CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

14 Feb 2014

Ketika Gunung Mulai Berdakwah



"Ketika gunung mulai ikut berdakwah, ketika ku merenung dalam tafakkur, kutanyakan pada alam, wahai gunung gunung, apa yang kalian inginkan terus mengganggu ummat Muhammad SAW...?kalian akan terkena sidang kelak.., bukankah kalian ini makhluk Allah SWT, dan Allah SWT mencintai Nabi Muhammad SAW, lalu kenapa kalian mengambil posisi turut memerangi ummat Muhammad SAW pula?


Mereka (gunung-gunung) menjawab: Kami adalah pendukung dakwah Sayyidina Rasulillah SAW..,ketika ummat beliau ghaflah, ketika masjid masjid sepi, ketika musholla mulai runtuh tak disentuh, ketika AlQur'an mulai tak terngiang..kami tahu kemuliaan Sayyidina Rasulillah SAW...kami takut dijadikan saksi dihari kiamat, kami menyaksikan para da'i lemah mengunjungi wilayah wilayah kami, maka kami berdakwah, kami terjun sebagai da'i, dengan cara kami tentunya, bukankah dengan perbuatan kami justru musholla dan masjid makmur? bukankah dengan perbuatan kami muslimin menjadi banyak berdoa dan berdzikir? bukanlah dengan perbuatan kami orang kaya kikir menjadi berinfak? bukankah dengan perbuatan kami dosa dosa ummat banyak terhapus? bukankah dengan perbuatan kami banyak ummat pendosa ini mati syahid? salahkah usaha kami? kenapa kami dilarang membantu padahal para da'i tak mampu berbuat seperti yang kami perbuat? lalu apakah para Shalihin akan menghentikan usaha kami membantu Sayyidina Rasulillah SAW agar ummatnya kembali dan sadar dari ghaflah? jika kami dijadikan saksi kelak atas dosa ummat ini tentu para da'i dan shalihin yang akan tertuduh.. maka kami membantu mereka..kenapa kami disalahkan..? jika kami berhenti mampukah para shalihin dan da'i menggantikan perbuatan kami dan mengunjungi wilayah kami? kami hanya membantu meringankan beban para shalihin dan para da'i..

Maka kuterdiam...wahai Allah, gunung gunungmu sudah turut berbakti pada dakwah ini.. tapi setidaknya batasilah cara bakti mereka agar tak terlalu menyakiti ummat ini... Aamiin..., terimakasih wahai gunung gunung, kalian turut berperan serta menyadarkan ummat ini dan meringankan beban para shalihin dan da'i

Semoga Allah SWT segera melimpahkan hujan taubat dan rahmat pada ummat ini tanpa perlu reaksi para gunung gunung ini, Aamiin" 

(AlHabib Munzir AlMusawa)

Syaikh Ahmad Rifa'i Sang Wali Quthub, (Imam dari Tariqat Sufi Rifa'i)



Bismillahir Rahmanir Rahim

"Sayyidina Ahmad ar-Rifa` i (Imam dari Tariqat Sufi Rifa'i) diberikan penglihatan berada di Surga Keempat dan melihat Samudera yang demikian besar, dan dia pikir itu adalah air, tetapi ketika dia mendekatinya ternyata samudera pasir, bukan air. Ia tidak bisa melihat batas awal, atau akhirnya. 

Semakin dia mendekat hingga sampai kesetiap partikel pasir, ia menemukan bahwa setiap butir pasir itu sendiri adalah seluruh alam semesta! Dan di sana ia mendengar suara adzan memanggilnya, dan Nabinya adalah Sayyidina Muhammad (saw). "Dia mendengar azan seperti azan kami, dan mengatakan ini adalah dunia yang bukan fotocopy dari dunia ini atau sama satu sama lainnya, dan Nabi (saw) adalah Nabi untuk setiap dunia ini, yaitu dunia dalam diri mereka. Inilah pengetahuan rahasia yang dicapai oleh Sayyidina Ahmad ar-Rifa `i (q). Akbar al-akbar!"

Sayyid Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani qs

© Sufilive.com

*dari Syaikh Arief Hamdani

Kisah Beliau,


Syaikh  Ahmad Al-Rifa'i, tokoh sufi di mana Tarikat Rifa'iyyah dibangsakan, yang lahir dengan nama Ahmad bin Shalih, diketahui memiliki sejumlah nama seperti Ahmad   bin Abi'l Hasan Al-Rifa'i, Ahmad bin Ali Abul Abbas, Syaikh Ahmad kabir Rifa'i, atau nama lengkapnya Sidi Ahmad bin Yahya bin Huzain bin Rifa'ah. Ia dilahirkan pada bulan Muharram tahun 500 Hijriah/ September 1106 Masehi tetapi ada juga yang menyatakan kelahirannya pada bulan Rajab tahun 512 H/ Oktober-November 1118 Masehi. Sebagian sumber menyebut Syaikh Ahmad Rifa'i lahir di Marokko, tetapi sumber yang kuat menyatakan ia lahir di Qaryah Hassan, dekat Basrah di Irak. Menurut satu cerita, nama Rifa'i berkaitan dengan nama Suku Rifa'i yang tinggal di Makkah sejak tahun 217 H tetapi pindah ke Sevilla di Spanyol. Pada masa kakek Syaikh Ahmad Rifa'i pada tahun 450 H, datanglah keluarga Rifa'i ke Basrah. Oleh karena datang dari barat, maka kakek Syaikh Ahmad Rifa'i memakai nama Al-Maghribi. Sebagian meriwayatkan, ayah dari Syaikh Ahmad Rifa'i yang pindah dari Maghrib ke Irak, tinggal di kota  Ummu ‘Ubaidah di Batha'ih.

Menurut riwayat, ketika berusia 7 tahun ayahanda Syaikh Ahmad Rifa'i  wafat di Baghdad. Ia kemudian diasuh oleh pamannya, Syaikh Mansyur Al-Batha'ih, yang tinggal di Basrah. Asy-Sya'rani dalam kitab Lawaqihul Anwar menuturkan bahwa Syaikh Mansyur Al-Batha'ih adalah seorang syaikh thariqah. Dalam sejarah hidup Syaikh Ahmad,  ia pertama kali belajar Ilmu Fiqih Mazhab Syafi'i dengan mempelajari Kitab Al-Tanbih dari Syaikh Abul Fadl Al-Wasithi, akan tetapi belakangan ia  lebih cenderung kepada ilmu tasawuf. Kecenderungan kepada tasawuf itu kemungkinan disebabkan oleh lingkungan keluarganya yang menganut gerakan sufisme dan bahkan paman yang mengasuhnya adalah guru besar (syaikh)  tarikat. Bahkan di bawah bimbingan sang paman, Syaikh Mansyur Al-Batha'ih, Syaikh Ahmad Rifa'i memasuki dunia tasawuf secara mendalam sampai ia menggantikan kedudukan sang paman sebagai syaikh.

Syaikh Sholah ‘Azham, penulis masalah-masalah tasawuf asal Mesir, menuturkan kisah pemilihan syaikh yang patut menggantikan kedudukan Syaikh Mansyur Al-Batha'ih yang sudah tua dan sakit-sakitan. Syaikh Mansyur Al-Batha'ih ingin memilih khalifah penggantinya.  Para murid dan pengikut yang berjumlah ribuan memohon kepada Syaikh Mansyur Al-Batha'ih agar secepatnya memilih putera Syaikh Mansyur Al-Batha'ih sendiri yang bernama Ahmad untuk menggantikan kedudukan syaikh. Namun Syaikh Mansyur Al-Batha'ih malah memilih Ahmad bin Shalih, keponakannya yang sejak kecil telah diasuhnya. Para murid dan pengikut sangat kecewa dengan pilihan Syaikh Mansyur Al-Batha'ih. Mereka diam-diam menghadap isteri Syaikh Mansyur Al-Batha'ih, memohon agar bersedia membujuk suaminya untuk membatalkan pilihannya pada Ahmad bin Shalih dan memilih Ahmad bin Mansyur sebagai pengganti.

Faham dengan keinginan murid-murid dan pengikutnya, Syaikh Mansyur Al-Batha'ih berencana mengadakan sayembara model sufi. Satu hari dipanggilnya sepuluh orang murid senior, termasuk puteranya, Ahmad bin Mansyur, dan keponakannya, Ahmad bin Shalih. Masing-masing mereka diberi seekor burung merpati dan sebilah pisau disertai perintah untuk berlomba menyembelih burung tersebut, dengan syarat dilakukan di tempat tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapa pun. Lalu para peserta sayembara itu berhamburan ke berbagai arah untuk menjalankan tugas masing-masing.

Dalam waktu tidak lama, berdatanganlah para murid senior membawa burung-burung merpati yang telah tersembelih. Setelah itu, puteranya, Ahmad bin Mansyur datang pula dengan burung merpati yang telah tersembelih. Hanya Ahmad bin Shalih yang datang paling akhir dengan burung merpati masih hidup dan belum disembelih.

Di hadapan murid-murid senior dan puteranya, Syaikh Mansyur Al-Batha'ih bertanya kepada Ahmad bin Shalih,"Wahai Ahmad, kenapa engkau datang terlambat? Dan kenapa pula burungmu belum  kau sembelih?"

Dengan takzim Ahmad bin Shalih menjawab,"Maafkanlah saya paman, saya tidak dapat melaksanakan perintahmu. Sebab saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Saya tidak menemukan tempat seperti yang paman maksudkan. Saya tidak menemukan tempat yang bebas dari pengawasan. Setiap tempat yang saya datangi senantiasa saya rasakan Allah selalu hadir dan mengawasinya."

