CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

3 Jul 2014

Tentang Puasa Nabi Daud AS, Puasa Sunnah Yang Paling Disukai Allah SWT



1. KENAPA DISEBUT PUASA DAUD? APAKAH PUASA INI SUNAH NABI MUHAMMAD.SAW?

Jika Anda menghendaki dalil berupa hadits-hadits tentang puasa Daud, silakan Anda mencari sendiri di sumber-sumber lain, jika Anda ragu. Namun secara ringkas, puasa Daud ini merupakan amalan Nabiyallâh Daud.as (dan umatnya), dan diriwayatkan pula, bahwa puasa Daud ini adalah puasa yang PALING DICINTAI ALLÂH. Beliau (nabi Daud.as) berpuasa sehari dan berbuka sehari, terus menerus begitu sepanjang tahun. Nah, lantaran puasa ini merupakan puasa yang, bisa dikatakan paling istimewa, tidak salah apabila Rasulullah.saw memuji dan menyukai puasa Daud ini, dan bahkan dianjurkan bagi siapapun umat Islam, tentu saja bagi mereka yang berminat, kuat dan ikhlas menjalankannya. Jadi jika ada di antara pembaca ingin mengamalkan puasa Daud, silakan, namun jika kondisi tidak memungkinkan Anda melakukan, tidak perlu dipaksakan, karena masih ada puasa-puasa sunah yang lain.

2. APAKAH PUASA DAUD ADA BATAS MINIMALNYA? MISAL, MINIMAL 1 TAHUN ATAU SEMAMPU KITA

Jika kita melihat riwayat dalam hadits, puasa Daud ini disebut oleh Rasulullah.saw untuk mengakomodasi keinginan beberapa sahabat yang ingin melakukan puasa sepanjang tahun. Rasulullah.saw melarang, dan alih-alih memberitahukan satu puasa yang paling mulia dan disukai Allâh yang disebutkan bahwa nilainya setara dengan puasa sepanjang tahun, yakni puasa Daud, puasa sehari dan berbuka sehari. Ditilik dari fakta tersebut, agaknya bisa kita simpulkan, bahwa puasa Daud baiknya dikerjakan oleh mereka yang dalam dirinya berhasrat kuat untuk melakukan amalan puasa hingga akhir hayat. Istilah kasarnya, kalau mau, jangan setengah-setengah, karena tidak pernah ada riwayat pelaku puasa Daud melakukan puasa Daud hanya 1 bulan, atau 6 bulan, atau 1 tahun (kecuali jika sedang dalam taraf latihan).

Tentu, jika melihat pada kondisi-kondisi yang lebih khusus, bisa saja ada seseorang yang melakukan puasa Daud tiba-tiba harus berhenti melakukan puasa Daud karena satu dan lain hal, misalnya karena sakit berkepanjangan. Itu bisa saja, jika Allah sudah berkehendak, dan bisa dimaklumi jika yang bersangkutan tidak lagi bisa meneruskan puasa Daud dalam waktu tertentu.

Namun jika kita mau sejenak membuka mata terhadap sejarah, dan bahkan kalau saya berkaca pada pengalaman diri sendiri, jarang sekali ditemukan kasus orang melakukan amalan puasa secara istiqamah jatuh sakit. Yang ada justru orang berpuasa sehat-sehat, malah di dunia kedokteran, orang-orang sakit dianjurkan berpuasa. Saya sendiri selama melaksanakan puasa Daud malah alhamdulillah jarang sekali jatuh sakit. Dan itu memang fakta ajaib yang tidak bisa dipungkiri, sebab manusia sejak zaman dulu pun telah mengenal puasa sebagai imun dan “penyembuh alami” yang ajaib. Dan kalau berkaca kembali pada pengalaman pribadi, bukannya ingin berhenti, saya malah ketagihan dan ingin terus melaksanakan puasa Daud hingga ajal menjelang. Sebab apa, sebab saya sudah menyadari dan merasakan sendiri, apa manfaat dan khasiat rahasia puasa Daud. Mungkin Anda para pembaca bisa menanyakan hal ini secara personal kepada orang yang kebetulan seorang pelaku puasa Daud.

3. APA MANFAAT PUASA DAUD BAGI DIRI SAYA? LALU BAGAIMANA JIKA BERTEMU HARI SENIN, KAMIS, JUM’AT, SABTU DAN MINGGU? MOHON SEKALI LAGI DIRINGKAS LAGI HAL-HAL SEPUTAR PUASA DAUD.

Jika benar-benar ingin melaksanakan Puasa Daud, atau sering disebut Puasa ala Nabi Daud ini, maka hal yang paling baik di awal adalah tekad dan niat yang sungguh-sungguh. Jika benar kita serius, ingin mengamalkan puasa yang paling baik ini, maka hal-hal lain semestinya tidak perlu lagi dipertanyakan. Mau jatuhnya hari Jum’at, hari Sabtu, hari Senin, hari Kamis, atau terpotong oleh sakit sehari, batal di lain hari, yang paling penting itu adalah terus istiqamah alias konsisten untuk terus melakukan dan melanjutkan puasa Daud. (Tentu saja puasa Daud ini tidak boleh dikerjakan di hari-hari yang diharamkan berpuasa, seperti Hari Raya ‘Idul Fithri, ‘Idul Adha, dst).

Lalu, apakah pelaksanaan puasa Daud ini harus selamanya? Seperti yang sudah saya utarakan, yang penting itu kita konsisten. Mungkin saja di suatu waktu kita sakit satu minggu, nah, setelah sehat, kita lanjutkan lagi puasa Daud tersebut. Dan tentu, idealnya puasa Daud ini dijalankan hingga akhir hayat. Tentu, awalnya terasa berat, karena BELUM TER-BI-A-SA. Tapi jika kita sudah terbiasa, insya Allah, yang ada kita malah ketagihan dan ingin terus menerus melakukannya. Karena apa?

  • Fakta, siapapun yang konsisten melaksanakan puasa Daud, tidak akan pernah mudah sakit. Silakan dibuktikan sendiri, minimal sampai 2 minggu atau 1 bulan saja, dan lihatlah keajaiban yang akan tubuh Anda rasakan. Jadi sebetulnya tak perlu ada kekhawatiran bagi yang akan hendak memulainya karena takut akan jatuh sakit, karena yang ada justru malah sebaliknya, kita menjadi kebal terhadap segala jenis penyakit. Tentunya hal ini bukan sekedar omong kosong, karena saya pun mengalaminya langsung, jadi asli dari pengalaman nyata sendiri. Apa sebabnya? Sebabnya adalah, ketika kita makan (secukupnya) satu hari, lalu keesokan harinya puasa, lalu lusanya berbuka, lalu esoknya lagi puasa, itu menjadikan sistem pencernaan kita menjadi lentur dan kuat, sehingga membuat sirkulasi darah bekerja secara dinamis. Berbeda dengan mereka yang tidak sekalipun puasa, pencernaan terus-terusan dipaksa bekerja dan menjadi tempat sampah makanan, sehingga menjadi biang penyakit pencernaan. Jadi, berbahagialah bagi siapapun yang mengamalkan puasa Daud semasa hidupnya.
  • Hidup Anda akan berubah 180 derajat. Ketika kita sudah terbiasa melakukan puasa Daud, hal-hal sekecil apapun akan terasa nikmat LUAR BIASA bagi diri kita. Karena apa? Karena kita sudah TERBIASA LAPAR. Ketika kita sudah terbiasa lapar, kita jadi tidak lagi merasa takut apabila sewaktu-waktu tidak punya apa-apa, kita jadi kebal dengan hidup, kita menjadi tenang dan tentram. Soal ketenangan hati ini, itu adalah rahmat dan karunia ajaib Allah. Yang jelas, ketika diri kita sudah membiasakan lapar, kita akan menjadi sosok insan yang akan mudah bersyukur dan bahagia, meskipun hanya makan nasi dengan tempe atau ikan asin saja, kita akan merasa bahagia luar biasa. Aneh memang, tapi itulah keajaibannya.
  • Ketika kita sudah membiasakan puasa Daud dan terbiasa lapar, kita akan lebih peka dengan segala jenis makanan. Kita seperti menjadi sebuah detektor, yang mampu mendeteksi, “Oh, makanan ini jelek, makanan ini buruk, makanan ini tidak baik” dan lain sebagainya. Karena apa, karena ketika kita sudah membiasakan puasa Daud, kita akan lebih mencintai perut yang kosong ketimbang perut yang kenyang, dan kita akan benar-benar benci dengan kenyang, karena kita akan sadar, kenyang itu menjadi sumber malapetaka kesehatan tubuh dan diri.
  • Ketika kita sudah membiasakan diri melakukan puasa Daud dan terbiasa lapar, jiwa sosial kita akan lebih peka. Kita akan lebih mudah tersentuh melihat siapapun yang datang meminta-minta, karena apa, karena kita telah merasakan sendiri, betapa lapar itu menyengsarakan. Maka dari itu, lantaran kita sudah terbiasa lapar, kita menjadi sosok yang tidak tega melihat orang lain lapar. Jadilah kita ringan dalam memberi sedekah dan bantuan kepada orang lain. Rahmat dan pahala berlipatlah yang akan kita dapat.

