CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

11 Mei 2016

Nabi Muhammad SAW Bagaikan Batu Bata Terakhir



Nabi Muhammad mengajarkan kita akhlak yang mulia, salah satunya berupa kerendahan hati.  Dalam Shahih Bukhari (Hadis Nomor 3271) diriwayatkan Nabi bersabda:

"Perumpamaanku dan para Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum sambil berkata; 'Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini". Beliau bersabda: "Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para Nabi".

(catatan: dalam redaksi Shahih Muslim, Hadis Nomor 4240 "Maka akulah yang meletakkan atau memasang bata itu, aku datang sebagai Nabi terakhir.") 

Sebagian ulama menjadikan Hadis ini sebagai dalil bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Saya menyetujuinya. Namun saya memahami ilustrasi yang Nabi berikan lebih dalam lagi. Sebagai Sayyidul Anbiya wal Mursalin, Nabi tidak menepuk dada dan menganggap dirinya lebih mulia dari para Nabi sebelum beliau. Beliau menganggap diri beliau tak ubahnya sebagai batu bata terakhir dalam sebuah rumah. Indah nian metafor yang Nabi gunakan.

Pertama, beliau tidak bilang bahwa beliaulah pondasi atau atap rumah itu untuk mengggambarkan pentingnya peranan beliau. Beliau hanya bagian kecil dari rumah yang sudah jadi. Tanpa ada batu bata terakhir rumah tetap berfungsi hanya saja kurang sempurna. Kehadiran beliau tidak lain menyempurnakan bangunan rumah yang sudah ada.

Kedua,  beliau SAW tidak membuat rumah baru. Lewat metafor tersebut seolah hendak menegaskan ajaran yang beliau terima bukan untuk menegasikan ajaran Nabi sebelumnya; tapi justru membuat 'rumah' terasa lebih indah. 

Ketiga, batu bata tidak ada artinya tanpa tumpukan batu bata sebelumnya. Para Nabi yang lain telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi peradaban umat manusia. Nabi Muhammad hadir untuk melengkapi sumbangsih tersebut.

Keempat, Nabi Muhammad dan para Nabi sebelumnya seakan hidup bersama dalam rumah tersebut. Begitu juga umat pengikut para Nabi. Kita semua berada dalam rumah bersama. Untuk apa para Nabi membangun rumah kalau tidak untuk kita diami bersama-sama? Para Nabi tidak membangun rumah sendiri-sendiri. Ada pesan kerukunan yang kuat di sini. 

Meskipun Nabi Muhammad telah meng-imami para Rasul dalam peristiwa Isra Mi'raj di bulan Rajab ini namun beliau tidak pernah mau dianggap lebih dari para Nabi sebelumnya. Inilah akhlak manusia teragung. 

Dalam riwayat lain (Shahih Bukhari Hadis Nomor 3156) ada seorang Muslim yang bertengkar dengan Yahudi dimana masing-masing membanggakan Nabinya. Maka Rasul bersabda:

"Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa karena nanti saat seluruh manusia dimatikan dan akulah orang yang pertama kali dibangkitkan (dihidupkan) namun saat itu aku melihat Musa sedang berpegangan sangat kuat di sisi 'Arsy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dimatikan lalu bangkit lebih dahulu daripadaku, atau dia termasuk diantara orang-orang yang dikecualikan (tidak dimatikan)".

Meski Rasulullah telah Allah lebihkan dari para Nabi yang lain, namun sikap rendah hati beliau tidak mau dianggap lebih dari para Nabi yang lain. 

Kawan,
Mari kita jaga dan rawat rumah bersama yang telah dibangun dan dibina oleh para Nabi. Mari kita tempatkan diri kita seperti batu bata terakhir, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Shallu 'alan Nabi...  

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Tuhan pun Mau diajak Bernegosiasi: Hikmah Isra Mi'raj



Dua sifat Allah yang saling berkaitan erat: jamaliyah dan jalaliyah. Allah yang Maha Pengampun dan Penyayang serta Maha Lemah Lembut adalah cerminan sifat Jamaliyah; sedangkan Allah yang Maha Besar, Maka Kuat, Maha Kuasa merupakan contoh sifat Jalaliyah. 