Mendengar jawaban Ahmad bin Shalih, Syaikh Mansyur Al-Batha'ih dan para murid serta puteranya terpukau. Sebab yang disampaikan Ahmad bin Shalih itu menunjukkan betapa tinggi tingkat muraqabah Ahmad bin Shalih. Untuk itu, Syaikh Mansyur Al-Batha'ih menetapkan pilihan dengan berkata,"Turiiduna li mahbubikum, wa Allahu yuuridu li mahbubih" (kalian menghendaki orang yang kalian sukai, tetapi Allah lebih menghendaki orang yang Dia sukai). Demikianlah, Ahmad bin Shalih Al-Rifa'i terpilih secara mutlak sebagai pengganti Syaikh Mansyur Al-Batha'ih. Sekali pun mengganti kedudukan Syaikh Mansyur Al-Batha'ih, namun ajaran yang dikembangkan Syaikh Ahmad Rifa'i tidak sama persis dengan yang diajarkan Syaikh Mansyur Al-Batha'ih, karena Syaikh Ahmad Rifa'i juga memperoleh ijazah dari guru sufi yang lain, yaitu Syaikh Abdul Malik Al-Kharnubi.

Ketika  Syaikh Ahmad Rifa'i bertemu dengan seorang wali bernama Syaikh Abdul Malik Al-Kharnubi, ia diberinya pelajaran berupa sindiran: "Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak mendapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang." Sindiran itu sangat berkesan bagi  Syaikh Ahmad Al Rifa'i. Setahun lamanya Syaikh Ahmad Rifa'i mengulang-ulang perkataan ini.

Setelah setahun Al-Rifa'i datang kembali menemui Syaikh Abdul Malik Al-Kharnubi dan meminta wasiat lagi. Syaikh Abdul Malik Al-Kharnubi kemudian berkata, "Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal. Sangatlah keji penyakit pada sisi semua dokter. Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wushul."  Syaikh  Ahmad Al-Rifa'i kembali mengulang-ulang perkataan itu selama setahun dan ia  banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.

Syaikh Ahmad Rifa'i dikenal sebagai rujukan  ilmu thariqah di jamannya, karena ia dianggap memiliki ilmu haqiqat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung dan masyhur sesudah jaman  Syaikh Abdul Qadir  Al-Jailany. Ke mana pun ia pergi, para pengikutnya selalu mengikutinya. Itu sebanya, para pengikutnya dikenal dengan sebutan "Al-Thoifah Al-Rifa'iyah".

 Dijuluki dengan Muhiyyudin dan Sayyid al- ‘arifin (penghulu para ‘arif). Berasal dari Maghribi dan terlahir di Bathaih yang kemudian menjadi tempat tinggalnya.
     
Kualitas, kemasyhuran dan tingkatan spiritualnya sulit untuk dilukiaskan dengan kata-kata. Beliau adalah salah seorang dari empat orang yang dianugerahi kemampuan menyembuhkan lepra, kebutaan, menghidupkan orang mati, dengan izin Allah.
Beliau termasuk salah satu orang termasyhur di dunia. Muridnya berasal dari berbagai makhluk dan berbagai negara. Banyaknya tidak terhitung. Tidak ada satu negara muslimpun yang tidak memiliki zawiyahnya.

Beliau adalah orang yang sering bermujahadah, beliau juga termasuk salah satu orang yang menguasai berbagai kondisi spiritual dan rahasia-rahasianya. Kepada beliaulah kepakaran ilmu ini dinisbathkan. Beliau terangkan berbagai kondisi spiritual dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan dalam posisi mereka. Berbagai pernyataan berkualitas tinggi dalam tasawuf dinisbathkan kepada beliau.

Beliau termasuk orang tawadhu’ dan melepaskan dirinya dari dunia, tidak pernah menyimpan apapun. Ketika ada yang bertanya kepadanya tentang pernyataannya, “Sendiri lebih baik dari pada teman jelek”. Beliau menjawab, “di Zaman sekarang ini orang saleh lebih baik dari pada teman duduk. Karena memandangnya adalah obat dan tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali tauhid”.

Berkenaan dengan pemutusan hubungan kepada selain Allah lari dari segala sesuatu kepada Allah dan menninggalkan apapun selain Allah, beliau menyitir sebuah sya’ir:

Bagaimana kalian bisa bergembira sedangkan hidup adalah kesedihan
Bagaimana kalian bisa ridha sedangkan Al-Anaam (sang pencipta murka).
Wahai yang menjadikan antara aku dan kehidupan
Dan menjadikan antara aku dan alam kehancuran
Jika Engkau meneriakkan cinta, maka semua menjadi hancur
Dan semua yang ada di atas tanah menjadi debu.

Syaikh Syamsudin Abu Mudzafar Yusuf  Sabt ibn Jauzi dalam kitab tarikh karangannya menyatakan salah seorang syaikh kami berkisah, “Pada suatu malam di pertengahan bulan sya’ban, aku mendatangi Syaikh Ahmad Rifa’i dan mendapati sekitar 100 ribu orang sedang berkumpul. ‘Ini adalah kumpulan yang sangat besar kataku kepadanya. Beliau balik berkata, ‘Engkau akan mendapat kerugian sebaimana yang didapat  Hamman jika terbetik dalam hatimu bahwa akulah pemimpin kumpulan ini’”.

Syaikh Abu Farj AbduRrahman bin Ali Ar-Rifa’i keponakan dari saudara perempuannya berkisah, “pada suatu hari aku duduk di tempat yang membuatku dapat mendengar perkataan dan melihat beliau dengan jelas. Saat itu beliau duduk seorang diri, tidak didampingi oleh siapapun. Tiba-tiba seseorang turun dari langit dan duduk di hadapannya. Beliau berkata, ‘ Selamat datang utusan dari timur.’

 ‘Dua puluh hari sudah aku tidak makan dan minum. Aku ingin engkau memberi makan keinginanku’, ujar orang tersebut.

  ‘Apa keinginanmu ?’ tanya beliau.

Orang itu memandang ke lima ekor angsa yang sedang terbang dan berkata, ‘ Aku ingin salah satu dari angsa tesebut, panggang. Dua potong roti dan secangkir beasar air dingin’.

‘Akan aku berikan semua yang engkau minta’. Jawab sang Syaikh. Kemudian beliau memandang ke arah angsa-angsa tersebut sambil berkata, ‘penuhi permintaan orang ini’. Tak lama kemudain salah seekor dari mereka turun dalam keadaan terpanggang. Setelah itu Syaikh mengulurakn tangannya mengambil dua buah batu yang ada di sampingnya yang kemudian berubah menjadi dua potong roti hangat. Kemudian beliau mengulurkan tangannya ke udara dan saat turun tangan tersebut  telah menggenggam cawan besar merah berisi air. Orang tersebut makan dan minum lalu kembali terbang kearah datangnya tadi.

Seiring dengan perginya orang tersebut, Syaikh bangkit dan memungut tulang-tulang angsa tadi, meletakkannya di tangan kiri dan mengusapnya dengan tangan kanannya seraya berkata, “hai tulang belulang yang berserakan, dengan perintah Allah terbanglah engkau. BismiallahiRrahmaanirrahiim. Seketika itu pula angsa tersebut terbang ke udara menghilang dari pandangan kami. “

Syaikh Jalaludin Abdurrahman As-Suyuti berkata dalam kitabnya At-tanwir bab  imkan rukyatinNabiyyi SAW (Dimungkinkannya melihat RasuluLlah SAW), “Syaikh Ahmad Rifa’i berdiri di depan makam RasuluLlah SAW kemudian beliau bersya’ir

Ketika jauh, rohku yang kukirim sebagai wakilku untuk menciumi tanah kuburmu.

 Sekarang yang diwakilkan telah hadir, sekarang ulurkanlah tangan kananmu agar beruntung kedua bibirku.

 Seketika itu pula keluarlah tangan RasuluLlah SAW dari kuburnya.

Diriwayatkan salah seorang sahabatnya sering melihat beliau duduk di kursi As-Shidq dalam mimpimya, namun ia tidak pernah mengabarkan hal tersebut kepada beliau. Dan sang syaikh diriwayatkan memiliki seorang isteri yang berlidah tajam dan berperangai kasar.

"Suatu hari orang tadi menghadap beliau dan mendapati isteri tersebut sedang memukulkan penyulut lampu ke punggungnya hingga hitam bajunya tanpa sedikitpun dilawan oleh sang syaikh. Sahabat tersebut keluar dan menemui para sahabat yang lain kemudian berkata, “Wahai saudara-saudara, sang syaikh mendapat perlakuan demikian dan demikian….. namun kalian dam saja.”. Salah seorang berkata, “Maharnya limaratus dinar dan beliau adalah orang yang miskin”. Sahabat tadi berlalu dan mengumpulkan 500 dinar kemudian pergi menghadap sang Syaikh dan meletakkan uang tersebut di hadapannya.

Apa ini  ?“ tanya sang syaikh kepada sahabatnya tersebut.

“Ini mahar perempuan yang telah berbuat ini dan itu kepada engkau” jawabnya.

“Tahukah engkau” ujar sang syaikh, “Jika bukan karena kesabaranku atas pukulan dan mulutnya, engkau tidak akan melihatku duduk di kursi Ash-Shidq. “

Syaikh Syamsudin Sabth Ibn Jauzi dalam kitab tarikh berkata, “Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abu Abas bin Rifa’i adalah syaikh orang-orang Bathaih, beliau tinggal di Umm Ubaidah dan dianugerahi berbagai karamah dan maqam. Diantara para sahabatnya ada yang menunggangi hewan buas dan bermain dengan ular. Ada pula yang memanjat dan melemparkan dirinyan dari pohon kurma tertinggi tanpa cedera sedikitpun. Mereka semua berkumpul satu kali dalam semusim.”