Dan masih banyak lagi. Silakan, bagi yang hendak dan ingin berpuasa Daud, lakukan sekarang juga, atau esok. Semoga mendapat pengalaman dan manfaat yang lebih besar dari apa yang sudah saya kemukakan di atas. Sedangkan bagi yang masih menjalankan Puasa Daud hingga sekarang, tetaplah istiqamah dan konsisten, bahkan kalau perlu ajak orang-orang terdekat, kerabat dan sahabat untuk turut serta melestarikan puasa yang sangat sangat dianjurkan Rasulullah.saw ini.

Dan mohon diingat, puasa Daud ini lebih untuk dan semata untuk Allah saja, jadi jangan sampai kita memberitahukan kepada orang lain kalau kita ini melakukan puasa Daud atau sudah berapa lama kita melakukan puasa Daud. Bukan orang lain yang memberi balasan, tapi Allah, jadi lebih baik dan lebih sempurna apabila kita melakukan puasa Daud ini secara SEMBUNYI-SEMBUNYI, RAHASIA. Cukup dan biar Allah saja yang tahu sudah berapa lama kita melakukan puasa dahsyat ini.

Ibadahnya Nabi Daud AS



Nabi Daud adalah salah seorang Nabi Allah yang amalan salat dan puasanya sangat disukai Allah, sehingga karena kehebatannya inilah Nabi Muhammad memberitahukannya kepada para sahabat.

Abdullah bin Amr meriwayatkan, “Rasulullah bertanya kepadaku, “saya mendengar kabar bahwa anda selalu berjaga di waktu malam (beribadah) dan berpuasa di siang hari.”

“Benar, ya Rasulullah,” jawab saya. Nabi bersabda, berpuasalah dan berbukalah, salatlah dan tidurlah! Karena tubuhmu mempunyai hak terhadapmu, dan tamumu juga mempunyai hak terhadapmu. Cukuplah bagimu berpuasa sebanyak tiga hari pada tiap bulan.”

Abdullah berkomentar, ”Saya bertahan.” Nabi pun bersikeras pula. “Akhirnya saya memberikan alasan: Ya Rasulullah, saya kuat melakukannya. “Kalau begitu, berpuasalah tiga hari setiap minggu,” ujar Nabi.

Abdullah berkomentar lagi, “Saya tetap bertahan.” Tapi Nabi bersikeras pula.  Saya berdalih, “Ya Rasulullah, saya masih sanggup.”

“Kalau begitu, berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, dan jangan melebihi lagi!” sabda Rasulullah memperingatkan dengan keras.

“Ya Rasulullah, bagaimana puasa Nabi Daud itu,” tanya saya.

“Beliau sehari berpuasa, sehari tidak,” sabda Nabi.” (HR Ahmad dan lain-lain).

Dalam redaksi lain, Abdullah bin Amr meriwayatkan, “Rasulullah bersabda, “Puasa yang lebih di sukai oleh Allah ialah puasa Daud, dan salat yang paling disukai Allah, ialah salat Daud. Beliau tidur seperdua malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya. Beliau berpuasa satu hari, lalu berbuka satu hari.” (HR Bukhari Muslim).

Al-Qur’an melukiskan kepribadian Nabi Daud cukup lengkap. “Bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba kami, Daud yang mempunyai kekuatan (Al-Ayad), sesungguhnya dia amat taat.

“Sesungguhnya kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia diwaktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing amat taat kepada Allah.

Dan kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

Ketika mereka masuk menemui Daud, ia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Jangan kamu merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan antara kami dengan adil, dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja,” maka dia berkata, “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”

    Daud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkaan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amatlah sedikit mereka ini,” dan Daud mengetahui, bahwa kami mengujinya, maka ia minta ampun kepada tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.

Maka kami hapuskan kesalahan itu, dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat di sisi kami dan tempat kembali yang baik.

“Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan diantara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat di jalan Allah, akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah, yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka.

Pantaskah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama dengan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi? Patutkah kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama denga orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS Shad: 17-28).

Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan, kata “Al-Ayad” berarti kekuatan dalam ketaatan, maksudnya adalah kekuatan dalam beribadah dan beramal salih. Sedang Qatadah mengemukakan, Nabi Daud diberi kekuatan beribadah dan diberi taufik dalam memegang keyakinannya, sebagaimana telah disebutkan, Daud senantiasa melakukan “Qiyamul Lail” (salat Tahajud) dan mengerjakan puasa Dahr (puasa sepanjang tahun, sehari puasa, sehari tidak).

Selain tekun beribadah, salat dan puasa, Nabi Daud juga diberi kitab Zabur. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Dan kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS An-Nisa: 163).

Zabur adalah kitab yang sudah populer sebelum Al-Qur’an diturunkan. Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, kitab Zabur itu diturunkan pada bulan Ramadhan, di dalamnya terdapat berbagai macam nasehat, hikmah dan pelajaran.

Ketika Nabi Daud membaca kitab Zabur, suaranya begitu indah, maka burung-burung berhenti di udara seraya ikut bertasbih, demikian juga dengan gunung-gunung yang senantiasa bertasbih bersama-sama dengan Daud pada pagi hari dan petang.

Abdurrazak menceritakan, dari Ibnu Juraij, “Aku pernah bertanya kepada Atha’ tentang membaca Al-Qur’an dengan menggunakan lagu, maka dia pun menjawab, “Apakah memang ada larangan untuk itu? Aku pernah mendengar Ubaid bin Umar berkata: dulu Daud AS pernah mengambil rebana dan menabuhnya lalu membaca kitab Zabur.”

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abdurrazak, dari Mu’ammar, dari Al-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, Rasulullah pernah mendengar suara Abu Musa Al-Asy’ari sedang beliau tengah membaca Al-Qur’an, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Abu Musa telah di karuniai bagian dari seruling keluarga Daud.”

Kemampuan Nabi Daud berpuasa, ternyata menurun kepada anaknya, Nabi Sulaiman. menurut Ibn Abbas, Nabi Sulaiman berpuasa tiga hari pada awal bulan, tiga hari pada pertengahan bulan dan tiga hari pada akhir bulan. jadi beliau mengawali bulan dengan puasa, menjalani pertengahannya dengan puasa, dan menutupnya dengan puasa pula.

Sebetulnya hampir setiap Nabi memiliki tradisi berpuasa, seperti disebutkan di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu (umat Muhammad) berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar bertakwa.”

Mukjizat Nabi Daud

Nabi Daud sangat terkenal sebagai Nabi yang memiliki suara yang sangat merdu dan tidak ada yang bisa menandinginya. Inilah karunia dan rahmat Allah atasnya. Apabila Nabi Daud bernyanyi melagukan kitab Zabur yang berisikan petunjuk dan tuntunan dari Allah SWT, maka orang-orang yang sakit menjadi sembuh. Jin dan Manusia serta burung-burung berkumpul di dekatnya untuk mendengarkan nyanyian itu, serta angin pun menjadi tenang, gunung, burung-burung ikut bertasbih memuji kebesaran Allah.

Ketika ia memegang besi, maka besi itu menjadi lunak, seperti kertas, dan dapat dijadikan bermacam-macam keperluan hidup tanpa harus dibakar terlebih dahulu dengan api dan tidak perlu di tempa seperti kebiasaan orang pande besi (As-Saba: 10-11)

Sumber kisah diadaptasi dari beberapa sumber dan Alkisah nomor 21 / 10-23 Okt 2005

Puasa Sunnah dalam Agama Islam




1) Puasa 6 hari dibulan syawwal

Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari bahwa Raulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“barangsiapa yang berpuasa ramadhan, lalu menyambungnya dengan enam hari dibulan syawwal,maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR.Muslim: 1164 )

Hadits ini merupakan nash yang jelas menunjukkan disunnahkannya berpuasa enam hari dibulan syawwal. Adapun sebab mengapa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menyamakannya dengan puasa setahun lamanya, telah disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah bahwa beliau berkata:

“berkata para ulama: sesungguhnya amalan tersebut sama kedudukannya dengan puasa sepanjang tahun,sebab satu kebaikannya nilainya sama dengan sepuluh kali lipat, maka bulan ramadhan sama seperti 10 bulan,dan enam hari sama seperti dua bulan.” (Syarah Nawawi:8/56)

Hal ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

صيام شهر رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام سنة
“berpuasa ramadhan seimbang dengan sepuluh bulan,dan berpuasa enam hari seimbang dengan dua bulan,maka yang demikian itu sama dengan berpuasa setahun.” (HR.Nasaai dalam Al-kubra (2860),Al-Baihaqi (4/293),dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’ (4/107).

