CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

8 Nov 2014

Berkah Memberi Kegembiraan di Hari Asyura



Umat Islam dianjurkan untuk berbagi kebahagiaan pada hari Asyura atau 10 Muharram. Kisah yang termaktub dalam kitab an-Nawadir karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy ini mungkin dapat menjadi salah satu acuan mengapa pula banyak diadakan kegiatan penyantunan kepada fakir miskin dan anak yatim di hari Asyura.

Suatu hari, bertepatan dengan Asyura ada seorang fakir yang memiliki tanggungan anak pergi ke rumah tuan Qadli (hakim). Sebetulnya dia enggan meminta karena dia juga seorang Alawiyyin, akan tetapi melihat anaknya yang sudah berhari-hari tidak makan ia pun pergi menuju kota.

Untuk menuju ke kota, ia harus berjalan cukup jauh melewati padang pasir. Akhirnya, tibalah ia di rumah tuan Qadli. Kemudian menceritakan keadaannya.

“Inii rajulun fakirun dzu ‘iyalin (saya ini lelaki fakir yang punya banyak tanggungan keluarga). Hari ini bertepatan 10 muharam, saya mau minta kepada anda tidak banyak: 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham,” kata si fakir.

“Iya Pak, nanti siang anda ke sini lagi,” jawab Qadli.

Lalu pulanglah ia ke desa, sementara itu anaknya melihat kedatangan sang ayah merasa gembira. Berharap membawa sesuatu untuk dimakan. Akan tetapi kali ini ia pulang dengan tangan hampa.

“Sabar ya nak, nanti siang ayah kembali lagi ke sana,” jawab sang ayah.

Siangnya, si fakir kembali menemui Qadli dan mendapat jawaban sama. “Maaf, nanti sore kembali lagi ya, Pak,” jawab Qadli.

Jawaban tersebut terulang lagi, ketika pada sore harinya si fakir menemui Qadli. Bahkan, ia justru mendapat makian dari Qadli karena meminta-minta.

Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. “Ya Allah! mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!” pinta fakir.

Maka ia pun pulang dengan langkah gontai. Namun, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang Nasrani bernama Saiduk

“Ada apa Pak, kenapa menangis?” tanya Saiduk.

“Jangan tanya kondisi saya,” jawab fakir.

“Saya tanya, billahi, mengapa kamu menangis?” tanya Saiduk kembali.

Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba, kemudian ia bertanya. “Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?” tanya Saiduk.

“10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,” jawab fakir.

“Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta” jawab Saiduk.

Tidak hanya itu, bahkan Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan kepada si fakir. Hal ini membuat fakir bahagia. Ia pun pulang dengan disambut gembira anak-anaknya, sebab kali ini ia pulang dengan membawa sejumlah makanan dan uang.

“Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,” ungkap anak-anaknya.

Sementara itu, pada malam harinya tuan Qadli bermimpi. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif).

“Angkat kepalamu!” dilihatnya dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak.

“Ini untuk siapa?” tanya Qadli.

“Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhannya orang fakir tadi, tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk,” jawab hatif.

Esok hari, tua Qadli bergegas menuju ke rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam. “Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?” tanya Qadli. Saiduk pun menceritakan kembali, tentang seorang fakir yang bertemu dengannya semalam..

“Baiklah saiduk, apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,” kata Qadli.

Namun, di luar dugaan tawaran tersebut ditampik Saiduk. “Tuan Qadhi, jangankan sejumlah yang anda tawarkan. Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan dan pegang tangan saya, Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” tukas Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah menjadi orang yang beruntung, sesuai dengan namanya

KIsah Teladan Pemimpin dari Rasulullah SAW



Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW adalah ketika beliau dan sahabatnya kehabisan air minum. Nabi, Abu Bakar dan kedua Sahabat yang lain singgah di sebuah perkemahan yang dihuni oleh seorang perempuan miskin bernama Umi Ma’bad.

Ternyata Umi Ma’bad hanya mempunyai seokor hewan perahan yang sudah dalam kondisi kurus kerontang. “Jangankan susu, air kencing hewan itu pun sudah tidak ada,” kata Umi Ma’bad.

Nabi mengambil gelas dan mendekati hewan itu lalu memeras kantong susunya. Dengan izin Allah hewan itu pun keluar air susunya.

Apa yang dilakukan Nabi? Pertama-tama Nabi memberikan gelas berisi susu itu kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar minum, gelas berisi susu itu diberikan kepada dua Sahabat yang menuntun onta Nabi.

Setelah semua minum, baru kemudian Nabi meminum sisanya.

Umi Ma’bad heran dan bertanya kepada Nabi. “Kenapa Anda tidak minum terlebih dahulu?” Nabi menjawab:

خَادِمُ اْلأُمَمِ آخِرُهُمْ شُرْباً

Khodimul umam, akhiruhum syurban. “Wakil rakyat itu minumnya belakangan.”

7 Nov 2014

Apakah Negeri Saba Itu Indonesia?

Sekedar menambah Khazanah berpikir kita hehehe, mohon maaf jika ada yang kurang setuju, kalau penulis anggap sebagai Khazanah berpikir saja.. Wallahu A'lam

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?


Sebelum kita jawab tentang pertanyaan diatas, marilah kita ikuti rangkuman dibawah ini.

Menurut hasil Riset Lembaga Study Islam dan Kepurbakalaan yang di pimpin oleh KH. Fahmi Basya, Dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah yang mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah bangunan yang dibangun oleh Tentara Nabi Sulaiman As yang termasuk di dalamnya dari Bangsa Jin dan Syetan yang tersebut dalam Alqur'an sebagai Arsy Ratu Saba atau Princes of Saba atau Ratu Balqis adalah Ratu Boko yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa. Sementara patung-patung yang ada di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagaiPatung Budha sejatinya adalah patung-patung Bidadari dari Surga yang menjadikan Nabi Sulaiman As sebagai model yang berambut keriting. 

Dalam literatur Bani Israel dan Barat, Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting. Tetapi pada kenyataannya Bangsa Jawa yang menjadi tukang dan berambut keriting (Perhatikan Patung Nabi Sulaiman As di Candi Borobudur).