Ketua para Qadhi Mujiruddin AbruRrahman Al-Amiri Al-‘Alimi Al-Hanbali Al-Maqdisi dalam kitabnya Al-Mu’tabar fi abna min ‘abar meriwayatkan, “ Beliau adalah Abu Abbas Ahmad bin Abi Al-Hasan Ali bin Abi Abas Ahmad yang dikenal dengan sebutan bin Rifa’i beliau bermadzhab Syafi’i , berasal dari barat dan tinggal di Umm Ubaidah sebuah desa di Bathaih. Sebuah syair darinya :

Bila gelap tiba, bergolak kalbuku mengingat-Mu

Tangisku bak cicitan burung merpati.

AL-Alamah Syamsudin bin Nashirudin Ad-Dimasyqi berkata, “Kami belum pernah mendengar bahwa guru kami Syaikh Abu Abas Ahmad bin Rifa’i merupakan keturunan salah seorang dari para Imam sebagaimana yang dinyatakan oleh beberapa imam, atau nasab yang shalih dari Ali bin Abi Thalib atau kepada keturunan beiau yang mulia. Yang sampai kepada kami, yang dihafal oleh para Hufadz  dan yang kami anggap kuat, beliau adalah Abu Abas Ahmad bin Syaikh Abi Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim bin Ali bin Rafa’af Al-Maghribi. Berasal dari Iraq dan kata Rifa’i dinisbathkan kepada kakek buyutnya.

Adalah ayahnya syaikh Abi Al-Hasan Ali yang datang dari Maghrib dan menetap di Bathaih. Beliau mengawini saudara perempuan Syaikh Manshur ahli zuhud ,dan dari perkawinan tersebut lahirlah Syaikh Ahmad Rifa’i. Ayahnya meninggal dunia ketika beliau masih dalam kandungan dan beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 500 H. Beliau diasuh oleh paman dari ibunya sejak saat itu.

Beliau belajar kepada pamannya, kepada Abi Al Hasan Ali Al-Qaari Az-Zahid dan lainnya. Kemudian beliau menjadi pemimpin kaum ‘aarif dan salah seorang wali terbesar dalam sejarah. Beliau wafat 17 tahun setelah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli, pada bulan Jumadil Ula 587 H”.

Sedangkan Ketua Qadhi Jamaluddin Abu Mahasin Yusuf At-Tadafi mengatakan, “Beliau adalah Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim bin Ali bin Tsabit bin Ali bin Al-Husain Al-Asghar bin Al-Mahdi bin Muhammad bin Qasim bin Musa bin AbdurRahim bin Saleh bin Yahya bin Muhammad bin Ibrahim bin Musa bin Kadzim bin Ja’far As’Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”



Ajaran Syaikh Ahmad Rifa'i

Ajaran tasawuf Syaikh Ahmad Rifa'i banyak diriwayatkan oleh ‘Abdul Wahhab Al-Sya'rani dalam buku At-Thabaqat al-Kubra. Ajaran zuhud, misal, menurut Syaikh Ahmad Rifa'i adalah landasan keadaan yang diridlai dan tingkatan-tingkatan yang disunnahkan. Langkah pertama salik menuju Allah adalah mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah.  Siapa yang belum menguasai landasan kezuhudan, maka langkah-langkah selanjutnya akan sulit menemukan yang benar. Sedang ma'rifat, menurut Syaikh Ahmad Rifa'i, adalah kehadiran dalam makna kedekatan kepada Allah disertai ilmu yaqin sehingga tersingkaplah hakikat realitas-realitas yang benar-benar meyakinkan. Dalam riwayat lain, dikisahkan Syaikh Ahmad Rifa'i berkata,"Cinta mengantar pada rindu dendam, sementara ma'rifat mengantar pada kefanaan - ketiadaan diri."

Ajaran Syaikh Ahmad Rifa'i tidak lepas dari rebana sebagai pengiring dzikir dan shalawat. Menurut riwayat, suatu saat Syaikh Ahmad Rifa'i berdzikir dalam keadaan fanaa. Tubuhnya terangkat ke atas dan dalam keadaan tidak sadar ia menepuk-nepuk dadanya. Allah memerintahkan kepada malaikat untuk memberinya rebana di dadanya. Tetapi Syaikh Ahmad Rifa'i tidak ingat apa-apa akibat terlalu khusyuknya. Sejak saat itu, rebana menjadi bagian dari ajaran tarikat Ar-Rifa'iyyah.

Untuk menuju kepada Tuhan, Al-Rifa'i mengajarkan dzikir yang diformulasi dengan irama dan intonasi suara yang lantang dengan tujuan supaya yang tidur bangun dan yang alpa menjadi ingat. Oleh karena cara berdzikir yang berirama itu, dunia Barat menyebut dzikir Tarikat Rifa'iyyah dengan sebutan Darwis Menangis, terutama karena suara-suara ganjil yang dihasilkan pada dzikir berjama'ah Tarikat Rifa'iyyah. Ada pula yang menyebut dzikir Rifa'iyyah dengan sebutan Dzikir Arra, yaitu "dzikir menggergaji" terutama yang dijalankan Tarikat Rifa'iyyah di Asia Tengah dan Turki. Sebagian penganut Tarikat Rifa'iyyah menyatakan tidak tahu pasti apakah Dzikir dengan suara lantang itu diajarkan oleh Syaikh Ahmad Rifa'i sendiri atau ada pengaruh dari Tarikat Yasawiyyah yang dibangsakan kepada Syaikh Ahmad Yasawi, di mana Syaikh Ahmad Yasawi dikenal sebagai pelopor dzikir lantang karena ia seorang sastrawan sufi.

Dalam kitab at-Thabaqat al-Kubra  diterangkan, pada saat mengajar Syaikh Ahmad Rifa'i suaranya terdengar oleh orang-orang yang tinggal jauh dari tempatnya  seolah semua bisa mendengar apa yang disampaikan  sama seperti orang yang dekat dengan tempatnya mengajar. Saat Syaikh Ahmad Rifa'i mengajar,  penduduk di sekitar  Ummi Abidah beramai-ramai keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad Rifa'i. Konon,  orang yang  tuli pun  jika hadir mengaji, akan dibukakan pendengarannya oleh Allah sehingga bisa mendengar apa yang disampaikan  Syaikh Ahmad Rifa'i. Para guru tarikat  banyak yang hadir untuk mendengarkan wejangan   Syaikh Ahmad Al-Rifa'i. Mereka biasanya menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah Syaikh Ahmad Al-Rifa ‘i selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah ke dada mereka  masing-masing. Setelah sampai di rumah,  mereka dengan lancar  bisa menjelaskan semua yang telah mereka dengar  kepada para muridnya.

Dari berbagai ajaran Al-Rifa'i yang paling menonjol dan terkenal adalah Dabus, suatu didikan yang luar biasa ganjil.Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975) menganggap Tarikat Rifa'iyyah sebagai tarikat ganjil karena melatih murid-muridnya untuk tahan api, melukai diri sendiri dengan benda-benda tajam, berjalan di atas pecahan kaca, mematukkan diri dengan ular berbisa, memakan kaca, ditusuk benda-benda runcing (dabus), dengan anggapan murid-murid yang mencapai tahap fana tidak lagi memiliki rasa sakit karena sangat dzikir kepada Allah.

Asy-Sya'rani mengomentari kedudukan Al-Rifa'i dalam kedudukan tasawuf  dengan ungkapan,"Dia adalah seorang tokoh dalam tasawuf, mengenal berbagai keadaan kaum sufi, dan banyak menuingkap masalah-masalah posisi mereka. Setiap kali ia keluar, ia selalu diikuti orang banyak. Dia memiliki murid."

Keanehan dalam berbagai hal, tidak hanya dimiliki Al-Rifa'i, banyak hal aneh yang juga sering terjadi pada diri murid Syaikh Ahmad Rifa'i seperti mampu  masuk ke dalam api yang sedang menyala, menjinakkan binatang buas seperti harimau, membuat hewan buas patuh dan menuruti apa yang mereka katakana, sehingga singa pun  dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Di Mesir banyak cerita tentang bagaimana murid-murid Tarikat Rifa'iyyah menolong orang-orang yang dipatuk ular cobra.  Pendek kata, berbagai keajaiban ditunjukkan oleh murid-murid Tarikat Rifa'iyyah.



 Keteladanan Hidup Syaikh Ahmad Rifa'i

Salah satu dari sekian banyak  budi pekerti yang diteladankan  Syaikh Ahmad Rifa'i  adalah  seringnya ia mengunjungi tempat orang-orang berpenyakit kusta. Ia tidak sekedar mengunjungi, tetapi  mencuci bersih pakaian orang-orang berpenyakit kusta yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum itu. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu dengan mengantarkan makanan untuk mereka dan ia  juga turut makan bersama-sama mereka  tanpa merasa jijik.

Ketika Syaikh Ahmad Al Rifa'i datang dari perjalanan dan  telah dekat dengan kampungnya,  maka dipungutnya kayu bakar. Setelah  itu dibagi-bagikannya kayu bakar itu  kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang tua dan orang  yang membutuhkannya. Syaikh Ahmad Rifa'i berkata, "Mendatangi orang-orang yang semacam itu adalah  wajib bagi kita dan bukan sekedar sunnah. Nabi Saw bersabda : "Barang siapa yang memuliakan orang tua muslim, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya jika ia sudah tua".

Setiap berada dijalan, Syaikh Ahmad Rifa'i selalu menunggu  lewatnya orang buta, di mana saat  ada orang buta lewat  lalu dipegang dan dituntun serta diantar  sampai ke tujuan. Syaikh Ahmad Rifa'i memiliki kasih sayang bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada binatang. Dikisahkan satu saat  ada seekor anjing menderita penyakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia selalu  diusir orang. Anjing itu kemudian dipelihara oleh Syaikh  Ahmad Al-Rifa'i. Anjing itu dimandikan dengan air panas, lalu diberi obat dan makanan, sampai anjing itu sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang telah  diperbuatnya  Syaikh Ahmad Rifa'i selalu berkata , "Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik."

