasa Indonesiapun, ada orang yang sering menggunakan kata “kami” padahal itu mengacu kepada dirinya sendiri.

      Dalam Al-Quran, ada satu contoh kata lain yang kalau kita maknai secara harfiah akan berbeda dengan makna sebenarnya. Kata tersebut adalah “ummat”. Biasanya kita memahami kata “ummat” bermakna sekumpulan orang. Kata ini menunjukkan orang banyak. Namun, dalam Surat An-Nahl ayat 120, ALLAH Ta’âla menyebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan “ummat”, padahal beliau hanya sendirian saja:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah ‘ummatan’ yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada ALLAH dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (ALLAH).”
[Hanif adalah seseorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.]

      Dalam nahwu sharaf, terdapat kata ganti pertama tunggal (anâ), dan ada kata ganti pertama jamak (nahnu). Namun, kata ganti pertama jamak dapat, dan sering, difungsikan sebagai bentuk tunggal. Hal ini disebut al-mutakallim al-mu’adzdzim li nafsihi, yakni kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri.

      Permasalahan muncul ketika Al-Quran yang berbahasa Arab diterjemahkan ke bahasa lain, termasuk Bahasa Indonesia, yang tidak mempunyai al-mutakallim al-mu’adzdzim li nafsihi. Hal inilah yang harus dipahami.


2.      Kata “KAMI” mengindikasikan ada peran makhluk lain seizin ALLAH Ta’âla

    Salah satu penggunaan kata “KAMI” dalam Al-Quran terdapat pada Surat Al-Hijr ayat 66:

“Dan telah KAMI wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.”

“KAMI wahyukan” menandakan ada peran makhluk lain, yaitu Malaikat Jibril, sebagai pembawa perintah ALLAH Ta’âla.

Dalam Surat Thâhâ ayat 11-16, ALLAH Ta’âla menggunakan kata “AKU”:

“11) Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: ‘Hai Musa.
12) Sesungguhnya AKU inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; Sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13) Dan AKU telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
14) Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, tidak ada Tuhan (yang hak) selain AKU, maka sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU.
15) Segungguhnya Hari Kiamat itu akan datang AKU merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.
16) Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa’.”

Pada ayat-ayat di atas, kata “AKU” digunakan karena ALLAH Ta’âla sendiri berfirman secara langsung kepada Nabi Musa ‘alaihissalam tanpa perantara Malaikat Jibril.

Pengunaan kata “AKU” dan “KAMI” yang bersamaan terdapat pada Surat Al-Anbiyâ’ ayat 25:

“Dan KAMI tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan KAMI wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan AKU, maka sembahlah olehmu sekalian akan AKU.’”

      Kata “KAMI” digunakan ketika ALLAH Ta’âla mewahyukan dengan perantara Malaikat Jibril, dan kata “AKU” digunakan ketika ALLAH Ta’âla memerintahkan untuk menyembah-NYA saja.

      Dalam Surat Al-Mu’minûn, ALLAH Ta’âla juga berfirman:

“Lalu KAMI wahyukan kepadanya: ‘Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk KAMI. Maka apabila perintah KAMI telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan AKU tentang orang-orang yang dhalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.’”
[Tanur ialah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah dan terbuat dari tanah liat. Biasanya memang tidak ada air di dalamnya. Terpancarnya air di dalam tanur menjadi tanda bahwa banjir besar akan melanda negeri itu.]

      Pada ayat tersebut, kata “KAMI” digunakan ketika mewahyukan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan perantara Malaikat Jibril, dan kata “AKU” digunakan ketika tidak ada malaikat.


3.      Penggunaan kata “KAMI” juga ada di kitab terdahulu

Bahasa Arab memiliki cukup banyak persamaan dengan Bahasa Ibrani, bahasa Bani Israil. Dalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama) sekarangpun, dalam bahasa aslinya kata yang digunakan adalah “KAMI”. Dalam Kitab Kejadian 1:1, “Pada mulanya ALLAH menciptakan Langit dan Bumi.” Namun, dalam Bahasa Ibrani-nya, kata yang digunakan adalah “KAMI”.




Sumber:
islamterbuktibenar

Nasab Dan Silsilah Imam al Mahdi as


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم


Hadits-hadits shahih menyatakan bahwa Imam Mahdi berasal dari Ahlul Bait Nabi yang mulia, yang jalur keturunannya mengakar pada al-Hasan radhiyallāhu anhu. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau berasal dari keturunan al-Husain radhiyallāhu anhu. Namun, hadits-hadits yang lebih kuat menegaskan bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan al-Hasan radhiyallāhu anhu. Dalam sebuah hadits marfu’ yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Al-Mahdi adalah anak-cucu al-Hasan bin Ali. Ia menguasai urusan kaum Muslim, yang seluruh keadaan dirinya baik, dan rencana ALLAH sungguh hebat.

Al-Alamah bin Hajar al-Makki berpendapat bahwa Imam Mahdi merupakan keturunan al-Hasan radhiyallāhu anhu. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Fathimah:
Demi ZAT yang mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sesungguhnya dari mereka berdua (al-Hasan dan al-Husain) Mahdi umat ini.
Hal ini berarti bahwa jalur keturunan ayah Imam Mahdi mengakar pada al-Hasan, sedangkan jalur ibunya mengakar pada al-Husain.

Diriwayatkan pula bahwa pamannya dari pihak ibu adalah al-Harits bin Zaid. Hal ini berarti bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan Fathimah radhiyallāhu anha, karena al-Harits adalah anak angkat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam, yang berkaitan dengan dirinyalah (al-Harits) ALLAH menurunkan ayat tentang pelarangan melakukan adopsi. Namun, nama Zaid lebih sering digunakan untuknya sebelum turunnya ayat tersebut. Berdasarkan hal itu, al-Harits dianggap sebagai saudara laki-laki Fathimah radhiyallāhu anha. [Hadits ini di-takhrij oleh Abu Na’im dalam Shifah al-Mahdi yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah: “Al-Mahdi berasal dari keturunanmu.”]

Diriwayatkan bahwa sanad hadits tersebut bersambung pada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut:
Dilahirkan dari Fathimah seorang cucu, yang paling membahagiakan hatinya sesudah wafatnya. Ia adalah Mahdi umat ini. Pamannya dari ibunya adalah al-Harits dan paman dari ayahnya adalah al-Husain, dan semua keadaan dirinya adalah baik. [HR Abu Hurairah]

Qurrah al-Madani meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sungguh dunia akan dipenuhi oleh kejahatan dan kedzaliman. Ketika kejahatan dan kedzaliman itu telah mengisi seluruh dunia, ALLAH mengutus seorang laki-laki dari keturunanku. Namanya sama dengan namaku, dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. Kemudian ia memenuhi Bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan dan kedzaliman. Langit tidak akan dapat mencegah guyuran hujannya, dan Bumi tidak dapat menahan tumbuhnya tanamannya. [HR al-Bazzar, al-Harits bin Abi Usamah, dan ath-Thabrani]

Hudzaifah radhiyallāhu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sekiranya usia dunia tinggal sehari, maka ALLAh akan mengutus seorang laki-laki yang namanya sama dengan namaku dan akhlaknya sama dengan akhlakku. Ia bergelar Abu Abdillah, yang dibaiat oleh manusia, baik dari kalangan atas maupun bawah, yang dengannya ALLAH menghendaki kejayaan agama-NYA, dan melakukan berbagai pembebasan ke berbagai penjuru dunia, sehingga tidak ada lagi penduduk Bumi yang tidak mengatakan “Lā ilāha illā ALLAH”. [HR Abu Na’im]

Imam Mahdi adalah seorang laki-laki bernama Muhammad bin Abdullah. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallāhu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Akan menguasai dunia seorang laki-laki dari Ahlul Baitku. Namanya sama dengan namaku, keluarganya adalah keturunanku. Nama ayahnya sama dengan nama ayahku, dan kakek ibunya adalah juga kakekku.


Wallāhu a’lam.


Sumber:
Buku “Menyongsong Imam Mahdi: Sang Penakluk Dajjal”, 2009 (cetakan IV), karya Muhammad Isa Dawud

Tiga "Kebohongan" Yang Dilakukan Nabi Ibrahim AS

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم


Selama masa hidupnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melakukan tiga kebohongan.