Melalui sifat Jamaliyah ini Allah berkenan berdialog bahkan bernegosiasi dengan makhluk ciptaanNya. Jadi kalau ada hambaNya yang keras kepala, tidak mau kompromi dan tidak bisa diajak bernegosiasi sedikitpun maka orang tersebut perlu belajar melembutkan hatinya dengan menyimak kisah Isra-Mi'raj.

Dalam peristiwa Mi'raj, Anas bin Malik menyebutkan, "Nabi SAW bersabda: "Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? 'Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. 

Tapi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu!' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabbku'.

(Shahih Bukhari, Hadis Nomor 336 dan 3094; Shahih Muslim, Hadis Nomor 237)

Para ulama terpesona membaca kisah di atas: bagaimana mungkin sebuah perintah Allah, belum dilaksanakan pun, sudah bisa dinegosiasi? Ini semua tidak mungkin terjadi kalau Allah tidak menampakkan belas-kasihanNya kepada umat Muhammad SAW. Nabi Musa, berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, terus meminta Nabi Muhammad kembali menghadap Allah untuk bernegosiasi, sampai Nabi sendiri akhirnya merasa malu untuk kembali. 

Bercermin dari sikap Nabi, ya begitulah salah satu adab para salik: Allah terus menawarkan rahmatNya sampai para salik sendiri menjadi malu dan merasa cukup. Ya Rabb, rahmatMu terus mengalir ke bumi, padahal dosa-dosa kami terus naik ke langit. Engkaulah Rabb yang kasih sayangMu melebihi murkaMu. Astaghfirullah...

Kalau kisah di atas belum juga mampu meruntuhkan tembok ego diri kita yang ngeyel dan ngotot untuk tidak mau berkompromi soal pelaksanaan Syariat, maka tengoklah kisah Nabi Ayub yang kelepasan bersumpah mencambuk istrinya seratus kali. Nabi Ayub kemudian menyesal seraya teringat kembali bakti sang istri. Beliau kebingungan karena sumpah harus dilaksanakan.  

Tafsir Ibn Katsir menceritakan bagaimana Allah memberikan petunjuk melalui wahyu-Nya yang menganjurkan kepada Nabi Ayub  untuk mengambil lidi sebanyak seratus buah yang semuanya diikat dijadikan satu, lalu dipukulkan 100 lidi kepada istrinya sekali pukul. Dengan demikian, berarti Ayub telah memenuhi sumpahnya dan tidak melanggarnya serta menunaikan nazarnya itu. 

Hal ini adalah merupa­kan jalan keluar yang Allah berikan: ketimbang seratus kali mendera, maka cukup seratus lidi digabung jadi satu dan dipukulkan sekali. Luar biasa, bukan? Allah 'mengajari' Nabi Ayub untuk 'mengakali' sumpahnya tanpa harus melanggar esensi sumpah. Allah mengajari Nabi Ayub akan maqashid al-syari'ah.

(Catatan: sebelum ada yang kebakaran jenggot dan menuduh Ibn Katsir dan saya sebagai liberal atau syi'ah, saya persilakan untuk membaca kisah Nabi Ayub di atas dalam QS Shad:44). 

Begitulah....Allah pun begitu lentur, fleksibel, dan negotiable terhadap aturanNya. Syariat sebagai cerminan sifat Jalaliyah Allah, memang harus digandeng dengan Tasawuf sebagai perwujudan sifat Jamaliyah Allah. Kalau Allah saja mau berkompromi dan bernegosiasi, masihkah hati anda keras seperti batu? Lantas bagaimana kita mau mi'raj kalau terus kita bawa kekerasan hati ini? 

Ya Lathif, Ulthuf bina....

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Ketika Ibnu Arabi ditegur Nabi Khidr AS



Ibn Arabi yang dijuluki syekh terbesar dalam dunia tasawuf mengaku tiga kali ditemui oleh Nabi Khidr. Ijinkan saya untuk menceritakan ulang pertemuan pertama Ibn Arabi, yang digelari Doctor Maximus (Doktor terhebat) di Eropa pada abad pertengahan, dengan Nabi Khidr, yang dalam al-Qur'an dikisahkan menjadi gurunya Nabi Musa.

Ibn Arabi saat itu masih nyantri pada gurunya Syekh 'Uryabi di Sevilla, Spanyol. Syekh 'Uryabi menceritakan kepada Ibn Arabi bahwa ia bertemu Rasul dalam mimpi. Rasul kemudian mengungkapkan rahasia mengenai satu tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi. Ibn Arabi sebenarnya tidak mengenal langsung tokoh yang dianggap tinggi maqamnya tersebut, namun ia mengenal salah satu saudara tokoh itu. 