Syaikh Ahmad Rifa'i kalau kebetulan dihinggapi nyamuk akan  membiarkannya. Ia tidak mengijinkan orang lain untuk  mengusirnya. Syaikh Ahmad Rifa'i berkata, "Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya."

Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu shalat telah masuk. Syaikh Ahmad Rifa'i lalu menggunting lengan bajunya itu karena ia  tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai shalat,  lengan bajunya itu diambil dan dijahit lagi.

Jika ada orang minta dituliskan wafak/azhimah  kepadanya, maka Syaikh Ahmad Rifa'i akan mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Anehnya, sewaktu ada orang memberikan kertas yang pernah ditulisnya tanpa pena setahun sebelumnya, ia menolak untuk menulis ulang di atas kertas itu sambil menjelaskan bahwa kertas itu sudah pernah ditulisinya.

Budi pekerti mulia  lain yang ditunjukkan Syaikh Ahmad Rifa'i ialah ia  tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila ia dimaki  orang, ia hanya  menundukkan kepala dan bersujud  mencium bumi dan menangis serta meminta maaf  kepada orang yang memakinya.  Syaikh Ahmad Rifa'i pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrahim al-Basity yang isi suratnya merendahkan martabatnya. Syaikh Ahmad Rifa'i berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu, "Coba bacalah surat itu!"

Ternyata isi surat itu  adalah  "Hai orang yang buta sebelah, hai Dajjal, hai orang yang membikin bid'ah,  dan berbagai macam caci-maki yang menyakitkan hati."  Setelah  pembawa surat itu selesai membaca surat,  maka surat itu diterimakan kepada Syaikh Ahmad Rifa'i, dan setelah membaca Syaikh Ahmad Rifa'i berkata : "Ini semua benar, semoga Allah membalas kebaikan kepadanya." Lalu  Syaikh Ahmad Rifa'i  berkata dengan bersyair, "Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan." Sebentar kemudian  Syaikh Ahmad Rifa'i berkata : "Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi "Dari orang rendah kepada Tuanku Syaikh Ibrahim. Mengenai tulisan Tuan seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo'akan dan memaafkanku."

Setelah surat balasan ini sampai pada Syaikh Ibrahim al-Basity dan dibaca isinya, kemudian Syaikh Ibrahim pergi. Menurut cerita,   tidak ada seorang pun yang tahu ke mana syaikh itu pergi.

Kisah menggemparkan yang pernah dialami Syaikh Ahmad Rifa'i adalah sewaktu ia melakukan ibadah Haji dan  ketika berziarah ke Makam Nabi Muhammad Saw. Saat itu terlihat  tangan menjulur dari dalam kubur Nabi Saw bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi Saw tersebut. Kejadian itu disaksikan oleh banyak orang  yang  berziarah ke Makam Nabi Saw tersebut. Semua orang takjub dan terheran-heran dengan peristiwa anehitu.

Setelah menyaksikan keajaiban gurunya, salah seorang murid Syaikh Ahmad Rifa'i berkata, "Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Qutub!". Syaikh Ahmad Rifa'i  menjawab, "Sucikan syak wasangkamu daripada Qutubiyah".  Lalu  murid itu berkata lagi, "Tuan Guru adalah Ghauts!".  Syaikh Ahmad Rifa'i menjawab lagi, "Sucikan syak wasangkamu daripada Ghautsiyah"

Menurut Al-Imam Asy-Sya'rani, jawaban-jawaban Syaikh Ahmad Rifa'i atas simpulan muridnya adalah dalil bahwa Syaikh Ahmad Al-Rifa'i  sejatinya telah melampaui "Maqaamat" dan "Athwar",   karena ketinggian derajatnya , kualitas maqam-nya, dan dekatnya dengan Allah sehingga tidak diketahuinya maqam, meski terdapat beberapa maqam.

Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain.

Tentang waktu wafatnya Syaikh Ahmad Rifa'i tidak terdapat keseragaman. Sebagian menyatakan Syaikh Ahmad Rifa'i  wafat tahun 578 H di al-Batha'ih, yang lain menyatakan  Syaikh Ahmad Rifa'i wafat di Umm Ubaidah pada 22 Jumadilawwal 578 H atau 23 September 1183 M. Namun ada pula yang menyatakan  Syaikh Ahmad Rifa'i wafat  pada hari Kamis, waktu Dhuhur, tanggal 12 Rabbiul awwal 570 H dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Ada juga riwayat Beliau wafat pada hari Kamis 12 Jumadil Ula 580 H, di Umm Ubaidah di usia 90 tahun. Kata Rifa’i dinisbathkan kepada orang yang mempunyai kedudukan tinggi di Maghrib.


12 Feb 2014

Keutamaan Wali di atas Alim



Penghargaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan sangatlah tinggi. Setinggi penghargaan mereka terhadap para pemiliknya (ulama). Betapa taat dan ta’dhimnya para santri kepada para ulama dapat dilihat ketika mereka berbondong-bondong mendengarkan petuah, pengajian dan ta’limnya. Hal ini sesuai dengan petunjuk agama untuk menghargai ilmu dan para pemegangnya.

Penghargaan yang serupa juga diberikan kepada para wali, bahkan penghormatan itu jauh lebih dalam ketika mereka telah tiada. Lihatlah beberapa makam para wali yang berada di Nusantara ini selalu penuh dengan peziarah. Sebagian masyarakat mampu memahamai fenomena ini dengan jernih. Dan membacanya sebagai bagian dari tradisi Islam. Tetapi sebagian orang tidak memahami hal ini, dan menganggap penghormatan kepada wali dan orang mati tidaklah pantas dilakukan. Mereka menganggap posisi seorang wali tidaklah lebih tinggi dari seorang ‘alim. Padahal tidak demikian, karena posisi wali ada di atas posisi alim.

Karena jika para alim adalah mereka yang menguasai masalah furu’ dan ushul dalam ajaran agama Islam yang membentang dari hal aqidah, syariah, tafsir, hadits dan seterusntya. Maka sesungguhnya para wali yang telah mencapai ma’rifat kepada Allah swt, dan membenamkan diri dalam pengabdian kepada-Nya setulus hati untuk selamanya dengan rela mengorbankan berbagai kesenangan duniawi dan syahwat rohani, maka sesungguhnya wali itu lebih utama posisinya dibandingkan para alim.

As-Syaikh Zainuddin al-Malibary mengatakan dalam Hidayatul Adzqiya’  sebagai berikut:
Dan mereka orang-orang yang mengenal (makrifat) Tuhannya lebih afdhal (utama) dibandingkan para ahli furu’ dan ahli ushul yang sempurna. Sesungguhnya satu raka’at yang dilakukan orang arif (wali) itu lebih utama dibandingkan seribu raka’at orang alim. Terimalah keterangan ini.

Begitu pula keterangan Sayyid al-Bakri Ibn Sajjid Muhammad Syatha ad-Dimyathi dalam kitabnya Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ beliau menjelaskan bahwa kemuliaan orang yang berilmu (alim) itu sangat tergantung dengan ilmunya dan fungsi dari ilmu tersebut yang sangat terbatas. Akan tetapi kemuliaan para wali (al’arifuuna billah)orang yang mengerti Allah swt itu tergantung kepada yang Maha Mengetahui yang pengetahuan-Nya sangat sempurna dan amat mulia (yang tanpa batas – tanpa tanding).



Sumber nu.or.id

10 Feb 2014

Mata Iblis Ditusuk Jarum Nabiyullah Idris AS

Assalamu’alaikum wr. wb.
Kesalehan Nabi Idrus as ternyata mampu mengalahkan kemampuan Iblis. Bahkan, hanya dengan sepucuk jarum jahit yang biasa digunakan untuk bekerja, dia mampu membuat mata Iblis menjadi buta.


Kisahnya

Nabi Idris as merupakan sosok nabi dan rasul yang terkenal kesalehannya. Beliau merupakan keturunan keenam dari Nabi Adam as. Beliau lahir 1.000 tahun setelah wafatnya Nabi Adam as. Nama aslinya adalah Ukhunuh. Namun karena tekun mempelajari ilmu agama dan kitab-kitab Allah, maka beliau dikenal dengan nama Idris.

Menurut riwayat, Nabi Idris as adaalah seorang nabi pertama yang paling pandai menulis dengan bahasa dan dapat membaca. Karena kemampuannya membaca itu, Allah SWT telah menurunkan 30 syahifah yang berupa petunjuk untuk disampaikan kepada umatnya yang terdiri dari keturunan Qabil yang merupakan putra Nabi Adam as yang durhaka kepada Allah SWT.

Pandai Menjahit
Selain terkenal karena kemampuannya dalam menulis dan membaca, beliau juga dikenal sebagai orang pertama yang mampu menunggang kuda, mengetahui ilmu bintang, pandai mengira serta memerangi orang yang durhaka kepada Allah SWT. Beliau juga adalah orang pertama yang pandai menggunting dan menjahit pakaian yang dibuat dari kulit binatang.

Kehidupan sehari-harinya selalu diisi dengan kegiatan beribadah kepada Allah SWT serta menolong orang miskin. Pada saat waktu luang beliau gunakan untuk menjahit pakaian. Biasanya apabila pakaian itu siap, dia akan memberikannya kepada orang yang miskin. Di samping itu, setiap hari dia tidak pernah lepas dari berpuasa.