2) Puasa Senin dan Kamis

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari senin? Maka beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فيه وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أو أُنْزِلَ عَلَيَّ فيه
“itu adalah hari yang aku dilahirkan padanya,dan aku diutus,atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR.Muslim:1162)

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan yang lainnya dari Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau ditanya tentang puasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam, maka beliau menjawab:

وَكَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
“adalah beliau senantiasa menjaga puasa pada hari senin dan kamis” (HR.Tirmidzi (745),Ibnu Majah:1739,An-Nassai (2187),Ibnu Hibban (3643).dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Ibnu Majah)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasalam berpuasa pada hari senin dan kamis. Lalu ada yang bertanya: sesungguhnya engkau senantiasa berpuasa pada hari senin dan kamis? Beliau menjawab:

تُفَتَّحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يوم الإثنين وَالْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ فِيهِمَا لِمَنْ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شيئا إلا الْمُهْتَجِرَيْنِ يُقَالُ رُدُّوا هَذَيْنِ حتى يَصْطَلِحَا
“dibuka pintu-pintu surga pada hari senin dan kamis,lalu diampuni (dosa) setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun,kecuali dua orang yang saling bertikai,dikatakan: biarkan mereka berdua sampai keduanya berbaikan.” (HR.Tirmidzi (2023),Ibnu Majah (1740),dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi dan Ibnu Majah)

3) Puasa Nabi Daud Alaihissalam

Berdasarkan hadits yang datang dari Abdullah bin Amr bin ‘Al-Ash radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bersabda

أَحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ كان يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إلى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ كان يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ
“puasa yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah puasa Dawud,beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Dawud,beliau tidur dipertengahan malam,lalu bangun (shalat) pada sepertiga malam,dan tidur pada seperenamnya.” (HR.Bukhari :3238,dan Muslim:1159)

Dalam riwayat lain beliau shallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

لَا صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ عليه السَّلَام شَطْرَ الدَّهَرِ صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا
“tidak ada puasa (yang lebih utama) diatas puasa Dawud Alaihisssalam,setengah tahun,berpuasalah sehari dan berbukalah sehari.” (HR.Bukhari: 1879,Muslim:1159)

4) Puasa tiga hari dalam sebulan

Berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam berkata kepadanya:

وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فإن لك بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فإن ذلك صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“dan sesungguhnya cukup bagimu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan,karena sesungguhnya bagimu pada setiap kebaikan mendapat sepuluh kali semisalnya,maka itu sama dengan berpuasa setahun penuh.” (HR.Bukhari:1874,Muslim:1159)

Juga diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau ditanya oleh Mu’adzah Al-Adawiyyah: apakah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam senantiasa berpuasa tiga hari dalam setiap bulan? Maka beliau menjawab: iya.Lalu ditanya lagi: pada hari yang mana dari bulan tersebut? Beliau menjawab:

لم يَكُنْ يُبَالِي من أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ
“beliau tidak peduli dihari yang mana dari bulan tersebut ia berpuasa.” (HR.Muslim:1160)

Juga dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي e بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ من كل شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قبل أَنْ أَنَامَ
“Teman setiaku Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam memberi wasiat kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam setiap bulan,mengerjakan shalat dua raka’at dhuha,dan agar aku mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur.” (HR.Bukhari:1180)

Hadits ini menjelaskan bahwa diperbolehkan pada hari yang mana saja dari bulan tersebut ia berpuasa,maka ia telah mengamalkan sunnah.Namun jika ia ingin mengamalkan yang lebih utama lagi,maka dianjurkan untuk berpuasa pada pertengahan bulan hijriyyah, yaitu tanggal 13,14 dan 15. Hal ini berdasarkan hadits yang datang dari Abu Dzar radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

يا أَبَا ذَرٍّ إذا صُمْتَ من الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“wahai Abu Dzar,jika engkau hendak berpuasa tiga hari dalam sebulan,maka berpuasalah pada hari ketiga belas,empat belas dan lima belas.” (HR.Tirmidzi:761,An-Nasaai:2424,ahmad:5/162,Ibnu Khuzaimah: 2128,Al-Baihaqi: 4/292.Dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’:4/101-102)

Puasa tiga hari dipertengahan bulan ini disebut dengan hari-hari putih. Dalam riwayat lain dari hadits Abu Dzar radhiallahu’anhu,beliau berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ e أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاثَةَ أَيَّامِ الْبِيضِ ثَلاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam memerintah kami untuk berpuasa tiga hari-hari putih dalam setiap bulan:13,14 dan 15.” (HR.Ibnu Hibban:3656)

disebut sebagai “hari-hari putih” disebabkan karena malam-malam yang terdapat pada tanggal tersebut bulan bersinar putih dan terang benderang. (lihat:fathul Bari:4/226)

Yang lebih menunjukkan keutamaan yang besar dalam berpuasa pada hari-hari putih tersebut, dimana Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam tidak pernah meninggalkan amalan ini. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata:

كان رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم لا يَدَعُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيضِ في سَفَرٍ وَلا حَضَرٍ
“adalah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam tidak pernah meninggalkan puasa pada hari-hari putih,baik diwaktu safar maupun disaat mukim.” (HR.At-thabarani: ,dishahihkan Al-Albani dalam shahihul jami’:4848).

5) Puasa Arafah

Berdasarkan hadits Abu Qatadah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang puasa pada hari arafah,Beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
“menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR.Muslim:1162)

Kecuali bagi mereka yang sedang wukuf di Arafah dalam rangka menunaikan ibadah haji,maka tidak dianjurkan berpuasa pada hari itu. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam berbuka di Arafah,Ummul Fadhl mengirimkan segelas susu kepada beliau,lalu beliau meminumnya.” (HR.Tirmidzi: 750,dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Juga diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhu bahwa beliau ditanya tentang hukum berpuasa pada hari Arafah di Arafah?,beliau menjawab”

حَجَجْتُ مع النبي e فلم يَصُمْهُ وَمَعَ أبي بَكْرٍ فلم يَصُمْهُ وَمَعَ عُمَرَ فلم يَصُمْهُ وَمَعَ عُثْمَانَ فلم يَصُمْهُ وأنا لَا أَصُومُهُ ولا آمُرُ بِهِ ولا أَنْهَى عنه
“aku menunaikan ibadah haji bersama Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dan beliau tidak berpuasa pada hari itu,aku bersama Abu Bakar radhiallahu’anhu beliau pun tidak berpuasa padanya,aku bersama Umar dan beliau pun tidak berpuasa padanya,aku bersama Utsman dan beliau pun tidak berpuasa padanya. Dan akupun tidak berpuasa padanya,dan aku tidak memerintahkannya dan tidak pula melarangnya.” (HR.Tirmidzi:751.Dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

6)Puasa dibulan Muharram, khususnya pada hari ‘Asyura (10 Muharram)

Bulan muharram adalah bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak berpuasa padanya. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“puasa yang paling afdhal setelah ramadhan adalah bulan Allah: muharram,dan shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR.Muslim:1163)

Dan diantara hari-hari dibulan tersebut,lebih dianjurkan lagi berpuasa pada hari Asyura,yaitu tanggal 10 muharram. Banyak hadits-hadits yang menunjukkan sangat dianjurkannya berpuasa pada hari ‘Asyura. Diantaranya adalah hadits Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau berkata:

كان رسول اللَّهِ  أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فلما فُرِضَ رَمَضَانُ كان من شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
Adalah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan (perintah yang mewajibkan) puasa pada hari ‘Asyura. Maka tatkala telah diwajibkannya ramadhan,maka siapa yang ingin berpuasa maka silahkan dan siapa yang ingin berbuka juga boleh.” (HR.Bukhari:1897,Muslim: 1125)

Dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Qatadah bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura,maka beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR.Muslim:1162)