Ibn Arabi menyatakan ketidakpercayaannya dengan cerita Syekh 'Uryabi. Berdasarkan penglihatannya terhadap saudara tokoh tersebut, Ibn Arabi merasa heran dan kemudian tidak percaya kalau Rasul menyatakan kedudukan tokoh itu. Bantahan Ibn Arabi melukai hati sang guru. 

Bagaimanapun ini peristiwa ghaib dimana Rasul sendiri yang membuka rahasia kedudukan tokoh itu. Ibn Arabi tidak patut membantah info spiritual itu hanya berdasarkan apa yang dia ketahui terhadap saudara tokoh itu, bukan kenal dengan tokoh itu langsung. Mungkin saat itu sebagai santri terbersit di hati Ibn Arabi bahwa tokoh itu tidak layak mendapatkan kedudukan timggi di sisi Allah, tapi siapa sebenarnya yang berhak menilai hal itu? Hanya Allah dan RasulNya yang tahu. Membantah info spiritual semacam itu tentu kurang elok hanya berdasarkan prasangka dan dugaan. Lagipula apa ruginya kita sih kalau si A atau B dan C ternyata memiliki maqam yang lebih tinggi.

Syekh 'Uryabi yang terluka hatinya dibantah oleh santrinya memilih untuk tidak berdebat. Beliau hanya berkata lirih, "baiklah, jika itu pandanganmu tentang orang yang disebutkan Rasul itu". Suasana menjadi tidak enak. Ibn Arabi menyesal telah lancang membantah sang guru yang sebenarnya telah menaruh kepercayaan padanya dengan bersedia menceritakan mimpi yang spesial itu. Apalagi mimpi itu bukan tentang sang guru tapi tentang orang lain, dan gurunya sama sekali tidak diuntungkan apapun dengan mimpi yang diceritakan itu. 

Ibn Arabi kemudian pamit karena sudah tidak enak hati melihat perubahan di wajah gurunya. Ibn Arabi meninggalkan kediaman gurunya, tiba-tiba di jalan beliau disapa seseorang yang tidak dikenal. Dengan tersenyum lembut, orang tersebut berkata: "Terimalah apa yang diucapkan gurumu, jangan membantahnya, karena apa yang disampaikannya itu benar".  Ibn Arabi kaget mendengar ucapan orang yang tidak dikenal itu. Bagaimana orang itu bisa tahu kejadian yang baru terjadi antara Ibn Arabi dan Syekh 'Uryabi padahal itu hanya dialog mereka berdua. 

Mendengar ucapan orang tidak dikenal itu, Ibn Arabi segera balik badan kembali ke kediaman gurunya dan ingin meminta maaf pada gurunya karena sebetulnya hatinya memang sudah tidak enak dengan peristiwa sebelumnya. Begitu ia membuka pintu kediaman gurunya, Syekh 'Uryabi langsung berkata pada Ibn Arabi: "Haruskah setiap engkau membantahku aku meminta Nabi Khidr datang menegurmu untuk kemudian engkau baru percaya dengan apa yang aku sampaikan?"

Ibn Arabi terkejut. Bagaimana mungkin gurunya tahu bahwa ia kembali karena telah ditegur seseorang. Dan benarkah yang menegurnya itu Nabi Khidr? Dengan tercekat Ibn Arabi bertanya pelan: "jadi orang di luar tadi itu Nabi Khidr?" Gurunya mengangguk. Dan Ibn Arabi pun luluh lantak di depan sang guru seraya meminta maaf.

Ya Rahman, irham dha'fana
Oh Yang Maha Pengasih, kasihilah kelemahan kami 

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Sumber FP Nadiryah Hosen, admin tidak bisa link karena sepertinya di privacy

Rahasia Allah SWT Mengirimkan Waliyullah Nylenneh (Madjdzub)



Habib Ahmad bin Hasan al-Athas berkisah dalam sebuah kitab, bahwa semua habib terkemuka di Yaman saat ini pasti murid dari muridnya Habib Ahmad bin Hasan, termasuk Habib Umar bin Hafidz, Habib Abu Bakar al-Adni, Habib Salim asy-Syathiri.

