CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

11 Mei 2016

Ketika Rasulullah SAW mendekatiNya lewat Sujud



Tulisan dari Prof. Nadirsyah Hosen,

Nabi Muhammad SAW pernah berdoa saat sujud:
للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridhaanMu dari murka-Mu, dan aku berlindung dengan pemaafan-Mu daripada hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari Engkau. Dan aku belum memuji-Mu sebagaimana Engkau selayaknya dipuji" (HR Abu Dawud, al-Nasa'i, Ibn Majah, Ahmad)
Dalam kitab Ihya, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan kandungan spiritual doa di atas:
Kalimat pertama dalam doa Rasul: "Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridhaanMu dari murka-Mu", ini berdasarkan pandangan Nabi Muhammad terhadap tindakan Allah. Seolah saat sujud itu Nabi hanya melihat Dia dan tindakan-Nya semata --tidak yang lain, sehingga Nabi pun berlindung kepada Allah dalam tindakan-Nya (keridhaan) dari tindakan-Nya (kermukaan).

Kemudian Nabi lebih mendekat lagi, dan kini Nabi tidak lagi melihat tindakan-Nya, yang Nabi saksikan adalah sumber dari tindakan-Nya, yaitu sifat Allah semata. Itulah sebabnya pada kalimat kedua Nabi merintih mesra dalam doanya: "dan aku berlindung dengan pemaafan-Mu daripada hukuman-Mu". Inilah dua sifat Allah yang dirujuk oleh sang nabi: al-'afuw dan al-mu'aqib.

Nabi menyadari kemudian bahwa vision (pandangan) beliau ini belum sempurna. Karena itu Nabi lebih mendekat lagi kepada Allah dalam sujudnya dan bergeser dari sifat ke dzat. Tidak ada tindakan atau sifat-Nya yang Nabi kini saksikan. Cuma ada Nabi dan Dia. Maka Nabi pun berbisik mesra pada Sang Kekasih: "Dan aku berlindung kepada-Mu dari Engkau" (a'udzu bika minka). Inilah kondisi yang melesat dari Dia menuju Dia tanpa perantara sifat dan tindakan-Nya.

Lebih dekat lagi, dan Nabi melihat dirinya sudah lenyap. Inilah batasan seorang hamba. Dalam batas ketidakmampuan hamba yang tenggelam dalam keterpesonaan "menyaksikan"-Nya saat sujud, Nabi pun berucap lirih: "Dan aku belum memuji-Mu sebagaimana Engkau selayaknya dipuji". Hanya Dia dan Dia yang mampu memuji dzat-Nya seperti yang Dia pantas dan layak untuk dipuji. Insan kamil sekalipun tidak sanggup mengekspresikan pujian dan terima kasih kepada-Nya sesempurna dzat-Nya.
Semua pujian berasal dari-Nya, dan kembali kepada-Nya. Selain itu, lenyap sudah.

Demikianlah kawan, semakin dekat kita pada-Nya semakin kita sadar betapa kita belum berterima kasih pada-Nya dengan layak. Maka saat kita angkat kepala kita dari sujud setelah membaca doa itu: apa yang kita lihat? Kemanapun kita edarkan pandangan mata kita, yang kita lihat adalah anugerah dan kasih sayang-Nya, baik terwujud dalam tindakan dan sifat-Nya maupun dalam penciptaan-Nya.
Mendekati-Nya dengan berterima kasih pada-Nya. Sesederhana seperti angin yang berhembus, tapi kandungannya lebih dalam dari samudera. Terima kasih Ya Allah..... ‪#‎kembalibersujud‬

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Monash Law School

Perempuan Suci dari Sevilla



Tulisan dari Prof Nadirsyah Hosen..

Kawan, pernah ku ceritakan padamu mengenai seorang perempuan suci dari Mesir, Sayyidah Nafisah, guru dari Imam Syafi'i. Kali ini, perkenankan aku, masih dalam keadaan berwudhu, untuk bercerita tentang seorang perempuan suci dari Sevilla (sebuah kota di Spanyol), yang merupakan guru dari al-Syekh al-Akbar Ibn Arabi (1165-1240). Ini kisah lebih dari 750 tahun yang lalu.

Namanya Nunah. Atau lengkapnya Syaikhah Nunah Fatimah binti Ibn al-Mutsanna. Lahir di Cordoba Spanyol, namun kemudian beliau pindah ke Sevilla, dan bertemu dengan Ibn Arabi yang masih remaja saat itu. Syaikhah Nunah sudah berusia 90-an tahun, namun saat Ibn Arabi menatap wajahnya, Ibn Arabi melihat pancaran sinarnya yang begitu menakjubkan. Begitulah dunia spiritual itu, yang tua sinarnya bisa menyilaukan seperti terlihat masih muda, dan yang muda aura-nya bisa terlihat seperti orang tua penuh wibawa.

Syaikhah Nunah selalu ceria meskipun ia hidup dalam kondisi serba papa. Dan ketika muridnya bertanya, gurunya menjelaskan, "Aku merasa sangat senang karena Allah swt selalu memperhatikanku. Terlebih karena Dia telah menjadikanku sebagai salah satu kekasihNya. Siapalah aku ini sampai Allah memilihku. Aku heran dengan mereka yang mengaku mencintai Allah tapi tak bisa merasa gembira dengan apapun yang Allah berikan padaNya [baik suka maupun duka]." Rasa bahagia berdekatan dengan Allah telah mengalahkan segala duka dan nestapanya.
Pada titik ini, saya teringat ungkapan sufi yang lain: "bahkan jika Allah menyodorkan racun pahit untuk aku minum, akan aku terima dengan bahagia bagaikan meminum anggur termahal". Ah....jauhhh...masih jauhhh diri ini mengikuti para kekasihNya.

Syaikhah Nunah mengingatkan muridnya bahwa Sang Kekasih itu sangat pencemburu. "Sesaat saja aku berpaling dariNya dan tak menyadari kehadiranNya maka aku akan mendapat cobaan yang sebanding dengan kelengahanku." Inilah makna dzikir yang sesungguhnya: selalu mengingat Allah dalam setiap langkah kita, dan sebagai ganjarannya Allah akan selalu menemani langkah kita. Jangan coba-coba berpaling apalagi berkhianat pada Sang Kekasih. Inilah "kontrak" mereka dengan Sang Kekasih.

Ibn Arabi menuturkan bahwa dalam munajatnya, Syaikhah Nunah mendapat penawaran dari Allah berupa kerajaanNya namun ia menjawab, "Aku hanya inginkan Engkau oh Gustiku. Hanya Engkau. Segala sesuatu selainMu hanyalah kehampaan."
Sebagai gantinya, Allah memberinya hadiah berupa surat al-Fatihah yang senantiasa melayani kebutuhannya. Kata Ibn Arabi, guruku itu "orang yang sangat penyayang terhadap semesta". Mereka yang sudah mampu mengikuti langkah Nabi Muhammad sebagai rahmat semesta alam tentu sangat layak mendapat 'hadiah' langsung dari Allah.

Ibn Arabi menyaksikan sendiri manakala seorang perempuan mengadu kepada Syaikhah Nunah bahwa ia telah ditinggalkan suaminya yang pergi ke kota lain, maka untuk menolong perempuan yang menderita itu, Syaikhah Nunah membaca surat al-Fatihah. Lalu datanglah surat al-Fatihah menjelma dan berjasad dalam bentuk seperti awan. Maka Sang Syaikhah meminta Surat al-Fatihah untuk membawa suami perempuan itu kembali ke Sevilla. Setelah peristiwa itu terdengar kabar bahwa suami perempuan itu sudah berkumpul kembali bersama keluarganya dalam waktu tiga hari. Sewaktu ditanya, suami itu kebingungan dan tidak mengerti bagaimana hatinya berubah dan kemudian memutuskan kembali ke rumahnya. Inilah salah satu karamah Syaikhah Nunah.

