CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

30 Sep 2016

Sidik Jari dalam Al Qur'an


Sebuah mukjizat dari Al-Qur'an telah lama hadir meski belum banyak diketahui oleh orang, yaitu sidik jari sebagai Indentitas individu.

Sumber artikel berasal dari Bapak Harun Yahya yang sangat terkenal akan situsnya dengan berbagai macam bahasa. Sidik jari ini biasanya digunakan oleh aparat kepolisian untuk mengenali identitas seseorang. Meski tubuhnya hancur, selama masih ada sisik jari, maka orang itu akan dikenali.

Setiap orang, termasuk mereka yang lahir kembar, memiliki pola cap jari yang khas dan berbeda di antara satu sama lain. Itulah sebabnya, cap jadi menjadi tanda pengenal manusia untuk membedakan seseorang dengan orang lain.

Menurut Harun Yahya, sistem pengkodean ini dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan sekarang ini. Penekanan pada cap jari mempunyai makna sangat khusus.

Mengapa? Menurut Harun Yahya, hal itu disebabkan cap jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki seri atau tanda cap jari yang unik dan berbeda dari orang lain.
Itulah sebabnya mengapa cap jari digunakan sebagai kode identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan di seluruh dunia. Keunikan cap jari ini baru ditemui pada akhir abad ke-19 M.
Sebelumnya, orang menghargai cap jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al-Quran, Allah merujuk kepada cap jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting cap jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.

Pada abad ke-7 M, Al-Quran telah menyebutkan bahwa cap jari menjadi tanda pengenal manusia. Dalam Al-Quran disebutkan mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang cap jari manusia secara khusus ditekankan dalam sebuah ayat.


Al Qur'an

Pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan dalam Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman,

أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ ٣
بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ ٤

artinya:
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.

(Q.S, Al-Qiyamah 75:3-4).

Kisah Penghapal Al Qur'an Mati Keadaan Tidak Baik



Kembali lagi dengan kisah kematian di Blog Ashgar sebagaiamana dikutip dari Kisah Teladan Islami. Bagaimana bisa ya seorang yang telah hafiz Al Qur'an namun meninggal dalam keadaan tidak baik.

Kisah ini sudah ada sejak zaman dahulu, yang memang oleh Allah SWT agar dijadikan renungan dan pembelajaran umat manusia di muka bumi ini.

Pada masa tabi'in dahulu, ada seseorang yang gagah berani menjadi mujahid dalam perang melaewan Romawi. Dia disebut-sebut sebagai seorang yang memiliki hafalan Al Qur'an bagus.

Siapakah dia?
Dia bernama Abdah bin Abdurrahim.

Kenapa bisa sampai terjadi hal yang buruk pada pemuda ini. Dia meninggal dunia dengan tidak membawa iman islamnya seperes pun. Berikut kisahnya.

Petaka ini terjadi bermula dari saat ia menjadi tentara, dimana ia dan tentara lainnya sedang mengepung kampung romawi. Ketika itu, mata Abdah tertuju kepada seorang wanita Romawi yang ada di dalam benteng.
Kecantikan dan pesona wanita berambut pirang itu begitu dahsyat hingga meluluhkan hatinya. Tanpa buang waktu lagi, Abdah segera menulis surat cinta ditujukan kepada wanita tersebut.
Isi suratnya adalah sebagai berikut,
"Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai kepangkuanmu?" begitu sebagian kalimat yang tertulis.
"Kakanda, masuklah agama Nasrani, lalu kamu naiklah menemuiku, maka aku jadi milikmu," tulis wanita cantik itu.

Karena setan dan nafsu yang lebih kuat, seakan sudah tak terbendung lagi yang masuk memenuhi relung hati Abdah, hingga ia lupa diri, imannya dia tinggalkan dan naik menemui wanita itu.
Hatinya telah benar-benar mati dari cahaya Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 7,
"Allah telah mengunci mati hati dan pendegaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat."

Astaghfirullah....
Ternyata pesona dari wanita tersebut telah mengubur keimanan Abdah. Demi bisa memiliki tubuh cantik itu, ia rela meninggalkan yang sudah benar yaitu Islam.
Sudah sepatutnya sebagai sesama umat Islam saling mengingatkan. Begitu juga kawan-kawannya sesama tentara. Mereka mengingatkan agar tidak keluar dari Islam.
Beberapa kawan dekatnya mencoba untuk membujuknya agar segera bertobat. Mereka menemui Abdah dan berkata,
"Di manakah Al Qur'anmu yang dulu? Apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apakag yang dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang dikerjakan jihadmu terhadapmu? Dan apa yang telah diperbuat salatmu terhadapmu?"