Nabi Idris as tidak pernah lupa untuk berbakti dan beribadah kepada Allah SWT meskipun dia sibuk menhadapi tugas-tugas harian. Nabi Idris as juga seorang yang gagah, beliau memiliki kekuatan luar biasa. Karena itulah beliau dikenali sebagai “Asadul Usud” atau singa dari segala singa.

Dengan dikaruniai Allah SWT sifat gagah itu, Nabi Idris as mampu memerangi orang yang durhaka kepada Allah SWT. Karena itulah beliau dimuliakan Allah SWT seperti penjelasan dalam Surat Maryam ayat 56-57.

Allah SWT berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (٥٦)
وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (٥٧)

56. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.
57. dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

Hal ini juga dikuatkan dalam surat Al Anbiya ayat 85-86.
Allah SWT berfirman,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ (٨٥)
وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ (٨٦)

85. dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka Termasuk orang-orang yang sabar.
86. Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat kami. Sesungguhnya mereka Termasuk orang-orang yang saleh.

Menikam Mata Iblis
Selama masa hidupnya, Nabi Idris as sangat takwa dan saleh, ini yang membuat iblis dan setan iri hati. Pada suatu hari ketika Nabi Idris as sedang duduk menjahit baju, tiba-tiba dan entah darimana datangnya, muncullah seorang laki-laki di depan pintu rumahnya sambil memegang sebutir telur di tangannya. 

Iblis yang menyamar sebagai lelaki itu berkata,
“Ya Nabiyullah, bisakah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?
Sekilas Nabi Idris as melihat lelaki itu dan dia sudah mengetahui bahwa orang yang berada di hadapannya itu adalah iblis laknatullah yang sedang menyamar.

Nabi Idris as berkata,
“Kemarilah, mendekatlah kepadaku dan tanyalah yang engkau mau.”
Iblis menyangka dirinya pandai menyamar dan mendekat Nabi Idris as. Dia terlihat senang karena merasa penyamarannya tidak diketahui oleh Nabi Idris as.
Iblis berkata,
“Bisakah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?”
“Jangankan memasukkan dunia ini ke dalam telur sebesar ini, bahkan ke dalam lubang jarumku ini pun Tuhanku berkuasa melakukannya,” jawab Nabi Idris as.

Lalu dengan secepat kilat Nabi Idris as menusuk mata iblis dengan jarumnya. Secepat kilat jarum itu mengenai matanya, dan iblis pun menjerit kesakitan. Dia terkejut dan tidak menyangka kalau Nabi Idris as akan mengetahui tipu dayanya.

Karena mata iblis tertusuk jarum Nabi Idris, maka matanya telah menjadi buta. Tanpa membuang waktu, iblis pun lari tunggang langgang hingga hilang dari pandangan Nabi Idris as.

Wassalamu’alaikum wr. wb.


8 Feb 2014

Beragam Cara Allah SWT Mengabulkan Doa Kita



Kalam yang masyhur Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan: “Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta, akan tetapi Allah akan selalu meberi apa yang kita butuhkan.”

Maulana al-habib M. Luthfi bin Yahya menjelaskan tentang sebuah rahasia (sirr) di balik setiap doa yang kita ucapkan. Kenapa doa yang sering kita lakukan terkadang atau bahkan kebanyakan tak kunjung terijabahi oleh Allah? Bersyukurlah, karena itu pertanda amat sayangnya Allah kepada kita. 

Allah Ta’ala berfirman: ادعوني أستجب لكم “Berdoalah padaKu (Allah) maka Aku (Allah) akan menerima kalian”.

Firman Allah tersebut merupakan dasar atau dalil perintah untuk kita berdoa kepada Allah. Lalu apakah doa yang kita panjatkan itu pasti diterima oleh Allah? Doa kita diterima atau tidak itu hak Allah, tapi kita wajib untuk berdoa kepada Allah. 

Selanjutnya, yang namanya menerima itu belum tentu mengijabahi. Kita berdoa pasti diterima, akan tetapi belum tentu diijabahi oleh Allah. Tidak semua diberikan atau diijabahi oleh Allah, dan Allah tidak mengijabahi doa itu termasuk bentuk kasih sayang atau rahmat Allah kepada hambaNya. 

Doa pun dalam “astajib lakum” itu tetap ada syara’nya, sehingga tidak semua doa diijabahi. Contohnya kita berdoa menjadi Nabi, itu tidak akan diijabahi.

Doa itu ada yang diterima tetapi untuk memenuhi gudang akhirat, ibaratnya kita menabung sehingga tidak diijabahi di dunia. Ada juga doa yang diijabahi di dunia dan akhirat. 

Allah Ta’ala itu mengabulkan doa melalui proses syar’an. Seperti begini, Muhammad diangkat menjadi Nabi pada umur 25, lalu umur 40 baru diangkat menjadi Rasul, umur 51 tahun baru diberi perintah shalat melalui isra’ mi’raj, dan ahkamul wudhu’ baru diajarkan di Madinah. Di sini, Nabi Muhammad saja masih diberi proses, tidak langsung.

Kalau kita berdoa lalu Allah tidak mengijabahi doa kita, kita harus bersyukur, berterima kasih pada Allah. Karena bisa jadi, Allah tidak mengijabahi doa kita itu karena kita belum siap menerima doa yang diijabahi oleh Allah, karena ada beberapa hal yang kita belum kuat.

Doa, amalan-amalan, hizib, puasa, melek (saharullayali) dan lain-lain itu untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa (tashfiyatul quluub wa tazkiyatun nafs), sehingga ada godaan di dalamnya, yaitu selalu terjadi perang batin. Contoh: ada orang yang ngaji ke salah satu kiai yang terkenal kealimannya. Lalu orang tersebut timbul dalam hatinya rasa bangga karena bisa dekat dan ngaji kepada sang kiai sehingga merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, itu sebenarnya bala’ atau musibah bagi sang kiai tersebut.

Walhasil, kita harus bersyukur karena kita disayang oleh Allah Ta’ala dengan tidak diberi secara langsung, namun bertahap. Karena kalau diberi langsung kita bisa nggeblag (error) karena tidak kuat.

Al- Habib Munzir bin Fuad Al Musawa menjelaskan perihal firman Allah Swt.: “Mintalah kepadaKu akan Kujawab doa-doa kalian.”

Lalu kita bertanya: “Bagaimana dengan doaku siang dan malam yang masih belum dikabulkan Allah?”

Jawabannya adalah ketidaktahuan kita bahwa Allah menjawab doa kita lebih daripada yang kita minta. Kita minta A misalnya tanpa kita sadari Allah mengangkat 100 musibah yang akan datang di hari esok. Doa kita hanya hal yang remeh saja tapi Allah Yang Maha Dermawan memberi lebih dari itu.

Wallahu a’lam.

7 Feb 2014

Bagaimana Wujud Kita Berterima Kasih Kepada Allah SWT??



Telah sangat kita hafal firman Allah Swt.: “Lain syakartum la-aziidannakum.” Lalu muncul sebuah pertanyaan: “Syukur atau terimakasih kita kepada Allah itu seperti apa?” Maknanya bukan berarti Allah membutuhkan terimakasih kita, namun kitalah yang butuh berterimakasih kepada Allah.

Syahdan, suatu saat al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa mengisahkan sebuah kisah penuh hikmah: 

“Terjadi beberapa waktu yang silam saat itu saya masih di Tarim, Hadhramaut, tinggal beberapa lama di kota Syihr, wilayah Mukalla. Di situ ada seorang wanita tua wafat, suatu hari saya melihat jenazah diusung. Tapi ada satu hal yang ganjil. Apa yang ganjil? 

Ketika jenazahnya diusung, banyak orang yang mengusungnya dan ratusan ekor kucing ikut mengantarkan jenazah. Ini ganjil, saya fikir ada jenazah diikuti ratusan ekor kucing dan baru ini saya melihatnya.

Ketika saya bertanya-tanya, kenapa ini? Mereka memuji wanita tua yang wafat itu ‘alaiha rahmatullah. Di masa hidupnya nafkahnya dicukupi oleh anak-anaknya, kerjanya tiap pagi masuk ke pasar mengambil bekas kepala-kepala ikan yang terbuang dan ditaruh di sebuah gerobak dan ia melemparnya kepada semua kucing yang ada di jalanan.

Bertahun-tahun itu terjadi sampai setiap pagi, ratusan kucing sudah berjajar di jalanan menunggu bagian yang diberikan dari wanita tua itu. Ketika ia wafat, ratusan ekor kucing itu mengantarkan jenazahnya. Berhari-hari puluhan ekor kucing tidak meninggalkan kuburnya.

Demikian hadirin-hadirat, Allah jadikan ‘ibrah (contoh) bahwa setiap hewan itu mempunyai perasaan terimakasih kepada yang memberinya. Bagaimana aku dan kalian yang selalu diberi oleh Allah, adakah perasaan terimakasih terlintas untuk selalu berbakti kepada Allah?”

Syaikh Hisyam Kabbani qs



Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani adalah seorang ulama dan syaikh sufi yang berasal dari Lebanon. Syaikh Kabbani adalah salah satu dari ulama-ulama dunia ternama dalam sejarah Islam dan ilmu spiritual Sufisme. Sebagai deputi dari mursyid Thariqat Naqsyabandi Haqqani, Syaikh Kabbani juga merupakan pembimbing dan guru bagi sekitar 2 juta Muslim di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, Inggris dan Asia Tenggara.

Banyak presiden, raja dan para ulama di berbagai penjuru dunia yang menjadi murid beliau. Beliau dikenal sebagai guru dari para wali dan ulama. Beliau merupakan Master Sufi yang paling berpengaruh di dunia saat ini, dengan jutaan murid tersebar di lima benua.