Pernah pula Sang Guru kehabisan minyak untuk pelita tendanya. Lalu Syaikhah Nunah menyuruh Ibn Arabi mengambil bejana berisi air. Dicelupkanlah tangan Syaikhah Nunah ke dalamnya, dan dengan ijin Allah, air pun berubah menjadi minyak.
Kawan, dari kisah ini kita bisa belajar bahwa baik lelaki maupun perempuan punya hak yang sama untuk mendekati Allah swt.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar: itu adalah keberuntungan yang besar. (QS al- Taubah:72)

Para perempuan pun ada yang derajatnya begitu dekat dengan Allah. Dan para lelaki yang paham tidak akan segan-segan belajar dari para perempuan. Ibn Arabi mendapat ilmu, pelajaran dan barakah dengan berguru dan berkhidmat pada Syaikah Nunah, seperti yang diceritakan sendiri oleh Ibn Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah dan Ruh al-Quds.
Untuk para perempuan suci yang menjadi kekasih Allah di Timur dan di Barat...al-fatihah....

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Monash Law School

Puisi Sufi KH. Mustofa Bisri, CINTAMU


CINTAMU

bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku akan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu

kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan

kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka

yang berusaha mendekatiku
seolah olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku

pulanglah ke dirimu
aku tak kemana mana

2005
A. Mustofa Bisri

Titik dan Koma dalam Kitab Suci?



Tulisan Prof. Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand

Mushaf al-Qur'an yang kita baca saat ini sebenarnya merupakan hasil inovasi (baca: "bid'ah") yang dilakukan sepeninggal Nabi. Tidak ada pengumpulan al-Qur'an pada masa Nabi dalam satu susunan mushaf. Selain dihafal, ayat al-Qur'an itu dicatat secara sporadis dalam potongan kulit atau tulang atau lainnya. Baru kemudian berturut-turut pada masa tiga khalifah pertama al-Qur'an dikodifikasi dan --singkat cerita-- jadilah Mushaf Utsmani.

Tapi bentuk penulisannya masih belum ada tanda baca. Ini menyulitkan buat orang-orang non Arab, padahal Islam sudah tersebar keluar jazirah Arab. Maka muncullah "bid'ah" berikutnya:
Khalifah Muawiyah menugaskan Abu al-Aswad Ad-du'ali untuk meletakkan tanda baca pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca. Kemudian pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ditugaskan Al Hajjaj bin Yusuf untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf ba dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memudahkan umat Islam dalam membaca Al-Qur'an.

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya "ber-inovasi" untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam dan mad. Sebagaimana mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat.
Sampai di sini pengkodifikasian dan penulisan tanda baca al-Qur'an sudah melampaui apa yang ada di masa Nabi. Tidak ada contohnya dari Nabi. Untunglah "bid'ah" semacam ini diterima oleh semua umat Islam. Kata Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Saudi Arabia, meski tidak ada dalil khusus yang memberi perintah seperti itu, namun pengkodifikasian dan pemberian tanda baca itu masuk dalam dalil umum untuk menjaga al-Qur'an. Oke deh syekh bro...ini masuk kategori bid'ah yang hasanah kali yah :)

Tapi persoalan belum selesai, karena gara-gara perbedaan tanda waqaf, bisa timbul perbedaan penafsiran yang bahkan dalam sejarah Islam berujung pada kafir mengkafirkan.
Contohnya ayat di bawah ini:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Diantara (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah ummul Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan : “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal (Q.S. Al Imran : 7)

Kelompok salaf berhenti sejenak membaca potongan ayat ini 
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ
"tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah"
sedangkan lafazh berikutnya dianggap merupakan permulaan kalimat baru. Sehingga menurut golongan ini, ayat mutasyabihat diserahkan saja maksudnya kepada Allah Ta’ala, tanpa ditakwil maknanya.
Sedangkan ulama Khalaf meneruskan membacanya 
dengan lafazh selanjutnya:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
“Tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya”.
Gara-gara bahasa Arab klasik tidak mengenal titik dan koma, maka tidak jelas penggalan ayat di atas dibacanya sampai mana. Maka persoalan boleh tidak kita menakwil ayat mutasyabihat menjadi persoalan klasik yang tak pernah usai.

Saya membayangkan kalau sekarang ada yang berani mengusulkan untuk menambah titik, koma, tanda seru atau tanda tanya dalam al-Qur'an pasti langsung dianggap ahlul bid'ah, kafir, JIL, syi'ah, sekuler, dan lain sebagainya, padahal tanda baca yang sekarang di jaman Nabi juga gak ada kan 
Yo wis...gak usah usul macem-macem, kita ngaji aja deh..daripada benjol kena fentung.