Dan juga dianjurkan berpuasa pada tanggal sembilan muharram,berdasarkan hadits Ibnu abbas radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata: tatkala Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya. Mereka (para shahabat) berkata:wahai Rasulullah,itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara. Maka bersabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam : jika tiba tahun yang berikutnya,insya Allah kita pun berpuasa pada hari kesembilan. Namun belum tiba tahun berikutnya hingga Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam wafat.” (HR.Muslim:1134)

7) Puasa dibulan Sya’ban

Diantara bulan yang dianjurkan memperbanyak puasa adalah dibulan sya’ban. Berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau berkata:

فما رأيت رَسُولَ اللَّهِ  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلا رَمَضَانَ وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا منه في شَعْبَانَ
“aku tidak pernah melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali ramadhan,dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari bulan sya’ban,” (HR.Bukhari:1868)

Kecuali pada hari-hari terakhir,sehari atau dua hari sebelum ramadhan ,tidak diperbolehkan berpuasa pada hari itu,terkecuali seseorang yang menjadi hari kebiasaannya berpuasa maka dibolehkan,seperti seseorang yang terbiasa berpuasa senin kamis,lalu sehari atau dua hari tersebut bertepatan dengan hari senin atau kamis. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bahwa beliau bersabda:

لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ ولا يَوْمَيْنِ إلا رَجُلٌ كان يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari dan dua hari,kecuali seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu maka boleh baginya berpuasa. (HR.Muslim:1082)

Semoga Allah senantiasa menambah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh kita yang senantiasa diterima disisi-Nya.


Seputar Hukum Puasa Ramadhan



Telah kita ketahui bersama bahwa puasa Ramadhan adalah bagian dari rukun Islam, sehingga bangunan Islam pun bisa tegak dengan adanya salah satu rukun ini.  Bukti wajibnya puasa disebutkan dalam firman Allah (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Puasa ramadhan ini diwajibkan bagi setiap muslim, berakal, sudah baligh, dalam keadaan sehat dan dalam keadaan mukim.

 Pada edisi kali ini, yang saya kutip dari remajaislam.com akan mengangkat beberapa hal yang berkaitan dengan hukum puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat.

Syarat Sah dan Rukun Puasa

Syarat sahnya puasa ada dua, yaitu:[1] (1) Dalam keadaan suci dari haidh dan nifas. (2) Berniat.

Niat merupakan syarat sah puasa karena puasa adalah ibadah sedangkan ibadah tidaklah sah kecuali dengan niat sebagaimana ibadah yang lain. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”[2]

Namun, para pembaca sekalian perlu ketahui bahwasanya niat tersebut bukanlah diucapkan (dilafadzkan). Karena yang dimaksud niat adalah kehendak untuk melakukan sesuatu dan niat letaknya di hati[3]. Semoga Allah merahmati An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Syafi’iyah- yang mengatakan, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”[4] Ulama Syafi’iyah lainnya, Asy Syarbini rahimahullah mengatakan, “Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafazhkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafazhkan sebagaimana ditegaskan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh.”[5]

Niat puasa harus diperbaharui setiap harinya dan harus diniatkan sebelum masuk waktu Shubuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah.”[6]

Adapun rukun puasa adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa mulai dari terbit fajar (yaitu fajar shodiq) hingga terbenamnya matahari[7]. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Sunnah-Sunnah Puasa

1. Mengakhirkan sahur. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.”[8] Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh[9] dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”.[10]

2. Menyegerakan berbuka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[11]

3. Berdo’a ketika berbuka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.”[12] Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a, “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)”[13]

Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka); Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih.[14] Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

5. Memberi makan pada orang yang berbuka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”[15]

6. Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.”[16]

Pembatal-Pembatal Puasa

1. Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini merupakan pembatal puasa berdasarkan kesepakatan para ulama[17].

2. Muntah dengan sengaja.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qodho’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qodho’.”[18]

3. Haidh dan nifas. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Keluarnya darah haidh dan nifas membatalkan puasa berdasarkan kesepakatan para ulama.”[19] Jika wanita haidh dan nifas tidak berpuasa, ia harus mengqodho’ puasanya di hari lainnya. Berdasarkan perkataan ‘Aisyah, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”[20]

4. Keluarnya mani dengan sengaja. Artinya mani tersebut dikeluarkan dengan sengaja tanpa hubungan jima’ seperti mengeluarkan mani dengan tangan, dengan cara menggesek-gesek kemaluannya pada perut atau paha, dengan cara disentuh atau dicium. Hal ini menyebabkan puasanya batal dan wajib mengqodho’, tanpa menunaikan kafaroh. Inilah pendapat ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Allah Ta’ala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku”[21]. Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk syahwat, sehingga termasuk pembatal puasa sebagaimana makan dan minum.[22]

5. Jima’ (bersetubuh) di siang hari. Menurut mayoritas ulama, jima’ (hubungan badan dengan bertemunya dua kemaluan dan tenggelamnya ujung kemaluan di kemaluan atau dubur) bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan (di waktu berpuasa) dengan sengaja dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), mengakibatkan puasanya batal, wajib menunaikan qodho’, ditambah dengan menunaikan kafaroh. Terserah ketika itu keluar mani ataukah tidak. Wanita yang diajak hubungan jima’ oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini. Adapun wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadhan tidak punya kewajiban kafaroh, yang menanggung kafaroh adalah si pria. Kafaroh yang harus dikeluarkan adalah dengan urutan sebagai berikut: a) membebaskan seorang budak mukmin yang bebas dari cacat, b) jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, c) jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin.

Beberapa Hal yang Dibolehkan Ketika Puasa

1. Mendapati waktu fajar dalam keadaan junub. Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma, mereka berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati waktu fajar (waktu Shubuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.”[23]

2. Bersiwak ketika berpuasa. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun siwak (ketika berpuasa) maka itu dibolehkan tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Akan tetapi, para ulama berselisih pendapat tentang makruhnya hal itu jika dilakukan setelah waktu zawal (matahari tergelincir ke barat). Ada dua pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Namun yang tepat, tidak ada dalil syari’i yang mengkhususkan bahwa hal tersebut dimakruhkan. Padahal terdapat dalil-dalil umum yang membolehkan untuk bersiwak.”[24]

Adapun menggunakan pasta gigi, lebih baik tidak digunakan ketika berpuasa karena pasta gigi memiliki pengaruh sangat kuat hingga bisa mempengaruhi bagian dalam tubuh dan kadang seseorang tidak merasakannya.[25]

3. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung asal tidak berlebihan. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung) dibolehkan bagi orang yang berpuasa berdasarkan kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat juga berkumur-kumur dan beristinsyaq ketika berpuasa. … Akan tetapi, dilarang untuk berlebih-lebihan ketika itu.”[26]

4. Bercumbu dan mencium istri selama aman dari keluarnya mani. Orang yang berpuasa dibolehkan bercumbu dengan istrinya selama tidak di kemaluan dan selama terhindar dari terjerumus pada hal yang terlarang. Puasanya tidak batal selama tidak keluar mani.[27] An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa bercumbu atau mencium istri tidak membatalkan puasa selama tidak keluar mani”.[28]

5. Bekam dan donor darah jika tidak membuat lemas. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.” (HR. Bukhari no. 1940). Termasuk dalam pembahasan bekam ini adalah hukum donor darah karena keduanya sama-sama mengeluarkan darah sehingga hukumnya pun disamakan.[29]

6. Mencicipi makanan selama tidak masuk dalam kerongkongan. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan, “Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu, selama tidak masuk sampai ke kerongkongan.”[30]

7. Bercelak dan tetes mata. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Pendapat yang lebih kuat adalah hal-hal ini tidaklah membatalkan puasa.” [31]

8. Mandi dan menyiramkan air di kepala untuk membuat segar. Dari Abu Bakr bin ‘Abdirrahman, beliau berkata, “Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. ”[32]

9. Menelan dahak. Menurut madzhab Hanafiyah dan Malikiyah, menelan dahak[33] tidak membatalkan puasa karena ia dianggap sama seperti air ludah dan bukan sesuatu yang asalnya dari luar.[34]

Demikian sajian singkat dari remajaislam.com seputar hukum puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. [Lihat pembahasan selengkapnya di www.muslim.or.id.]

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com

[1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/ 97 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/ 9917.

[2] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob.

[3] Niat tidak perlu dilafazhkan dengan “nawaitu shouma ghodin …”. Jika seseorang  makan sahur, pasti ia sudah niat dalam hatinya bahwa ia akan puasa. Agama ini sungguh tidak mempersulit umatnya.

[4] Rowdhotuth Tholibin, 1/268.

[5] Mughnil Muhtaj, 1/620.

[6] HR. Abu Daud no. 2454, Tirmidzi no. 730, dan Nasa’i no. 2333. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Irwaul Gholil 914 (4/26).