Alkisah, ada seorang wali madjdzub (nyeleneh) yang mempunyai rental kendaraan (keledai) khusus perempuan. Anehnya setiap penumpang perempuannya sampai tujuan ia menciumnya. Konon semua perempuan yang pernah diciumnya kelak tidak pernah berzina seumur hidupnya.
Singkat cerita ada seorang ulama (baca; wali syariat) yang mengingkarinya. Ia menarik wali majdzub ke masjid, menghajarnya habis-habisan. Tiba-tiba ilmu wali syariat itu hilang. Keduanya lalu melapor pada Syaikh Ali al-Khawas. Syaikh Ali al-Khawas kemudian yang memintakan maaf pada wali majdzub, dan kembalilah ilmu sang wali syariat.

Jika Anda sangsi dengan kisah ini mari kita buka kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam al-Quran. Nabi Musa menghadapi kaum yang nakal, bayangkan saat Nabi Musa mandi pakaiannya mereka curi. Barangkali karena itu syariat Nabi Musa salah satu syariat paling tegas. Anda tahu hukuman penyembah patung sapi Musa Samiri? Dihukum dengan saling membunuh satu sama lain. Ketegasan hukum Nabi Musa bisa dijumpai dalam Perjanjian Lama: 10 perintah Tuhan (10 of God's Commandment).

Allah mempertemukan Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Selama kebersamaan keduanya, Nabi Khidir melanggar 3 dari 10 perintah Tuhan itu; membunuh anak kecil, merusak perahu dan meruntuhkan dinding milik orang lain (membangun dinding tanpa imbalan padahal sangat butuh, red.). Melalui Khidir Allah memperlihatkan pada Nabi Musa bahwa ada dimensi lain dalam syariatNya selain hukum.

Mahaguru al-Habib M. Luthfi bin Yahya mengatakan, bahwa wali majdzub, Nabi Khidir, -selanjutnya kita mungkin bisa menyebut Gus Mik dll. yang ada dalam setiap generasi- untuk menjaga keseimbangan agar syariat tidak berubah menjadi hukum yang rigid dan mengekang. Ketika Islam diaplikasi hanya sebagai fikih, maka Allah mengutus wali-waliNya yang kadang nyeleneh untuk menjaga keseimbangan antara Islam dan Ihsan.

Saat ini makin banyak orang yang berambisi memformalkan syariat, bahkan atas nama amar ma'ruf nahi munkar, menjadi hakim antara satu dan lainnya di masyarakat. Mereka mendistorsi banyak unsur dari Islam, menafikan bahkan mengingkari, seolah-olah Islam (al-Quran dan as-Sunnah) melulu soal jilbab, jenggot, celana dengan segala rigiditas yang miskin dan kering pengalaman spiritual. 

(Oleh: Ust. Ahmad Tsauri via fanspage IlmuTasawuf.com).

11 Apr 2016

Kisah Teladan Dari Abdul Wahab, Duta Santri NU di Papua

Berikut ada Kisah Teladan penulis temukan dan sempet heboh di beranda FB, mari disimak, saya copas dari FB beliau..
------




Sekedar cerita, smoga tidak ada lagi yang menuduh saya Libral, Kapir , bahkan sampe dituduh menghina Agama Islam dll. Walaupun saya sendiri sebenarnya tidak masalah dengan lebel" itu. Saya udah kenyang juga dengan tuduhan macam itu.

Sabtu (9/04/2016 ).Seperti biasa , setiap pagi saya menghabiskan waktu di dapur pesantren Pon Pes Al Payage Angkasapua Papua untuk menyiapkan sarapan buat anak anak papua yang mondok di sini.
Pagi tadi pas saya sedang berjalan di samping dapur, saya melihat ada seekor anjing yang mondar mandir di depan pesantren dengan penuh luka dan seperti sangat kelaparan.

saya kemudian langsung membawa anjing itu kedalam Pondok untuk melihat luka yang di derita anjing tersebut dan langsung memberinya makan. Saya juga sempat menyuapi makan anjing itu. karna saya lihat untuk sekedar menundukan kepalanya anjing tersebut kesusakan karna ada bebrapa luka di skitar leher.

saya melakukan hal itu karna yang saya tahu dari apa yang saya pelajari dari para Ulama " Islam mengajarkan kepada setiap umatnya agar selalu berbuat baik, baik itu terhadap sesama manusia bahkan hewan sekalipun, termasuk kepada anjing yang sperti kita ketahui sebagai hewan yang najis.
Walaupun Anjing itu najis, bagi saya bukanlah sebuah maslah. sudah jelas para ulama" dalam kitab fikih sudah menyediakan sebuah solusi untuk membersihkan sesuatu yang terkena najisnya anjing, baik dalam kitab Safinah Fathul bari dll.