Syaikh Hisyam adalah keturunan Rasulullah Saw. baik dari jalur ayah dan ibunya (al-Hasani al-Husaini). Dari istrinya, Hj. Nazihe Adil yang merupakan putri Syaikh Nadzim al-Haqqani, beliau dikaruniai 3 putra dan 1 putri, serta beberapa cucu yang semuanya menetap di Fenton, Michigan.

Sejak usia 15 tahun, beliau telah menemani Syaikh Abdullah ad-Daghestani dan Syaikh Muhammad Nadzim al-Haqqani, syaikh agung Thariqat Naqsyabandi yang mulia di masa ini. Beliau banyak melakukan perjalanan ke segala penjuru di Timur Tengah, Eropa, dan Timur Jauh untuk menemani syaikhnya.

Beliau termasuk ulama yang menguasai berbagai macam bahasa, terutama beberapa dialek bahasa Arab, beliau menguasai secara aktif. Juga berbagai bahasa lain seperti bahasa Turki, Perancis, Inggris, Belanda dan Urdu.

Beliau sempat cukup lama tinggal di Arab Saudi sebagai manajer dan dokter specialis (MD) pada beberapa rumah sakit ternama di Jeddah dan Madinah. Bersamaan dengan hal tersebut beliau banyak belajar dari para imam dan mursyid Thariqah baik di Madinah maupun Makkah al-Mukarramah.

Atas perintah Syaikh Nadzim Adil Haqqani beliau telah menyelesaikan beberapa khalwat bervariasi diantara empat puluh hari hingga enam bulan. Diantaranya dilakukan di Madinah dekat Masjid Nabawi serta di Yaman dan Jordania.

Hijrah Syaikh Hisyam Kabbani di Amerika

Pada tahun 1991 atas perintah Syaikh Nadzim Haqqani, Syaikh Hisyam melangkahkan kakinya untuk memulai dakwah di benua Amerika. Pada saat itu beliau memulai di California bertujuan untuk menyebarluaskan ajaran Islam sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan para sahaba, yakni dakwah dengan lembut penuh kasih sayang dan ketinggian akhlak. Sejak saat itu pula beliau ditahbiskan sebagai khalifah Syaikh Nadzim Adil Haqqani an-Naqsyabandi di benua Amerika.

Di negeri Paman Sam tersebut Syaikh Hisyam mendirikan yayasan Thariqat Naqsyabandi. Sejak saat itu, beliau telah membuka 13 pusat sufi di Kanada dan Amerika Serikat.

Sampai tahun 1998 telah banyak pusat-pusat suluk atau zawiyyah (retreat centers) didirikan di Amerika, misalnya di California (L.A, San Fransisco, San Jose, Hollywood, Beverly Hills, Los Altos, Oakland), Toronto, New York, Michigan dan Washington D.C. Pusat-pusat dakwah, mushalla dan zawiyyah didirikan di lokasi-Iokasi yang beliau rasakan diperlukannya proses dakwah spiritual Islam secara kontinu dan terbimbing. Hingga saat ini tumbuh pusat-pusat sufisme di seluruh kota di Amerika Utara, Amerika Serikat dan Amerika Selatan.

Banyak dari para tokoh non Muslim, para pendeta dan pastur yang berhasil diislamkan oleh beliau. Tercatat hingga kini lebih dari 100.000 non Muslim di Amerika dan sekitarnya telah disyahadatkan oleh beliau, dibimbing melaksanakan rukun Islam (syari’ah), dalam hal spiritual (iman dan ihsan) menjadi pengamal Thariqat Naqsyabandi al-Haqqani.

Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani membimbing dan membawa bangsa Barat, bangsa Maghribi, atau bangsa Rum (Bani Ishaq) masuk ke dalam Islam dan ratusan ribu non muslim mengenal keindahan Islam melalui tasawuf dan akhirnya mereka memasuki Islam yang penuh kedamaian dan keindahan.

Tak seorang pun wali lainnya yang diberikan izin otoritas penuh untuk dapat menjumpai presiden, raja, pemimpin negara Barat, dan rakyat mereka, untuk membawa mereka menuju Islam, selain Syaikh Hisyam Kabbani. Dan inilah karamah beliau yang paling utama.

Syaikh Hisyam aktif memberikan ceramah, dan hadir di banyak konferensi dalam usaha perjalanan dakwah beliau selama ini. Tempat-tempat yang banyak beliau kunjungi adalah universitas dengan melaksanakan diskusi ilmiah tentang keislaman atau dialog interfaith, misalnya di UC Berkeley, McGill University, UCLA, University of Stanford, Harvard, University of Toronto, Howard University, University of Montreal, Universityof Chicago, SUNY, UC San Diego, dan lain sebagainya.

Beliau telah mengajar di sejumlah universitas, seperti the University of Chicago, Columbia University, Howard, Berkeley, McGill, Concordia dan Dawson College. Demikian pula dengan sejumlah pusat keagamaan dan spiritual di seluruh Amerika Utara, Eropa, Timur Jauh dan Timur Tengah.

Misi Syaikh Hisyam Kabbani di benua Amerika adalah untuk menyebarkan ajaran sufi dalam konteks persaudaraan umat manusia dan kesatuan dalam kepercayaan kepada Tuhan yang terdapat dalam semua agama dan jalur spiritual. Usahanya diarahkan untuk membawa spektrum keagamaan dan jalur-jalur spiritual yang beragam ke dalam keharmonisan dan kerukunan, dalam rangka pengenalan akan kewajiban ummat manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi ini.

Misi Syaikh Hisyam yang jauh melampaui target di Amerika adalah kontribusinya yang unik terhadap usaha umat manusia dalam mencapai takdir tertingginya, yaitu kedekatan dengan Tuhannya. Usaha beliau untuk membawa kesatuan hati dalam gerakannya menuju inti Ilahi merupakan warisan terbesarnya kepada dunia Barat.

Kunjungan Syaikh Hisyam Kabbani di Indonesia

April tahun 1997 beliau untuk pertama kalinya mengunjungi Indonesia. Kunjungan kedua dan ketiga dilaksanakan pada tahun 1998 dan 2000. Perjalanan dakwahnya di Indonesia terbilang baik dan mulus, ditandai dengan didirikannya Zawiyah Naqsyabandi Haqqani. Pertama kalinya zawiyah tersebut didirikan di wilayah Kampung Melayu, Jakarta.

Yayasan Haqqani Indonesia telah didirikan sejak tahun 2000 sebagai cabang Haqqani Foundation International yang sudah tersebar di beberapa negara. Yayasan mempunyai fungsi sebagai payung kegiatan yang bersifat spiritual dan non-spiritual.

Sampai saat ini murid beliau di Indonesia tersebar di pelosok Jakarta, Bandung, Sukabumi, Cililin, Nagrek, Pekalongan, Semarang, Tuban, Surabaya, Batam, Aceh, Padang, Bukittinggi, Bali dan lain-lain, yang semuanya terwadah dalam suatu keluarga besar Jamaah Thariqat Naqsyabandiyyah al-Haqqaniyyah yang dalam keorganisasiannya dikelola Yayasan Haqqani Indonesia.

Puluhan ribu santri beserta para pimpinan Pondok Pesantren di Cililin (Ponpes. Al-Bidayah), Nagrek Cicalengka (Ponpes. Al-Falah) dan Wonopringgo Pekalongan (Ponpes. At-Taufiqy) menyerahkan baiat Thariqat Naqsyabandi al-Haqqani kepada beliau, atas nama Syaikh Muhammad Nadzim Adil Haqqani an-Naqsyabandi.

Biografi lengkap Syaikh Hisyam Kabbani silakan baca di sini:

http://www.muslimedianews.com/2013/09/biografi-syaikh-muhammad-hisyam-kabbani_8415.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/09/biografi-syaikh-muhammad-hisyam-kabbani_454.html

Propaganda Yel Yel Syiah Bukan Islam



Jangan Asal Ikut Yel-yel #SyiahBukanIslam"

Oleh: KH. Awy Qalawun (Gus Awy) Alumni Ma’had Al-Maliki Makkah

Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) memiliki karakteristik yang berbeda dengan aliran lainnya, meskipun sama-sama Muslim. Maka hendaknya sebagai penganut Sunni benar-benar paham mengenai dakwah dan tidak ikut-ikutan yel-yel kelompok lebay.

Ada hastag yang menurutku menarik tapi pada dasarnya di sisi lain cukup berbahaya untuk kerukunan dalam ummat Islam sendiri, #SyiahBukanIslam. Kultwit ini tidak hendak membela Syiah, secara ideologi salah tetap salah, sesat bisa jadi (dalam kasus-kasus tertentu), tapi #SyiahBukanIslam?

Menyikapi permasalahan #SyiahBukanIslam ini harus jeli, sebab efeknya sangat banyak sekali, bahkan pada pondasi syariat kita sendiri. Ah yang benar, kok berlebihan banget begitu Why? Bagi pelajar ilmu hadits, akan segera tahu bahayanya propaganda #SyiahBukanIslam.

Semestinya kita harus betul-betul arif dalam soal ini, dan kaidah dasar yang mesti kita pegang, seseorang dihukumi Muslim hanya dengan dua hal saja. Pertama, dia syahadat, kedua, dia shalat menghadap kiblat. Maka seluruh hukum syariat, perlakuan, perlindungan, berlaku atas dia. Dan selanjutnya setelah itu jika ideologinya melenceng, itu hal lain yang berhubungan dengan batin, bukan hukum dzahir.

Semestinya kita tidak begitu saja memukul rata #SyiahBukanIslam, sebab di dalam Syiah sendiri terdapat berbagai macam aliran. Semisal Zaidiyyah, ini pecahan Syiah, tapi kita tidak bisa memasukkannya dalam #SyiahBukanIslam sebab mereka tidak mengkafirkan Abu Bakar Ra.