[7] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9915.

[8] HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095.

[9] Yang dimaksudkan dengan adzan di sini adalah adzan kedua yang dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum, sebagai tanda masuk waktu shubuh atau terbit fajar (shodiq). (Lihat Fathul Bari, 2/54)

[10] HR. Bukhari no. 575 dan Muslim no. 1097.

[11] HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa’ad.

[12] HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[13] HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[14] Mirqotul Mafatih, 6/304.

[15] HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[16] Zaadul Ma’ad, 2/25.

[17] Lihat Bidayatul Mujtahid, hal. 267.

[18] HR. Abu Daud no. 2380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[19] Majmu’ Al Fatawa, 25/266.

[20] HR. Muslim no. 335.

[21] HR. Bukhari no. 1894.

[22] Lihat Syarhul Mumthi’, 3/52.

[23] HR. Bukhari no. 1926.

[24] Majmu’ Al Fatawa, 25/266.

[25] Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 17/261-262.

[26] Majmu’ Al Fatawa, 25/266.

[27] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13123 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2/110-111.

[28] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/215.

[29] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/113-114.

[30] HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 2/304. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 937 mengatakan bahwa riwayat ini hasan.

[31] Majmu’ Al Fatawa, 25/234.

[32] HR. Abu Daud no. 2365.

[33] Dahak adalah sesuatu yang keluar dari hidung atau lendir yang naik dari dada.

[34] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9962 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2/117.


27 Jun 2014

Puasa Setahun Penuh




"Di dalam hadits dari Abu Ayyub al-Anshari (ra), Nabi (saw) bersabda, 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

Man saama ramadhaana tsumma atba`ahu sittatin min syawwaalin fa-dzaalika shiyaamu ‘d-dahr. 

Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan, lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka itu sama (pahalanya setara) dengan puasa setiap hari. (Tirmidzi)

Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh.  Benar? (Ya).  Bagaimana?  Ada berapa hari di bulan Ramadan pada umumnya?  30, lalu kalikan dengan 10, karena setiap hasanaat (pahalanya) adalah 10, yang merupakan pahala yang normal dari Allah, jadi it menjadi 300.  Lalu 6 hari di bulan Syawal, dan setiap hasanaat dikalikan 10, sehingga seolah-olah menjadi 60 hari; ditambah 300 menjadi 360 hari, yang merupakan jumlah hari setahun penuh dalam kalender qomariah.  Ia akan mendapat fadilah dari puasanya itu di mana tidak seorang pun yang tahu ganjaran apa yang Allah akan berikan kepadanya, karena Dia berfirman,

الصوم لي وانا اُجزي به
Ash-shawmu lii wa anaa ajzii bih.
Puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala untuknya. (Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim). 

“Ramadan adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala untuknya," jadi tidak ada orang yang tahu, mereka  akan mendapat pahala yang tak terhingga di mana para malaikat tidak bisa menuliskannya, dengan segera puasa itu akan sampai ke Hadirat-Ku dan Aku akan memberi ganjaran pada `abd (hamba) itu yang berpuasa pada hari itu, tetapi berhati-hatilah jangan sampai melakukan ghibah."


Sayyid Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Via FB Syaikh Arief Hamdani

25 Jun 2014

Dua Ilmu yang Tidak Dibagikan Rasulullah SAW



Kajian ilmu di Majelis al-Habib Abubakar bin Hasan Alattas az-Zabidy Tanah Baru Depok. Pada kajian Ahad kemarin, al-Habib Abubakar menyampaikan beberapa sifat yang dimiliki seorang yang berakal, diantaranya dia selalu tawadhu’, berakhlak baik,berkata jujur dll. Suritauladan yang paling tawadhu’ adalah Nabi Muhammad Saw. Semua mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. itu memiliki berbagai kelebihan yang sama sekali tidak dimiliki manusia, akan tetapi beliau berkata: “Ana basyarun mitslukum.”

Al-Habib Abubakar kemudian menceritakan bagaimana guru beliau yang berada di Pesantren Bani Idris sedang membersihkan kotoran di got sendirian. Pada kesempatan itu al-Habib Abubakar menyaksikan ada dua tamu yang juga ulama datang mengunjungi sang mufti. Al-Habib Abubakar diperintahkan membawa tamu itu dan mempersilakan mereka masuk ke dalam.

Kedua tamu lalu kaget ketika melihat sang mufti, dan berkata: “Bukankah ini yang tadi ada di bawah?!”

Al-Habib Muhammad berkata: “Tidak pantas antum berbuat seperti tadi, kenapa tidak memberikan pekerjaan itu kepada orang lain?”

Sang mufti menjawab: “Saya malu kepada Rasulullah, beliau dahulu membuat parit atau khandak dan tangannya selalu memegang tanah.”

Al-Habib Abubakar menjelaskan bahwa dialog antara orang-orang berakal selalu mengedepankan ketawadhu’an, yang didahulukan bukan keangkuhan ilmu. Orang yang berakal juga selalu memiliki sifat akhlak yang baik. Dan husnul khuluq itu kadang-kadang kita temui ada pada orang non muslim, padahal seharusnya itu dimiliki muslimin. Allah sangat memuji Nabi Saw. karena ahklaknya, dan dialah manusia yang berakal.

Jika kita baca manaqib para auliya dan shalihin, pasti kedua sifat ini; tawadhu’ dan khusnul khulq adanya di depan. Dua ilmu ini sangat mahal. Kata Imam Ja’far ash-Shadiq: “Semua ilmu telah dibagi-bagikan kepada ummat Nabi Muhammad Saw. Tapi hanya ada dua yang tidak dibagikan, yaitu tawadhu’ dan husnul khuluq.” Seseorang yang mengaku keturunan Rasul, baik sayyid, habib atau syarifah harus memiliki dan mengamalkan ilmu tawadhu’ dan husnul khuluq ini.


Kisah Percintaan Seorang Habib Dengan Gadis Belanda Non Muslim



Berikut ini adalah sepenggal cerita yang ditulis langsung oleh cucunya, yaitu al-Habib Alwi Shahab, salah satu wartawan senior yang kini aktif di Republika. Cerita tentang percintaan dua insan beda agama, seorang habib dan gadis Belanda non Islam, yang berlanjut ke jenjang pernikahan.

Berita pernikahannya sempat membuat gempar tanah Betawi karna Jiddah Non adalah gadis berkebangsaan Belanda dan beritanya sampai masuk sebuah surat kabar pada masa itu dengan judul “Rane Rame di Kediaman Sayyid Ali al-Habsyi di Kwitang”.

a. Maria van Engels; Noni Belanda Menantu Habib Ali Kwitang

Noordwijk (Jl. Juanda) dan Rijswijk (Jl. Veteran) diapit Ciliwung merupakan kawasan elit Eropa. Di sini terdapat istana, toko-toko penjual produk dan busana Eropa. Ada sejumlah hotel, teater, klab malam, dan tempat hiburan lainnya. Semua dengan ciri-ciri Eropa modern. Lebih-lebih saat Raffles (1811-1816), letnan jenderal Inggris, menjadikannya kawasan warga Eropa. Berdekatan dengan Noordwijk terletak Jl. Pecenongan, Jakarta Pusat, yang juga banyak dihuni warga Eropa. Diantaranya, keluarga Engels, warga Belanda.

Van Engels beristri gadis Wonosobo, Jawa Tengah, saat dia bekerja di onderneming (perkebunan) teh di kaki Gunung Dieng. Mungkin untuk mencari peruntungan yang lebih baik, keluarga Van Engels penganut Katolik kemudian hijrah ke Batavia. Ia pun dapat tugas turut membangun jalan kereta api dari Batavia ke Jawa Timur. Dia punya dua orang gadis, Maria dan Lies van Engels. Sebagai gadis Indo Belanda, Maria berkulit putih, cantik dan tinggi semampai. Dia bekerja di toko penjahit di Noordwijk.

Di dekat Pecenongan, terletak Gang Abu, yang banyak dihuni keturunan Arab, saat Belanda membolehkan mereka tinggal di luar Kampung Arab, Pekojan, Jakarta Kota. Seorang habib, Abdurahman al-Habsyi, putra sulung Habib Ali pendiri Majelis Taklim Kwitang, Jakarta Pusat, sering mendatangi kawan-kawannya di Gang Abu, melewati tempat Maria van Engels bekerja. Habib Ali, ayah Habib Abdurahman lahir 1867, meninggal 1968 dalam usia 102 tahun.