Hasil riset tesebut menyebutkan bahwa "Suku Jawa" disebut juga sebagai "Bani Lukman" karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran Lukmanul Hakim sebagaimana yang tertera di dalam Alqur'an. Perlu diketahui bahwa satu-satunya Nabi yang termaktub dalam Alqur'an yang menggunakan nama depan "SU" hanya Nabi Sulaiman as dan negeri yang beliau wariskan ternyata secara kebetulan diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU seperti Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono serta meninggalkan negeri yang bernama Sleman di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Nabi Sulaiman As mewarisi kerajaan dari Nabi Daud As yang dikatakan dalam Alqur'an dijadikan khalifah di bumi (menjadi penguasa dunia dengan Benua Atlantis sebagai pusat Peradabannya). Nabi Daud As juga di katakan Raja yang mampu menaklukan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan dan juga bersuara merdu). Dapat menaklukan Gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Indonesia yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah "Syaelendra". Menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata Saila dan indra. saila=gunung, indra=Raja.

Jadi sebenarnya Bani Israel yang sedang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri dari 12 suku tetapi mereka menamakan diri sebagai suku ke-13 yaitu Suku Khazar (yang asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami Diaspora dengan penduduk lokal, Posisi Suku Khazar mayoritas di seluruh dunia. Sedangkan Yahudi yang asli telah menghilang yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang "The Lost Tribes". yang mana mereka pergi ke Timur dan banyak menuju ke "The Promised Land" yaitu Indonesia.

Menurut KH. Fahmy Basya tentang Candi Borobudur, maka akan semakin nampak jelas bahwa ketika beliau menjelaskan tentang Negeri Saba' disitu dikatakan bahwa sebuah pemerintahan yang sangat kuat karena dipimpin oleh Nabi Sulaiman As dan Ratu Balqis dari hasil riset dengan di dukung data-data yang ada bahwa terbukti Negeri Saba itu adalah Indonesia dengan Pusat Pemerintahan di Jawa dengan Arsy Saba yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman As adalah Candi Borobudur yang dipindahkan dari Istana Ratu Boko, dan Negeri Saba' inilah yang kemudian dikatakan oleh KH. Fahmi Basya ada kemiripan cerita antara Benua Atlantis yang hilang itu. Dan sungguh sangat luar biasa kalau fakta itu benar bahwa negeri ini telah mewarisi peradaban besar bangsa-bangsa.

Kembali ke pembahasan Negeri Saba', Dibawah ini ada 15 (lima belas) point penting yang menjadikan bukti berdasarkan Alqur'an bahwa Saba itu ada di Pulau Jawa (Indonesia) dan bukan di Yaman.

1. Dalam buku-buku Ilmu Sejarah disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan pada abad ke-7 Masehi. Tetapi menurut teori Paruh Waktu, bahwa pada penelitian terhadap Batu Candi tersebut tidak bisa dihitung umurnya dengan isotop C (carbon) sehingga bisa ditarik hipotesa, bahwa Candi Borobudur tidak dibuat pada abad ke-7 Masehi.

2. Adanya fenomena angka 19 di Cnadi Borobudur. 
Adapaun fenomena angka 19 itu terdapat dalam Alqur'an berasal dari kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim yang terdiri dari 19 huruf kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim ini yang memperkenalkannya kepada kita adalah Nabi Sulaiman As ketika beliau berkirim surat kepada Ratu Saba, Kop surat dari surat Nabi Sulaiman As itu adalah kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim. Isi suratnya adalah "Alla ta'luu 'alaiyya, wa'tuunni muslimin" (Jangan menyombong kepadaku dan datanglah kepadaku dengan menyerah diri). Dan perlu diketahui bahwa lempengan surat itu masih berada di Museum Nasioanl berupa lempengan emas bertuliskan bismillah. Surat itu ditemukan di kolam dekat Candi Borobudur.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

 Lempengan emas bertuliskan kalimat bismillah

Jadi dapat dikatakan bahwa fenomena 19 itu sudah diketahui Nabi Sulaiman As. Oleh sebab itu di Candi Borobudur ada fenomena 19.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Fenomena angka 19  Candi Borobudur   

3. Adanya fenomena posisi 3 buah candi terletak segaris lurus yaitu pada Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Karena yang membuat Candi Borobudur bukan dari Golongan Manusia saja, tetapi juga dari bangsa jin, maka segaris lurusnya tiga candi yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut bukanlah hal yang kebetulan karena Jin bisa melihatnya dari atas.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

Untuk apa mereka membuat ketiga candi tersebut segaris lurus?
Untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Candi Borobudur adalah Matahari, Candi Pawon adalah Bulan dan Candi Mendut adalah Gambar Bumi. Kenapa Mendut mewakili bumi? Karena disana ada sebuah patung Manusia, sebagai wakil penduduk bumi adalah manusia.
Mengapa Candi Borobudur mewakili Gambar Matahari? Karena dulunya Ratu Saba itu Penyembah Matahari Jadi Arsy' itu ada nuansa mataharinya.
4. Diceritakan pula di dalam Alqur'an istananya berbentuk piring-piring dan patung-patung. Sementara itu Candi Borobudur berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir sebagai Patung Nabi Sulaiman As.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
    
5. Candi Borobudur adalah Peninggalan Nabi Sulaiman As dan Indonesia adalah Negeri Saba yang diceritakan Alqur'an pada Surat As-Saba' (34) karenanya ada nama daerah Sleman di daerah D.I Yogyakarta - Jawa Tengah yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Peta Daerah Sleman - Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia 
   
6. Sementara masih di kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Candi Prambanam ada sebuah candi yang bernama Candi Ratu Boko yang di ambil dari nama Ratu Bulqo/Ratu Bilqis.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Candi Ratu Boko

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Kolam Pemandian Di Candi Boko

7. Didalam Alqur'an Surat As-Saba tanda-tanda daerahnya ada buah pahit, sementara disekitar Candi Borobudur ada buah Mojo Pahit, bahkan sebuah kerajaan besar yang pernah jaya di Pulau Jawa rela menamakan kerajaannya dengan nama Kerajaan Majapahit.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Peta Kesultanan Islam Majapahit

8. Lalu diceritakan di dalam Alqur'an lagi bahwa daerah Saba' dikelilingi dua hutan, sementara Candi Borobudur disana ada daerah Wanagiri dan WanaSABA, Dimana dalam kamus Bahasa Jawa Kawi, Wana=Hutan, Saba=Pertemuan. 