Kebohongan pertama

Orang-orang kafir Babilonia memiliki hari besar yang mereka rayakan tiap tahun di alun-alun kota. Ketika hari raya itu tiba, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diajak oleh ayahnya untuk menyaksikannya. Namun, ia tidak mau mengikutinya dengan alasan sakit, seperti dalam firman Allah subhaanahu wata’aala pada Ash-Shaaffaat 88-89, “Lalu dia memandang sekilas ke bintang-bintang, kemudian dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku sakit’.”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membuat alasan itu untuk melancarkan rencananya menghancurkan berhala-berhala yang akan ditinggalkan saat semua orang menghadiri perayaan besar tersebut. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kemudian menghancurkan semua berhala dengan kapak, kecuali berhala yang terbesar. Dia kemudian meletakkan kapak di tangan berhala terbesar tersebut.
PS: Ayah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan pembuat berhala.


Kebohongan ke dua

Setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menghancurkan semua berhala, kecuali yang terbesar, dan meletakkan kapak di tangan kanan berhala terbesar itu, masyarakat yang baru kembali dari perayaan kaget melihat sesembahan mereka hancur. “Mereka berkata, ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.’” (Al-Anbiyaa’:59)

Kemudian di antara mereka ada yang berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (Al-Anbiyaa’:60)

Menurut Ibnu Mas’ud, mereka yang menunjuk bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pelakunya adalah mereka yang pernah mendengar Nabi Ibrahim berkata, “Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” (Al-Anbiyaa’:57)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kemudian dibawa dan “disidang”. Setelah berkumpul, “Mereka bertanya, ‘Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya.’” (Al-Anbiyaa’:62-63)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata seperti itu agar mereka segera menjawab bahwa patung-patung itu tidak dapat berbicara, hingga akhirnya mereka mengakui bahwa patung-patung itu hanyalah benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Kebohongan ke tiga

Pada suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama istrinya, Sarah, datang ke suatu tempat yang dikuasai seorang firaun zhalim, untuk menetap sementara di sana. Firaun itu diberitahu oleh ajudannya bahwa ada seorang lelaki yang tinggal bersama wanita yang sangat cantik jelita. Firaun tersebut mengutus utusannya untuk menemui Ibrahim. Sang utusan bertanya, “Siapakah wanita yang tinggal bersamamu?” Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, “Dia adalah adikku.” Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendatangi Sarah dan berkata, “Wahai Sarah, di muka Bumi ini tidak ada orang yang beriman kecuali aku dan kamu. Dan di depan sana ada seseorang yang datang dan bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku katakan padanya bahwa kamu adalah adikku. Oleh karena itu, janganlah kamu katakan yang lain selain yang aku katakan.”

Maksud ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mengatakan bahwa Sarah adalah adiknya adalah “saudara seagama” (ukhtun fid-diin). Sedangkan maksud “di muka Bumi ini tidak ada orang yang beriman kecuali aku dan kamu” adalah tidak ada pasangan mukmin lain selain aku dan kamu. Alasannya adalah, karena Nabi Luth ‘alaihissalam pada saat itu juga beriman, sama seperti mereka. Nabi Luth ‘alaihissalam adalah keponakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Menurut sejarawan, Firaun dalam kisah tersebut merupakan saudara dari Adh-Dhahhak, firaun yang sangat terkenal kezhalimannya. Firaun tersebut bernama Sinan bin Ulwan bin Ubaid bin Auj bin Imlaq bin Lawaz bin Sam bin Nuh. Sedangkan riwayat Ibnu Hisyam dalam kitab "At-Tijan" menyebutkan, firaun tersebut adalah Amru bin Umrul Qais bin Mailepon bin Saba.



Sumber:
buku Qashash Al-Anbiyaa’, 2002, karya Ibnu Katsir

Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW Dalam Kitab Taurat

‏بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam bermunajat di Gunung Thursina untuk “bertemu” Allah subhaanahu wata’aala, Nabi Musa ‘alaihissalam mengajukan beberapa permintaan terkait isi dalam lauh-lauh (Kitab Taurat) yang diterimanya.

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terbaik yang pernah terlahir ke dunia, mereka menyuruh sesamanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah sesamanya berbuat kemungkaran. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terakhir yang diciptakan namun mereka adalah umat yang paling dahulu masuk surga. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang memiliki anak-anak yang sudah dapat menghapal kitab suci mereka, sedangkan umat-umat sebelum itu membaca kitab suci mereka dengan melihat. Apabila kitab itu disingkirkan, mereka tidak dapat membacanya dan tidak mengetahuinya. Engkau juga memberikan mereka daya hafal yang tinggi yang tidak diberikan pada umat-umat lainnya. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang beriman pada kitab suci yang pertama kali diturunkan hingga kitab suci yang terakhir diturunkan, mereka senantiasa memerangi kesesatan, bahkan mereka juga memerangi makhluk paling pendusta yang bermata satu (Dajjal). Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memakan hasil dari zakat yang dikeluarkan oleh sesama mereka, namun tetap diberi ganjaran yang berlipat-lipat. Engkau mewajibkan zakat itu pada orang-orang kaya di antara mereka dan menyalurkannya pada orang-orang miskin. Sementara ketika umat-umat lain berzakat, jika diterima maka zakat itu akan dimakan api, dan jika ditolak maka zakat itu akan dimakan hewan buas dan burung-burung. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang ketika berniat untuk berbuat baik namun mereka tidak melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis satu kebaikan. Dan jika mereka melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis bagi mereka 10 hingga 700 kali lipat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memberikan syafaat sekaligus menerima syafaat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Setelah mendegar semua itu, Nabi Musa ‘alaihissalam melemparkan lauh-lauh yang dipegangnya sembari berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku salah satu umat Muhammad.”


Sumber:
buku Qashash Al-Anbiyaa’, 2002, karya Ibnu Katsir

Surga Yang Ditempati Nabi Adam AS

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم



Ada dua pendapat umum mengenai surga yang dulu ditinggali Nabi Adam ‘alaihissalam: surga di langit, dan surga di Bumi.


Pendapat pertama: Surga yang dulu ditinggali Nabi Adam ‘alaihissalam berada di langit

Jumhur ulama berpendapat bahwa surga yang ditinggali Nabi Adam ‘alaihissalam adalah surga di langit, yaitu Surga Ma’wa, surga keabadian.

Nabi Musa ‘alaihissalam pernah bertanya pada Nabi Adam ‘alaihissalam, “Apa yang membuatmu mengeluarkan dirimu sendiri dan kami semua dari surga?”

Imam Muslim meriwayatkan, dari Malik Al-Asyja’i, dari Abu Hazim Salamah bin Dinar, dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah dan Abu Malik, dari Rib’i, dari Hudzaifah, mereka berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hari itu Allah akan mengumpulkan seluruh manusia. Kemudian orang-orang yang beriman berdiri ketika surga sudah semakin menjauh dari mereka, lalu mereka datang pada Nabi Adam dan berkata, ‘Wahai bapak kami, mintalah agar pintu surga dibukakan untuk kami.’ Lalu Nabi Adam berkata, ‘Apakah kalian dikeluarkan dari surga hanya karena kesalahan bapak kalian saja?’”

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa surga yang dimaksud adalah Surga Ma’wa.


Pendapat ke dua: Surga yang dulu ditinggali Nabi Adam ‘alaihissalam berada di Bumi

Surga yang ditinggali Nabi Adam ‘alaihissalam bukanlah surga keabadian, karena di sana ia masih mendapat pelarangan, yaitu untuk tidak mendekati pohon terlarang. Bahkan iblis pun bisa masuk. Hal ini menunjukkan bahwa surga yang dimaksud bukanlah Surga Ma’wa.

Penafsiran ini disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan bin Uyainah, Al-Qadhi Mundzir bin Said Al-Baluthi, Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya, dan beberapa ulama lainnya. Pendapat inipun secara tegas ada dalam Kitab Taurat yang ada di tangan ahlul alkitab sekarang.