Kembali kepada bahaya terselubung dalam propaganda #SyiahBukanIslam yang bisa meruntuhkan pondasi syariah. Dari mananya? Kita semua pasti tahu kitab hadits Bukhari-Muslim dan 4 yang lain (Abu Daud, Ibn Majah, Tirmidzi, an-Nasai) yang menjadi referensi utama kita. Jika tetap bersikukuh bahwa #SyiahBukanIslam maka (sekedar tahu saja) keenam kitab raksasa referensi utama itu semuanya tertolak!

Karena siapapun Muslim tahu bahwa periwayatan hadits dari orang kafir adalah tidak diterima. Jadi mata rantai hadits harus Muslim asli. Sementara para periwayat hadits dalam keenam kitab raksasa tadi tidak sedikit yang Syiah. Nah bagaimana jadinya jika #SyiahBukanIslam?

Jika ingin tahu biografi sekaligus profil singkat para periwayat hadits dalam keenam kitab tadi, silakan ke yang paling kecil, al-Kasyif. Di situ tidak sedikit kita temukan periwayat yang statusnya Syi’i, rumiya bittasyayyu’, rafidhi... Tapi kok tetap diterima?

Karena kalau mereka (Syiah) itu mutlak dihukumi kafir artinya kita sama sekali tidak bisa menggunakam hadits-hadits riwayat Bukhari-Muslim. Dan setelah itu, efek selanjutnya, segala jenis hukum fiqih hasil istinbath dari hadits-hadits itu juga tidak sah. Remuk redam bangunan syariah.

Oke, mungkin sebagian berhujjah dengan pernyataan beberapa imam semisal Imam Syafi’i bahwa #SyiahBukanIslam. Tapi harus dicermati, itu kafirnya seperti apa dulu? Bisa jadi yang kafir ideologinya, tapi hukum dzahir atasnya tetap Islam. Sebab mereka juga shalat dan syahadat yang sama dengan kita. Perihal ada syahadat lain itu kembali ke bahwa Syiah banyak jenisnya.

Satu hal yang perlu kita ingat baik-baik, jangan mudah menyesatkan apalagi mengkafirkan sesama Muslim karena kita tidak tahu akhir kita. Apa yang berpropaganda #SyiahBukanIslam itu bisa menjamin bahwa dirinya nanti bakal tetap mati dalam keadaan Islam? Jangan-jangan yang di-bukanislam-kan itu nantinya taubat dan yang teriak-teriak mem-bukanislam-kan matinya su’ul khatimah, na’udzu billah, siapa tahu?

Maka tugas kita bersama adalah jika memang memandang mereka itu salah, maka luruskan dengan santun dan baik, bukan malah menjauhkan. Katanya dakwah (mengajak) kok hasilnya malah mengusir, membuat orang muak, dan ujung-ujungnya benci. Ketahuan tidak paham arti kata “dakwah”.

Pada akhirnya kita mesti banyak belajar dalam-dalam, jangan asal ikut yel-yel #SyiahBukanIslam tanpa tahu efeknya, atau sebab ego saja. Ingat, musuh kita yang jelas, yang disebut terang-terangan dalam al-Quran, yaitu setan, semakin hari semakin pintar dalam strategi penjerumusan. Salah satunya adalah lewat pengkafiran yang lain, sebab efek pengkafiran sesama Muslim adalah balik ke si pengkafir itu sendiri.

Maka tentu di akhirat kelak akan jadi lelucon jika ternyata sama-sama jumpanya di neraka. Atau memalukan jika yang dikafirkan malah masuk surga. Maka, yang lebih baik adalah konsentrasi pada Islam kita masing-masing, sudah bener belum, bukan malah ngurusi #SyiahBukanIslam atau JIL juga.

Jika masih keukeuh ngurusi mereka, maka gunakan cara yang elegan, “Ud’uu ilaa sabiili Rabbika bilhikmah wal mau’idzatil hasanah.” Juga jangan keras-keras, “Walau kunta fadhdhan ghalidzal qalbi lanfadhdhu min haulik.” Masak ngaku dakwah tapi tidak paham dua ayat dakwah ini?

Tidak perlu aku artikan apa makna dua ayat itu, kalau mengklaim diri berdakwah mestinya sudah paham dengan baik dua ayat tadi. Kalau belum paham dua ayat tadi, maka silakan evaluasi diri, apakah sudah punya kapasitas untuk dakwah? Jangan asal semangat saja.

Semoga Allah Memberi kita taufiq, selamat malam dan hari Jum’at, saatnya banyak-banyak membaca shalawat kepada Junjungan tercinta.

Diedit ulang dari: http://www.muslimedianews.com/2013/09/santri-mahad-al-maliki-makkah-jangan.html?m=1

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 27 September 2013

BERBEDA TIDAK HARUS BERMUSUHAN, TAPI JADIKAN IA SEBUAH KEINDAHAN



“Kisah Tokoh Muhammadiyyah yang Membaca Qunut Shubuh dan Tokoh NU yang Tidak Membaca Qunut Shubuh”

Keakraban dan keharmonisan para tokoh pendahulu dari kalangan NU dan Muhammadiyyah sudah terjalin semenjak dahulu, hanya saja kita kurang mengetahui tentangnya. Walau berbeda organisasi hingga berbeda dalam tata cara amaliah ibadahnya, kedua organisasi itu mampu menunjukkan eksistensinya sehingga sekarang.

Kisah berikut begitu menginspirasi kita semua tentang arti sebuah perbedaan, persaudaraan dan penghormatan. Kisah yang dialami oleh dua tokoh utama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, KH. DR. Idham Chalid dengan Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid (Pimpinan PBNU) pernah satu kapal dengan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak ada kisah istimewa dari kedua tokoh berbeda paham tersebut hingga waktu shalat Shubuh menjelang.

Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami. Secara tiba-tiba, pada rakaat kedua, KH. Idham Chalid meninggalkan praktek Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU seperti suatu kewajiban. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Tak ada nada protes yang keluar walau ada yang mengganjal di hati.

Sehingga seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, mendadak Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan mesra. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan.

Lihatlah, betapa kebesaran jiwa mereka terbukti melalui kisah ini, betapa besar jiwa kedua pemimpin umat Islam Indonesia itu. Coba kita bandingkan dengan saat ini, dimana masing-masing pengikutnya merasa dirinya yang paling benar dan kadang memaksakan pendapatnya atas yang lain.

Di masa sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal kecil antara orang-orang NU dan orang-orang Muhammadiyah seperti soal Qunut, melafalkan niat shalat dengan ushalli, tahlilan, ziarah kubur, maulidan, manaqiban dan lainnya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunnah, mubah atau makruh, bukan terkait hal yang diharamkan.

(Kisah ini juga tertulis dalam buku “99 Detik Menunggang Harimau Lapar”, pada bab kedua tentang silaturahim dan persaudaraan).

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 28 September 2013

3 PREMAN TANJUNG PRIOK ITU BERTAUBAT DI TANGAN GUS MIEK YANG SUDAH 3 TAHUN WAFAT!!!



Tak ada habisnya kalau kita membicarakan wali nyentrik satu ini, Gus Miek kyai nyeleneh yang mendapat sorotan banyak manusia. Ustadz Hamim Jazuli dari Tegal berkisah yang didengarnya dari Ustadz Suhaimi, salah seorang alumni PP. al-Falah Ploso Kediri, saat acara Halal Bihalal di aula gedung Asrama Brimob Cipinang. Beliau berbicara mengenai kisah 3 orang preman yang bertaubat.

Di daerah Tanjung Priok pada tahun 1996, ada 3 orang preman yang kerjaannya cuma memalak setiap kendaraan truck kontainer yang hendak masuk pelabuhan. Setelah itu mereka akan menggunakan uang hasil palakannya itu untuk mabuk-mabukkan, main perempuan atau berjudi.

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria mengenalkan dirinya bernama Gus Miek. Lantas pria itu berbicara kesana-kemari tentang banyak hal, mulai dari masalah politik, ekonomi hingga menyentuh masalah agama. Begitu lembut dan inteleknya pria itu berbicara, hingga akhirnya ketiga preman ini tertarik dan mulai suka dengannya. Apalagi pria itu orangnya asyik diajak gaul ala preman dan suka traktir makan, minum dan rokok.

Hingga akhirnya masuk waktu shalat Dzuhur, lantas Gus Miek mengajak ketiga preman itu untuk ikut shalat. Pada mulanya mereka menolak, tapi Gus Miek merayunya dengan iming-iming barangsiapa yang mau shalat dengannya, maka akan dikasih uang Rp. 50.000. Maka walaupun terpaksa akhirnya ketiga preman ini mau ikut shalat di belakang Gus Miek, tentu saja niatnya demi mendapat uang.

Begitulah setiap waktu shalat, pasti mereka shalat berjamaah bersama teman barunya, Gus Miek. Kejadian ini berlangsung hingga 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya ada kesadaran tersendiri bagi tiga preman itu untuk shalat, apalagi Gus Miek juga mengajarkan masalah agama yang selama ini belum pernah mereka dengar.

Dan memasuki bulan ke-4, Gus Miek sudah tidak menemui 3 preman tersebut. Tentu saja mereka kalang kabut, karena sudah terbiasa shalat berjamaah bersama Gus Miek. Mulai ada kerinduan dari ketiga preman itu akan sosok pria misterius yang selama ini selalu mengajak mereka kepada kebaikan dan mengajarkan mereka tentang masalah agama.

Rupanya tingkah mereka menarik perhatian Ustadz Suhaimi yang ketika itu baru pulang dari acara Maulid di Masjid Luar Batang. Lalu sang ustadz menghampiri mereka di teras masjid dan menanyakan banyak hal. Kemudian 3 preman itu bercerita tentang perjumpaan mereka dengan seorang pria misterius yang membuat mereka akhirnya mulai mendalami masalah agama.