Astaghfirullah...
Allah SWT benar-benar meengunci mati hatinya. Dengan congkak ia mengatakan,
"Aku telah lupa semua isi Al Qur'an, kecuali hanya dua ayat saja."

Lalu Abdah membaca dua ayat Al Qur'an tersebut yaitu Surat Al Hijr ayat 2 samapi 3. Seolah-olah ayat ini adalah hujah, kutukan sekaligus peringatan Allah SWT yang terakhir kalinya. Namun hal tersebut tidak digubrisnya sama sekali.

Dalam kehidupan ini, seolah bisa bahagia dengan harta berlimpah serta bersama keturunan Nasrani. Akhirnya Abdah meninggal pada tahun 278 Hijriyah.

Celakanya lagi, saat nyawanya dicabut Malaikat Izrail, Abdah belum mau bertobat dan berakhir dengan Su'ul Khatimah (akhir hidup yang jelek).

Semoga kita dilindungi dari hal yang demikian dan dimatikan dalam keadaan yang baik atau Khusnul Khatimah. Amiiin...

Ketika Cahaya Cinta Nabi ﷺ dalam Hati


Sayyidi Habib Ali al-Jufri:
Ketika cahaya cinta pada Nabi ﷺ teguh tertanam dalam hati seseorang, tidak akan ada tempat lain dihatinya untuk bersikap keras atau ekstrim atau radikal..

karena ketika cinta teguh tertanam di dalam hati seseorang dan ia menjadi tergila-gila dengan Kekasihnya, ia akan mementingkan Kekasihnya terlebih dahulu di depannya dalam segala sesuatu yang dia lakukan dan dia menyadari betul makna hubungannya dengan Sang Kekasih ﷺ‎ dalam setiap ucapan dan perbuatannya.

hubungannya dengan segala sesuatu dalam hidup ini kemudian menjadi urusan hubungan dengan Sang Kekasih. Bahkan ketika ia berbicara kepada orang lain ia sebenarnya sedang berbicara kepada Sang Kekasih melalui mereka. Dalam berurusan dengan orang-orang, secara lahiriah ia berinteraksi dengan mereka tetapi dalam kenyataannya ia berinteraksi dengan Kekasih nya. Semuanya yang terhubung ke Kekasih nya menjadi hal hal yang tercinta baginya.

Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aalihi wasohbihi wabarik wasallim

Sungai Sunzha, Saksi Bisu Syuhada Chechnya



Sayyidi Habib Ali al-Jufri berhenti sejenak untuk mengheningkan cipta dan berdoa di tepi Sungai Sunzha di Grozny, ibukota Republik Chechnya. 

Ditempat itu dulu tubuh para ulama Chechnya dimutilasi dan dibuang ke sungai ini. Para ulama ini, yang mengikuti Madzhab Syafi'i dan pengikut tariqat Naqshbandi dan Qadiri, menolak pendudukan Rusia atas negeri mereka.

Akibatnya mereka disiksa dan dibunuh dan tubuh mereka dimasukkan di pabrik tepung sebelum dilemparkan ke sungai ini.

Semoga Allah mengampuni dosa dosa mereka, ridho dengan mereka, memberi mereka ganjaran terbesar atas nama umat dan memungkinkan kita untuk bergabung dengan mereka diakhirst nanti. Dan Semoga Allah meringankan penderitaan umat dan memberikan kemenangan, karena Dia adalah yang terbaik dari pelindung dan yang terbaik dalam membantu

5 Agu 2016

Kasih Sayang Allah SWT Bagi Pembaca Sholawat.



Suatu hari seseorang dari kalangan Bani Isra'il meninggal. Orang-orang menolak untuk menguburkannya. Mereka melemparkan tubuhnya pada tumpukan sampah. Mereka semua menganggap dia sebagai ahli maksiat dan seorang pendosa besar.

Pada saat itu, Nabi Musa (alaihis salaam) menerima wahyu dari Allah Ta'ala, "Wahai Musa! Salah satu hambaKu telah meninggal. Bani Isra'il telah mencampakkan tubuhnya pada tumpukan sampah. Perintah orang-orang mu untuk mengambil jenazahnya. Mandikan dia dan memberinya penguburan yang layak".