Namun, pendapat ke dua ini pun terbagi menjadi dua lagi. Pertama, surga Bumi tersebut terletak di langit (langit Bumi), sebab ketika Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa dikeluarkan dari surga, mereka diperintahkan untuk “turun”. Pendapat ini disampaikan oleh Hasan. Pendapat ke dua adalah surga Bumi tersebut terletak di muka Bumi, sebab mereka berdua masih diberi pembebanan untuk tidak mendekati pohon terlarang. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Jubair.

Hal lain yang mendukung letak surga di Bumi ini adalah sebuah riwayat dari Abdullah bin Ahmad dalam kitab “Az-Ziyadat”, dari Hasan Basri, dari Utai, dari Ubay bin Kaab, ia berkata, “Ketika Nabi Adam ‘alaihissalam tengah menghadapi saat-saat terakhirnya, ia mengungkapkan pada anak-anaknya bahwa ia ingin sekali merasakan buah anggur dari surga untuk terakhir kalinya. Anak-anaknya pun mencarinya. Dalam perjalanan, ada beberapa malaikat yang menyapa mereka, ‘Wahai anak-anak Adam, hendak kemanakah kalian?’ Mereka menjawab, ‘Ayah kami sangat menginginkan buah anggur dari surga.’ Para malaikat berkata, ‘Kembalilah kalian, kami akan mendapatkannya untuk kalian.’ Setelah Nabi Adam memakan buah itu, ia pun wafat.  …………”

Para ulama tadi melanjutkan, “Kalau saja untuk mendapatkan buah anggur yang terletak di dalam surga yang dulu ditempati Nabi Adam itu tidak mungkin dicapai, maka tidak mungkin anak-anak Adam akan mencarinya. Hal itu menunjukkan bahwa surga tersebut berada di Bumi, bukan di langit.”

Wallahua’lam. Allah Maha Tahu atas segala sesuatu.


Thanks for reading  ^_^

Sumber:
buku Qashash Al-Anbiyaa’, 2002, karya Ibnu Katsir

8 Jul 2013

Rakyatnya Sayyidina Abu Bakar



Suatu hari Imam Ali ditemui oleh salah seorang rakyatnya, tiba-tiba berkata pada Imam Ali yang saat itu menjabat sebagai khlaifah: ‘wahai pemimpin kaum beriman (amirul mukminin) bolehkah aku bertanya? ‘Bertanya apa’, jawab Imam Ali.
‘Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, kehidupan kita terasa tentram, semua hal yang mengancam ketertiban dapat diatasi. Begitu pula pada masa khalifah Umar dan khalifah Utsman, kecuali sebentar saja pada masa akhir hidupnya. Sementara pada saat Anda yang jadi khalifah, terjadi perselisihan dimana-dimana, kedamaian yang kami rasakan sebelumnya tidak kami rasakan pada masa kepemimpinan Anda’, kata si Fulan berpanjang lebar.

Imam Ali menjawab, ‘ wahai Fulan’ pada masa Abu Bakar, Umar dan Utsman rakyatnya adalah orang-orang seperti Aku, sementara pada masa kepemimpinanku rakyatnya orang-orang seperti kamu’. Laki-laki yang bertanya pun berlalu dari Imam Ali dengan rona wajah yang sangat merah, malu mendengar jawaban Imam Ali, yang disebut oleh Rasulullah Saw. sebagai pintu ilmu.

Sumber:
Habib Lutfi bin Yahya

Kearifan Ulama Tanah Jawa



Di Jawa ada Kiyai namanya Kiyai Hasan, daerah Kraksan. Beliau  itu termasuk wali Allah yang luar biasa. Kalau beliau mau kedatangan Ahli Bait, keturunan nabi, Habib, beliau lari menjemput sambil berkata ada raihatul musthafa, ada bau harum badan Rasulullah Saw. Padahal kuturunan nabi itu entah baru sampai dimana.

Diantara Karamahnya. Suatu ketika, saat ada seorang haji menyewa mobil, kebetulan yang jadi sopirnya Ahli Bait (Habib/Syarif). Cuma haji ini tidak tahu kalau itu adalah Ahli Bait. Kiayi Hasan bilang sama anak-anaknya: tolong kamar tidur dirapikan kita mau kedatangan Habib. Habibnya siapa? Tanya putra kiyahi Hasan. Nanti saya tunjukan kalau sudah datang, jawab kiyahi itu. 

Setelah haji itu tiba dirumah kiyahi Hasan, kiyahi Hasan bertanya pada haji itu, Haji supirmu dimana? Sopir kula asaren kiyai, Sopir saya tidur Kiyai, Jawab Haji. Kiyahi balik bertanya, e'ka'emmah (dimana)? Di Mobil Kiyahi,  jawab Haji. Saya mau dekati dia boleh ya, kiyahi meminta ijin.

Yi tangi Yi' (Habib bangun Bib). Sopir itu kaget, karena seumur-umur tidak ada yang manggil Ayi', atau Habib.  Akhirnya dikenal dengan bangsa al Jufri. Kiyahi Hasan ditanya: darimana tahu sopir itu Habib? Dari bau keringatnya, bau keringat kangjeng Nabi, kata kiyai Hasan. 

Itu hebatnya ulama-ulama kita dahulu, sejauh itu pandangannya, dari hormatnya pada Ahli Bait Nabi. Dan tokoh-tokoh itu bukan satu dua, Imam Subki, Qadhi Iyadh tahu bagaimana kedudukan Ahli Bait an Nabi  dan juga ulama-ulama lain, ujar Al Habib M. Lutfi bin Ali Yahya.

Sumber:
Habib Lutfi bin Yahya

6 Jul 2013

Sayidah Fathimah: Wasilah Dzuriyah Nabi

Banyak pertanyaan kenapa keturunan Nabi Saw. dari Sayidah Fathimah tidak diturunkan dari anak lelaki Nabi Saw. Padahal nasab dihubungkan pada laki-laki. Apa dasarnya? Pertama, Untuk menjawab jahiliatul arab; ‘alladzi yatasaabun biauladiha’, mereka yang fanatik sekali terhadap anak lelakinya.

Untuk menjawab ini Rasulullah  Saw. bersabda “kulu bani anbiya yantami ila abihi, setiap keturunan nabi terhubung melalui ayahnya. Karena para nabi terdahulu tidak mengalami sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah Saw. Maka dijadikan keturunan mereka dari lelaki. Dimana hidupnya Nabiyullah Zakaria, Nabiyullah Yahya, Nabiyullah Musa dan lain sebagainya, mereka tidak taasub, fanatik terhadap anak lelakinya.

Tapi berbeda dengan masyarakat Arab saat itu. Sehingga nilai seorang wanita sangat terpojok sekali. Ini dijawab oleh Allah, karena munculnya pendapat-pendapat orang  mengatakan:’ bahwa sayidah Fathimah adalah perempuan, tidak mungkin keturunan Rasulullah Saw. dari perempuan, berarti kan putus. Rasulullah Saw. dianggap abtar”. Dijawab oleh Allah Taala apa? ‘Inna ‘Athoinaka al Kautsar, fasholli lirabbika wanhar inna Syani’aka huwa al abtar’. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (QS: AL Kautsar:1-3). Kalimah "huwa al Abtar",  dialah yang terputus (keturunannya), kepada siapa? Kaum jahiliyah yang menyerang dan menuduh Rasulullah: bahwa 'Rasulullah tidak punya keturunan lelaki'. Jadi huwa, ‘dia’ (dialah yang terputus) dalam ayat terakhir itu kembali pada yang mengejek Rasulullah Saw. 

Darisinilah Sayidah Fathimah’ melahirkan Al Hasan dan Al Husain. Dari asbat, keturunan inilah melahirkan tokoh-tokoh a’imah, para imam besar. Termasuk Imamuna Syafi’i sendiri diturunkan daripada ibu katurunan Sayidah Fathimah. Karena ibunya Imam Syafi'i adalah Hababah Fathimah binti Abdullah al Mahith Fathimah bin Hasan al Mutsana bin Hasan As sibthi bin Ali bin Abi Thalib.