Kalangan syafi’iyyah dan Hanabilah menilai anjing tergolong najis mugholladzoh (najis yang berat) yang mengakibatkan najis tidak hanya sebatas air liurnya saja tapi mencakup juga keringatnya dan setiap anggota tubuhnya

Dalam kitab safinah di jelaskan
(فصل) النجاسة ثلاثه : مغلظة ومخففة ومتوسطة . المغلظة : نجاسة الكلب والخنزير وفرع أحدهما . والمخففة : بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين. والمتوسطة : سائر النجاسات.
Najis terbagi menjadi tiga, yaitu :
Najis berat , dan najis ringan ,dan najis sedang .
Najis berat yaitu najis anjing dan babi dan anak-anak dari salah satu keduanya .
Dan najis ringan yaitu kencing anak kecil yang tidak makan selain air susu dan belum sampai umurnya 2 tahun .
Dan najis sedang yaitu semua najis .

Dari ketrangan di atas kita ketahui bersama bahwa najis anjing termasuk najis yang Mugholadzoh.
Tapi setelah menjelaskan bebrapa macam najis dalam kitab safinah di lanjutkan lagi bab solusi untuk memberaihkan najis.

(فصل ) المغلظة : تطهر بسبع غسلات بعد إزالة عينها ،إحداهن بتراب . والمخففة : تطهر برش الماء عليها مع الغلبة وإزالة عينها .
Najis Mughollazhoh atau berat suci ia dengan membasuhnya 7 kali sesudah menghilangkan dzatnya salah satunya dengan tanah . Dan najis Mukhoffafah atau ringan suci ia dengan memercikkan air diatasnya serta rata dan sudah hilang dzatnya

Dan najis Mutawassithoh atau najis sedang terbagi kepada 2 bagian : ‘Ainiyyah dan Hukmiyyah . Adapun ‘ainiyyah yaitu sesuatu yg baginya ada warna dan bau dan rasa maka tidak boleh tidak dari menghilangkan warnanya dan baunya dan rasanya .
Dan najis hukmiyyah yaitu yg tidak ada warna dan tidak ada bau dan tidak ada rasa maka cukup mengalirkan air diatasnya .

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Cara Penyucian Pada Tiga Macam Najis
Cara mencuci Najis Mughalladah adalah membasuh dan mensucikannya dengan tujuh kali basuhan atau sucian, setelah hilangnya bekas najis tersebut. Salah satu dari tujuh sucian tersebut harus dibarengi dengan debu. Sebab ada hadits nabi yang menyatakan bahwa, “basuhan terakhir dari tujuh basuhan harus dicampur dengan debu”; dan hadits yang lain menyatakan bahwa “basuhan pertama dari ketujuh basuhan harus dicampur dengan debu”. Jadi mencampur debu bebas baik di awal atau di akhir basuhan.

Yang dimaksud dengan debu adalah endut atau tanah yang tercampur dengan air sehingga lembab atau pun debu yang berupa pasir lembut yang kering. Sehingga tidak bisa dianggap mensucikan najis mughalladhah dengan sabun, kayu atau yang lainnya.

Najis Mukhaffafah (ringan) dengan memercikkan air pada najis, dan diperkirakan bahwa najisnya dapat dihilangkan. Meskipun memercikkan airnya tanpa dilakukan oleh seseorang atau dengan air hujan yang menetes dari langit dan menetesi tempat atau sesuatu yang najis, maka dianggap cukup sebagai pembasuhan pada najis mukhaffafah (ringan).

Najis Mutawasitah (pertengahan) ada dua, yaitu najis ‘ayniyah dan najis hukmiyah.
Najis ‘ayniyah adalah najis yang memiliki bentuk atau warna, bau, dan rasa. Disebuat dengan najis ‘ayniyah, sebab najisnya dapat ditangkap oleh panca indera. Cara penyuciannya harus secara total menghilangkan baik bentuk atau warna, bau dan rasanya.