Ketika Nabi Musa (alaihis salaam) menemukan jenazah dan melihat orang itu, ia langsung mengenalinya (dan tahu bahwa orang itu sering berbuat dosa). Tapi Mematuhi Perintah dari Allah SUbhanahu wa Ta'ala, Nabi Musa (alaihis salaam) kemudian melanjutkan untuk memandikan orang itu dan menguburkan secara layak.

Setelah menyelesaikan tugas ini, ia meminta Allah Ta'ala memberi alasan untuk sebuah perintah yang tidak biasa itu. Allah Ta'ala berfirman: "Hai Musa! engkau benar, ketika engkau mengatakan bahwa orang ini adalah orang berdosa. Dan Menurut peraturan Ku, ia memang pantas mendapat hukuman. Namun, suatu hari, ketika ia sedang membaca Taurah, dia menemukan nama kekasih Ku Muhammad. Ia kemudian mencium nama itu dan mengirim salam pada Habibullah. karena perbuatan ini, wahai Musa, bahwa Aku telah memberkatinya dengan Jannah".

Sayyidil Habib Ahmad Masyhur bin Taha al-Haddad menambahkan agar kita senantiasa mencari Ampunan Allah dan meminta agar kalbu kita dipenuhi oleh Ilmu Nya dan Ilmu Kekasih Nya Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam, ini susunan sholawat Habib Ahmad untuk hal itu; 

اللَّهُمَّ يا نُورَ السَّمَواتِ وَ الأَرْضِ صَلِّ عَلَى مَنْ خَلَقْتَهُ مِنْ نُورِكَ وَ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَ نَوِّرْ قَلْبِي بِأَنْوَارِ مَعْرِفَتِكَ وَ بِمَعْرِفَتِهِ بِكَ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ
Ya Allah, Duhai Pemilik Cahaya Langit dan Bumi, Limpahkan Sholawat dan salam kepada yang telah Engkau ciptakan dari Cahaya Mu (ﷺ). Ampuni dosa dosa kami dan penuhi hati kami dengan cahaya pengetahuan Mu dan pengetahuan Kekasih Mu Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wa sohbihi wasallam

20 Jul 2016

Menyingkirkan Duri di Jalan



Sayyidi Habib Umar bin Hafidz:
Rasulullah ﷺ bersabda dan mengatakan kepada kita bahwa ada seorang pria yang telah diampuni dosa-dosa masa lalu dan masa depannya dikarenakan perbuatannya membuang sebatang duri yang ada di jalanan sehingga orang lain tidak akan menginjaknya atau terganggu olehnya.
Ada banyak macam duri di jalan kaum muslimin menuju Allah. tidakkah kita akan menerima hadiah / ganjaran yang lebih besar dengan menyingkirkan duri duri tersebut?.

Sumber

Berdakwah dijalan ALLAH & Kebenaran



"Ada riwayat shahih dari Nabi Muhammad ﷺ bahwa setelah beliau diizinkan Allah untuk memberikan syafaat di hari kiamat, masih akan tetap ada beberapa kelompok orang muslim di neraka, dan Nabi ﷺ - tidak ingin hal ini terjadi - dan beliau ﷺ akan bersujud di hadapan takhta Allah dan memohon Allah untuk membawa mereka keluar dari neraka. Allah akan mengabulkan permintaannya, akan tetapi tetap saja masih ada yang tertinggal. Jadi beliau ﷺ akan kembali kepada Allah untuk kedua kalinya, dan ketiga kalinya, sampai orang terakhir akan dikeluarkan dari api neraka tersebut. Dan Allah kemudian akan mengatakan bahwa siapa pun yang telah mengatakan 'La ilaha illallah' dengan ikhlas, bahkan meski sekali dalam hidup mereka harus masuk surga.

Jadi setelah mendengar dan melihat semua perjuangan dan semua pengorbanan Nabi ﷺ untuk ummat ini, beliau ﷺ tidak ingin pergi ke surga / tidak akan merasa nyaman di sana - sementara ada salah satu orang yang percaya kepada-Nya tertinggal di seburuk buruknya tempat (neraka).

Hal ini seharusnya memberikan dorongan dan inspirasi pada kita untuk terus berdakwah dijalan Allah dan mengusung kebenaran. Kita harus melakukan ini demi Nabi ﷺ, karena kita tidak ingin melihat beliau ﷺ merasakan ketidak nyamanan ini pada hari kiamat. (Habib Ali tersenyum) Tidakkah hal ini masuk akal ?".

Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aalihi wasohbih wasallam

7 Jun 2016

Syaikhona Mbah Kholil merubah segelas Air Laut menjadi Susu



Syahdan, Mbah Kholil Bangkalan Madura memanggil tiga santrinya, Mbah Manab (kelak menjadi pendiri Lirboyo) dan dua orang santri lainnya. "Anu Cung, tolong sampean carikan air susu di laut."
Saling pandang sejenak, ketiganya menjawab kompak, "Enggih, Kiai..."

Setelah pamitan mereka langsung berangkat. Dengan bekal keyakinan bahwa dawuh guru walaupun kelihatan mustahil tetap harus dilaksanakan. Selama tiga hari tiga malam mencari di lautan, ternyata hasilnya nihil.

Di tengah keputusasaan ketiganya bermusyawarah. "Bagaimana ini?"
"Lha iya, kalau kita jawab tidak ada berarti kan sama saja mengatakan guru kita tidak tahu, bodoh?" "Seperti beli rokok di toko bangunan," jawab lainnya.
"Wah gini saja, bagaimana kalau kita jawab 'Kami belum menemukan, Kiai,'" kata yang ketiga. Yang akhirnya jawaban ini disetujui dua orang temannya.

Lalu ketiganya sowan kembali ke Mbah Kholil, dan mengatakan kalau belum menemukan.
"Oh gitu. Ayo kalian ikut saya," kata Mbah KH. Kholil singkat.
Kemudian beliau mengajak ke tepi laut. Mengeluarkan gelas yang dibawa dari rumah dan mengambil air laut dengan gelasnya. Aneh bin ajaib, ternyata air laut itu berubah menjadi susu! "Sekarang mintalah kepada Allah keinginan kalian, dengan lantaranku." Ucap Mbah Kholil.

Dua orang santri pertama meminta agar kaya raya. Sedangkan Mbah Manab meminta ilmu yang bermanfaat. Kelak keinginan mereka terkabul. Dua orang santri itu benar-benar kaya raya, namun kekayaannya habis berbarengan dengan meninggalnya. Sedangkan Mbah Manab bisa mendirikian Pondok Pesantren Lirboyo yang santrinya menyebar ke seluruh Nusantara.
Ket. Foto: Ilustrasi wajah Mbah Kholil Bangkalan Madura.

 (Sumber kisah: Kiai Anwaril Mustofa dari KH. Fathoni Tanggungharjo Grobogan Jawa Tengah via fp IlmuTasawuf.com dan Pustaka M2HM)

20 Mei 2016

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati



Berawal dari keinginan warga Demaan, Jepara Kota, agar panitia menelusuri silsilah Mbah Sabilan, Habib Abu Bakar Assegaf, juru kunci makam, berniat melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus diperbuat, ia tidak tahu. Menelusuri nasab bagi Bang Abu, sapaan akrabnya, bukan perkara mudah. Yang selama dipercaya masyarakat bisa menemukan nasab dan bahkan makam tua para wali adalah Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan. Tapi untuk langsung menghadirkan Habib Luthfi bukan perkara gampang.

Buntu menemukan jalan tercepat menjawab keinginan warga yang ingin mengetahui nasab leluhurnya itu, Bang Abu datang sedirian ke makam Mbah Sabilan. Siang itu tidak ada orang ziarah. Juru kunci makam tersebut di sana bukan membaca tahlil dan wirid. Yang dilakukan justru meluapkan emosinya. Pintu makam digedor sekuat tenaga. Batu nisan makam Mbah Sabilan diokak-okak.

“Kamu ini siapa sih mbah kok bikin tugas berat menelusuri nasab. Saya tidak sanggup. Tapi kok ditunjuk juru makam, kenapa? Ini tugas berat yang bikin saya pusing, mbah!” katanya di makam.

Pulang ke rumah, ia merasa ringan. Hanya berharap semoga kelak dapat jawaban. Bagi Bang Abu, wali itu sangat welas asih kepada warga. Kemarahan yang kemarin dilakukan tidak akan dibalas kemarahan yang sama oleh Mbah Sabilan. “Wali itu memiliki mata kasih,” ujarnya kepada Duta Islam, Kamis (13/04/2016), di rumahnya, Jl. Pesajen, Demaan, Jepara.   

Sebelum membakar ikan, Bang Abu kirim Fatihah khusus kepada Mbah Sabilan. Kamis (17/03/2016) pagi itu, bau ikan laut yang dibakar menyengat hidung kemana-mana. Hendak disajikan bersama keluarga, seorang pengurus NU Jepara menelpon jika posisi Habib Luthfi sedang ada di makam Mbah Daeng, Krapyak, Jepara, sedang ziarah.