tambahan penjelasan:
karena ada beberapa komentator yang gagal paham, disangkanya saya yang berpendapat sendiri soal perdebatan cara membaca QS 3:7 di atas, maka ini saya tampilkan rujukan dari tiga kitab tafsir yang menerangkan bahwa ini semua perdebatan klasik dimana para sahabat Nabi pun berbeda pandangan soal ini. Jadi jangan disangka saya yang motong-motong sendiri cara baca ayatnya smile emotikon
Tafsir al-Baghawi
قوله تعالى: { وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلْعِلْمِ } اختلف العلماء في نظم هذه الآية فقال قوم: الواو في قوله والراسخون واو العطف يعني: أن تأويل المتشابه يعلمه الله ويعلمه الراسخون في العلم وهم مع علمهم { يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ } وهذا قول مجاهد والربيع، وعلى هذا يكون قوله: «يقولون» حالا معناه: والراسخون في العلم قائلين آمنا به، هذا كقوله تعالى:
{ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَى }
[الحشر: 7] ثم قال:
{ لِلْفُقَرَآءِ الْمُهَـٰجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُواْ مِن دِيَـٰرِهِمْ }
[الحشر: 8] إلى أن قال:
{ وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُوا ٱلدَّارَ وَٱلإِيمَـٰنَ مِن قَبْلِهِمْ }
[الحشر: 9] ثم قال:
{ وَٱلَّذِينَ جَآءُوا مِن بَعْدِهِمْ }
[الحشر: 10] وهذا عطف على ما سبق، ثم قال:
{ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا }
[الحشر: 10] يعني هم مع استحقاقهم الفيء يقولون ربنا اغفر لنا، أي قائلين على الحال. وروي عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه كان يقول في هذه الآية: أنا من الراسخين في العلم، وروي عن مجاهد: أنا ممن يعلم تأويله. وذهب الأكثرون إلى أن الواو في قوله «والراسخون» واو الاستئناف، وتم الكلام عند قوله: { وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ } وهو قول أبي بن كعب وعائشة وعروة بن الزبير رضي الله عنهم ورواية طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما، وبه قال الحسن وأكثر التابعين واختاره الكسائي والفراء والأخفش،
Tafsir al Manar
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ إِنَّ قَوْلَهُ: وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ كَلَامٌ مُسْتَأْنِفٌ، وَبَعْضُهُمْ: أَنَّهُ مَعْطُوفٌ عَلَى لَفْظِ الْجَلَالَةِ.
قَالَ الْأُسْتَاذُ الْإِمَامُ: اسْتَدَلَّ الَّذِينَ قَالُوا بِالْوَقْفِ عِنْدَ لَفْظِ الْجَلَالَةِ وَبِكَوْنِ مَا بَعْدَهُ اسْتِئْنَافًا بِأَدِلَّةٍ (مِنْهَا) أَنَّ اللهَ - تَعَالَى - ذَمَّ الدِّينِ يَتَّبِعُونَ تَأْوِيلَهُ وَ (مِنْهَا) قَوْلُهُ: يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا فَإِنَّ ظَاهِرَ الْآيَةِ التَّسْلِيمُ الْمَحْضُ لِلَّهِ تَعَالَى، وَمَنْ عَرَفَ الشَّيْءَ وَفَهِمَهُ لَا يُعَبِّرُ عَنْهُ بِمَا يَدُلُّ عَلَى التَّسْلِيمِ الْمَحْضِ وَهَذَا رَأْيُ كَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ - كَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَعَائِشَةَ، وَذَهَبَ ابْنُ
عَبَّاسٍ وَجُمْهُورٌ مِنَ الصَّحَابَةِ إِلَى الْقَوْلِ الثَّانِي. كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ: " أَنَا مِنَ الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ أَنَا أَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ "
Tafsir al-Maraghi
(وَما يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ، وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا) للعلماء في تفسير هذه الآية رأيان:
(١) رأى بعض السلف وهو الوقوف على لفظ الجلالة، وجعل قوله: والراسخون فى العلم كلام مستأنف، وعلى هذا فالمتشابه لا يعلم تأويله إلا الله، واستدلوا على ذلك بأمور منها:
(ا) أن الله ذم الذين يتبعون تأويله.
(ب) أن قوله (يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا) ظاهر في التسليم المحض لله تعالى ومن عرف الشيء وفهمه لا يعبر عنه بما يدل على التسليم المحض.
وهذا رأى كثير من الصحابة رضوان الله عليهم كأبىّ بن كعب وعائشة.
(٢) ويرى بعض آخرون الوقف على لفظ (العلم) ويجعل قوله: (يَقُولُونَ آمَنَّا) كلام مستأنف، وعلى هذا فالمتشابه يعلمه الراسخون- وإلى ذلك ذهب ابن عباس وجمهرة من الصحابة، وكان ابن عباس يقول: أنا من الراسخين في العلم، أنا أعلم تأويله.
وردّوا على أدلة الأولين بأن الله تعالى إنما ذم الذين يبتغون التأويل بذهابهم فيه إلى ما يخالف المحكمات يبتغون بذلك الفتنة، والراسخون في العلم ليسوا كذلك فإنهم أهل اليقين الثابت الذي لا اضطراب فيه، فالله يفيض عليهم فهم المتشابه بما ينفق مع فهم المحكم، وبأن قولهم (آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا) لا ينافى العلم، فإنهم لرسوخهم فى العلم ووقوفهم على حق اليقين لا يضطربون، بل يؤمنون بهذا وذاك لأن كلا منهما من عند الله وليس في هذا من عجب، فإن الجاهل في اضطراب دائم، والراسخ في العلم ثابت العقيدة لا تشتبه عليه المسالك

Tafsir QS al-Nisa ayat 64: Bertawasul Kepada Nabi

Tulisan dari Kyai Prof. Nadirsyah Hosen - Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand...



“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas telah dijadikan dasar bagi ulama ahlus sunnah wal jama’ah untuk bertawasul di makam Nabi Muhammad SAW. Para pendosa yang berziarah ke makam Nabi mengaplikasikan potongan ayat di atas sebagai bagian dari keyakinan mereka akan kebenaran wahyu ilahi dan ketaatan mereka kepada Nabi. Kalau dulu Nabi masih hidup, para sahabat mendatangi Nabi, maka kini para penziarah mendatangi makam beliau SAW. Doa Nabi itu makbul, maka sesiapa yang didoakan Nabi pasti manjur. Maka kalau Rasul memintakan ampunan Allah untuk kita, maka yakinlah Allah akan mengampuni kita seperti bunyi ayat di atas.
Berikut penjelasan yang saya sarikan dari berbagai kitab.
Tafsir Ibn Katsir:
وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه "الشامل" الحكاية المشهورة عن
العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا رسول الله، سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول:
يا خيرَ من دُفنَت بالقاع أعظُمُه ... فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ ...
نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه ... فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ ...
ثم انصرف الأعرابي فغلبتني عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ الأعرابيّ فبشره أن الله قد غفر له
Disebukan oleh banyak orang, diantaranya Syekh Abu Nasr al-Sabagh dalam kitabnya al-Syamil, sebuah kisah yang masyhur berikut ini: Syekh Uthbi sedang berada di sisi makam Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah Arab Badui dan berkata: ”Assalaamualaika ya Rasulallah, aku telah mendengar ayat allah (lalu dibacakan QS al-Nisa: 64 di atas), maka sekarang aku datang ke hadapanmu berharap agar dosaku diampuni, aku mohon syafaatmu ke hadirat Tuhanku.

Kemudian Arab Badui ini mengucapkan syair: “Wahai sebaik-baik orang yg dimakamkan di lembah ini lagi paling agung, telah menjadi harum semua lembah dan pegunungan ini berkat keharumanmu, ingin aku tebus diriku dihadapan qubur yang didalamnya penuh kebaikan, kedermawanan, dan kemurahan ini.” Setelah itu berlalulah orang tersebut.

Berikutnya, saat aku (Syekh Uthbi) tidur, tiba-tiba aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, dan beliau bersabda: “Hai Uthbi, orang tadi itu betul, beritahulah dia, bahwa Allah SWT telah mengampuninya.”
Kisah di atas juga disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kedua kitab beliau yaitu al-Majmu’ (Juz 8, halaman 217) dan al-Idhah (halaman 498). Imam al-Mawardi dalam kitabnya al-Hawi al-Kabir (juz 4 hal 214-215) mencantumkan kisah yang sama. Begitu pula dengan Imam al-Qarafi dalam al-Dzakhirah (juz 3 hal 275-276).

Imam Ibn Qudamah juga mencatumkan riwayat ini dalam kitab al-Mughni. Bahkan beliau mengajarkan tata cara memohon ampunan kepada Allah saat berziarah ke makam Nabi sesuai QS al-Nisa ayat 64. Setelah membaca shalawat, maka kita dianjurkan membaca:
اللَّهُمَّ إنَّك قُلْت وَقَوْلُك الْحَقُّ : { وَلَوْ أَنَّهُمْ إذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } .
وَقَدْ أَتَيْتُك مُسْتَغْفِرًا مِنْ ذُنُوبِي ، مُسْتَشْفِعًا بِك إلَى رَبِّي ، فَأَسْأَلُك يَا رَبِّ أَنْ تُوجِبَ لِي الْمَغْفِرَةَ ، كَمَا أَوْجَبْتهَا لِمَنْ أَتَاهُ فِي
حَيَاتِهِ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ أَوَّلَ الشَّافِعِينَ ، وَأَنْجَحَ السَّائِلِينَ ، وَأَكْرَمَ الْآخَرِينَ وَالْأَوَّلِينَ ، بِرَحْمَتِك يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ .
(al-Mughni juz 7, hal 420)