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

9. Dimana seperti dalam Alqur'an Nabi Sulaiman As menggunakan dua lembar kain dan kain yang luar adalah Sutera seperti patung di Candi Borobudur yang terdapat lipatan Sutera.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

10. Diceritakan lagi Nabi Sulaiman As sering beristirahat dan berlibur dipantai sebelah timur Negeri Saba, Sementara disebelah timur Indonesia dekat Papua ada sebuah pulau yang bernama Solomon yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
      
11. Relief-relief di Candi Borobudur menggambarkan cerita tentang Nabi Sulaiman diantaranya Gambar Burung yang mengantar Surat kepada Ratu Balqis.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
 
Sedangkan relief yang bergambar burung berkepala manusia, yang menjelaskan bahwa burung hud-hud tersebut bisa berbicara dengan Nabi Sulaiman As. 

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
12. Dalam Alqur'an surat As-Saba' diceritakan Negeri Saba telah di azab Allah SWT karena penduduknya kufur dan tidak beriman, yaitu berupa dengan mengirim banjir besar yang menghancurkan Negeri Saba' menjadikan berkeping-keping. Karenanya hanya Indonesia lah satu-satunya negara yang mempunyai 17.000 pulau lebih.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
13. Indonesia adalah Negeri Saba' yang hilang, yang oleh Plato dan para Ilmuwan Barat di istilahkan dengan Benua Atlantis Yang Hilang.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
14. Diantara ribuan jumlah para Nabi, Hanya Nabi Sulaiman As yang mempunyai nama Jawa "Su" sebagaimana seperti nama Pemimpin Indonesia Ketuunan Jawa sepeti Sukarnao, Suharto, Susilo Bambang Yudhoyono.

15. Adanya Angin Muson di Indonesia menguatkan bukti bahwa Indonesia adalah Negeri Saba'.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Dan masih banyak lagi fakta-fakta yang lainnya.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

Nah kalau hasil penelitian ini benar adanya, bahwa yang dimaksud dengan Negeri Saba' adalah Indonesia hasil peninggalan Nabi Sulaiman As dan Ratu Bilqis, Sungguh luar biasa bangsa ini, Kita telah mewarisi peradaban yang mulia tersebut.

Bagaimana menurut anda?

Sumber

29 Okt 2014

Kisah Kyai Sholeh Darat dan RA Kartini




Seusai salah satu pengajian Tafsir al-Fatihah yang disampaikan Kyai Sholeh Darat yang dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Demak, seorang gadis usia belasan memberanikan diri menemui sang Kyai. Ia adalah putri Bupati Jepara, salah seorang wanita yang kini menjadi salah satu Pahlawan Nasional karena dianggap telah berjasa memperdayakan perempuan, hingga namanya kini menjadi ikon perjuangan emansipasi wanita di negeri ini. Dialah Ibu Kita Kartini.

“Romo Guru yang mulia!” Kartini membuka maksud. “Selama hidup saya, barulah kali ini ananda sempat mengerti makna surat al-Fatihah, induk al-Qur’an itu. Begitu besar rasa syukur ananda kepada Allah Swt. Namun sayang Romo Guru, ananda tak habis pikir, mengapa selama ini kita belum menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Qur’an merupakan petunjuk bagi segenap manusia?”
Kartini menarik nafas dalam-dalam. Suasana sunyi. Kyai Sholeh Darat tersenyum mendengar pertanyaan gadis yang terkenal kritis itu. 

“Teruskan anakku!”. Pancing Kyai Sholeh.
“Jadi, hemat saya, orang-orang Jawa seperti saya perlu mengerti dan memahami isi kitab suci itu, terutama melalui jalan Eyang Romo Guru terangkan dalam pengajian tadi. Apalagi Ramanda saya ikut bersyukur atas minat Amanda mendalami al-Qur’an. “
“Baiklah! Apakah ada pertanyaan lagi, wahai anakku?”. Kyai Sholeh masih menangkap gurat kegelisahan pada wajah Kartini.

“Begini Romo Guru. Khusus tentang penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an dalam bahasa Jawa itu, apakah ada syarat-syarat bagi orang yang dianggap cukup sebagai ahli di bidang tersebut?”.

“Sungguh, anakku Kartini!. Tidak sedikit bilangannya. Syarat-syaratnya sungguh berat. Antara lain, orangnya harus menguasai Bahasa Arab yang khas dengan al-Qur’an lengkap dengan nahwu, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah, isti’arah, lengkap dengan keilmuan lainnya”. Terang Kyai Sholeh Darat sambil tersenyum.
“Tapi Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka sekarang ananda mohon sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya berupa kitab terjemah dan tafsir al-Qur’an dalam Bahasa Jawa. Sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan suci dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan Romo Guru akan besar sekali jasanya”.
Mendengar permintaan Kartini, raut wajah Kyai yang berseri itu, seketika tumpah air mata, menangis haru mendengar permintaan gadis aristocrat itu.

Bermula dari dialog di Pendopo Kabupaten Demak itu, setahun berikutnya kitab yang diidam-idamkan Kartini terbit. Judulnya “Faidhurrahman fi Tafsir al-Qur’an”. Kitab karya Kyai Sholeh Darat ini berukuran folio, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid. Kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah Melayu. Bahkan kaum muslimin di Pattani, Tailand selatan juga memakai kitab ini. Ditulis dengan huruf Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.

Kyai Sholeh Darat wafat pada tanggal 28 Ramadlan 1321 H/18 Desember 1903 M. dimakamkan di komplek pemakaman umum Bergota Semarang.

Kisah ini adalah shahih, dinukil oleh Prof. KH. Musa Al-Machfud Yogyakarta, dari Kyai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kyai Sholeh.

Sumber: Majalah Bulanan AULA Edisi April 2012 hlm. 21 

Makam dirusak, Jasad Sahabat Nabi Zuhair bin Qois RA, tetap Utuh!!



Ini adalah foto Jasad sahabat Zuhair bin Qois RA. yang tetap utuh yang sudah lebih dari 1.400 tahun tertanam di bumi, setelah dibom oleh orang-orang Wahabi di Libya.