Seketika langsung menuju posisi Habib Luthfi yang kebetulan memang hanya berjarak 5 kilo dari tempat tinggal Bang Abu. Kepada angota Banser yang nderekke Habib Luthfi, ia tanya agenda habib setelah ziarah Mbah Daeng. Sedikit kecewa karena Habib Luthfi ternyata tidak ada rencana ziarah ke makam Mbah Sabilan.

Sebelum niat ketemu Habib Luthfi, Bang Abu sudah ziarah ke makam Mbah Sabilan. Kali ini tidak marah-marah di makam, tetapi tawassulan dan kirim doa. Saking semangatnya, Bang Abu ingin langsung menemui Habib Luthfi yang sedang di makam Mbah Daeng. Namun, sebelum keluar dari kompleks makam, seekor belalang menclok ke bahu kanan, lalu terbang lari ke arah makam Abah-nya yang bersebelahan dengan Makam Mbah Daeng, Krapyak. “Ya, Allah, saya ziarah ke Mbah Sabilan tapi belum ziarah maqbarah orang tua,” ungkapnya dalam hati.

Baginya, belalang adalah tanda agar sebelum ketemu Habib Luthfi, harus ziarah dulu kepada orang tua sebagai bentuk birrul walidain. Kebetulan hari Kamis memang sudah biasa ziarah orang tua. Beberapa saat ziarah dilakukan ke pusara Habib Sagaf, abah Bang Abu.

“Kalau Habib Luthfi memang kassyaf, dia pasti tahu krentek saya habis marah-marah di makam Mbah Sabilan kemarin karena harus menemukan nasabnya,” tutur Bang Abu menjelaskan maksud tawassul-nya tadi.


Sementara itu, keterangan yang didapat, sekeluarnya Habib Luthfi dari makam Mbah Daeng, ternyata tidak langsung jalan ke sebuah makam di Mlonggo sebagaimana agenda rombongan yang nderekaken. Kata Bang Abu, Habib Luthfi justru ingin ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman. Rombongan banyak yang bertanya: “Dimana itu, Bib?”

Bang Abu yang sudah di kompleks makam Mbah Daeng langsung mendekat, menyalami Habib Luthfi dan bersiap mengantarkan ke Makam Mbah Daeng ketika itu juga. “Alhamdulillah, Habib Luthfi kasyyaf, tahu keinginan saya. Mungkin Mbah Sabilan bilang langsung ke Abah Luthfi kalau saya habis marah-marah tidak karuan di makamnya kemarin,” tuturnya.

Dalam ziarah pertama Habib Luthfi ke makam Mbah Sabilan itu, apa yang selama ini digelisahkan Bang Abu terjawab dengan mudah. Tanpa tirakat panjang, nasab itu diserahkan terbuka kepada Bang Abu dari Habib Luhti, dicatat Kyai Masduki, Sowan, Kedung, Jepara.

Nama asli Mbah Sabilan adalah Habib Abdurrahman Basyaiban. Sabilan adalah nama samaran yang digunakan untuk menghindari tekanan politik Belanda, yang berarti jalan. Ketika itu, keturunan Arab dianggap penjajah sebagai orang yang suka “meracuni” umat Islam. Penamaan tersebut terkait tentang apa, belum diketahui jelas. Yang pasti, Mbah Sabilan hidup 350 tahun lalu ketika Pahlawan Nasional yang legendaries bernama Untung Suropati masih hidup (1660-1706 M).

Silsilah lengkapnya: Abdurrahman bin Abdurrahim bin Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai datuk marga Basyaiban. Habib Abu Bakar Basyaiban ini adalah putra dari Muhammad As’adillah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad al-faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Murbad bin Ali Khala’ Ghasam bin Alwi bin Muhammad bin Ali Alawiyyin bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Nagieb bin Ali Uraidli bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Imam Husain bin Fatimah Zahra (zaujah Ali bin Abi thalib) binti Muhammad Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. 

Watu Bobot
Jika diruntut, Mbah Sabilan adalah keturunan ke 29 dari Rasulullah. Menurut Habib Luthfi, Mbah Sabilan berasal dari Cirebon. Karena itulah, Bang Abu mengaku belum mengetahui makam ayahanda beliau, yakni Habib Abdurrahim Basyaiban. “Saya belum klarifikasi ke Rabithah (organisasi penashih jalur keturunan Rasulullah). Namun keturunannya ada banyak yang mukim di Magelang, Jawa Tengah,” kata Bang Abu.