Jadi Imam Syafi'i sendiri walaupun dari pihak perempuan masih ada tetesan darah  dari Musthofa Saw. Sampai Rasulullah Saw. sendiri mengatakan: “Khairul qurun qorni… sampai hadis Wakhtarallahu min bani Adam Fulan …al Fulan, min bani Hasyim… sebelum Bani Hasyim Wakhtara al Quraisy”. Dari keturunan Adam Allah memilih Quraisy. Keturunan Quraisy siapa? Imam empat tidak terlepas al Quraisy, Khulafaur Rasyidin tidak terlepas dari al Quraisyi.

Banyak yang bertemu di Ka’ab. Rasulullah bin Abdullah bin Abdu Mthalib bin  Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilab bin Ka’ab. Nah, dari sini ada yang ketemu di Luay ada yang bertemu di Abdi Manaf. Jadi Khulafaur Rasyidin termasuk dalam sabda Nabi; Wahktara min Quraiysy, Waktara al Hasyimi.

Dari Quraisy pilih lagi menjadi al Hasyimi dari al Hasyimi di pilih lagi Bani Muthalibi, sampai Bani Fathimah binti Rasulullah. "Jaalallahu Ahli Baiti min Fathimah wa Ali waana ashobihima wawaliyuhumma", Ya Allah jadikan ahli baitku dari Fathimah dan Ali Aku adalah kelompok  mereka dan pelindung mereka, Itu sabda Nabi.

Kedua, untuk menyatakan keturunan dari anak perempuan bisa lahir orang-orang yang hebat seperti al Hasan dan Husain. Ketiga, kalau siti Maryam sebagai wanita yang paling utama pada zamannya bisa melahirkan orang hebat: Isa bin Maryam, maka Sayidah Fathimah sebagai wanita yang paling utama fi jamanih, pada jamannya bisa melahirkan keturunan yang hebat pula: al Hasan dan Husain.



Wallahu A’lam


Sumber:
Habib Lutfi bin Yahya


Ulama Sodoqun dan Ulama Solihun



Ada dua kelompok ulama. Ada as sodiqun mislu rusul ada as solihun. Maksud mitslu Rusul itu dalam pengertian as Sodikun adalah ulama yang oleh Allah dikuatkan dengan karamat yang dzahir sebagaimana para Rasul yang dikuatkan oleh Allah dengan mu’jizat.  Seperti ada orang yang mau beriman  berkata; tandanya anda rusul apa, saya mau buktinya, saya minta mu’jizatnya. Nah rasul di sini wajib menunjukkan mu’jizatnya.

Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi  Muhammad bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab,  ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,”  lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Oke carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.


Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi  terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena  apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai  kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah SWT. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah SWT.

Para ulama dan para auliya’ menolong kepercayaan kita atas kebenaran yang dibawa Al Quran; seperti bagaimana ashabul kafi. Ashabul kahfi  bukan rasul,  mereka adalah wali. mereka tidur sampai 360 tahun. Bayangkan saja. Terus karamat Juraij, karamat Luqmanul Hakim dan banyak lagi yang  dicaritakan al Al Quran. Seperti juga Nabi Allah Sulaiman. Dikisahkan dalam al Qur’an beliau bisa berbicara dengan burung.

Wali Allah di Indonesia pun ada yang bisa berbicara bahasa hewan, seperti Mbah Adam dari Krapyak, Pekalongan. Auliya-auliya kita itu dulu begitu. Banyak lagi cerita auliya-auliya ulama-ulama di Indonesia. Ulama Jawa yang karamatnya luar biasa, seperti Mbah Sholeh Semarang, Mbah Kholil Bangkalan, banyak kalau kita ceritakan. Akhirnya dengan adanya yang demikian, kita percanya mantap dengan apa yang disebutkan oleh Al Quran;

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS: Yunus:62) Dari perilaku, sikap, dan karamat-karamat mereka kita tahu juga bagaimana gambaran dari;


إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS: Fathir: 28). Kita sudah tidak heran lagi kanapa yang disebut dalam ayat itu adalah ulama. Nah itulah hebatnya auliya-auliya terdahulu, luar biasa, mem¬punyai karamat yang top-top. Banyak lagi kalau diceritakan. Dan kita akan menemukan auliya-auliya yang ada di Indonesia ini luar biasa-luar biasa karamat¬nya. Nah tujuan dari semua ini adalah menolong kita, yang awalnya kepercayaan terhadap  sahabat sangat tipis, suudzon, berburuk sangka dan sebagainya, ditolong oleh para ulama dan para wali-wali Allah SWT.

Kembali kepada para sahabat Nabi. Sahabat Nabi  adalah orang atau generasi pertama yang menerima tongkat estafet dan mewarisi apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang membuat saya kagum ketika saya ber¬bicara tentang keutamaan para sahabat Nabi itu.

Di antaranya saja; kehebatan dan kuatnya keimanan mereka. Saya tidak akan menyebut¬kan yang lain-lain, kita tidak sampai. Dalam istilah jawa itu; kali sak dodo. Sekarang kita lihat bagaimana banyaknya tafsir-tafsir yang menjelaskan maksud Al Qur’an ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Satu judul tafsir saja ada yang 50 jilid, 60 jilid. Seperti At Thabari, Fakhru Razi, atau juga yang baru-baru seperti tafsir Syekh Thanthawi. Banyak sekali. Belum lagi yang mem¬bahas fiqih, tauhid dan lain-lain.
Semenatara pada jaman sahabat dulu tidak ada kitab yang menumpuk seperti saat ini. Jangankan kitab, menulis pun tidak, karena banyak di antara mereka yang umiy’; tidak bisa baca-tulis. Begitu ada wahyu disampaikan oleh Rasulullah SAW pada sahabat, dihapal¬kan, dan mereka langsung hapal, langsung percaya, langsung yakin.

Ilmu mereka adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa wahyu atau hadits yang disampaikan oleh Rasullah. Tapi dengan kesederhanaan itu dapat menghasilkan satu keyakinan yang luar biasa yang terpatri dalam hati mereka. Keyakinan yang hebat itu mewarnai dalam ijtihadnya dalam mujahadahnya dan sebagainya. Banyak hadits yang menceritrakan bagaimana kekuatan dan kehebatan keimanan mereka yang luar biasa, bagaimana kecintaan mereka kapada Rasulullah, juga bagaimana kecintaan mereka kepada satu sama lain diantara para sahabat, kecintaan sahabat kepada ahlu bait-nya Rasulullah SAW.

Contohnya sahabat Bilal, bagaimana kecintaan beliau kepada Rasulullah. Pada waktu Rasulullah meninggal, langsung sahabat Bilal mengundurkan diri sebagai muadzin, sebab tidak sampai hati beliau mendengungkan kalimat Allahu akbar. Biasanya dilihat oleh Rasulullah dan sahabat lainnya, sementara pada saat itu Rasul telah mangkat. Sehingga bagaimana mungkin beliau bisa mengeluar¬kan suara sementara Rasulullah SAW yang selalu mendengar adzannya sudah tidak ada. Ketika mau adzan suaranya tidak mau keluar suaranya hilang. Karena apa? Sayidina Bilal Shock, karena mahabbah, kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Sahabat Bilal bungkam, diam di Madinah sampai Rasulullah  dimakamkan. Setelah Rasulullah SAW dimakamkan sahabat Bilal tidak betah. Lalu sahabat Bilal pindah ke Syam (Syiria).

Di Syam  tadinya sahabat Bilal membayangkan akan mendapatkan sedikit ketenangan, tapi malah sebaliknya yang terjadi, terbayang wajahnya Rasulullah di mukanya terus, ahirnya ditemui oleh Rasulullah dalam mimpi. Ditanya oleh Rasulullah, ‘Bilal mengapa engkau  tinggal ditempat yang jauh betul dari Aku, katanya engkau ingin dekat dengan Aku, mengapa kamu pundah ke Syam?’ Langsung hari itu juga Sahabat Bilal pulang ke Madinah Al Munawroh, begitu sahabat Bilal ziarah ke makam Rasulullah, Sayidina Abu Bakar mendengar Sayidina Umar mendengar, mereka langsung menemui sahabat Bilal. Dan ziarah bersama. Sayidina Abu Bakar menangis. ‘Hai Bilal kapan datang?’ Tanya Khalifah Abu Bakar.