Diperkirakan, saat pertemuan antara pemuda keturunan Arab dengan gadis Indo itu terjadi sekitar akhir 1880-an. Hampir tiap hari Habib Abdurahman menyambangi tempat Maria bekerja. Mula-mula memang dicuekin. Tapi berkat kegigihan sang habib, akhirnya kedua remaja berlainan agama itu saling terpikat. Maria pun terlebih dulu menyatakan setuju menjadi muslimah dan mengganti nama jadi Mariam. Bahkan, ibunya yang biasa disebut ‘Encang’, ikut bersama anak gadisnya. Konon, menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini jadi majelis taklim), tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi kampung Kwitang untuk menggagalkannya.

Namun, rupanya jamaah Kwitang tak kalah gesit. Sejumlah jagoan dan jawaranya, seperti Haji Sairin, Haji Saleh, dan banyak lagi, bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka nongkrong di Warung Andil, perempatan Jalan Kramat II (dulu gang Adjudant) dan Kembang I. Bersenjatakan golok sambil berkorodong kain sarung, mereka siap menyambut kedatangan soldadoe Belanda yang akhirnya urung datang.

Setelah pernikahan secara Islam, Mariam jadi menantu kesayangan Habib Ali dan tinggal di samping rumah mertuanya. Ia cepat dapat bergaul dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar. Orang-orang kampung Kwitang menyebutnya ‘Wan Enon’ atau ‘Ibu Enon’. Sedang cucu-cucunya memanggil ‘Jidah Non’. Jidah adalah sebutan nenek dalam bahasa Arab.

Setelah berkeluarga, Jidah Non oleh suaminya diminta untuk tidak keluar rumah selama dua tahun. Dengan maksud melatih dan mendidik sang mualaf ajaran Islam. Sejak saat itu dia tidak pernah melepaskan busana Muslim. Memakai kain dan kebaya, serta berkerudung, dan hampir tidak pernah melepaskan tasbih. Sampai akhir hayatnya dia pun berusaha untuk tidak menemui orang yang bukan muhrim. Sedang ibunya yang juga tinggal bersama menantunya, menjadi seorang ibu salehah. Bahkan ia diberangkatkan ke tanah suci.

b. Kehidupan Maria van Engels Pasca Ditinggal Wafat Sang Suami

Setelah Habib Abdurahman wafat 1940, Jidah Non tetap menjalankan kehidupannya dengan penuh takwa. Untuk membantu keluarga – yang sebagian sudah menikah – dia berdagang jamu. Mulai jamu beranak sampai jamu nafsu makan. Dia memiliki keahlian dalam pengobatan herbal dan memiliki sebuah buku tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional dalam bahasan Belanda. Dia juga berjiwa sosial. Sering memberikan pertolongan bila yang sakit orang tidak berpunya, dan memberikan jamu secara gratis. Sayangnya setelah almarhum wafat awal 1961, buku yang sangat berharga itu raib begitu saja.

Sekalipun berbeda agama, tapi hubungan dengan adiknya Lies van Engels, tetap mesra. Kalau mereka bertemu saling mencium pipi. Pada 1957, hubungan Indonesia– Belanda putus akibat soal Irian Barat (Papua). Sementara Bung Karno menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, sambil menyerukan pada pekerjanya untuk mengambil alih. Lies pun pulang ke Nederland bersama puterinya dan tinggal di Wesp, dekat Amsterdam.

Suatu malam di tahun 1961, Wan Non, yang sedang sakit, menginginkan semua keluarga berada di dekatnya. Dan di malam itu juga ia wafat. Jenazahnya dibaringkan di dekat kamar mertuanya, Habib Ali Kwitang. Sejumlah ulama terkemuka Jakarta, seperti KH. Abdullah Syafi’i, KH. Tohir Rohili, KH Nur Ali, hadir diantara ribuan pelayat. Wan Non, yang meski terlahir dari keluarga Non Muslim, menjadi satu contoh keberhasilan didikan agama yang ketat dari seorang suami dan kepala rumah tangga. Meski suaminya kemudian wafat lebih dulu (1941), Wan Non tetap menjalankan kehidupannya dengan penuh taqwa, hingga akhir hayatnya.

c. Sosok Suami, Habib Abdurrahman Al-Habsyi

Nah, lalu bagaimana sosok Habib Abdurrahman suami Maria van Engels ini? Beliau adalah putra seorang ulama masyhur Betawi keturunnan Hadhramaut, Habib Ali al-Habsyi. Habib Abdurrahman lahir sekitar tahun 1890 di kampung Kwitang, Jakarta. Anak sulung dari Habib Ali al-Habsyi. Ayahnya adalah guru yang pertama baginya. Memang, Sosok putra sulung Habib Ali Kwitang ini tidak banyak diketahui orang. Mungkin karena ia wafat selagi muda, jauh sebelum wafatnya Habib Ali Kwitang sendiri.

Selain kepada ayahnya, ia juga menyempatkan diri untuk berguru kepada Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas Bogor dan Habib Ahmad bin abdullah Al-Attas Pekalongan. Meski tidak sempat lama, ia pernah pula menuntut ilmu di negeri leluhurnya, Hadramaut. Di sana ia berguru kepada sejumlah ulama besar Hadramaut di masa itu.

Habib Abdurrahman aktif mengikuti berita-berita pergerakan yang tengah marak pada saat itu. Diantara kawan akrabnya adalah H. Agus Salim, seorang tokoh pergerakan nasional yang terkenal. Sewaktu terjadi ikhtilaf antara Jami’at Kheir dan al-Irsyad, ia mengkliping berita-berita dari berbagai surat kabar dan tulisan-tulisan yang terkait dengan itu. Ia memang seorang yang gemar membaca.

Sementara itu, akhlak mulia Habib Abdurrahman kepada orangtuanya menjadi faktor utama yang di kemudian hari menempatkannya di maqam yang tinggi. Bila menjumpai ayahnya, ia selalu bertutur kata dengan halus. Sewaktu berpisah pun ia berjalan mundur, karena tidak ingin membelakangi ayahnya. Bila ia dibelikan baju baru oleh ayahnya, ia terima sepenuh hati hadiah itu dengan wajah berseri-seri. Tapi baju baru itu tidak segera dikenakannya. Tidak berapa lama, ia berikan baju itu kepada orang lain.

Beberapa kali kejadian itu terjadi, hingga suatu saat Habib Ali bertanya kepadanya: “Wahai Abdurrahman, mana baju yang baru kuberikan kepadamu kemarin?”

Habib Abdurrahman menjawab: “Abah, alangkah lebih senangnya lagi hatiku bila baju yang kukenakan adalah baju yang bekas abah pakai.”

Selain mencerminkan rasa ta’dzimnya yang begitu besar kepada sang ayah, kisah di atas juga menunjukkan hatinya yang pemurah kepada sesama.

d. Habib Abdurrahman Wali Allah

Sekali waktu, pernah Habib Muhammad, adiknya, terlambat pulang ke rumah, sedang hari sudah larut malam. Dari kejauhan Habib Muhammad melihat kakaknya sedang berdiri di depan rumah. Karena pulang agak larut, ia sungkan kepada sang kakak. Maka ia ambil jalan memutar ke pintu samping. Ternyata di pintu samping rumahnya itupun ada Habib Abdurrahman, yang tengah berdiri. Ia memutar lagi lewat pintu belakang.

Aneh, lagi-lagi di pintu belakang rumahnya itu ia lihat sang kakak. Habib Abdurrahman kemudian memanggilnya dengan lembut dan berkata: “Ya Muhammad, jangan takut kepadaku. Sekarang masuklah, ini waktunya sudah malam. Nanti ente sakit, masuk angin. Lain kali jangan pulang terlalu larut. Jangan sampai Abah yang membukakan pintu. Kasihan, Abah sudah sepuh.”

Suatu saat, ketika dirinya tengah sakit, kebetulan sang ayah hendak mengunjungi Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas Bogor, gurunya sekaligus guru ayahnya pula. “Ya Abdurrahman, Abah mau ke Habib Abdullah, nanti sekalian Abah minta air untuk didoakan Habib Abdullah agar sakitmu lekas sembuh.”

Sesampainya di Bogor, Habib Ali mengutarakan hajatnya terkait dengan kondisi putranya kepada Habib Abdullah. Sambil menunjuk secangkir kopi di hadapannya, Habib Abdullah mengatakan: “Ini kopi anakmu.” 

Rupanya Habib Abdurrahman baru saja beranjak pulang dari tempat Habib Abdullah. Aneh memang, padahal tadi Habib Ali meninggalkan Habib Abdurrahman yang tengah berbaring sakit. Habib Ali pun memahami bahwa putranya ini memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Banyak orang yang menyakininya sebagai salah satu seorang waliyullah. Entah kenapa, bila sedang datangnya hal-nya (keadaaan tertentu yang biasa dialami seorang wali), ia merokok dengan mengisap sebatang lisong.