Sumber: Majalah Cahaya Nabawy edisi 109

Kisah Habib Luthfi Bin Yahya, Ditantang 10 Dukun Sakti



Pernah suatu ketika, sekitar 10 dukun mendatangi Habib Luthfi Yahya untuk ditantang keilmuannya. Habib Luthfi dengan tegas menolak tantangan tersebut. Beliau balik bertanya: “Untuk apa dan atas dasar apa kamu menantang saya?”

Salah satu dari 10 dukun itu menjawab: “Kami ingin tahu apa kelebihanmu, kok murid-muridmu banyak bahkan ada di mana-mana. Dan apa benar Habib ini wali Allah, kok sampai-sampai banyak yang menyukai dan mencintaimu.”

Habib Luthfi hanya tersenyum mendengar penuturan si dukun itu. Kemudian 10 dukun tersebut mulai komat-kamit tak jelas dan mengambil satu ‘keris legenda’, kata si dukun, lalu diletakkan persis di depan Habib Luthfi. Lantas dukun itu berkata: “Ambillah jika Habib mampu!”

Habib Luthfi pun hanya tersenyum sembari berjalan mengambil sapu lantai dan disapunya keris itu dengan mudahnya tanpa membuang-buang tenaga. Kagetlah 10 dukun itu, gumam mereka: “Kok bisa ya hanya dengan menyapu saja, padahal sudah saya buktikan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil keris itu.”

Kemudian Habib Luthfi bin Yahya mencabut bulu rambut yang ada di kepalanya dan meletakkannya persis di depan 10 dukun itu. Beramai-ramailah dukun itu dengan sekuat tenaga mengambil satu helai bulu rambut Habib Luthfi. Tapi apa hendak dikata, tak seorang pun dari mereka yang dapat mengambil bulu rambut itu. Akhirnya 10 dukun itu segera meminta maaf kepada Habib Luthfi dan bahkan bersedia menjadi murid Habib Luthfi sampai saat ini. 

(Diolah dari Pengky Sutarto, yang diceritakan langsung dari abdi dalem).

Kisah Habib Umar bin Hafidz, Sengketa Tanah



Pernah ada seseorang yang mengaku-aku sebagai pemilik tanahnya al-Habib Umar bin Hafidz. Ia mengatakan bahwa tanah itu adalah miliknya. Maka keesokan harinya Habib Salim, putera Habib Umar, mendatangi orang tersebut dan menjelaskan panjang lebar bahwa tanah itu bukan miliknya tapi milik Habib Umar. Surat-surat resminya pun ada di tangan Habib Umar.

Namun orang tersebut tidak bergeming, tetap ngotot mengakui tanah itu adalah miliknya. Akhirnya dengan terpaksa Habib Salim mendatangi sang ayah, Habib Umar bin Hafidz, seraya menjelaskan semuanya. “Abah, si fulan mengaku-aku tanah kita yang ada di daerah sana adalah miliknya,” tutur sang anak.

Habib Umar malah menanggapi perkataan anaknya itu dengan senyuman, lalu berkata: “Kalau begitu kita ikhlaskan saja tanah itu untuk dia.”

Sang anak menjadi terheran-heran, barangkali ada yang salah didengar ia mencoba memastikan: “Tapi, bukankah surat-surat resmi tanah itu ada di tangan kita?

Habib Umar kemudian menjawab: “Salim... kita tidak akan berseteru dengan saudara Muslim kita hanya karena urusan duniawi. Kita tidak akan pernah memperebutkan dunia dengan siapapun. Seandainya dia juga mengakui rumah kita ini, kita akan ikhlaskan rumah ini untuknya. Kita masih bisa tidur di mobil kita.”

(Diolah dari tulisan Ahmad Afif Tawes, santri Indonesia di Yaman, yang mendengar langsung dari penuturan al-Habib Salim bin Umar bin Hafidz sewaktu mengadakan “ijtima’ khusus” dengan jamaah haji tahun ini).

Kisah Habib Hasan Asy Syathiri, Jangan Marahi, Tapi Rahmati



Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri adalah Pengasuh Rubath Tarim yang sangat terkenal dan dihormati di kota Tarim, Hadhramaut. Suatu ketika, beliau berkunjung ke Singapura dan menginap di salah satu hotel. Ketika murid beliau sedang mengurus check-in, beliau duduk di salah satu sofa yang ada di lobby hotel.

Tiba-tiba duduk di hadapan beliau sepasang kekasih bule. Mereka tak henti-hentinya berciuman dan berpelukan di hadapan sang Habib. Habib Hasan hanya menunduk. Rata-rata orang Hadhramaut tak biasa memandang perempuan yang bukan muhrimnya, apalagi dalam adegan mesra.

Setelah urusan check-in selesai, Habib Hasan dipersilakan oleh murid-muridnya untuk memasuki lift yang akan membawa ke lantai kamar. Tak disangka, kedua kekasih itu ikut masuk ke dalam lift dan meneruskan percumbuannya. Murid-murid Habib Hasan marah dan bermaksud menegur sepasang kekasih tadi karena berbuat yang tidak senonoh di hadapan seorang ulama besar.

Namun Habib Hasan justru melarang murid-muridnya untuk menegur mereka. Beliau tetap menunduk dan kemudian membaca doa. Doa beliau sebagaimana yang masyhur dari Imam Abu Hanifah: "Allahumma kama farihtahuma fiddunya, fafarrihhuma fil akhirat." (Ya Allah, seperti Engkau beri kebahagiaan pada mereka berdua (sepasang kekasih itu) di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat).

Begitulah akhlaq ulama-ulama besar kita. Mereka tidak reaktif dan membabi buta. Rasa kasih sayang didahulukan dari kemarahan. Keinginan Habib Hasan adalah agar keduanya berbahagia di akhirat kelak, seperti kebahagiaan mereka bercumbu dan bercinta di dunia. 

(Sumber cerita: Habib Ismail Fajrie Alatas)

18 Okt 2014

Satu Hati Satu Cinta Gus Dur



Disamping presiden yang hebat, terdapat ibu negara yang hebat pula. Bung Karno berada di kekuatan puncaknya saat beristri Ibu Inggit Garnasih. Sebaliknya, ketika beristri seorang geisha asli Jepang, Bung Karno menjadi lupa diri dan mudah sekali marah.