Jika warna atau baunya susah dihilangkan setelah dibasuh berkali-kali, maka sudah dianggap cukup dan benda atau tempat yang terkena najis sudah bisa dianggap suci. Batasanya susah menghilangkan najis adalah dengan membasih tiga kali akan tetapi tidak dapat hilang bentuk atau baunya, maka sudah dianggap cukup atau suci. Sedangkan jika rasa najis susah dihilangkan maka benda atau tempat yang terkena najis bisa dikatakan najis yang ma’fu ‘anhu (dimaafkan).

Sedangkan Najis Hukmiyah adalah najis yang tidak memiliki bentuk, bau dan rasa. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda atau tempat yang terkena najis.
Itulah keindahan Islam, selalu ada solusi dalam setiap permaslahan, pun dengan apa yang saya alami pagi tadi, stelah mengbati dan mengasih makan anjing tersebut, saya langsung bersuci sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh ulama di atas.
Lebih ajibnya lagi di kitab safinah juga di terangkan bahwa Anjing yang tidak galak termasuk hewan yang di muliakan.

Saya sangat juga sangat takjub dengan Imam Nawawi AlBantani saat mensyarahi bab ini dalam kitab Syarhu Kaasyifatus Saja ’alaa Safiinatin Najaa Fii Ushuuulidn pada halaman 42, dlm fasal mengenai najis.

Beliau berkata
فى الكلب عشر خصال محمودة ينبغى للمؤمن ان لا يخلومنها:
Di dalam diri seekor anjing terdapat 10 sifat keteladanan, yang diantaranya patut dimiliki oleh setiap insan yg beriman, yakni

اولها : لايزال جائعا. وهده صفات الصالحين.
1. Gemar mengosongkan perut.
Inilah salah satu sifat orang yg sholeh.

الثانية : لاينام من الليل الا قليلا. وهده من صفات المتهجدين
2. Tidak tidur malam hari kecuali sedikit saja. 
Hal ini menjadi salah satu sifat dari orang2 ahli Tahajud.

الثالثة : لو طرد فى اليوم الف مرة ما برح عن باب سيده. وهده من علامات الصادقين.
3. Kalaupun sehari ia diusir seribu kali, ia tak akan pergi dari pintu rumah tuannya. 
Inilai salah satu sifat dari orang2 sidik.

الرابعة : ادا مات لم يخلف ميراثا. وهده من علامات الزاهدين.
4. Bila ia mati tak pernah meninggalkan warisan yang berlebihan. 
Inilah ciri2 orang Zuhud.

الخامسة : ان يقنع من الارض بادنى موضع. وهده من علامات الراضين.
5. Selalu merasa puas meski menempati bumi di tempat yg paling hina sekalipun. 
Inilah salah satu tanda dari orang2 yang ridho terhadap ketentuan Allah.

السادسة : ان ينظر الى كل من يرى حتى يطرح له لقمة. وهده من اخلاق المساكين.
6. Memandangi setiap orang yg memandanginya sampai dilemparkan kepadanya sesuap makanan. 
Inilah sifat orang yg sabar.

السابعة : انه لو طرد وحثى عليه التراب فلا يغضب ولايحقد. وهده من اخلاق العاشقين.
7. Kalaupun diusir dan ditaburi debu, ia tak akan marah dan mendendam tuannya. 
Inilah salah satu akhlak asyikin (rindu bertemu Tuhan).

الثامنة : ادا غلب على موضعه يتركه ويدهب الى غيره. وهده من افعال الحامدين.
8. Jika tempatnya ditempati oleh orang lain, ia rela menyingkir ke tempat yang lain. 
Inilai sebagian tindakan orang2 yang terpuji.

التاسعة : ادا اجدى له اى اعطي له لقمة اكلها وبات عليها. وهده من علامات القانعين
9. Apabila diberi makanan sebesar apapun, ia rela menerimanya. 
Inilah salah satu akhlak orang yg Qona’ah.