Suatu hari di tahun 1941, Habib Abdurrahman mengundang sejumlah orang untuk membaca tahlil bersama pada suatu malam yang ia telah tentukan. Beberapa hari kemudian, ia juga mendatangi seorang penggali kubur di kompleks pekuburan Tanah Abang. Saat itu ia memesan sebuah kuburan dengan ukuran tertentu, seraya mengatakan kepada si penggali kubur bahwa kuburan itu dipesan untuk seorang putra Habib Ali Kwitang yang wafat, yang bernama Abdurrahman.

Pada hari acara tahlil yang telah ditentukan, pada hari itu pula Habib Abdurrahman wafat. Ternyata Habib Abdurrahman sendiri. Begitu pula saat si penggali kubur hendak berta’ziyah ke Habib Ali Kwitang, betapa kagetnya ia melihat jenazah. Ternyata orang yang memesan lahan kuburan itu adalah Habib Abdurrahman sendiri. Rupanya Habib Abdurrahman sudah beroleh kabar terlebih dulu dari Allah tentang akhir hidupnya.

e. Tidak Masyhur di Dalam, Tapi Terkenal di Luar

Meski orang sekarang tidak banyak yang mengenalnya, namanya ternyata termasyhur bagi sejumlah pihak. Ketika seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah dari Cyprus, Syaikh Nadzim al-Haqqani (wafat 8 Mei 2014) pertama datang ke Indonesia, diantara yang ditanyakan adalah makam Habib Abdurrahman bin Ali al-Habsyi. Syaikh Nadzim mengatakan, ia mengetahui sosok Habib Abdurrahman sebagai seorang sufi besar yang menjadi mursyid dalam tarekat Naqsyabandiyah. Orang banyak pun takjub mendengar informasi dari syaikh tersebut.

Habib Abdurrahman dimakamkan di pekuburan Tanah Abang. Sayang kini, makamnya sudah tidak ada lagi, terkena bongkaran di zaman Gubernur Ali Sadikin. Saat makamnya dibongkar, sebagaimana halnya pada makam Habib Utsman Mufti Betawi, jasadnya tidak ditemukan sama sekali. Namun, secara simbolis tanah bekas kuburannya pun dipindahkan ke Jeruk Purut. Keanehan lagi-lagi terjadi, beberapa hari setelah dipindahkan, makamnya menghilang tanpa bekas. (Sumber: Buku Maria van Engels Menantu Habib Kwitang karya Alwi Shahab dan Majalah Alkisah).

Selengkapnya bisa Anda baca buku “Maria van Engels Menantu Habib Kwitang” di sini: http://books.google.co.id/books?id=Syey0xb2--8C&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false

Dan baca sosok penulis buku tersebut di sini: http://alwishahab.wordpress.com/about/ 

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 13 Mei 2014 

Maaf, sedikit koreksi: Foto di atas bukanlah Habib Abdurrahman putra Habib Ali, melainkan Habib Abdurrahman ayahnya Habib Ali.



Teguran Anjing, Asal Mula Nama "NUH" Sang Nabi




“Ratapilah dirimu wahai orang melarat, Kelak kau pun mati meski selama Nuh kau hidup.” Itulah sepenggal syair tentang terbatasnya umur, sepanjang umur Nabi Nuh pun.

Siapa yang tak kenal Nabi Nuh? Hal yang banyak dikisahkan tentang beliau adalah perihal usianya yang panjang, 950 tahun, dan dakwahnya yang tak kenal lelah. Siapa pula yang tak tahu tentang banjir bandang yang merata di berbagai daratan di muka bumi sehingga memusnahkan lebih dari separuh populasi makhluk hidup pada saat itu. Beliau mendapat mandat suci sebagai rasul pada saat beliau berusia 250 tahun, dan hidup selama 200 tahun setelah surutnya air bah.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa, konon, nama asli beliau bukanlah ‘Nuh’, melainkan Abdul Ghoffar, ada pula yang menyebutkan bahwa nama beliau Yasykur. Sedangkan ‘Nuh’ hanyalah julukan bagi beliau, artinya orang yang meratap.

Nah, di sini kita akan mencoba memetik satu atau dua tangkai hikmah dari sebab mengapa beliau dijuluki dengan nama ‘Nuh’. Sehingga kita bisa melahap buah kebijaksanaan ini, kemudian menanam biji-bijinya, agar kebun hati kita rimbun dengan kerindangan hikmah yang menyejukkan.

Suatu ketika, dalam satu perjalanan, Abdul Ghoffar berpapasan dengan seekor anjing lusuh bermata empat dan begitu mengerikan. Melihat hal aneh dan jarang beliau temui ini, beliau bergumam: “Wah, anjing ini begitu jelek.”

Sepertinya si anjing mendengar gumaman beliau, dia terus memandangi manusia di hadapannya itu dengan tatapan sinis. Sejurus kemudian, saat beliau hendak berlalu, tanpa diduga, si anjing menyeru: “Hai Abdul Ghoffar! Siapa yang kau cela tadi? Ukirannya ataukah Pengukirnya?!”

Sang Nabi terkejut mendengar hardikan itu. Tanpa menunggu jawaban, si anjing melanjutkan: “Jika yang kau cela adalah ukirannya, yakni aku, maka ketahuilah bahwa aku tak pernah meminta untuk diciptakan menjadi anjing seperti ini! Dan jika yang kau cela adalah Sang Pengukir, maka ketahuilah bahwa Dia melakukan apa yang Ia kehendaki dan tidak satu cela pun Ia punyai, ingat itu!”

Belum sempat Abdul Ghoffar berkata-kata, si anjing berlalu begitu saja, meninggalkan beliau yang masih terbelalak dan merenungkan setiap butir kata-katanya. Beliau terus menerus memikirkan kata-kata si anjing, semakin lama semakin beliau pahami maknanya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya, beliau menyesal dan meratapi kekeliruan ucapan dan anggapannya. Sejak itu, karena banyaknya meratapi kesalahan (Naaha – Yanuuhu), beliau dijuluki orang-orang sekitarnya dengan sebutan ‘Nuh’, sang peratap.

Jika direnungkan, memang benar teguran si anjing. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pahami dari dialog menakjubkan ini:

1. Tidak ada yang jelek hakiki dalam setiap ciptaanNya, semua mengandung hikmah, semua memiliki peran di dalam kewujudannya masing-masing di alam raya ini. Anggapan jelek atau buruk hanyalah hasil penangkapan indera dan penilaian akal yang berdasarkan pada pengalaman serta sudut pandang kita yang sempit. Sehingga bisa menggelincirkan kita untuk menjelek-jelekkan ciptaanNya. Adakah ciptaan Sang Pencipta yang benar-benar jelek pada hakikatnya? Ataukah kita yang belum mampu memahami makna di balik semua yang kita pandang dan dengar?

Jika yang kita hina adalah Penciptanya, yakni Allah Ta’ala, maka sesakti apa kita sehingga berani mencela Dia yang seratus persen berkuasa terhadap lahir batin kita? Mau kemana kita mengungsi jika Dia usir dari alamNya ini? Tidak ada ruang maupun waktu yang tidak bernaung di bawah kekuasaan dan pengaturanNya.

Jika yang kita jelek-jelekkan ciptaanNya, misalnya anjing tadi, bukankah ia tercipta sedemikian itu bukan karena kehendak maupun permintaannya sendiri? Begitu pula dengan ciptaan-ciptaanNya yang sering kita anggap buruk yang lain. Toh tidak ada gunanya menghina suatu hal atau keadaan, sejelek apapun hal itu, semenyebalkan bagaimanapun suatu keadaan.

Bahkan setan sekalipun, kita diwanti-wanti untuk waspada dan berlindung dari makarnya, bukan untuk dihina dan dijelek-jelekkan. Itupun yang kita hindari bukanlah zat setan atau berbagai macam zat keburukan lain, melainkan tingkah laku dan pengaruh sifat buruklah yang kita hindari, bukan zatnya.

Jika kita tidak berhati-hati, justru bisa tumbuh bibit-bibit takabbur di dalam diri kita, padahal hal ini pulalah yang dahulu menggelincirkan Iblis dari posisi para malaikat yang mulia. Memang benar manusia disebutkan sebagai ‘Ahsanu Taqwim’, bentuk ciptaan yang terbaik, namun ingatkah kita bahwa ada berjuta kemungkinan pula bahwa sesosok manusia bisa terlena menjadi ‘Asfalu Saafiliin’, serendah-rendahnya para pecundang?