Pak Harto pun demikian. Pak Harto mulai terlihat sangat "kasar" dalam upaya-upaya mempertahankan kekuasaan, ketika Ibu Tien sudah meninggal. Bagi kalangan yang tidak paham ilmu psikologi, biasanya hanya akan mengkaitkan lengsernya Pak Harto dengan peristiwa meninggalnya Ibu Tien dari kacamata mistik, misalnya tusuk konde.

Terkait dunia spiritual mempengaruhi dunia kasat mata, ada teman yang berkelakar, "Saya baru percaya hal-hal seperti itu, kalau ada gelandangan kolong jembatan bisa menikahi artis Dian Sastro Wardoyo, hanya berbekal ilmu pelet!"

Istri itu luar biasa penting bagi seorang laki-laki. Sehebat-hebatnya Bung Karno dan sedingin-dinginnya Pak Harto, pengaruh istri tetaplah sangat signifikan. Tak terkecuali bagi Gus Dur.

Bagi Gus Dur, Ibu Shinta adalah segalanya. Yang terkasih, yang tersayang, dan yang tercinta... Shinta Nuriyah adalah kesejatian bagi seorang Abdurrahman Wahid. Satu-satunya wanita sejati di dalam hati beliau.
Secara kuantitas, Gus Dur kalah jauh dari Bung Karno dan Pak Harto. Gus Dur tidak sampai 2 tahun menjabat. Tapi, secara kualitas, Gus Dur melebihi keduanya, bahkan seluruh presiden di dunia. Tidak ada presiden yang dilengserkan di tengah jalan tanpa menimbulkan korban jiwa, selain Gus Dur.

Satu kematian pun tidak. Tidak ada rakyat yang tewas saat Gus Dur dijatuhkan secara paksa. Silakan Anda sekalian cek sendiri buku-buku sejarah dunia. Tidak ada presiden manapun di dunia ini yang dijatuhkan di tengah jalan tanpa ada pertumpahan darah, kecuali beliau.

"Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian," kata Gus Dur pada waktu itu. Gus Dur berbuat demikian, karena beliau mencintai Indonesia. Pasalnya, pada suasana genting tersebut, lebih dari dua juta pasukan santri siap membumi-hanguskan Ibokota Jakarta.

Seperti kesaksian Gus Mus, di tiap-tiap kantong NU, ada puluhan ribu santri siap membela Gus Dur. Padahal, seperti kita tahu kantong NU bukan hanya Jawa Timur, dan itu artinya Ibukota Jakarta mustahil bisa bertahan. Harap diingat satu-satunya daerah yang tidak bisa dihancurkan koalisi tentara Sekutu zaman dahulu adalah kota Surabaya.

Lantas, apa hubungannya? Kota Surabaya menjadi satu-satunya daerah yang tidak bisa dikuasai koalisi militer negara-negara pemenang Perang Dunia II adalah karena kota itu dilindungi laskar santri NU. Mbah Hasyim Asy'ari (kakeknya Gus Dur) sendiri yang turun tangan. Maka dari itu, meski digempur berminggu-minggu, kota Surabaya tidak pernah menyatakan "menyerah" ke pihak Sekutu.

Berbeda dengan kekuatan Jakarta. Digempur beberapa hari saja, Jakarta sudah jatuh. Hingga membuat Bung Karno dan Bung Hatta mengungsi ke Yogyakarta, pagi-pagi buta naik kereta api. Bisa dibayangkan bila Gus Dur mengizinkan para santri menyerbu Jakarta?

Inggris bisa dilinggis, Amerika bisa disetrika, apalagi cuma untuk menguasai Ibukota Jakarta. Mudah sekali bagi Gus Dur untuk mempertahankan diri. Tapi, bagi beliau, bangsa Indonesia lebih penting daripada kursi kepresidenan. Ada keluarga yang menanti para tentara Indonesia pulang kerja.

Beliau tidak tega ribuan keluarga nantinya menangis kehilangan hanya karena urusan politik. Mbah Yai Abdurrahman Wahid masih memikirkan keluarga para tentara, meski moncong tank-tank militer Indonesia mengarah ke istana kepresidenan. Mbah Yai Abdurrahman Wahid juga tidak rela jutaan santri sampai meninggal hanya karena dirinya. Janganlah kita tanya sebesar apa cinta beliau pada NU.

Gus Dur memilih lebih baik hancur sendirian daripada harus melihat perang saudara. Jangankan melihat para santrinya gugur, melihat para tentara yang mengepungnya terluka saja tidak tega. Semua bagi Gus Dur adalah sama; rakyat.

Karena beliau adalah presiden rakyat,
beliaupun rela "mempermalukan" dirinya sendiri demi rakyat. Sengaja pakai baju tidur dan celana pendek, beliau keluar dari istana. Menyapa para pendukungnya. Suasana yang sudah sangat panas mendadak cair. Semua santri dan tentara yang sudah saling berhadapan siap perang mendadak tertawa bersama.
Sebuah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang presiden yang mementingkan pencitraan. Meski disaksikan banyak orang dan diliput media massa dari seluruh dunia, Gus Dur tidak peduli.

Dulu Pak Harto memang menang perang tanding atas Bung Karno, tapi efeknya ada jutaan rakyat Indonesia tewas terbunuh. Semua presiden lain di seluruh dunia yang lengser di tengah jalan pun demikian. Pasti di atas banjir darah.

Tetapi, fenomena itu pernah tidak terjadi satu kali, dan hanya terjadi di Indonesia. Gus Dur pilih mengalah, agar tidak ada satu pun rakyat Indonesia yang tewas. Diiringi shalawatan dan istri tercinta, Sultan Abdurrahman Wahid rela diusir dari istananya sendiri.

Ciri-ciri seorang ksatria sejati adalah tidak mau menang jikalau kemenangan perang tersebut bisa berakibat kehancuran-kehancuran. KH. Abdurrahman Wahid adalah orang yang agung. Seorang zahid. Dunia tidak dicintainya, apalagi sampai dikejar-kejar.

Para pembaca sekalian, kondisi Indonesia sehancur sekarang adalah karena banyak sekali orang sangat keduniawian. Uang tidak dimasukkan ke dompet, tapi dimasukkan ke hati. Uang tidak terletak di genggaman tangan, tapi ditaruh di atas kepala.