Ulama modern yang mengutip riwayat dari Ibn Katsir itu diantaranya Sayyid Thantawi dalam kitab Tafsirnya (juz 1, hal 985). Semasa hidupnya beliau adalah Grand Syekh al-Azhar.
Ada riwayat yang senada yang dicantumkan oleh Tafsir al-Qurtubi (juz 5 hal 266) ketika menjelaskan QS al-Nisa ayat 64:
رَوَى أَبُو صَادِقٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَدِمَ علينا أعرابي بعد ما دَفَنَّا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَرَمَى بِنَفْسِهِ عَلَى قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَثَا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ تُرَابِهِ، فَقَالَ: قُلْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَمِعْنَا قَوْلَكَ، وَوَعَيْتَ عَنِ اللَّهِ فَوَعَيْنَا عَنْكَ، وَكَانَ فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ (وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ) الْآيَةَ، وَقَدْ ظَلَمْتُ نفسي وجئتك تَسْتَغْفِرُ لِي. فَنُودِيَ مِنَ الْقَبْرِ إِنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَكَ
Abu Shadiq meriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib: Setelah tiga hari dimakamkannya Rasulullah SAW, datanglah seorang Arab Badui. Dia menjatuhkan dirinya ke makam sambil menyiramkan debunya ke kepalanya. Kemudian dia berucap: “Engkau telah katakan kepada kami, Ya Rasulallah, dan kami mendengarkan ucapkanmu itu, engkau telah mendapat penjelasan dari Allah SWT, dan kami mendapatkannya darimu, bahwa ada ayat Allah kepadamu yang berbunyi --Badui ini kemudian membacakan QS al-Nisa ayat 64, lantas mengucapkan: “Sungguh aku mengakui telah berbuat zalim kepada diriku sendiri, dan sekarang aku datang kepadamu agar engkau berkenan memintakan ampunan Allah untukku. Tiba-tiba dari makam terdengar suara: “sesungguhnya kau telah diampuni.”
Kisah di atas juga tercantum dalam Tafsir al-Nasafi (Juz 1 hal 236) dan Tafsir al-Bahr al-Muhit karya Abu Hayyan Al-Andalusi (juz 4 hal 180). Sanad yang lebih lengkap dicantumkan dalam Kanzul Umal (Juz 2 hal 386 dan Juz 4 hal 259).

Berdasarkan sejumlah rujukan di atas itulah kita mengetahui Habib Abdullah al-Haddad (shahibur ratib) menuliskan syair yang begitu menyentuh dan sampai sekarang dilantunkan oleh para santri di seluruh dunia:
“Ya sayyidi ya Rasulallah. Ya man lahul jaah indallah. Innal musii’ina qad jauk. lidz dzanbi yastaghfirunallah,”
(Wahai pemimpinku Wahai utusan Allah. Wahai orang yang punya kedudukan khusus di sisi Allah. Sungguh orang yang berdosa ini telah datang kepadamu. Berharap kepada Allah SWT agar diampuni dosanya).

Syekh ‘Uthbi, Ibn Katsir, Imam Nawawi, Imam al-Mawardi, Ibn Qudamah, Imam al-Qurtubi, Imam al-Qarafi, Sayyid Thantawi, Imam al-Nasafi, Abu Hayyan, Habib al-Haddad dan masih banyak lagi ulama ahlus Sunnah wal jama’ah yang percaya bahwa baik masih hidup ataupun saat beliau SAW sudah wafat, kalau kita datang menemui beliau dan meminta tolong agar beliau SAW memohonkan ampunan kepada kita, maka Allah sesuai dengan janjiNya pada surat al-Nisa ayat 64 akan mengampuni kita.

Kalau anda pernah berkesempatan belajar di pondok, madrasah atau perguruan tinggi Islam, anda pasti tahu kualitas para ulama yang saya sebutkan di atas lengkap dengan judul kitab dan halamannya. Mereka jelas bukan orang sembarangan. Tidak mungkin mereka mau melanggar Qur'an dan Hadis atau mencantumkan cerita dusta soal ini. Kalau kita mau lihat latar belakang mazhab para ulama di atas juga komplit: Imam Nawawi dari mazhab Syafi'i, Imam al-Qarafi dari mazhab Maliki, Imam Ibn Qudamah dari mazhab Hanbali, Imam al-Nasafi dari mazhab Hanafi dan Abu Hayyan dari mazhab Zhahiri. Semuanya berpendapat yang sama. Hanya ada satu aliran yang tidak sepakat. Apa alirannya?

Ya, seperti yang sudah bisa ditebak, lantas datanglah Syekh al-Albani yang menolak semua riwayat di atas. Beliau menganggap sanadnya dhaif dan perawinya tidak dikenal, serta kandungan kisahnya bertentangan dengan aqidah Wahabi sehingga yang melakukannya masuk ke dalam perbuatan syirik. Maka dimata tokoh Wahabi ini, para ulama yang sudah disebutkan di atas dianggap salah semua. Masak percaya dengan kisah yang tidak jelas? Masak percaya dengan mimpi? Rasul sudah wafat dan sudah tidak bisa memberikan manfaat apapun. Begitu sanggahan Wahabi.

Ya enggak apa-apa…kita masing-masing menempuh jalan yang berbeda saja. Cinta kepada Rasul ini termasuk perkara yang ajaib dan ghaib. Saya meyakini bahwa andaikan saja para ulama kekasih Allah diijinkan menuliskan apa yang mereka alami saat berziarah ke makam Rasul, kita akan tahu bahwa cinta kepada Rasul telah menembus batas-batas riwayat.

Saya tutup catatan ini dengan mengutip syair burdah yang begitu menggetarkan hati:
Ya Rabbi bil Mushtafa balligh maqasidana, waghfirlana ma madha, Ya Wasi’a Karami.

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia – New Zealand

Nabi Muhammad SAW Bagaikan Batu Bata Terakhir



Nabi Muhammad mengajarkan kita akhlak yang mulia, salah satunya berupa kerendahan hati.  Dalam Shahih Bukhari (Hadis Nomor 3271) diriwayatkan Nabi bersabda:

"Perumpamaanku dan para Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum sambil berkata; 'Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini". Beliau bersabda: "Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para Nabi".

(catatan: dalam redaksi Shahih Muslim, Hadis Nomor 4240 "Maka akulah yang meletakkan atau memasang bata itu, aku datang sebagai Nabi terakhir.") 

Sebagian ulama menjadikan Hadis ini sebagai dalil bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Saya menyetujuinya. Namun saya memahami ilustrasi yang Nabi berikan lebih dalam lagi. Sebagai Sayyidul Anbiya wal Mursalin, Nabi tidak menepuk dada dan menganggap dirinya lebih mulia dari para Nabi sebelum beliau. Beliau menganggap diri beliau tak ubahnya sebagai batu bata terakhir dalam sebuah rumah. Indah nian metafor yang Nabi gunakan.

Pertama, beliau tidak bilang bahwa beliaulah pondasi atau atap rumah itu untuk mengggambarkan pentingnya peranan beliau. Beliau hanya bagian kecil dari rumah yang sudah jadi. Tanpa ada batu bata terakhir rumah tetap berfungsi hanya saja kurang sempurna. Kehadiran beliau tidak lain menyempurnakan bangunan rumah yang sudah ada.

Kedua,  beliau SAW tidak membuat rumah baru. Lewat metafor tersebut seolah hendak menegaskan ajaran yang beliau terima bukan untuk menegasikan ajaran Nabi sebelumnya; tapi justru membuat 'rumah' terasa lebih indah. 

Ketiga, batu bata tidak ada artinya tanpa tumpukan batu bata sebelumnya. Para Nabi yang lain telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi peradaban umat manusia. Nabi Muhammad hadir untuk melengkapi sumbangsih tersebut.

Keempat, Nabi Muhammad dan para Nabi sebelumnya seakan hidup bersama dalam rumah tersebut. Begitu juga umat pengikut para Nabi. Kita semua berada dalam rumah bersama. Untuk apa para Nabi membangun rumah kalau tidak untuk kita diami bersama-sama? Para Nabi tidak membangun rumah sendiri-sendiri. Ada pesan kerukunan yang kuat di sini. 