Mereka menangis rangkul-rangkulan. Kemudain Sahabat Abu Bakar meminta sayidina Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan di Madinah; ‘tolong dengung¬kan kembali adzanmu sebagaimana zaman Rasulullah.’ ‘Mulutku tidak bisa di buka,’ jawab Sayidina Bilal. Sayidina Umar yang juga meminta ke¬sediaan sahabat Bilal mendapat jawaban yang sama.

Akhirnya di sana ada 2 anak. Yang satu umurnya 9 tahun, yang satu umurnya 8 tahun, siapa mereka? Mereka adalah Imam Hasan dan Husain; dua orang cucu Nabi. Imam hasan dan Husain datang kepada Sahabat Bilal, begitu sahabat Bilal tahu, langsung menjemput kedatangan Imam Hasan dan Imam Husain. langsung dirangkul, begitu mencium kedua cucu Nabi, tambah sedih lagi sahabat Bilal, beliau kembali menangis. Karena apa? Keringat kedua anak ini tadi seperti keringat datuknya; baginda Nabi  SAW. Luar biasa.

Akhirnya dua orang ini berbicara. ‘Ya Bilal’ kata Sayidina Hasan yang saat itu ditemani adiknya; Imam Husain; ‘Tolong kumandangkan kembali adzan, sebagaimana engkau lakukan pada zaman datukku baginda Rasulullah SAW’. Dari situlah sahabat Bilal luluh. ‘Kalau yang memerintah adalah dua anak ini, mana mungkin aku bisa menolak. Karena ini adalah sempalan dari darah daging Rasulullah SAW. Kalau saya menolak, nanti di akherat bagaimana bertemu dengan baginda Rasul SAW,’ pikir sahabat Bilal.

Kemudian sahabat Bilal naik ke menara menunaikan adzan, ketika sahabat Bilal adzan seluruh penduduk Madinah, tidak anak kecilnya, tidak orang dewasanya, semua keluar dari rumahnya masing-masing sambil mengatakan Rasulullah hidup kembali-Rasulullah hidup kembali. Karena apa, mendengar suaranya Bilal. Sebab  ketika sahabat Bilal adzan selalu selalu pas dengan baginda Rasulullah SAW. Mereka semua keluar berduyun duyun mendengar suaranya Bilal ra.

Sumber: 
Habib Lutfi bin Yahya

3 Jul 2013

Wilayah Nabi dan Rasul Yang Diutus Allah

Rukun Iman terdiri dari enam hal. Dan salah satunya adalah percaya atau beriman kepada nabi dan rasul-rasul Allah. “… Barang siapa yang ingkar (kafir) kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 136).
                Berapakah jumlah nabi dan rasul-rasul Allah tersebut? Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban didalam shahihnya yang bersumber dari Abu Dzar al-Ghifary berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, berapakah jumlah para nabi?” Rasul menjawab: “jumlahnya ada 124 ribu orang.” Lalu aku bertanya lagi; “Berapakah jumlah rasul-rasul Allah?” Nabi SAW menjawab, “Jumlahnya ada 313 orang”.
                
Keterangan yang sama juga terdapat dalam kitab Nur Az-Zalam, karya Syekh Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, dan ‘Aqiqah al-Awwam karya Syekh Ahmad Marzuqy. Namun dari sekian banyak nabi dan rasul tersebut, sebanyak 25 orang yang secara jelas disebutkan dalam AlQuran, dan itulah yang wajib diimani oleh umat islam.
Lalu, nama-nama lain yang disebutkan dalam AlQuran dan terbukti banyak berbuat kebajikan, seperti Luqman al-Hakim, Uzair, Dzulqarnayn, apakah mereka juga seorang nabi dan rasul? Tak ada keterangan detail soal ini.
                Antara nabi dan rasul ada dua hal yang berbeda. Pendapat umum menyebutkan, kedua gelar tersebut berbeda makna. Rasul bersifat umum dibandingkan dengan nabi. Rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya (umatnya).
Sedangkan nabi, adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu syariat, namun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Berdasarkan definisi ini, maka setiap rasul adalah nabi, dan sebaliknya, seorang nabi belum tentu diutus menjadi rasul.
                Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sebanyak 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam AlQuran, diutus di empat wilayah, yaitu di Jazirah Arabia, Irak, Mesir, serta Syam dan Palestina. Yang terbanyak diutus di wilayah Syam dan Palestina, jumlahnya mencapai 12 orang. Mereka adalah Luth, Ishak, Ya’kub, Ayub, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakaria, Yahya, dan Isa AS. Semua nabi dan rasul yang diperintahkan oleh Allah SWT bertugas untuk menyeru umat manusia agar senantiasa beriman kepada Allah dan berbuat kebajikan serta menjauhi segala keburukan.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama-sama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadid [57]: 25).
Syekh Umar al-Asyqar dalam kitabnya ar-Rusul wa ar-Risalah, sebagaimana dikutip oleh Sami al-Maghluts, menyatakan, rasul adalah orang yang diberikan wahyu dan suatu syariat baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus untuk menetapkan syariat sebelumnya. Pendapat serupa juga terdapat dalam Tafsir al-Alusi.
Berikut tempat-tempat dan wilayah para nabi yang diutus oleh Allah SWT.


Makkah
Gambar Kota Makkah abad ke 19

Makkah al-Mukarramah adalah tanah yang sangat disucikan oleh umat Islam, sebab, Allah SWT telah menegaskan hal itu dalam AlQuran.
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (QS. Al-Ankabut [29]: 67).
“Dan mereka berkata: “ Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Qashash [28]: 57).
Sebagai kota yang disucikan, tentu saja Makkah memiliki banyak keistimewaan. Diantaranya, didirikan Baitullah sebagai kiblat umat islam di seluruh dunia. Seluruh kaum muslimin wajib menghadapkan wajah ke arah Baitullah setiap akan mendirikan shalat lima waktu.
Allah juga memberikan keberkahan kepada Makkah. Diantaranya, Allah mengharamkan peperangan di kota ini, dilarang mencabut rumput, dilarang membunuh hewan, dan lain sebagainya.
                Selain itu, tentu saja, kemuliaan Makkah karena disinilah Allah mengutus nabi pertama (Adam AS) dan nabi terakhir (Muhammad SAW). Dalam kitab Athlas Tarikh al-Anbiya’ wa ar-rusul, Sami bin Abdullah Al-Maghluts menjelaskan, ada enam orang nabi dan rasul yang diutus Allah di Makkah dan sekitarnya (Jazirah Arabia). Keenam nabi dan rasul itu adalah Nabi Adam AS, Nabi Ismail AS, Nabi Saleh AS, Nabi Hud AS, Nabi Syuaib AS, dan Nabi Muhammad SAW.
Dari 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam AlQuran, hanya enam nabi saja yang diutus di bumi Makkah dan sekitarnya. Sebagian dari 25 rasul itu, pernah berkunjung ke Makkah, bahkan melaksanakan ibadah haji. Diantara mereka adalah Nabi Ibrahim AS.
                Selain Makkah, tanah yang disebut suci oleh Allah adalah Palestina dan sekitarnya. “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena taku kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al-Maidah [5]: 21). Lihat juga dalam surah Al-Isra[17] ayat 1.
                Sedangkan Madinah al-Munawwarah, disucikan oleh Rasulullah SAW. Anas RA. mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Madinah itu haram (tanah suci) dari ini sampai ini, tidak boleh dipotong (ditebang) pohonnya, dan tidak boleh dilakukan bi’dah di dalamnya. Barang siapa yang membuat bid’ah (atau melindungi orang yang berbuat bidd’ah) di dalamnya, maka ia terkena laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.” (HR Bukhari).
Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tanah haram tidak melindungi orang yang maksiat, orang yang lari dari (hak) darah (orang lain), maupun yang lari dari khurbah (bencana, wabah).” (HR Bukhari).