Uang tidak dijadikan alat mempertahankan hidup, tapi sudah dijadikan tujuan hidup dan kehormatan diri. Banyak orang ingin jadi seorang pemimpin adalah karena ingin menumpuk kekayaan lebih banyak. Dengan menjadi seorang pejabat, diharapkan bisnis perusahaannya semakin berkembang. Hal itulah alasan kenapa Indonesia tidak kunjung membaik.

Satu-satunya hal di dunia ini yang pernah dikejar Gus Dur adalah Ibu Shinta Nuriyah. Meski jalan cinta tersebut berat, Gus Dur tidak gentar. Beliau tetap berjuang. Hingga sepucuk surat dari Ibu Shinta berisi balasan cinta tiba.

Pernah suatu ketika Gus Dur muda akan dijodohkan oleh seorang kiyai yang dihormatinya dengan santriwati lain, beliau pilih melarikan diri. Pura-pura pamit ke dapur, lalu memanjat jendela, dan melompat keluar. Sebab hati beliau ada satu, dan hanya untuk mencintai Ibu Shinta. Sebab jantung beliau ada satu, dan hanya bisa ditulisi sebuah nama; Shinta Nuriyah.

Di samping presiden yang hebat, ada ibu negara yang hebat pula. Sangat wajar Gus Dur mampu mengungguli semua presiden di dunia ini, karena disamping beliau ada sesosok wanita keibuan yang memiliki ketulusan hati.
Lahul_fatihah...
---------------------------------------
Muslimedianews ~ 
Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonoi orang Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.
Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang.Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.
“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.
“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.
“Kok bisa Gus?”

“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”
“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.
“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe...” kata Gus Dur mantab.
“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.
“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.

Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.
Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”
Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”

Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”

Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”

“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”

“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”
“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” tutup Gus Dur.

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.

Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”

Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, Menpora yang sekarang kena kasus. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan”. Karena bagi seluruh warga NU “Beliau adalah Pahlawan yang sesungguhnya.”

Disadur dan diedit ulang dari tulisan Gus Theler Cuek 

15 Okt 2014

Kisah Amplop Mbah Dullah



Kyai Abdullah Salam

“Ada yang bilang, saya ini masih keturunan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam“, seorang kyai berkata dalam sebuah obrolan, “untungnya riwayat silsilah yang ditunjukkan kepada saya itu dlo’if!”
“Kok malah untung?”
“Waaa…. kalau saya disahkan menjadi keturunan Kanjeng Nabi…. payah saya!”
“Lho? Gimana sih?”
“Nggak payah gimana? Saya ‘kan jadi nggak boleh terima sedekah? Apalagi zakat? Apa nggak ngaplo saya?”

Memang tidak boleh menerimakan zakat dan sedekah kepada Bani Hasyim dan Bani Abdil Muththolib. Dan mereka pun diharamkan menerimanya, demi keagungan dan kehormatan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Mbah Dullah Salam, Kyai Abdullah bin Abdussalam rahimahullah, Kajen, Pati, diyakini juga dari Bani Hasyim. Wa qiila silsilah beliau menyambung sampai kepada Syaikh Sayyid Abdurrahman Basyaiban, Mbah Sambu, Lasem. Bertemu dengan silsilah Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Hamid Pasuruan, Kyai Achmad Shiddiq Jember, dan Gus Dur. Memang, catatan-catatan silsilah itu sebagian masih diperdebatkan. Tapi Mbah Dullah adalah seorang yang amat hati-hati. Lagi pula, beliau adalah Mbah Dullah Salam, lebih dari sekedar seorang kyai.

Seseorang bertamu, menyerahkan amplop tebal berisi segepok uang.
“Nuwun sewu, Mbah, ini sedekah saya…”
“Untuk aku?”
“Iya”.
Mbah Dullah manggut-manggut.
“Di kampungmu sudah nggak ada orang feqir?”
Si tamu kaget dan serta-merta kecut hati, tapi berusaha menjawab hati-hati,
“Yang di kampung saya insyaallah sudah semua, Mbah. Ini saya sediakan khusus untuk Simbah…”
Sinar mata Mbah Dullah tidak berkurang tajamnya,
“Jadi, aku ini kamu anggap feqir?”
Nyaris pingsan tamu itu! Keringat dingin bertotol-totol di dahinya. Begitu takut hingga lidahnya lumpuh. Tak mampu berucap walau hanya kata “ampun”.

Senyum mengembang di wajah Mbah Dullah. Membebaskan si tamu dari himpitan gunung.
“Pokoknya ini buat aku ya?” suara Mbah Dullah jauh lebih ramah.
“I… iya…, Mbah…”
“Tashorrufnya terserah aku ya?”
Tamu cuma mampu mengangguk lemah.
Mbah Dullah menengok ke halaman rumah. Santri-santri cilik berkeliaran dan bercengkerama. Mbah Dullah memanggil salah satunya,

“Nak! Hei! Kamu! Ya! Sini kamu!”
Kepada santri itu Mbah Dullah mengulurkan amplop pemberian tamu.
“Nih! Bagi-bagi dengan teman-temanmu ya!”
Santri melongo tak percaya. Tapi Mbah Dullah menggerakkan tangan memberi isyarat supaya dia lekas beranjak. Santri beringsut keluar rumah. Dan begitu lepas dari pintu, ia langsung teriak-teriak memanggili teman-temannya. Riuh-rendah pecah. Mbah Dullah tersenyum-senyum memandangi santri-santri berkejaran di halaman, berebut bagian.
“Lihat!” beliau berkata pada tamu, “Duit sampeyan sudah bikin gembira anak-anak sebanyak itu!”


Oleh KH. Yahya C Staquf

Kisah Syaikh Abul Hasan Khirqani RA dan Kemarahan




Syaikh Abul Hasan Khirqani (RA) selalu bepergian dengan mengendarai seekor singa, terkadang singa tsb dipakai untuk mengangkut kayu bakar dari hutan ke kota..dan jika kadang-kadang singa berubah galak dan merepotkan, ia akan mencambuk singa itu dengan memakai cambuk seekor ular hidup yang juga sangat galak.