Meskipun Nabi Muhammad telah meng-imami para Rasul dalam peristiwa Isra Mi'raj di bulan Rajab ini namun beliau tidak pernah mau dianggap lebih dari para Nabi sebelumnya. Inilah akhlak manusia teragung. 

Dalam riwayat lain (Shahih Bukhari Hadis Nomor 3156) ada seorang Muslim yang bertengkar dengan Yahudi dimana masing-masing membanggakan Nabinya. Maka Rasul bersabda:

"Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa karena nanti saat seluruh manusia dimatikan dan akulah orang yang pertama kali dibangkitkan (dihidupkan) namun saat itu aku melihat Musa sedang berpegangan sangat kuat di sisi 'Arsy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dimatikan lalu bangkit lebih dahulu daripadaku, atau dia termasuk diantara orang-orang yang dikecualikan (tidak dimatikan)".

Meski Rasulullah telah Allah lebihkan dari para Nabi yang lain, namun sikap rendah hati beliau tidak mau dianggap lebih dari para Nabi yang lain. 

Kawan,
Mari kita jaga dan rawat rumah bersama yang telah dibangun dan dibina oleh para Nabi. Mari kita tempatkan diri kita seperti batu bata terakhir, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Shallu 'alan Nabi...  

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Tuhan pun Mau diajak Bernegosiasi: Hikmah Isra Mi'raj



Dua sifat Allah yang saling berkaitan erat: jamaliyah dan jalaliyah. Allah yang Maha Pengampun dan Penyayang serta Maha Lemah Lembut adalah cerminan sifat Jamaliyah; sedangkan Allah yang Maha Besar, Maka Kuat, Maha Kuasa merupakan contoh sifat Jalaliyah. 

Melalui sifat Jamaliyah ini Allah berkenan berdialog bahkan bernegosiasi dengan makhluk ciptaanNya. Jadi kalau ada hambaNya yang keras kepala, tidak mau kompromi dan tidak bisa diajak bernegosiasi sedikitpun maka orang tersebut perlu belajar melembutkan hatinya dengan menyimak kisah Isra-Mi'raj.

Dalam peristiwa Mi'raj, Anas bin Malik menyebutkan, "Nabi SAW bersabda: "Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? 'Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. 

Tapi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu!' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabbku'.

(Shahih Bukhari, Hadis Nomor 336 dan 3094; Shahih Muslim, Hadis Nomor 237)

Para ulama terpesona membaca kisah di atas: bagaimana mungkin sebuah perintah Allah, belum dilaksanakan pun, sudah bisa dinegosiasi? Ini semua tidak mungkin terjadi kalau Allah tidak menampakkan belas-kasihanNya kepada umat Muhammad SAW. Nabi Musa, berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, terus meminta Nabi Muhammad kembali menghadap Allah untuk bernegosiasi, sampai Nabi sendiri akhirnya merasa malu untuk kembali. 

Bercermin dari sikap Nabi, ya begitulah salah satu adab para salik: Allah terus menawarkan rahmatNya sampai para salik sendiri menjadi malu dan merasa cukup. Ya Rabb, rahmatMu terus mengalir ke bumi, padahal dosa-dosa kami terus naik ke langit. Engkaulah Rabb yang kasih sayangMu melebihi murkaMu. Astaghfirullah...

Kalau kisah di atas belum juga mampu meruntuhkan tembok ego diri kita yang ngeyel dan ngotot untuk tidak mau berkompromi soal pelaksanaan Syariat, maka tengoklah kisah Nabi Ayub yang kelepasan bersumpah mencambuk istrinya seratus kali. Nabi Ayub kemudian menyesal seraya teringat kembali bakti sang istri. Beliau kebingungan karena sumpah harus dilaksanakan.  

Tafsir Ibn Katsir menceritakan bagaimana Allah memberikan petunjuk melalui wahyu-Nya yang menganjurkan kepada Nabi Ayub  untuk mengambil lidi sebanyak seratus buah yang semuanya diikat dijadikan satu, lalu dipukulkan 100 lidi kepada istrinya sekali pukul. Dengan demikian, berarti Ayub telah memenuhi sumpahnya dan tidak melanggarnya serta menunaikan nazarnya itu. 

Hal ini adalah merupa­kan jalan keluar yang Allah berikan: ketimbang seratus kali mendera, maka cukup seratus lidi digabung jadi satu dan dipukulkan sekali. Luar biasa, bukan? Allah 'mengajari' Nabi Ayub untuk 'mengakali' sumpahnya tanpa harus melanggar esensi sumpah. Allah mengajari Nabi Ayub akan maqashid al-syari'ah.

(Catatan: sebelum ada yang kebakaran jenggot dan menuduh Ibn Katsir dan saya sebagai liberal atau syi'ah, saya persilakan untuk membaca kisah Nabi Ayub di atas dalam QS Shad:44). 

Begitulah....Allah pun begitu lentur, fleksibel, dan negotiable terhadap aturanNya. Syariat sebagai cerminan sifat Jalaliyah Allah, memang harus digandeng dengan Tasawuf sebagai perwujudan sifat Jamaliyah Allah. Kalau Allah saja mau berkompromi dan bernegosiasi, masihkah hati anda keras seperti batu? Lantas bagaimana kita mau mi'raj kalau terus kita bawa kekerasan hati ini? 

Ya Lathif, Ulthuf bina....

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Ketika Ibnu Arabi ditegur Nabi Khidr AS



Ibn Arabi yang dijuluki syekh terbesar dalam dunia tasawuf mengaku tiga kali ditemui oleh Nabi Khidr. Ijinkan saya untuk menceritakan ulang pertemuan pertama Ibn Arabi, yang digelari Doctor Maximus (Doktor terhebat) di Eropa pada abad pertengahan, dengan Nabi Khidr, yang dalam al-Qur'an dikisahkan menjadi gurunya Nabi Musa.

Ibn Arabi saat itu masih nyantri pada gurunya Syekh 'Uryabi di Sevilla, Spanyol. Syekh 'Uryabi menceritakan kepada Ibn Arabi bahwa ia bertemu Rasul dalam mimpi. Rasul kemudian mengungkapkan rahasia mengenai satu tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi. Ibn Arabi sebenarnya tidak mengenal langsung tokoh yang dianggap tinggi maqamnya tersebut, namun ia mengenal salah satu saudara tokoh itu. 

Ibn Arabi menyatakan ketidakpercayaannya dengan cerita Syekh 'Uryabi. Berdasarkan penglihatannya terhadap saudara tokoh tersebut, Ibn Arabi merasa heran dan kemudian tidak percaya kalau Rasul menyatakan kedudukan tokoh itu. Bantahan Ibn Arabi melukai hati sang guru. 

Bagaimanapun ini peristiwa ghaib dimana Rasul sendiri yang membuka rahasia kedudukan tokoh itu. Ibn Arabi tidak patut membantah info spiritual itu hanya berdasarkan apa yang dia ketahui terhadap saudara tokoh itu, bukan kenal dengan tokoh itu langsung. Mungkin saat itu sebagai santri terbersit di hati Ibn Arabi bahwa tokoh itu tidak layak mendapatkan kedudukan timggi di sisi Allah, tapi siapa sebenarnya yang berhak menilai hal itu? Hanya Allah dan RasulNya yang tahu. Membantah info spiritual semacam itu tentu kurang elok hanya berdasarkan prasangka dan dugaan. Lagipula apa ruginya kita sih kalau si A atau B dan C ternyata memiliki maqam yang lebih tinggi.