Dan bukankah gelar ‘Ahsanu Taqwim’ ini lebih cenderung mengesankan tanggungjawab yang kita emban selaku pemangku bentuk ciptaan yang terbaik, baik dari segi fisik maupun psikis? Bukan untuk diumbar secara ‘gumede’ sehingga memperlakukan makhluk lain secara sewenang-wenang.

2. Setiap manusia memiliki tingkatan spiritual yang berbeda-beda, tergantung kualitas jiwanya. Pengalaman batin orang semacam kita tentu berbeda dengan ketajaman jiwa para wali, apalagi para nabi dan rasul. Sama sekali tidak sama.

Suatu hal yang kita anggap sepele, kesalahan kecil, atau bahkan sama sekali bukan kesalahan di dalam pandangan kita, bisa jadi justru menimbulkan penyesalan yang dalam bagipara ‘arifin. Sebagaimana penyesalan dan taubat Nabi Adam setelah menikmati Buah Khuldi yang menyebabkan beliau turun ke bumi, padahal beliau memang sudah direncanakanakan menjadi khalifah di muka bumi jauh-jauh hari sebelum beliau diciptakan.

Atau taubat serta pengakuan dzalim Nabi Yunus ketika terperangkap dalam kelamnya perut ikan di kedalaman samudera, beliau beranggapan bahwa kepergian beliau meninggalkan kaumnya merupakan suatu bentuk keputusasaan yang perlu disesali dan ditaubati, padahal kita semua tahu bahwa beliau sudah berdakwah dengan gigih dan kaumnya memang keras kepala. Begitu pula dengan ratapan Nabi Nuh terhadap hinaan remeh beliau terhadap si anjing dalam kisah di atas.

Sebaliknya, masalah dan kesempitan hidup yang menurut kita begitu berat dan tak bisa ditanggung, sehingga menggelincirkan kita kepada kedurhakaan-kedurhakaan individual maupun sosial, justru menjadi batu asah bagi jiwa-jiwa para wali. Menjadi medan uji bagi spiritualitas manusia-manusia unggul yang menghantarkan mereka menuju derajat yang begitu tinggi dan begitu dekat di hadiratNya. Sehingga kita banyak mengenal para rasul dan nabi melalui kisah-kisah ketabahan dan kegigihan perjuangan hidupnya dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

Problem yang dihadapi pun beraneka rupa, mulai dari masalah kesehatan, penghidupan, skandal, fitnah, pembunuhan, pemerintahan, peperangan, keluarga, dan sebagainya. Mereka inilah yang akan menjadi hujjah bagi Allah di akhirat, ketika kita menjadikan segala masalah-masalah hidup kita sebagai alasan yang menghalangi pengabdian kita kepadaNya.

Juga sebagai ibarat bagi kita bahwa perjalanan hidup ini tak lepas dari perjuangan dan keprihatinan, sehingga kita selangkah dua langkah berupaya meneladani sensitivitas jiwa para teladan ini. Karena sepandai apapun akal menganalisa, memprediksi dan merancang langkah hidup, tetap saja kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi esok, sehingga teladan dari para utusan adalah referensi terbaik bagi hidup kita.

Di akhir hayatnya, ketika disapa dengan salam oleh Malaikat Maut, Nabi Nuh menyahut: “Siapa Engkau? Mengapa salammu begitu menggetarkan hatiku?”

“Aku Malaikat Maut. Mengapa kau mengeluh begitu saat kujemput? Tidakkah kau sudah kenyang hidup di dunia wahai manusia yang terpanjang umurnya?” jawab Sang Pencabut Nyawa.

“Sesungguhnya aku mengenal kehidupan ini sebagai suatu tempat dengan dua pintu, aku masuk melalui satu pintu dan keluar dari pintu lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya,” ujar Sang Nabi.

Betapa indah ibarat yang Allah tunjukkan kepada kita. Betapa sejuk tetes-tetes pemahaman yang Ia ajarkan kepada kita melalui para utusan dan kekasihNya, serta melalui lembaran-lembaran buku yang terhampar luas ini; segenap kejadian di semesta raya.

Setidaknya dahan-dahan hikmah ini bisa menaungi kita dari teriknya kegelisahan-kegelisahan hidup dan menyegarkan kembali hati yang hampir membusuk. Dengan tidak mencaci atau menghina apapun, dalam kondisi bagaimanapun.

“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. al-Baqarah ayat 269). 

(Siraj ath-Thalibin juz 2 halaman 409 karya Syaikh Ihsan Dahlan Al-Jampesi. Diterjemah oleh Ustadz Zia Ul Haq Tegal).

Gus Dur Tidak Peduli Gengsi

Cermin Ketawadhu’an KH. Abdurrahman Wahid

Ketika Bersama Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani


Suatu ketika Gus Dur berkenan menghadiri undangan di daerah Tegal. Seperti biasa Gus Dur selalu didampingi pengawal dan supir serta beberapa orang lain yang menemani perjalanan beliau.

Perjalanan ini merupakan rangkaian dari beberapa undangan dari warga Nahdliyin kepada beliau untuk menghadiri acara Haul para Kyai dan acara PKB di daerah yang ketika itu dipimpinnya.

Dari Jakarta kami ke Surabaya dan keliling ke beberapa daerah di Jawa Timur diteruskan ke Jawa Tengah. Dari Semarang kami melanjutkan ke daerah Tegal lewat jalan darat. Memang ada pengusaha yang menawarkan Helicopter untuk dipergunakan selama perjalanan oleh beliau. Namun dengan halus beliau menolaknya.

Suatu ketika aku (NH) bertanya: “Pak, itu Pak …(X)… nawarin Heli kok dipun tolak?”

GD: “Ra sah numpak Heli... nanti kita lewat jalan darat saja sekalian mampir ziarah ke makam para ulama dulu yang tidak kamu kenal. Lha wong dia nyediain Heli karena ada maunya…”

NH: “Nyuwun sewu gadah kepentingan napa Pak.”

GD: “O dia lagi ada masalah, sekarang belum ada apa-apa tapi nanti bakalan diusut, dan jadi rame…”

NH: “O... ngaten to?”

Dan ternyata beberapa tahun kemudian memang pengusaha tersebut tersangkut masalah.

Akhirnya rombongan kami pun sampai di kota Tegal dan langsung menuju ke lokasi acara di sebuah desa di selatan kota Tegal. Ribuan orang sudah memadati lapangan sejak pagi untuk mendengarkan taushiyah dari Gus Dur dalam acara Haul salah satu Kyai pendiri pesantren di Tegal. Seperti biasa ketika acara berlangsung aku pergi memisahkan diri dari rombongan jalan-jalan di seputar lokasi acara sambil melihat langsung kehidupan masyarakat desa.

Selesai acara haul, rombongan kami hendak kembali ke Jakarta dengan menggunakan Kereta Api dari stasiun Tegal. Hiruk pikuk pun terjadi di stasiun Tegal. Semua pejabat di Tegal ikut mengantar keberangkatan beliau tak lupa juga kepala stasiunnya. Masyarakat yang tidak menduga kalau Gus Dur akan naik KA berebut ingin bersalaman hanya ingin ngalap “barokah” suatu hal yang biasa di masyarakat NU.

Tiba waktunya kami berangkat di gerbong eksekutif yang sudah kami pesan duduk bersama dengan para penumpang yang sudah naik terlebih dahulu dari kota-kota sebelumnya. 15 menit setelah kereta api berjalan Gus Dur panggil pengawal kalo mau tidur di bawah saja. Kami pun bingung, aku beranikan diri menjawab: “Pak nyuwun sewu ini di Kereta pak.”

Kata beliau: “Emang kenapa kalo di kereta? Din rakyat kecil kalo naik kereta itu pada tiduran di bawah, cepet dang to digelari koran.”

Aku hanya terdiam mendengar jawaban beliau. Akhirnya kursi kami putar saling berhadapan dan di lantai kami gelari selimut. Dan dengan nikmatnya beliau tidur dan mendengkur tanpa memperdulikan status yang melekat pada dirinya (mantan Presiden RI ).

Kami pun akhirnya duduk di lantai KA dan mungkin karena sungkan para penumpang yang duduk dekat dengan kami akhirnya pada duduk di lantai mengobrol bersama dan diantaranya ada yang menitikkan air mata karena terharu melihat kerendahan hati beliau.

Tulisan ini hanya sebagai obat rinduku kepada Gus Dur. Khushushan ila hadhrati ya Habibina Syech KH. Abdurrahman ad-Dakhil bin Abdul Wahid Hasyim al-Fatihah...


Oleh: Nuruddin Hidayat (NH)