Seseorang dari Khurasan pergi ke Kharqan untuk mengambil janji setia (bay'at) di tangan Guru ini, tiba di rumahnya, syaikh sedang bepergian, istri syaikh menanyakan alasan kenapa org itu datang, dia menceritakan alasannya (ingin Berbay'at).
Istri syaikh Abul Hasan adalah seorang pemarah, setelah mendengar ini istri dari syaikh Abul Hasan berteriak :
"La haula wala quwwata illah billah" dan berkata: "Siapa di dunia ini yang dapat mengetahui kondisi Syaikh abul hasan lebih baik daripada saya?, siang dan malam, bertahun tahun saya berkumpul dengannya Dia adalah seorang penipu licik Bagaimana kau bisa ingin berbay'at padanya?, Anda tidak ada/punya otak? "
Istri Abul Hasan berbicara begitu pahit tentang Abul Hasan kepadanya sehingga si tamu menangis dan berpikir bahwa perjalanan jauhnya telah sia sia dan tak berguna. Namun, orang-orang lain dari wilayah itu mendesaknya untuk pergi ke dalam hutan, dan bertemu dgn Syekh Abul Hasan, dan tidak membentuk pendapat yang salah tentang si syaikh, karena istrinya adalah seorang wanita pemarah.
Ketika ia sampai di hutan, ia bertemu Syaikh Abul Hasan Khirqani (RA), sedang duduk santai di punggung singa.

Maulana Jalaluddin Rumi (RA) mengatakan bahwa melalui kasyaf (ilham ilahi), syaikh Abul Hasan telah mendengar pembicaraan pahit istrinya dan melihat kesedihan dimuka tamunya, beliau tertawa dan bertanya apa yang terjadi. Orang itu menjawab: "syaikh, istri Anda adalah wanita yang sangat pemarah, kenapa kau menikahinya?"

Syaikh menjawab: "Keajaiban yang Anda lihat di depan Anda yaitu saya bisa duduk di punggung singa, dan mampu menggunakan ular hidup berbisa sebagai cambuk, bisa begitu karena kesabaran menanggung kerugian yang disebabkan kepada saya oleh temperamen istriku".
Dalam kata-kata Maulana Rumi (RA): "Jika kesabaran tidak mentolerir beban nya sakit/marah, maka jangan Anda pikir/berharap singa itu akan mau menanggung beban nya dan menjadi budak nya" Ini adalah jalan Allah, bahwa ketika Dia memberkati seseorang dengan satu kelebihan, Ia melakukannya setelah di uji / pelatihan diri (Islahi Nafs).


Sumber. 'Pengobatan untuk kemarahan' halaman 15-16
Oleh: Shaikh ul Arab wal Ajam, Maulana Shah Hakeem Muhammad Akhtar Saheb (RA)
Dikutip dari FB Habib Adeng Fadaq

14 Okt 2014

Kisah Kyai Berbaiat Kepada Al Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan



Kisah ini semata-mata hanya untuk menambah kecintaan dan ketaatan pada guru (Abah Maulana Habib Luthfi bin Yahya), juga berharap sesama murid beliau agar saling mengenal. Semoga semua dalam jalinan rahmat Allah Swt. Aamiin.

1. Mbah Toyik Kudus dan Habib Ali Mayong
Mbah Toyik (KH. Thoriq), kyai asal Kota Kudus Jawa Tengah. Beliau kakak seperguruanku di tempat Abah, berperawakan kurus dan berkacamata. Kalau pergi ke Kudus, saya (Idrus Yahya) mampir ke rumah beliau. Ramah bersahabat dan ilmunya dalam namun tawadhu’ luar biasa, maka saya pribadi menganggap beliau sebagai guru. Apa-apa yang diajarkan Habib Luthfi bin Yahya (kala saya berhalangan ngaji) beliau sampaikan, dengan bahasa yang sederhana namun mengena.

Adapun ikhwal kyai “khos” ini menjadi murid Habib Luthfi bin Yahya adalah dimulai dari kisah seorang mursyid tua kala itu, Habib Ali Mayong. Dijuluki Mayong karena berasal dari kota Mayong, Jepara.
Alkisah pada suatu hari, sang guru mengajak muridnya (Kyai Thoriq) untuk diajak ke Pekalongan (pertama kali sang kyai dikenalkan Abah). Dengan menaiki becak langganan, Habib Ali Mayong berkata: “Pak, anter nggih teng Pekalongan.” (Pak, antarkan ke Pekalongan).

Tentu saja tukang becak terbelalak: “Ampun Bib, kulo mboten sagah” (Maaf Bib, saya tidak sanggup).
Habib Ali tersenyum lalu berucap: “Wis Sampeyan asal nggenjot ora usah mikir, mengko nek ora kuat mandeg kemawon” (Sudah tidak usah dipikir. Asal kayuh saja, ntar kalau capek berhenti).

Satu, dua perlahan dikayuh pedal becak dan meluncur ke arah Demak menuju Pekalongan. Kadang si tukang becak dihibur oleh Habib Ali dengan diajak ngobrol. Tak berapa lama, Habib Ali berkata: “Belok kanan nyebrang Pak.”

Tukang becak pun melihat kiri dan kanan kemudian menyebrang. Lalu sampai di gang, Habib Ali memberi aba-aba untuk berhenti. “Niki pundi Bib, terose ajeng teng Pekalongan kok mandap mriki?” (Ini daerah mana Bib, katanya mau ke Pekalongan kok turun di sini?) Tanya tukang becak.

Habib Ali menunjuk salah satu plang toko yang bertuliskan alamat dan nama jalan. “Lha iku wis tekan Pekalongan” (Lha itu sudah sampai Pekalongan), jawab Habib Ali.

Dengan penasaran tukang becak bergumam: “Duh Gusti, lha nggih pun dugi Pekalongan. Kok mboten kroso kulo?” (Ya Tuhan, lha benar sudah sampai Pekalongan. Kok tidak berasa ya?).
“Sampeyan nunggu mriki, nggih. Ki nek arep wedangan” (Kamu tunggu di sini ya. Ini kalau mau minum teh atau nyemil), sambil menyerahkan uang.

Di kediaman Habib Luthfi bin Yahya sudah selesai masak dan membuat hidangan. Rupanya Habib Luthfi bin Yahya juga merasa kalau ada salah satu guru yang akan berkunjung ke rumah beliau. Ucap salam Habib Ali bertemu Habib Luthfi bin Yahya, pelukan dan beramah tamah. Kemudian disampaikan maksud bahwa beliau (Habib Ali) dapat petunjuk untuk mengajak muridnya ke tempat Habib Luthfi. Habib Luthfi bin Yahya menjawab: “Yo wis kersane Pengeran, siapa yang ditakdirkan Allah untuk membaiat sang murid (Kyai Thoriq). Anda atau saya?”