Mesir
       
     
   Mesir adalah negeri para raja. Disinilah Firaun (raja-raja mesir) berkuasa, negeri ini telah ada sejak abad ke-32 sebelum masehi, atau sekitar 3200 SM. Sejak Nabi Ibrahim AS, negeri ini sudah ada. Pada saat itu dinasti yang berkuasa adalah Dinasti Usrah di era klasik (3200-2160 SM). Selanjutnya, sebelum masa Firaun, sudah didirikan piramida, itulah yang disebut era Mesir Kuno.
                Menurut Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam bukunya Athlas Tarikh al-Anbiya’ wa ar-rusul (Atlah Sejarah Nabi dan Rasul), sedikitnya ada empat periode pada masa mesir kuno ini. Yakni periode Kerajaan Era Klasik (3200-2160 SM). Pada masa ini terdapat sepuluh dinasti yaitu dinasti I-IX.
                Periode kedua adalah era pertengahan yang dimulai dari tahun 2160-1585 SM. Di masa ini dinasti yang berkuasa mulai dari dinasti XI-XVII. Pada era ini Hykos menyerbu Mesir. Selanjutnya, Periode ketiga, yaitu kerajaan era baru (1585-1200 SM). Yang berkuasa adalah dinasti XVIII-XX. Di saat inilah Firaun berkuasa dan saat Musa keluar bersama kaumnya dari Mesir.  Terakhir, era kelemahan dan kemunduran (1200-332 SM) yang diwarisi oleh dinasti XXI-XXX. Pada masa ini, Alexander Macedonia masuk ke negeri Mesir.
                Al-Maghluts menyebutkan, dinasti XII berada satu masa dengan peristiwa besar dalam sejarah kuno. Di masa ini, Ibrahim AS yang dilahirkan di Irak Selatan, kemudian hijrah ke Suriah dan sempat pergi ke Mesir setelah Suriah mulai mengalami kekeringan. Saat itulah, raja mesir yang berkuasa memberikan padanya seorang pelayan, bernama Hajar, yang akhirnya dijadikan istri oleh Ibrahim.
                Sebelum Kairo, ibukota Mesir adalah Asta Tawi, yang berarti penggenggam bumi. Daerah ini terletak di dekat ibukota lama, yaitu Memphis. Pendiri dinasti ini adalah Amenhotep I yang memiliki perhatian besar pada pembangunan benteng-benteng di delta timur dan barat. Kekuasaannya kemudian dilanjutkan oleh Snosert I. disebutkan, Snosert I inilah yang menggali kanal dan meyambungkan antara sungai Nil dan Laut Merah.
                Diantara para penguasa dari dinasti XII adalah Amenhotep II, kemudian Snosert II. Setelah itu, roda kekuasaan dipegang oleh Amenhotep III yang masa pemerintahannya terkenal aman dan sejahtera. Raja ini membangun beberapa pyramid di negeri Hawarah di daerah al-Fayyum. Politik luar negeri pada masa dinasti XII ini ditekankan pada pengutamaan hubungan harmonis dengan Negara tetangga. Semikian disebutkan Dr. Jamal Abdul Hadi dan Wafa’ Raf’at dalam kitab Tarikh Ummah Muslimah Wahidah fi Misri wa Irak.
Selain al-Fayyum, terdapat sekitar 25 kota besar lainnya di Mesir waktu itu. Diantaranya, Kairo, Memphis, Luxor, Aswan, Asyut, al-Bahr al-Ahmar (Laut Merah), Iskandariyah, Ismailiyah, dan lainnya.
                Di era modern ini, Mesir sebagian wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Secara total luas Mesir mencapai hamper satu juta kilometer persegi, tepatnya 997.739 kilometer. Wilayah Mesir mencakup semenanjung Sinai (dianggap sebagai wilayah Asia Barat Daya), sedangkan sebagian lainnya di wilayah Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur, dan berbatasan dengan perairan Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.
                Dalam AlQuran, Allah mengutus sebanyak 25 Nabi dan Rasul. Dan dari 25 itu, tiga orang Nabi yang diutus ke wilayah Mesir ini. Ketiga nabi dan rasul tersebut adalah Yusuf AS, Musa AS, dan Harun AS.

Irak
                Irak adalah salah satu negeri tempat diutusnya nabi dan rasul Allah. Sedikitnya ada empat nabi dan rasul yang diutus di negeri ini. Yaitu Idris, Nuh, Ibrahim, dan Yunus.
Nabi Idris diutus di wilayah Irak Kuno, tepatnya di daerah Babylonia. Nabi Nuh diutus di wilayah Mesopotamia, Ibrahim di wilayah Babylonia, dan Yunus di daerah Ninawa (Ninive).
Keempat nabi dan rasul ini diutus oleh Allah dengan membawa bukti-bukti yang nyata. “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS Al-Hadid [57]: 25).
Mereka semua senantiasa menyeru umat manusia ke jalan yang lurus, yakni menyembah Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
                Ada beberapa kota yang terkenal di Irak, diantaranya Baghdad, Basrah, dan Kufah. Hingga kini ketiga kota tersebut terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam. Bahkan, pada masa Dinasti Abbasiyah, kota Baghdad menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan mencapai puncaknya (golden age) pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid.

Syam dan Palestina

Peninggalan Kota Syam (sekarang meliputi Syria, Palestina, Yordania dan Libanon)
Sementara itu, di Syam dan Palestina terdapat 12 orang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah di wilayah tersebut. Mereka adalah Luth, Ishak, Ya’kub, Ayub, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakaria, Yahya, dan Isa AS.
                Tentu ada pertanyaan besar, mengapa nabi dan rasul banyak diutus Allah di Syam dan Palestina? Apakah sudah begitu sesatnya umat manusia sehingga Allah mengutus banyak nabi dan rasul pada kedua daerah tersebut? Tak ada keterangan yang kuat mengenai hal ini. Tentu saja, semua itu adalah kehendak (iradah) Allah.
Yang pasti, tujuan nabi dan rasul berdakwah adalah untuk menyeru umat manusia agar kembali ke jalan yang lurus dan senantiasa beriman kepada Allah SWT.
Dan mengapa pula diutusnya di kedua wilayah tersebut? Dalam AlQuran, Allah SWT berfirman, bahwa Palestina dan Syam adalah negeri yang diberkahi oleh Allah SWT, selain Makkah dan madinah.
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al-Maidah [5]: 21)
“Dan kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS Al-Anbiya [21]: 71)
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya.” (QS Al-Isra [17]: 1)
Semua ahli tafsir sepakat, bahwa negeri yang diberkahi dalam ayat di atas adalah Syam dan Palestina. Misalnya, dalam Al-Qur’an Digital disebutkan, yang dimaksud dengan negeri dalam keterangan ayat di atas adalah Syam dan Palestina. Allah memberkahi negeri itu, karena kebanyakan nabi berasal dari negeri ini dan tanah nya pun subur.
Palestina misalnya, disebut sebagai salah satu negeri tertua di dunia. Dan Palestina, tepatnya Yerusalem, kota ini disebut sebagai Kota Tiga Iman. Demikian Karen Amstrong menyebutnya. Dan dia menyatakan, sebelum abad ke-20 SM, negeri ini telah dihuni oleh bangsa Kanaan.
Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan, Kota Jerusalem merupakan bukti yang paling baik dalam kekunoan pemukiman-pemukiman bangsa arab – semistis purba Palestina – yang telah berada di sana jauh sebelum bangsa-bangsa lainnya dating.
Kota ini didirikan oleh suku-suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan yang hidup sekitar 5000 tahun lalu. “Yang pertama mendirikan Jerusalem adalah seorang raja bangsa Jebus-Kanaan,” ujarnya.
                Wajarlah bila di negeri ini banyak diutus para nabi dan rasul, karena merupakan salah satu kota tertua di dunia. Di negeri ini terdapat Haikal Sulaiman dan Kerajaan Daud, juga tempat kelahiran Isa, tempat diadzabnya kaum Luth, tempat Zakaria melaksanakan shalat, tempat Rasulullah SAW melaksanakan Isra dan Mi’raj, Masjidil Aqsha, dan lainnya. Bahkan di salah satu menara masjid di Damaskus, dipercaya sebagai tempat turunnya Nabi Isa di Akhir zaman nanti.

Wallahu A’lam. 