Betapa kagetnya Ustadz Suhaimi ketika mendengar nama Gus Miek disebut oleh mereka. Lantas sang ustadz yang saat itu membawa buku saku tentang Dzikrul Ghofilin memperlihatkan foto seorang ulama kepada ketiga preman itu: “Apakah pria misterius itu seperti orang ini?”

Dengan nada heran, preman itu menjawab: “Iya benar. Apakah Ustadz kenal dengan dia?”

Ustadz Suhaimi menjawab: “Bukan kenal lagi, ini guru saya. Beliau seorang ulama besar yang merupakan seorang waliyullah. Dan beliau sudah wafat 3 tahun yang lalu.”

Seperti tersambar petir, terkejut bukan kepalang tiga preman ini mendengar penjelasan Ustadz Suhaimi. Jadi selama ini mereka mendapat pencerahan dari seorang ulama besar, waliyullaah masyhur, yang sudah lama wafat. Menangislah mereka sambil menciumi tangan Ustadz Suhaimi sambil menyatakan keinginan mereka untuk bertaubat dan meminta beliau mau mengajari mereka tentang masalah agama. Akhirya sang ustadz pun menyanggupinya dengan berurai air mata.

Kisah ini mengandung pelajaran, bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan juga mengajarkan bahwa para wali Allah itu tiadalah bagi mereka mati, jasad boleh mati tapi dakwah mereka akan tetap hidup kapan pun dan di manapun. Wallahu A’lam.


Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 27 Oktober 2013

6 Feb 2014

GUS DUR BUKAN ULAMA KONTROVERSIAL



Tulisan singkat nan sederhana, sebagai karcis haul Gus Dur ke-4, moga-moga dapat tempat duduk.

Seperti yang kita tahu, agama Islam adalah agama kasih sayang. Sekalipun di dalam agama Islam ada larangan-larangan tertentu, selalu ditekankan untuk menegakkan aturan tersebut harus atas dasar cinta.

Banyak pejuang Islam celaka karena salah memahami amar makruf nahi munkar. Dipikirnya perintah “mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan” itu berdiri sendiri. Tidak ada ayat-ayat al-Quran dan hadits penjelas tata cara operasionalnya. Kalau kita mau sabar belajar dulu, tidak hanya bermodal semangat, kita akan tahu “pendamping” perintah jihad tersebut; dilandasi kasih sayang. Silakan cek ke semua ulama dan penghafal al-Quran di dunia ini.

Tujuan berdakwah adalah mengajak kebaikan, tentu mustahil menghasilkan kerusakan. Menjadi mungkin kegiatan dakwah justru berbuah kerusakan, jika dilakukan dengan cara yang salah dan niat yang kotor. Kerusakan tambah parah jika hanya bermodal semangat saja, tanpa ilmu sama sekali.

Agar lebih memahami, kita ambil contoh kehidupan sehari-hari. Ada seorang anak kecil memanjat pohon untuk memetik buah. Tiba-tiba hujan turun, sementara anak kecil itu masih di atas pohon. Kalau yang “berdakwah” itu ibunya sendiri, pasti dia akan penuh kelembutan untuk mengajak anaknya segera turun. Kalau yang “berdakwah” itu tetangganya yang berwatak preman, pasti dia akan kasar menarik kaki anak kecil itu, lalu malah dibanting ke bawah.

Lihat, sama-sama tujuannya; turun dari pohon. Tapi, terasa sangat lain, kan? Kenapa bisa demikian? Cara ditentukan niat, sementara niat asalnya dari pikiran dan hati. Sang ibu sejak awal sudah berbeda dengan si tetangganya, karena sang ibu “mendakwahi” anaknya atas nama cinta. Akhirnya, hasilnya pun berbeda dengan si tetangga yang tanpa cinta tadi; sang ibu penuh lemah lembut mengajak si anak pada kebaikan.

Amar makruf nahi munkar, jihad, dakwah, dan sebagainya pun demikian. Harus dilandasi kasih sayang, karena itulah agama kita disebut agama Islam (agama perdamaian/keselamatan). Gus Dur sangat memahami konsep itu, maka Gus Dur layak disebut khalifatullah (wakil Allah). Hasilnya seperti kita lihat, pengikut Gus Dur ada puluhan juta orang, tak cuma kalangan NU, tapi juga lintas agama.

Semua orang cinta Gus Dur, karena beliau mencintai semua orang, bahkan kepada yang membencinya sekalipun. Semua orang mengagumi keislaman Gus Dur, karena beliau berislam secara utuh dan menyeluruh. Gus Dur sampai di level khalifatullah (wakil Allah), karena sudah lulus dua tahap sebelumnya.

Gus Dur sudah lulus jadi insan (manusia), kemudian Gus Dur sudah lulus jadi abdullah (hambah Tuhan), lalu Gus Dur pun di puncak pendakian seorang muslim, yakni menjadi khalifatullah (wakil Tuhan). Gus Dur berbeda dengan para pembencinya. Kebanyakan dari mereka, jadi manusia saja belum lulus.

Hanya karena rajin shalat dan pintar mengaji, ada orang gampang sekali menyakiti hati muslim lain yang menurutnya tidak sealim dirinya. Hanya karena menilai Ahmadiyah melenceng dari agama Islam, ada orang gampang sekali membakar rumah-rumah penduduk Ahmadiyah. Hanya karena dirinya berpuasa, ada orang gampang sekali memukuli ibu-ibu penjual makanan. Begitulah, jadi manusia saja belum lulus.

Bagi manusia yang level “manusia” saja belum lulus tapi merasa sudah di level khalifatullah, Gus Dur terlihat kontroversial. Gus Dur terlihat membela kesesatan-kesesatan dan memarahi para pejuang Islam. Bagi anak SD, ilmu politik terkesan adalah klenik. Bagi anak SD, musik Beethoven terdengar adalah musik ngik ngok. Bagi anak SD yang masih belajar shalat, wiridan terlihat adalah ritual sesat.

Bagaimanakah dengan Rasulullah Saw. yang tiap hari menyuapi pengemis buta yang beragama Yahudi tanpa sekalipun mendakwahinya? Apakah tindakan “controversial” Kanjeng Nabi itu artinya menyetujui agama Yahudi? Apakah Kanjeng Nabi harus menginjak-injak kepala pengemis buta Yahudi itu kalau ngotot tidak mau memeluk agama Islam, biar tidak disebut “kontroversial”?

Seperti Nabi Muhammad Saw., apakah Syaikh Hasan al-Bashri juga layak disebut “wali controversial”? Syaikh Hasan al-Bashri tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani di sebuah flat. Apartemen si Nasrani di atas dan apartemen beliau di bawah. Bertahun-tahun mereka bertetangga, tapi belum pernah si Nasrani datang bertamu ke apartemen Syaikh Hasan.

Baru ketika Syaikh Hasan al-Bashri jatuh sakit, si Nasrani mendatangi apartemen beliau untuk keperluan menjenguk. Betapa kagetnya si tetangga, ketika menyadari adanya sebuah baskom berisi air keruh yang terletak di dekat tempat tidur beliau. Spontan si Nasrani teringat kamar mandinya tepat berada di atas. Karena si tetangga Nasrani bertanya setengah memaksa, Syaikh Hasan pun jujur, bahwa tebakannya benar dan itu sudah berlangsung sekitar 20 tahun.

Apakah Syaikh Hasan harus teriak-teriak takbir dan mendobrak pintu apartemen si tetangga Nasrani, agar tidak disebut “wali controversial”? Gus Dur pun demikian. Masalah kenapa Gus Dur terlihat ramah pada siapa saja, bahkan pada orang atheis pun, itu karena Gus Dur memanusiakan manusia lain dan selalu ingin menyayangi orang lain.

Tidak betul gosip yang mengatakan Gus Dur hanya peduli dengan umat non-muslim. Memangnya jamaah NU yang dipimpinnya itu gerombolan orang kafir? Memangnya jamaah Muhammadiyah yang sering dikunjunginya itu gerombolan orang kafir? Gus Dur seakan tidak peduli isu Palestina, karena anak SD tidak mungkin paham namanya ilmu diplomasi. Tidak suka Israel, ya demo bakar-bakar ban sambil mengutuki Israel.

Peduli dengan Palestina bukan ukuran kepedulian terhadap agama Islam. Kenapa mufti Arab Saudi sampai sekarang tidak pernah mengeluarkan fatwa jihad ke Palestina? Kenapa negara-negara Arab tidak bergabung jadi satu atas nama agama Islam dan menyerang Israel? Jangan-jangan konflik Palestina-Israel itu murni konflik diplomasi internasional?

Silakan belajar tafsir tentang mekanisme sedekah di al-Quran. Lebih utama mana menolong sepupu yang kesusahan dengan tetangga yang kesusahan? Lebih didahulukan mana menolong rakyat Indonesia yang kesusahan dengan rakyat Palestina yang kesusahan? Lebih utama mana antara Arab Saudi dengan Indonesia yang sebaiknya menolong Palestina? Gus Dur tidak controversial.

Putri Gus Dur, Alissa Q. Wahid, mengomentari: “Tulisan yang bagus. Terimakasih, kang. Sekadar informasi tambahan, saya tahu sendiri bahwa Gus Dur di tahun 90an ikut menanggung beban finansial kedubes Palestina di Indonesia. Setiap bulan.”

Doni Febriando menjawab: “Iya mbak, jelas Gus Dur sangat peduli dengan Palestina, hanya saja beliau itu tidak suka pamer. Kan beliau nolongin Palestina bukan demi mengkader muslim-muslim polos jadi anggota partai, hehehe... Meski Gus Dur juga tahu aneka strategi politik massa, bapaknya mbak masih punya etika politik.”

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 18 Desember 2013