Habib Ali tersenyum dan setuju. Giliran pertama Habib Ali memberi aurad (wiridan) singkat, sang murid melaksanakan. Satu jam berlalu dengan khusyuk sang murid ditanya gurunya (Habib Ali): “Bagaimana Kyai, sudah ada isyarat?”

Kyai Thoriq menggeleng sembai berkata: “Ngapunten Bib, dereng enten pitedah” (Mohon maaf Bib, belum dapat petunjuk).

Kemudian Habib Ali mempersilakan Habib Luthfi: “Tafadhal.” Lalu Habib Luthfi bin Yahya mendekati sang murid, perlahan memberi arahan amalan pendek. Setelah mengikuti petunjuk Habib Luthfi bin Yahya sang murid pun tertidur pulas. Satu jam berikutnya terbangun, sang murid tergopoh-gopoh menghampiri gurunya (Habib Ali) yang waktu itu sedang berdialog dengan Habib Luthfi bin Yahya. “Bib... Biib... ngapunten.”

Rupanya dalam mimpi, Kyai Thoriq bertemu Rasulullah Saw. sedang menggandeng pemuda di sebelah kanannya. Sedang satu lagi ada habib duduk di bawah di samping kiri Nabi Saw. “Haqqak hadza, tafadhal ya Habib” (Ini punyamu ya Habib), Habib Ali Mayong berkata pada Habib Luthfi bin Yahya dengan wajah berseri.

Ternyata mimpi itu bermakna lelaki muda tadi adalah Habib Luthfi bin Yahya yang digandeng Baginda Nabi Saw. Sedangkan yang terduduk adalah Habib Ali Mayong. Lalu saat itu juga dengan disaksikan Habib Ali sang gurunya, Kyai Thoriq pun dibaiat oleh Habib Luthfi bin Yahya.

Rupanya pertemuan di Pekalongan dengan Habib Luthfi bin Yahya adalah pertanda dari Allah untuk sang kyai. Al-Habib Ali Shihab alias Habib Ali Mayong beberapa minggu kemudian berpulang ke haribaanNya. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Dan yang paling menyedihkan adalah kala Habib Luthfi bin Yahya memberi isyarah pada Kyai Thoriq (dalam mimpi) untuk segera menemui gurunya, namun tidak segera dipenuhi. Sebab sang kyai ragu, pertanda tersebut dari mimpinya bukan langsung disampaikan Habib Luthfi bin Yahya. Kyai Thoriq kaget bukan kepalang, ternyata benar terjadi. Namun beliau (sang guru) telah wafat. Di rumah duka tersebut beliau berjumpa dengan Habib Luthfi bin Yahya yang tiba duluan.

Kyai Thariq terkadang di pengajian Kliwonan mampir ke Habib Luthfi bin Yahya. Tapi rutinnya tiap peringatan Maulid di Kanzus beliau selalu hadir. Sedangkan tukang becak itu hingga kini masih hidup. Dia menjadi saksi mata semua kejadian perjalanan Habib Ali Mayong, sebab kendaraan favorit beliau adalah becaknya.

2. Perjalalanan Haji Mbah Toyik
Sepulangnya ke Kudus, lalu Kyai Thoriq menemui sang istri. Sambil kebingunan beliau menyampaikan: “Nyai, aku didawuhi Abah mangkat haji. Lha pripun ora nyekel duit?” (Nyai, aku diwanti-wanti Abah suruh berangkat haji. Lha bagaimana, saya tidak punya uang sama sekali).
“Wes asal nurut bae Kyaine, mengko rak temu dalane” (Sudah, asal ngikut saja. Siapa tahu ketemu jalannya), jawab istri beliau.

Tak berapa lama setelah istirahat, kemudian selesai shalat Ashar beliau kedatangan tamu. Seseorang menyampaikan maksudnya, mohon doa agar istrinya dimudahkan atau diangkat penyakitnya. Mbah Toyik pun menenangkan tamunya, mendoakan, menghibur dan membesarkan hatinya. Kemudian tamu pun berpamitan.

Tiga hari berikutnya tamu itu datang lagi dengan wajah berseri. Lalu bercerita kalau istrinya sudah agak baikan. Rencananya mereka berdua mau berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Sudah mengurus segalanya, namun atas petunjuk dokter supaya istirahat dulu demi penyembuhan. Akhirnya segala keperluan berikut surat-surat, tiket, akomodasi penginapan, visa atau paspornya diurusin tamu tadi untuk Mbah Toyik. Beliau hanya tinggal mencari uang saku saja. Seketika beliau kaget, hingga tamunya pergi masih tidak percaya.

Diceritakannya kejadian tersebut pada istrinya. “Alhamdulillah Nyai, sido mangkat haji. Mengko sangune gampang lah” (Alhamdulillah Nyai, terkabul berangkat haji. Soal uang saku nanti menyusul), begitu kata beliau.

Akhirnya segala persiapan dilengkapi dua hari sebelum beliau berangkat. Tiba-tiba ada tamu datang lagi. Dengan memohon-mohon minta disyareati atau diikhtiari doa agar tanahnya laku, Mbah Toyik ‘lillahi ta’ala’ menyanggupi.

Hal yang mengejutkan terjadi lagi, tanahnya laku, beliau pun diberi komisi. Lengkap sudah beliau berangkat, hingga dari Kudus bareng rombongan haji berangkat ke tanah suci. Di perjalanan beliau bertemu beberapa teman baiknya. Tak disangka, mereka (para sahabat) memasukkan amplop ke kantong saku beliau. Beliau terlanjur bahagia hingga tidak dihitung, asal pindahin ke tas karena numpuk di kantong. Yang pada akhirnya jumlah isi amplop itu mencapai jutaan. 
(Diolah dari web Ustadz Oki Yosi, bersumber dari Habib Idrus Yahya).

Rute ke kediaman Kyai Thoriq Mbah Toyik: Jl. Raya Kudus-Jepara, lewat RS. Islam maju kurang lebih 3 km. Adanya sebelah kiri, ada gapura mirip masjid, itu dia rumah dan majlis taklim Mbah Toyik.