Cerita yang beredar, dulu di makam Mbah Sabilan ada batu keramat yang disebut watu bobot. Yakni dua batu dengan berat yang sulit diangkat oleh perorangan jika ia tidak punya hajat. Panjanganya sekitar 40 cm dengan lebar 50 cm dan tinggi 60 cm. Dua batu itu, masing-masing disebut wadah kitab dan wadah gaman.

Bagi pezirah yang ingin tawassul agar pendidikannya lancar, ia bisa mengangkat wadah kitab. Jika kuat mengangakat, maka itu isyarah bahwa keinginnannya akan dikabulkan oleh Allah di kemudian hari. Jika tidak kuat mengangkat, maka tanda harus lebih bekerja keras lagi agar mendapatkan rejeki banyak. Ini untuk watu bobot wadah gaman.

Kini, batu itu sudah tidak ditemukan di kawasan makam. Bukan raib, tapi dicuri orang. Menurut Bang Abu, watu bobot itu ada di sebuah museum di Semarang. Walaupun begitu, Mbah Sabilan tetap masih diingat warga sebagai waliyullah penyebar agama Islam tiap minggu akhir bulan Rajab. Pada tahun ini, jatuh pada 1 Mei 2016. 




16 Mei 2016

Panas dan Kerinduan Cinta kepada Rasulullah SAW

Sayyidī’l-Habīb Muhammad bin 'Abd al Rahmān al Saqqāf:


Di Hari Wafatnya Rasulullah ﷺ Seluruh kota MADINAH terguncang. 
Orang orang gemetar. 
Pikiran mereka seperti hilang. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. 
Ada yang menjadi buta. 
Ada lainnya menjadi lumpuh. Ada yang bingung dan menjelajahi masjid dengan pedang terhunus.
Dan Kemudian AsSiddiq radhiallahu anhu masuk. Beliau datang dengan pemahaman yang mendalam dan mengerti apa yang terjadi. Beliau menyingkapkan penutup dahi Rasulullah ﷺ yang terbaring di ruang Sayyidah A'isyah radhiallahu anha dan mencium diantara kedua matanya. Beliau mengatakan, "Wahai Rasulullah! Betapa manis dan indahnya keberadaanmu di kehidupan dunia ini dan begitu pula di kehidupan akhirat"[Artinya:]! Aku tetap teguh dalam kesaksian ku, kearifan dan persepsiku. Engkau senantiasa indah di setiap keadaan ! Dan beliau melanjutkan, "ingatlah selalu pada kami, Sebutkan nama kami kepada Tuhanmu, wahai Rasulullah!".
[Al Siddiq] adalah pemilik keyaqinan dan kemuliaan. Beliau tahu keadaan ini (wafat) hanyalah perpindahan dari satu tempat tinggal ketempat yang lain dan bahwa ia cepat atau lambat juga akan bersatu dengan kekasihnya, 'Manusia Pilihan'. Namun, api kerinduannya tidak memungkinkan lagi ada kedamaian bagi pemilik cinta bahkan sesaat. Karena sang kekasih tidak tahan berpisah dari kekasihnya. Meskipun ia telah memiliki janji pertemuan kembali, tapi api kerinduan dalam hati tidak dapat dipadamkan kecuali dengan air [yang sebenarnya] pertemuan. 

Dengan demikian, pada hari-hari pertama setelah perpisahan dengan Rasulullah ﷺ, AsSiddiq menanggung beban dgn menyibukkan diri dari kekhalifahan dan pimpinan Negara Islam, Orang orang disekitarnya tetap akan mencium bau hati yang terbakar dalam setiap tarikan napasnya. Pernahkah Anda mendengar tentang seseorang yang bagian dalam tubuhnya dibakar oleh api cinta? 
Karena sering dan kuatnya, panas dalam jiwa ini diwujudkan dalam pembakaran fisik hatinya. Panas dari kerinduan dan cinta! Jika setetes cinta milik AsSiddiq untuk Rasulullah ﷺ ini hadir melalui sehelai rambut dari beliau dan dibagikan di antara kita, kita semua dipastikan akan menjadi gila dengan kerinduan. Jadi bagaimana beliau Radhiallahu Anhu mampu menanggung panas yang segitu besar di dalam hatinya? 