Syekh 'Uryabi yang terluka hatinya dibantah oleh santrinya memilih untuk tidak berdebat. Beliau hanya berkata lirih, "baiklah, jika itu pandanganmu tentang orang yang disebutkan Rasul itu". Suasana menjadi tidak enak. Ibn Arabi menyesal telah lancang membantah sang guru yang sebenarnya telah menaruh kepercayaan padanya dengan bersedia menceritakan mimpi yang spesial itu. Apalagi mimpi itu bukan tentang sang guru tapi tentang orang lain, dan gurunya sama sekali tidak diuntungkan apapun dengan mimpi yang diceritakan itu. 

Ibn Arabi kemudian pamit karena sudah tidak enak hati melihat perubahan di wajah gurunya. Ibn Arabi meninggalkan kediaman gurunya, tiba-tiba di jalan beliau disapa seseorang yang tidak dikenal. Dengan tersenyum lembut, orang tersebut berkata: "Terimalah apa yang diucapkan gurumu, jangan membantahnya, karena apa yang disampaikannya itu benar".  Ibn Arabi kaget mendengar ucapan orang yang tidak dikenal itu. Bagaimana orang itu bisa tahu kejadian yang baru terjadi antara Ibn Arabi dan Syekh 'Uryabi padahal itu hanya dialog mereka berdua. 

Mendengar ucapan orang tidak dikenal itu, Ibn Arabi segera balik badan kembali ke kediaman gurunya dan ingin meminta maaf pada gurunya karena sebetulnya hatinya memang sudah tidak enak dengan peristiwa sebelumnya. Begitu ia membuka pintu kediaman gurunya, Syekh 'Uryabi langsung berkata pada Ibn Arabi: "Haruskah setiap engkau membantahku aku meminta Nabi Khidr datang menegurmu untuk kemudian engkau baru percaya dengan apa yang aku sampaikan?"

Ibn Arabi terkejut. Bagaimana mungkin gurunya tahu bahwa ia kembali karena telah ditegur seseorang. Dan benarkah yang menegurnya itu Nabi Khidr? Dengan tercekat Ibn Arabi bertanya pelan: "jadi orang di luar tadi itu Nabi Khidr?" Gurunya mengangguk. Dan Ibn Arabi pun luluh lantak di depan sang guru seraya meminta maaf.

Ya Rahman, irham dha'fana
Oh Yang Maha Pengasih, kasihilah kelemahan kami 

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Sumber FP Nadiryah Hosen, admin tidak bisa link karena sepertinya di privacy

Rahasia Allah SWT Mengirimkan Waliyullah Nylenneh (Madjdzub)



Habib Ahmad bin Hasan al-Athas berkisah dalam sebuah kitab, bahwa semua habib terkemuka di Yaman saat ini pasti murid dari muridnya Habib Ahmad bin Hasan, termasuk Habib Umar bin Hafidz, Habib Abu Bakar al-Adni, Habib Salim asy-Syathiri.

Alkisah, ada seorang wali madjdzub (nyeleneh) yang mempunyai rental kendaraan (keledai) khusus perempuan. Anehnya setiap penumpang perempuannya sampai tujuan ia menciumnya. Konon semua perempuan yang pernah diciumnya kelak tidak pernah berzina seumur hidupnya.
Singkat cerita ada seorang ulama (baca; wali syariat) yang mengingkarinya. Ia menarik wali majdzub ke masjid, menghajarnya habis-habisan. Tiba-tiba ilmu wali syariat itu hilang. Keduanya lalu melapor pada Syaikh Ali al-Khawas. Syaikh Ali al-Khawas kemudian yang memintakan maaf pada wali majdzub, dan kembalilah ilmu sang wali syariat.

Jika Anda sangsi dengan kisah ini mari kita buka kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam al-Quran. Nabi Musa menghadapi kaum yang nakal, bayangkan saat Nabi Musa mandi pakaiannya mereka curi. Barangkali karena itu syariat Nabi Musa salah satu syariat paling tegas. Anda tahu hukuman penyembah patung sapi Musa Samiri? Dihukum dengan saling membunuh satu sama lain. Ketegasan hukum Nabi Musa bisa dijumpai dalam Perjanjian Lama: 10 perintah Tuhan (10 of God's Commandment).

Allah mempertemukan Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Selama kebersamaan keduanya, Nabi Khidir melanggar 3 dari 10 perintah Tuhan itu; membunuh anak kecil, merusak perahu dan meruntuhkan dinding milik orang lain (membangun dinding tanpa imbalan padahal sangat butuh, red.). Melalui Khidir Allah memperlihatkan pada Nabi Musa bahwa ada dimensi lain dalam syariatNya selain hukum.

Mahaguru al-Habib M. Luthfi bin Yahya mengatakan, bahwa wali majdzub, Nabi Khidir, -selanjutnya kita mungkin bisa menyebut Gus Mik dll. yang ada dalam setiap generasi- untuk menjaga keseimbangan agar syariat tidak berubah menjadi hukum yang rigid dan mengekang. Ketika Islam diaplikasi hanya sebagai fikih, maka Allah mengutus wali-waliNya yang kadang nyeleneh untuk menjaga keseimbangan antara Islam dan Ihsan.

Saat ini makin banyak orang yang berambisi memformalkan syariat, bahkan atas nama amar ma'ruf nahi munkar, menjadi hakim antara satu dan lainnya di masyarakat. Mereka mendistorsi banyak unsur dari Islam, menafikan bahkan mengingkari, seolah-olah Islam (al-Quran dan as-Sunnah) melulu soal jilbab, jenggot, celana dengan segala rigiditas yang miskin dan kering pengalaman spiritual. 

(Oleh: Ust. Ahmad Tsauri via fanspage IlmuTasawuf.com).

11 Apr 2016

Kisah Teladan Dari Abdul Wahab, Duta Santri NU di Papua

Berikut ada Kisah Teladan penulis temukan dan sempet heboh di beranda FB, mari disimak, saya copas dari FB beliau..
------




Sekedar cerita, smoga tidak ada lagi yang menuduh saya Libral, Kapir , bahkan sampe dituduh menghina Agama Islam dll. Walaupun saya sendiri sebenarnya tidak masalah dengan lebel" itu. Saya udah kenyang juga dengan tuduhan macam itu.

Sabtu (9/04/2016 ).Seperti biasa , setiap pagi saya menghabiskan waktu di dapur pesantren Pon Pes Al Payage Angkasapua Papua untuk menyiapkan sarapan buat anak anak papua yang mondok di sini.
Pagi tadi pas saya sedang berjalan di samping dapur, saya melihat ada seekor anjing yang mondar mandir di depan pesantren dengan penuh luka dan seperti sangat kelaparan.

saya kemudian langsung membawa anjing itu kedalam Pondok untuk melihat luka yang di derita anjing tersebut dan langsung memberinya makan. Saya juga sempat menyuapi makan anjing itu. karna saya lihat untuk sekedar menundukan kepalanya anjing tersebut kesusakan karna ada bebrapa luka di skitar leher.

saya melakukan hal itu karna yang saya tahu dari apa yang saya pelajari dari para Ulama " Islam mengajarkan kepada setiap umatnya agar selalu berbuat baik, baik itu terhadap sesama manusia bahkan hewan sekalipun, termasuk kepada anjing yang sperti kita ketahui sebagai hewan yang najis.
Walaupun Anjing itu najis, bagi saya bukanlah sebuah maslah. sudah jelas para ulama" dalam kitab fikih sudah menyediakan sebuah solusi untuk membersihkan sesuatu yang terkena najisnya anjing, baik dalam kitab Safinah Fathul bari dll.