Peninggalan Nabi Daud AS (King David), Besi


Nabi Daud Alaihissalam (AS) adalah seorang utusan Allah yang mempunyai kelebihan dibandingkan Rasul lainnya. Kelebihan Daud AS diantaranya bisa berbicara dan paham bahasa hewan, burung dan gunung tunduk pada kehendak Daud (atas izin Allah) dan mereka bertasbih bersama Daud (QS Saba[34] ayat 10).
            Selain kemampuan dan kelebihan tersebut, Nabi Daud juga diberikan anugerah oleh Allah berupa kemampuan untuk menundukan besi. (QS Saba[34]: 10-11, Al-Anbiyaa’[21]: 80).
Besi-besi yang keras itu mampu dilunakkan Nabi Daud untuk membuat berbagai alat kebutuhan hidup serta dijadikan perisai (pakaian perang). Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan sesuatu yang ada di bumi dan alam semesta ini sia-sia, baik yang besar maupun kecil. (QS Ali Imran[3]: 191).
            Dalam surah Al-Baqarah[2] ayat 26, Allah ‘menyindir’ orang yang selalu mengira bahwa tidak ada manfaatnya Allah menciptakan sesuatu yang kecil.
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu menciptakannya….”  (QS Al-Hajj[22]: 73)
            Ayat-ayat di atas menunjukan bahwa tidak sesuatu pun yang diciptakan Allah itu sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Dari berbagai perumpamaan yang Allah ciptakan itu, justru dapat diketahui apakah manusia itu termasuk orang yang bersyukur atau ingkar terhadap nikmat dan ciptaan Allah SWT.
            Demikian pula ketika Allah menciptakan besi. Didalamnya terdapat manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al-Hadid[57]: 25).
            Selain dapat digunakan sebagai perisai, besi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, gedung bertingkat, kendaraan transportasi, barang hiasan, dan lain sebagainya.
                                                                Peninggalan Nabi Daud AS

Penemuan Besi
            Sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Nabi Daud AS adalah seorang nabi yang mempunyai kerajaan. Namun, sebelum Allah menganugerahi sebuah kerajaan padanya, Nabi Daud harus berjuang terlebih dahulu bersama dengan Thalut untuk melawan Jalut, serta berperang melawan pasukan dari negeri lainnya.
Dalam beberapa peperangan itulah Nabi Daud AS diperintahkan untuk memanfaatkan besi sebagai alat untuk berperang, seperti pedang, pisau, tombak, panah, maupun baju perang.
“Dan Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi intuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS Al-Anbiyaa’[21]:80).
Dalam surah Saba’[34] ayat 11, Daud diperintahkan membuat baju perang yang terbuat dari besi.
Secara tegas, ayat tersebut diatas memberikan contoh cara membuat baju perang dari besi. Kapankah peristiwa itu terjadi, dan seperti apa baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud tersebut?
            Dalam buku Sami Abdullah al-Maghluts disebutkan, Nabi Daud AS diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 SM. Dalam masa itulah Nabi Daud pernah membuat baju dari besi.
Para ahli tafsir, seperti Al-Qurthubi mengungkapkan, kata Labus dalam surah Al-Anbiya ayat 80 dan Saba’ ayat 10-11, bermakna baju-baju besi karena dipakai untuk membentengi atau melindungi diri dari serangan musuh-musuh. Alba’su dalam kalimat tersebut bermakna peperangan setelah dibuang mudlaf: Aalatu ba’sikum.

Pengolah Besi Pertama
Dalam menafsirkan ayat 10-11 surah Saba’[34] ini, Ibnu Katsir mengutip pendapatnya Hasan Bashri mengatakan, anugrah yang diberikan Allah kepada Nabi Daud salah satunya kemampuan yang luar biasa dalam menipiskan atau memipihkan dan membakarnya untuk menempa besi tersebut. “Daud tidak perlu membakar besi terlebih dulu untuk memipihkannya dengan palu, namun cukup dengan lipatan-lipatan tangannya sebagaimana yang dilakukan para tukang jahit. Karena itu, Allah berfirman, “Buatlah baju besi yang besar-besar.”

                                                                    Makam Nabi Daud AS

            Kemampuan yang dimiliki Nabi Daud dalam melunakkan besi ini berbeda dengan yang dimiliki Dzulqarnain pada abad ke-6 SM (545 SM) – lihat (QS al-Kahfi[18]: 96)
Lebih lanjut Ibnu Katsir menyatakan, Daud merupakan orang yang pertama kali dalam membuat baju besi. Sebelum itu, hanya berupa lempengan tameng, “Dan ukurlah anyamannya,” yakni jangan terlalu melunakkan penyambungan antarlempeng karena akan membuat longgar dan berisik, serta jangan pula terlampau mengencangkan anyamannya karena bisa merekat. Namun, buatlah sesuai dengan ukuran tertentu.
            Sami al-Maghluts mengatakan, pada awalnya manusia menggunakan batu yang ditempa untuk melakukan perburuan atau peperangan, baik untuk membuat pedang, panah, atau pisau. Sementara itu, pada masa Nabi Daud AS, lanjut Sami, manusia bisa membuat baju-baju besi yakni berupa lembaran-lembaran, jadi Daud merupakan manusia pertama yang memperkenalkan dan menjalinkan besi menjadi sebuah bentuk baju besi sebagaimana disebutkan dalam surah Saba’[34] ayat 10-11 tersebut.

Situs Pertambangan Nabi Sulaiman?
            Sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Nabi Sulaiman Alaihissalam (AS), mewarisi sikap dan akhlak Nabi Daud AS, baik dalam hal kerajaan, kemampuannya dalam bercakap dengan binatang, menaklukkan gunung, menguasai jin, dan lain sebagainya (QS An-Naml[27]:16). Demikian juga dengan besi atau baja.
            Baru-baru ini, pada tanggal 28 Oktober 2008 lalu, nationalgeographic.com memberitakan, sekelompok penambang di Yordania bagian selatan menemukan sebuah lokasi penambangan yang diduga berasal dari zaman Nabi Sulaiman AS. Tidak dijelaskan secara resmi lokasi penemuan galian bekas tambang tersebut.


Penggalian yang dilakukan sekelompok penambang di Yordania yang diduga merupakan bekas lokasi tambang di zaman Sulaiman.    
        
Berbagai jenis barang tambang (emas, perak, tembaga, besi, perunggu, dan lain sebagainya) yang dulu digunakan Sulaiman untuk membangun Haikal Sulaiman (solomon temple) di Jerusalem. Emas, perak dan perunggu dipergunakan untuk memperindah interior kuil.
Sejauh ini, para arkeologi belum menemukan persisnya areal pertambangan di zaman Sulaiman. Beberapa areal tambang yang ditemukan di kawasan Timur Tengah setelah diteliti masih lebih muda usianya dari masa hidup Sulaiman (diperkirakan hidup sekitar abad ke-10 SM / 989-931 SM.). penemuan areal bekas tambang di Yordania ini memberi angin segar kepada para arkeolog dalam meneliti peradaban dan kejayaan Nabi Sulaiman.
            Temuan itu semakin diperkuat dengan tes uji karbon terhadap areal tambang tembaga di Yordania itu. Hasil tes menunjukan usia yang sama dengan masa Nabi Sulaiman, kawasan ini berada di perbukitan, di lokasi ini ditemukan bekas-bekas penggalian dan reruntuhan bangunan yang diduga menjadi bagian dari industri pertambangan kuno. Kawasan itu sebenarnya pernah diteliti tahun 1970 tetapi hasil penelitian menunjukan areal tersebut berusia sekitar abad ke-7 SM, sekitar 300 tahun setelah Nabi Sulaiman.
            Sebelumnya ada laporan dari nationalgeographic.com pada 27 Oktober 2007, kabarnya sejumlah pekerja muslim menemukan kuil Sulaiman. Di lokasi tersebut para pekerja menemukan berbagai jenis barang keramik, tembikar, yang diduga merupakan peninggalan Sulaiman setelah kehancuran Haikal Sulaiman. Kuil itu terletak di sebelah Masjid Al-Aqsha. Kendati tidak utuh, kuil Sulaiman itu diyakini masih ada berupa tembok ratapan (wailing wall) yang bersebelahan dengan Masjid Kubah Batu (Dome Of the Rock).