Inilah sebabnya mengapa ulama mengatakan syahid pertama dari cinta adalah Sayyidah Fatimah al Zahrā`. Dan mereka mengatakan nilai tertinggi dari sebuah kesyahidan adalah syahid oleh cinta yaitu orang yang dibunuh oleh pedang cinta dan kerinduan. 

Sayyidah al Zahrā` 'alayha Salam adalah orang yang pertama dari mereka yang tidak tahan akibat perpisahan dan ibaratnya bahwa beliau terbunuh oleh pedang kerinduan. Demikian pula, AsSiddiq mengikutinya pada jalur luhur ini. Karena kasih dan kerinduan untuk Rasulullah ﷺ, bau hati yang terpanggang keluar melalui mulutnya...

Jadi apakah ada di hati kita, Duhai saudara saudaraku, panas dari kerinduan yang telah membuat air mata kira jatuh atau membuat kita tak bisa tidur meskipun sekali saja? Atau kita hanya terus menerus menceritakan kisah kisah ini seolah-olah mereka adalah dari serial TV? 
Ini [cerita] adalah fakta dan NYATA. rahasia kisah ini akan terus mengalir dari Sang Pencipta kepada dunia ini sampai hari terakhir. 

Selamat kepada orang orang yang menemukan sesuatu yang panas ini di dalam hatinya. Karena sesungguhnya api ini membakar dosa dan menghalau kegelapan di dalam hati. Ini api cinta dan kerinduan untuk Rasulullah, sholawat dan salam besertanya dan keluarganya".

Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aali Sayyidina Muhammad..

11 Mei 2016

Imam Sya'rani dan Timbangan yang Besar

Tulisan dari Prof. Nadirsyah Hosen

Mungkinkah seorang ahli fiqh juga menekuni dunia ke-sufi-an tanpa meninggalkan kealimannya dalam bidang fiqh? Kita hanya perlu menengok pada sosok yang satu ini: Abdul Wahab bin Ahmad Sya'rani (1493–1565). Seoorang ulama dari Mesir yang bermazhab Syafi'i namun juga dikenal sebagai seorang sufi. Kabarnya ia hafal Qur'an saat berusia tujuh tahun. Sewaktu kecil sudah terlihat tanda-tanda karamahnya ketika ia terjatuh di sungai Nil namun ia diselamatkan oleh seekor buaya,
Beliau belajar fiqh, hadis dan disiplin ilmu keislaman lainnya dari para masyayikh terkemuka pada masanya. Beliau bercerita sendiri bagaimana susah payah menempa dirinya ketika menempuh suluk. Beliau bahkan mengaku belajar langsung kepada Nabi Khidr. Walhasil banyak kisah unik seputar beliau ini, termasuk beliau saat shalat bisa mendengar binatang, bebatuan dan dinding serta pilar masjid bertasbih mengagungkan Allah. Subhanallah!

Di tangan beliau, fiqh dan tasawuf bisa berjalan beriringan. Di tangan beliau, perbedaan mazhab bisa terlihat indah. Bahkan beliau memberikan penilaian mana pendapat fiqh yang berat (tasydid) dan mana yang ringan (takhfif). Yang berat untuk para ulama, dan pendapat yang ringan dipilihkannya untuk orang awam. Inilah "timbangan besar" (al-mizan al-kubra) yang beliau berikan kepada kita; untuk menimbang-nimbang pendapat fiqh yang ada.

Dalam kitab al-Mizan al-Kubra karya Imam Sya'rani dijelaskan bahwa mazhab-mazhab dalam fiqh itu ada di bawah sorotan cahaya syari'at yang suci (al-syari'ah al-muthahharah). Tidak ada satu pendapat pun dari pendapat-pendapat mereka yang keluar dari tuntunan ilahi. Itu sebabnya tidak cukup hanya dengan menjelaskan lewat rangkaian kata-kata, Imam Sya'rani menjelaskan pula lewat berbagai gambar dan bagan utk memudahkan pembaca memahami penjelasan beliau, seperti bisa dilihat di foto-foto yang saya cantumkan.




Dalam halaman2 selanjutnya Imam Sya'rani yg bermazhab Syafi'i ini dengan gigih membela Imam Abu Hanifah dari serangan tajam para kritikus. Terlihat jelas bagaimana Imam Sya'rani jauh dari sifat kefanatikan. Ilmu fiqh dan tasawufnya sudah taraf mumpuni, maka tidak heran ada yang menganggap beliau salah satu waliyullah. Wa Allahu a'lam bis shawab.