Kalangan syafi’iyyah dan Hanabilah menilai anjing tergolong najis mugholladzoh (najis yang berat) yang mengakibatkan najis tidak hanya sebatas air liurnya saja tapi mencakup juga keringatnya dan setiap anggota tubuhnya

Dalam kitab safinah di jelaskan
(فصل) النجاسة ثلاثه : مغلظة ومخففة ومتوسطة . المغلظة : نجاسة الكلب والخنزير وفرع أحدهما . والمخففة : بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين. والمتوسطة : سائر النجاسات.
Najis terbagi menjadi tiga, yaitu :
Najis berat , dan najis ringan ,dan najis sedang .
Najis berat yaitu najis anjing dan babi dan anak-anak dari salah satu keduanya .
Dan najis ringan yaitu kencing anak kecil yang tidak makan selain air susu dan belum sampai umurnya 2 tahun .
Dan najis sedang yaitu semua najis .

Dari ketrangan di atas kita ketahui bersama bahwa najis anjing termasuk najis yang Mugholadzoh.
Tapi setelah menjelaskan bebrapa macam najis dalam kitab safinah di lanjutkan lagi bab solusi untuk memberaihkan najis.

(فصل ) المغلظة : تطهر بسبع غسلات بعد إزالة عينها ،إحداهن بتراب . والمخففة : تطهر برش الماء عليها مع الغلبة وإزالة عينها .
Najis Mughollazhoh atau berat suci ia dengan membasuhnya 7 kali sesudah menghilangkan dzatnya salah satunya dengan tanah . Dan najis Mukhoffafah atau ringan suci ia dengan memercikkan air diatasnya serta rata dan sudah hilang dzatnya

Dan najis Mutawassithoh atau najis sedang terbagi kepada 2 bagian : ‘Ainiyyah dan Hukmiyyah . Adapun ‘ainiyyah yaitu sesuatu yg baginya ada warna dan bau dan rasa maka tidak boleh tidak dari menghilangkan warnanya dan baunya dan rasanya .
Dan najis hukmiyyah yaitu yg tidak ada warna dan tidak ada bau dan tidak ada rasa maka cukup mengalirkan air diatasnya .

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Cara Penyucian Pada Tiga Macam Najis
Cara mencuci Najis Mughalladah adalah membasuh dan mensucikannya dengan tujuh kali basuhan atau sucian, setelah hilangnya bekas najis tersebut. Salah satu dari tujuh sucian tersebut harus dibarengi dengan debu. Sebab ada hadits nabi yang menyatakan bahwa, “basuhan terakhir dari tujuh basuhan harus dicampur dengan debu”; dan hadits yang lain menyatakan bahwa “basuhan pertama dari ketujuh basuhan harus dicampur dengan debu”. Jadi mencampur debu bebas baik di awal atau di akhir basuhan.

Yang dimaksud dengan debu adalah endut atau tanah yang tercampur dengan air sehingga lembab atau pun debu yang berupa pasir lembut yang kering. Sehingga tidak bisa dianggap mensucikan najis mughalladhah dengan sabun, kayu atau yang lainnya.

Najis Mukhaffafah (ringan) dengan memercikkan air pada najis, dan diperkirakan bahwa najisnya dapat dihilangkan. Meskipun memercikkan airnya tanpa dilakukan oleh seseorang atau dengan air hujan yang menetes dari langit dan menetesi tempat atau sesuatu yang najis, maka dianggap cukup sebagai pembasuhan pada najis mukhaffafah (ringan).

Najis Mutawasitah (pertengahan) ada dua, yaitu najis ‘ayniyah dan najis hukmiyah.
Najis ‘ayniyah adalah najis yang memiliki bentuk atau warna, bau, dan rasa. Disebuat dengan najis ‘ayniyah, sebab najisnya dapat ditangkap oleh panca indera. Cara penyuciannya harus secara total menghilangkan baik bentuk atau warna, bau dan rasanya.

Jika warna atau baunya susah dihilangkan setelah dibasuh berkali-kali, maka sudah dianggap cukup dan benda atau tempat yang terkena najis sudah bisa dianggap suci. Batasanya susah menghilangkan najis adalah dengan membasih tiga kali akan tetapi tidak dapat hilang bentuk atau baunya, maka sudah dianggap cukup atau suci. Sedangkan jika rasa najis susah dihilangkan maka benda atau tempat yang terkena najis bisa dikatakan najis yang ma’fu ‘anhu (dimaafkan).

Sedangkan Najis Hukmiyah adalah najis yang tidak memiliki bentuk, bau dan rasa. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda atau tempat yang terkena najis.
Itulah keindahan Islam, selalu ada solusi dalam setiap permaslahan, pun dengan apa yang saya alami pagi tadi, stelah mengbati dan mengasih makan anjing tersebut, saya langsung bersuci sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh ulama di atas.
Lebih ajibnya lagi di kitab safinah juga di terangkan bahwa Anjing yang tidak galak termasuk hewan yang di muliakan.

Saya sangat juga sangat takjub dengan Imam Nawawi AlBantani saat mensyarahi bab ini dalam kitab Syarhu Kaasyifatus Saja ’alaa Safiinatin Najaa Fii Ushuuulidn pada halaman 42, dlm fasal mengenai najis.

Beliau berkata
فى الكلب عشر خصال محمودة ينبغى للمؤمن ان لا يخلومنها:
Di dalam diri seekor anjing terdapat 10 sifat keteladanan, yang diantaranya patut dimiliki oleh setiap insan yg beriman, yakni

اولها : لايزال جائعا. وهده صفات الصالحين.
1. Gemar mengosongkan perut.
Inilah salah satu sifat orang yg sholeh.

الثانية : لاينام من الليل الا قليلا. وهده من صفات المتهجدين
2. Tidak tidur malam hari kecuali sedikit saja. 
Hal ini menjadi salah satu sifat dari orang2 ahli Tahajud.

الثالثة : لو طرد فى اليوم الف مرة ما برح عن باب سيده. وهده من علامات الصادقين.
3. Kalaupun sehari ia diusir seribu kali, ia tak akan pergi dari pintu rumah tuannya. 
Inilai salah satu sifat dari orang2 sidik.

الرابعة : ادا مات لم يخلف ميراثا. وهده من علامات الزاهدين.
4. Bila ia mati tak pernah meninggalkan warisan yang berlebihan. 
Inilah ciri2 orang Zuhud.

الخامسة : ان يقنع من الارض بادنى موضع. وهده من علامات الراضين.
5. Selalu merasa puas meski menempati bumi di tempat yg paling hina sekalipun. 
Inilah salah satu tanda dari orang2 yang ridho terhadap ketentuan Allah.

السادسة : ان ينظر الى كل من يرى حتى يطرح له لقمة. وهده من اخلاق المساكين.
6. Memandangi setiap orang yg memandanginya sampai dilemparkan kepadanya sesuap makanan. 
Inilah sifat orang yg sabar.

السابعة : انه لو طرد وحثى عليه التراب فلا يغضب ولايحقد. وهده من اخلاق العاشقين.
7. Kalaupun diusir dan ditaburi debu, ia tak akan marah dan mendendam tuannya. 
Inilah salah satu akhlak asyikin (rindu bertemu Tuhan).

الثامنة : ادا غلب على موضعه يتركه ويدهب الى غيره. وهده من افعال الحامدين.
8. Jika tempatnya ditempati oleh orang lain, ia rela menyingkir ke tempat yang lain. 
Inilai sebagian tindakan orang2 yang terpuji.

التاسعة : ادا اجدى له اى اعطي له لقمة اكلها وبات عليها. وهده من علامات القانعين
9. Apabila diberi makanan sebesar apapun, ia rela menerimanya. 
Inilah salah satu akhlak orang yg Qona’ah.