Sentra Pengolahan Besi
            Damaskus, ibu kota Suriah (Syria) dikenal sebagai salah satu kota pengolahan besi yang sangat hebat. Kualitasnya telah diakui berbagai kalangan. Bahkan pada masa awal keislaman, besi-besi Damaskus dijadikan sebagai alat utama pembuatan senjata seperti pedang, pisau, tombak dan anak panah.
Pada abad 7-8 Masehi, ketika Dinasti Umayyah berkuasa, Damaskus menjadi pusat pembuatan pedang yang terkenal di dunia islam. Begitu pula pada abad ke-9 hingga 12 M. ketika Damaskus dalam kekuasaan Ayyubiyah, kota ini menjadi pusat pembuatan pedang yang sangat kesohor. Selain kuat dan tajam, pedang buatan Damaskus juga sangat berkualitas dengan teksturnya yang indah dan menarik.
Ketika Perang Salib, tentara musuh islam terperangah melawan pasukan muslim, sebab disamping memiliki kuda-kuda yang handal, pedang-pedang tentara islam mampu menembus baju besi musuh dengan sekali tebas. Saat Perang Salib itulah peradaban barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.
            Seni membuat pedang di era kejayaan islam mendapat perhatian khusus dari peradaban barat. Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk “Medieval Islamic Swords and Swordmaking.” Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama muslim terkemuka pada abad ke-9 M, Ya’kub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang ‘Pedang dan Ragam Jenisnya’
Al-Kindi menulis secara lengkap tentang teknologi pembuatan pedang. Ia juga mengklasifikasikan beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. Menurutnya, pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan). Besi alami terbagi menjadi dua, Shaburqan (besi laki - yang sangat keras yang diolah dalam keadaan panas), serta Narmahin (besi perempuan – adalah besi yang lembek yang tidak dapat diolah dalam kondisi panas).
            Pada era kejayaan islam, pedang-pedang yang dibuat pandai besi di dunia islam, besi dan bajanya berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir dan Kufah. juga ada yang di import dari Sarandib (kini wilayah Srilangka).
            Ilmuwan muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al-Biruni (973 M – 1048 M). secara khusus ia menulis kitab berjudul, Al-Jamahir fi ma’rifat al-Jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang.
            Prof. Ahmad Al-Hassan dalam tulisannya yang berjudul, The Origin of Damascus Steel in Arabic Sources, mengungkapkan, hampir semua pedang di dunia islam terbuat dari besi Damaskus, dan salah satu cirinya dihiasi dengan pola hias (firind). Menurut Al-Khindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind.

Sumber :

2 Jul 2013

Musa al Khawarizmi, Penemu Angka 0-9



Abu Abdullah Mohammad Ibn Musa al-Khawarizmi lahir di Khawarizm (Kheva), selatan laut Aral. Tak diketahui awal hidupnya, kecuali fakta bahwa orang tuanya berpindah tempat ke suatu tempat di sebelah selatan Baghdad. Tanggal pasti kematiannya juga tak dikenal, tetapi bahwa ia mengabdi di bawah Al-Mamun di Baghdad pada tahun  813-833 diperkirakan ia meninggal sekitar 840 M.

Khawarizmi adalah seorang ahli matematik, ahli bumi dan ahli falak. Ia salah seorang ahli matematik terbesar yang pernah hidup, sesungguhnya, ia pendiri beberapa konsep dasar dan cabang matematika. Menurut Phillip, K. Hitti, ia pengaruhnya dalam pemikiran matematika lebih besar dibanding penulis pertengahan lain. Pekerjaannya di bidang aljabar, ia tidak hanya memulai pokok materi format sistematis tetapi ia juga mengembangkan sejumlah solusi analitis persamaan quadrat dan linear, yang membuatnya dinobatkan sebagai pendiri Algebra (Aljabar). Nama Aljabar diambil dari buku terkenalnya Al-Jabr wa-al-Muqabilah. Perhitungan sintesis Yunani dan pengetahuan Hindu juga berisi kontribusinya yang sangat penting sampai cabang ilmu pengetahuan dan matematika. Dengan begitu, ia menerangkan penggunaan angka nol (0), satu angka pokok yang dikembangkan oleh Orang Arab. Dengan cara yang sama, ia mengembangkan sistim desimal sedemikian sehingga keseluruhan sistem dari angka-angka, ‘ algoritma’ atau’ algorizm’ dinamai menurut namanya ’alkhwarism’.

Sebagai tambahan terhadap pengenalan Sistem angka-angka dari India (sekarang dikenal sebagai Angka Arab), ia mengembangkan angka itu dalam beberapa prosedur seturut ilmu hitung, termasuk operasi pecahan. Melalui pekerjaannya sistem dari angka-angka diperkenalkan pertama oleh orang Arab dan kemudiannya dikembangkan di Eropa, melalui terjemahan-terjemahan Arab dalam bahasa-bahasa Eropa. Ia juga mengembangkan jadwal trigonometri fungsi-sinus, yang diteruskan sampai fungsi tangen oleh Maslamah. Ia juga menyempurnakan penyajian geometris irisan kerucut dan dikembangkan kalkulus dari dua kesalahan, yang pada kenyataannya membuatnya untuk berbeda konsep dengan ilmuwan lain. Ia juga dilaporkan sampai bekerjasama di pengukuran-pengukuran derajat tingkat yang diperintah oleh Mamun al-Rashid untuk mengukur lingkar dan volume bumi.

Pengembangan Tabel Astronomi olehnya adalah satu kontribusi penting dalam ilmu perbintangan (Falaq), dalam bidang ini ia juga menulis satu buku. Kontribusi Khawarizmi dalam geografi juga terkemuka, dalam bidang itu ia tidak hanya melakukan peninjauan kembali pandangan-pandangan Ptolemy dalam ilmu geografi, tetapi juga mengoreksinya secara detil peta dunianya. Kontribusi-kontribusi lainnya berkaitan dengan kerja asli jam, jam matahari dan astrolabes.

Beberapa bukunya diterjemahkan ke bahasa Latin awal abad 12. Sayangnya, bukunya, Kitab al-Jam’a wal Tafreeq bil Hisab al-Hindi, bahasa Arabnya musnah dibakar dalam suatu peperangan, tetapi terjemahan Latinnya selamat. Bukunya di bidang aljabar, Al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al Muqabilah, juga diterjemahkan ke Latin di abad 12, dan terjemahan inilah yang memperkenalkan ilmu pengetahuan baru ini menuju ke Barat “yang sepenuhnya tak dikenal sampai pada waktu itu”. Tabel astronominya juga diterjemahkan ke bahasa Eropa dan kemudian ke Cina. Geografinya Kitab Surat-al-Ard, bersama-sama dengan  peta-petanya juga diterjemahkan.

Sebagai tambahan, ia menulis satu buku pada penanggalan Yahudi Istikhraj Tarikh al-Yahud, dan dua buku pada astrolabe. Ia juga menulis Kitab al-Tarikh dan bukunya di bidang sinar matahari adalah Kitab al-Rukhmat tetapi dua kitab ini telah hilang. Pengaruh Khawarizmi pada pertumbuhan ilmu pengetahuan, secara umum, matematika, geografi dan ilmu perbintangan khususnya, sejarah yang didirikan sungguh luar biasa. Kita bisa membayangka jika Khawarizm tidak menemukan angka nol, dan mengembangkan operasi angka arab untuk perhitungan, angka yang tersedia sampai hari ini mungkin hanya angka romawi yang tidak bisa dijadikan operasi hitung.

Buku-bukunya yang diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain, dijadikan buku teks wajib dalam perkuliahan Universitas-universitas di Eropa hingga abad 16. Pendekatannya logis dan sistematis, ia tidak hanya mendamaikan pengetahuan umum pada berbagai cabang ilmu pengetahuan, terutama matematika, tetapi juga memperkayanya sebagai kontribusi aslinya. Tidak diragukan ia menyimpan nama baik tinggi sepanjang berabad-abad sejak itu.