Menurut Imam Sya'rani keempat mazhab itu benar dan para pengikutnya akan melewati jembatan shiratal mustaqim dengan mulus karena semua 'sanad' dari 4 mazhab itu menyambung kepada Allah dan RasulNya. Imam Sya'rani lahir tahun 1493 dan wafat tahun 1565. Berarti kitabnya ini sudah berusia lebih dari 400 tahun!

Andaikata kita mau membaca kembali khazanah pemikiran islam yang begitu dahsyatnya, kita akan terpesona, sekaligus kita akan tertunduk malu merasa diri hebat, alim, suci dan paling benar sendiri....sayang banyak diantara kita yang sudah tidak berilmu dan tidak pula punya rasa malu. Yang tersisa cuma emosi dan keangkuhan....Semoga Allah menghindari kita dari hal yang demikian. Amin Ya Rabb

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Ketika Rasulullah SAW mendekatiNya lewat Sujud



Tulisan dari Prof. Nadirsyah Hosen,

Nabi Muhammad SAW pernah berdoa saat sujud:
للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridhaanMu dari murka-Mu, dan aku berlindung dengan pemaafan-Mu daripada hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari Engkau. Dan aku belum memuji-Mu sebagaimana Engkau selayaknya dipuji" (HR Abu Dawud, al-Nasa'i, Ibn Majah, Ahmad)
Dalam kitab Ihya, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan kandungan spiritual doa di atas:
Kalimat pertama dalam doa Rasul: "Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridhaanMu dari murka-Mu", ini berdasarkan pandangan Nabi Muhammad terhadap tindakan Allah. Seolah saat sujud itu Nabi hanya melihat Dia dan tindakan-Nya semata --tidak yang lain, sehingga Nabi pun berlindung kepada Allah dalam tindakan-Nya (keridhaan) dari tindakan-Nya (kermukaan).

Kemudian Nabi lebih mendekat lagi, dan kini Nabi tidak lagi melihat tindakan-Nya, yang Nabi saksikan adalah sumber dari tindakan-Nya, yaitu sifat Allah semata. Itulah sebabnya pada kalimat kedua Nabi merintih mesra dalam doanya: "dan aku berlindung dengan pemaafan-Mu daripada hukuman-Mu". Inilah dua sifat Allah yang dirujuk oleh sang nabi: al-'afuw dan al-mu'aqib.

Nabi menyadari kemudian bahwa vision (pandangan) beliau ini belum sempurna. Karena itu Nabi lebih mendekat lagi kepada Allah dalam sujudnya dan bergeser dari sifat ke dzat. Tidak ada tindakan atau sifat-Nya yang Nabi kini saksikan. Cuma ada Nabi dan Dia. Maka Nabi pun berbisik mesra pada Sang Kekasih: "Dan aku berlindung kepada-Mu dari Engkau" (a'udzu bika minka). Inilah kondisi yang melesat dari Dia menuju Dia tanpa perantara sifat dan tindakan-Nya.

Lebih dekat lagi, dan Nabi melihat dirinya sudah lenyap. Inilah batasan seorang hamba. Dalam batas ketidakmampuan hamba yang tenggelam dalam keterpesonaan "menyaksikan"-Nya saat sujud, Nabi pun berucap lirih: "Dan aku belum memuji-Mu sebagaimana Engkau selayaknya dipuji". Hanya Dia dan Dia yang mampu memuji dzat-Nya seperti yang Dia pantas dan layak untuk dipuji. Insan kamil sekalipun tidak sanggup mengekspresikan pujian dan terima kasih kepada-Nya sesempurna dzat-Nya.
Semua pujian berasal dari-Nya, dan kembali kepada-Nya. Selain itu, lenyap sudah.

Demikianlah kawan, semakin dekat kita pada-Nya semakin kita sadar betapa kita belum berterima kasih pada-Nya dengan layak. Maka saat kita angkat kepala kita dari sujud setelah membaca doa itu: apa yang kita lihat? Kemanapun kita edarkan pandangan mata kita, yang kita lihat adalah anugerah dan kasih sayang-Nya, baik terwujud dalam tindakan dan sifat-Nya maupun dalam penciptaan-Nya.
Mendekati-Nya dengan berterima kasih pada-Nya. Sesederhana seperti angin yang berhembus, tapi kandungannya lebih dalam dari samudera. Terima kasih Ya Allah..... ‪#‎kembalibersujud‬

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Monash Law School