العاشرة : انه ادا سافرمن بلد الى غيرها لم يتزود. وهده من علامات المتوكلين.
10. Apabila bepergian dari satu tempat ke tempat yg lain, ia tidak pernah membawa bekal yg diada-adakan, melainkan semampunya, 
inilah ciri2 orang yg tawakal.

yah mungkin bagi teman" ada yang belum tahu kalo saya sekarang tinggal di Papua. saya disini di tugaskan oleh PPM ASWAJA, LDNU dan juga SARKUB Untuk membantu Dakwah dan pendidikan di Papua.

sudah barang tentu, papua bukan sperti daerah lainya, keberdaan anjing di papua sudah barang lumrah, sehingga mau tidak mau saya juga sering berinteraksi dengan hewan ini.
bahkan ada satu anjing di daerah Wamena Jayawijaya yang terkadang suka menemani perjalnan dakwah saya.

saya menyadari tentang apa yang saya lakukan tadi pagi. saya menguplod foto tersebut bukan bermaksud apa apa, saya hanya ingin memberi pesan disaat ada bebrapa orang yang dengan tega menyiksa binatang".

dalam foto diatas saya tulis bahwa "puncak dari agama adalah cinta". karna itu yabg saya tahu dari para ulama ulama NU. Terhadap binatang saja kita harus berbagi cinta dan kasih sayang, apalagi terhadap sesama.

memang sangat di sayangkan, belakang muncul sekelompuk orang yang mengatasnamakan agama tapi justru membuat teror di mana mana. padahal Kanjeng nabi muhammad sendiri mewanti" agar kita selalu berpilakj baik.

Islam mengajarkan kepada setiap umatnya agar selalu berbuat baik, baik itu terhadap sesama manusia bahkan hewan sekalipun, termasuk kepada anjing yang oleh sebagian besar umat Muslim dikatakan sebagai hewan yang najis.

Ingat, haramnya anjing itu bila dikonsumsi. Lalu bagaimana bila kita mendapati anjing yang kondisinya mengenaskan dan kelaparan di jalanan, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja yang harus kita lakukan adalah menolong dan memberi makan anjing tersebut lantaran hal ini akan menjadi sebuah amal shalih yang bisa saja menghapuskan dosa-dosa kita.

Hal ini diperkuat oleh Rasulullah SAW, melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW menceritakan ada seorang laki-laki yang mendapati seekor anjing memakan debu karena kehausan di sebuah padang pasir. Pemuda itu kemudian menuju sebuah sumur dan mengambil air serta memberikan air tersebut kepada anjing sampai anjing itu lepas dahaganya. Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah berterima kasih kepadanya, lalu mengampuni dosa orang itu.”

Saya juga teringat sebuah hadis
«اِرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
“Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”.
(Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Lihat Shahiihul jaami’ no. 896).
Hadits ini menjelaskan akan keutamaan sifat kasih sayang, yang selayaknya setiap Mukmin berhiasi diri dengan akhlak yang mulia ini.

Penjelasan hadits ini ada dalam redaksi lain, di mana Rasulullah bersabda: “Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit -yakni para malaikat-. (HR Abu Daud, Lihat Shahihul jami’ 3522).
Ketahuilah “Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang“(HR Bukhori Muslim).

Ada sebuah kisah , Suatu hari Rasulullah bertutur “Tidak akan sempurna keimanan kalian hingga kalian saling menyayangi”.
Para Sahabat lantas menimpali “Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang.”
“Kasih sayang yang di maksud bukanlah kasih sayang antar sesama kalian saja,”…belaiupun meluruskan…

“melainkan kasih sayang kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk.”….,(HR at-Thabrani)
Oleh sebab itulah hadits ini lebih umum. Kita di anjurkan bukan hanya menyayangi sesama manusia dari orang tua, istri, suami, anak, tetangga, sahabat, faqir miskin dan orang-orang lemah, bahkan binatang, tumbuhan atau makhluk lain disekitar kita sekalipun.
Wallahu alam. Mohon maaf lahir batin apbila ada salah dalam foto yang kemarin saya uptade, saya mohon maaf lahir batin
Jika masih da yang mengganjal di hati teman" , silahkan hubungi saya langsung.
Telfon / Wa 082248030659.

Sumber

Jika Penasaran silahkan kunjungi FB Beliau Abdu L Wahab, dan jangan jadi Jamaah Kagetan (tambahan penulis)

5 Apr 2016

Dasyatnya Sholat Kaum Sufi



Kekeringan terjadi dimana-mana, sementara tanda hujan akan turun berminggu-minggu tidak terlihat. Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi menginisiasi shalat Istisqa bersama jamaah sufi Syria. Kelompok sekuler mengejek rencana shalat Istisqa yang akan dilakukan jamaah sufi itu. Dan mereka mengecam negara agar tidak menghiraukan rencana shalat Istisqa masal itu.

Saat waktunya tiba, Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi pun mengimami shalat Istisqa yang diikuti ratusan ribu jamaah di Masjid Agung Umayah dan menyampaikan khutbah. Setelah itu beliau memohon Syaikh al-Arif Billah Ahmad al-Habbal, seorang ahli dzikir yang zuhud, untuk berdoa. Lalu Syaikh Ahmad al-Habbal pun mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah seraya menangis penuh harap. Subhanallah, langit yang awalnya terik seketika menjadi mendung dipenuhi gumpalan awan dan langsung turun hujan dengan derasnya.

Syaikh Ahmad al-Habbal usianya sudah 100 tahun. Usianya yang begitu senja membuatnya tak mampu berdiri dan berjalan kecuali dengan bantuan dua orang yang memapah di kanan dan kiri. Tapi ketika waktu shalat tiba atau waktu mengisi majelis dzikir beliau berjalan sendiri seperti baru lepas dari tali yang mengikatnya dengan kuat.

(Keterangan foto: Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi dan Syaikh al-Arif Billah Ahmad al-Habbal ar-Rifai, semoga Allah melimpahkan rahmat bagi keduanya. 
Sumber: Fp Al-Habib Ali al-Jufri).

Darimana Mengenal Allah??



Pernah suatu ketika Habib Ahmad bin Hasan Alattas berkunjung ke satu daerah yang di sana kebanyakan penghuninya anti ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati, dll. Kebetulan beliau hadir pada saat shalat Jum'at. Melihat kehadiran seseorang yang gerak-geriknya menunjukkan keluhuran, lalu khatib pun meminta beliau untuk menjadi imam shalat Jum'at.

Ketika Habib Ahmad menjadi imam, bacaan al-Qurannya begitu menyihir jamaah hingga jamaah pun tidak puas apabila beliau hanya menjadi imam shalat saja. Akhirnya setelah shalat beliau diminta lagi untuk memberikan nasehat.

Sebelum memberikan nasehat, beliau mengatakan: "Saya ingin bertanya tapi Anda jangan marah."

Mereka menjawab: "Silakan, kami tidak akan marah."

Beliau kemudian bertanya: "Siapa Tuhanmu?"

Suasana menjadi ricuh karena pertanyaan itu. Namun akhirnya mereka pun menjawab: "Tuhan kami Allah."

Kemudian beliau bertanya lagi: "Siapa Nabimu?"

Mereka menjawab: "Nabi kami adalah Nabi Muhammad."

Kemudian beliau melanjutkan lagi: " Kalau begitu dari mana Anda mengenal Allah dan Nabi Muhammad?"

Mereka lalu bingung. Habib Ahmad akhirnya menjawab: "Kalian mengenal Allah dan Nabi Muhammad bukan lewat wahyu, akan tetapi lewat guru. Apa salahnya kalau kita berziarah ke makam guru kita, mendoakannya dan menyebut namanya."

Mereka hanya terdiam tanpa bisa menjawab.

(Diceritakan oleh Habib Taufiq Assegaf dalam tausiahnya pada acara Haul Imamain al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih di Ponpes Darul Hadits al-Faqihiyah Malang).