العاشرة : انه ادا سافرمن بلد الى غيرها لم يتزود. وهده من علامات المتوكلين.
10. Apabila bepergian dari satu tempat ke tempat yg lain, ia tidak pernah membawa bekal yg diada-adakan, melainkan semampunya, 
inilah ciri2 orang yg tawakal.

yah mungkin bagi teman" ada yang belum tahu kalo saya sekarang tinggal di Papua. saya disini di tugaskan oleh PPM ASWAJA, LDNU dan juga SARKUB Untuk membantu Dakwah dan pendidikan di Papua.

sudah barang tentu, papua bukan sperti daerah lainya, keberdaan anjing di papua sudah barang lumrah, sehingga mau tidak mau saya juga sering berinteraksi dengan hewan ini.
bahkan ada satu anjing di daerah Wamena Jayawijaya yang terkadang suka menemani perjalnan dakwah saya.

saya menyadari tentang apa yang saya lakukan tadi pagi. saya menguplod foto tersebut bukan bermaksud apa apa, saya hanya ingin memberi pesan disaat ada bebrapa orang yang dengan tega menyiksa binatang".

dalam foto diatas saya tulis bahwa "puncak dari agama adalah cinta". karna itu yabg saya tahu dari para ulama ulama NU. Terhadap binatang saja kita harus berbagi cinta dan kasih sayang, apalagi terhadap sesama.

memang sangat di sayangkan, belakang muncul sekelompuk orang yang mengatasnamakan agama tapi justru membuat teror di mana mana. padahal Kanjeng nabi muhammad sendiri mewanti" agar kita selalu berpilakj baik.

Islam mengajarkan kepada setiap umatnya agar selalu berbuat baik, baik itu terhadap sesama manusia bahkan hewan sekalipun, termasuk kepada anjing yang oleh sebagian besar umat Muslim dikatakan sebagai hewan yang najis.

Ingat, haramnya anjing itu bila dikonsumsi. Lalu bagaimana bila kita mendapati anjing yang kondisinya mengenaskan dan kelaparan di jalanan, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja yang harus kita lakukan adalah menolong dan memberi makan anjing tersebut lantaran hal ini akan menjadi sebuah amal shalih yang bisa saja menghapuskan dosa-dosa kita.

Hal ini diperkuat oleh Rasulullah SAW, melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW menceritakan ada seorang laki-laki yang mendapati seekor anjing memakan debu karena kehausan di sebuah padang pasir. Pemuda itu kemudian menuju sebuah sumur dan mengambil air serta memberikan air tersebut kepada anjing sampai anjing itu lepas dahaganya. Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah berterima kasih kepadanya, lalu mengampuni dosa orang itu.”

Saya juga teringat sebuah hadis
«اِرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
“Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”.
(Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Lihat Shahiihul jaami’ no. 896).
Hadits ini menjelaskan akan keutamaan sifat kasih sayang, yang selayaknya setiap Mukmin berhiasi diri dengan akhlak yang mulia ini.

Penjelasan hadits ini ada dalam redaksi lain, di mana Rasulullah bersabda: “Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit -yakni para malaikat-. (HR Abu Daud, Lihat Shahihul jami’ 3522).
Ketahuilah “Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang“(HR Bukhori Muslim).

Ada sebuah kisah , Suatu hari Rasulullah bertutur “Tidak akan sempurna keimanan kalian hingga kalian saling menyayangi”.
Para Sahabat lantas menimpali “Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang.”
“Kasih sayang yang di maksud bukanlah kasih sayang antar sesama kalian saja,”…belaiupun meluruskan…

“melainkan kasih sayang kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk.”….,(HR at-Thabrani)
Oleh sebab itulah hadits ini lebih umum. Kita di anjurkan bukan hanya menyayangi sesama manusia dari orang tua, istri, suami, anak, tetangga, sahabat, faqir miskin dan orang-orang lemah, bahkan binatang, tumbuhan atau makhluk lain disekitar kita sekalipun.
Wallahu alam. Mohon maaf lahir batin apbila ada salah dalam foto yang kemarin saya uptade, saya mohon maaf lahir batin
Jika masih da yang mengganjal di hati teman" , silahkan hubungi saya langsung.
Telfon / Wa 082248030659.

Sumber

Jika Penasaran silahkan kunjungi FB Beliau Abdu L Wahab, dan jangan jadi Jamaah Kagetan (tambahan penulis)

5 Apr 2016

Dasyatnya Sholat Kaum Sufi



Kekeringan terjadi dimana-mana, sementara tanda hujan akan turun berminggu-minggu tidak terlihat. Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi menginisiasi shalat Istisqa bersama jamaah sufi Syria. Kelompok sekuler mengejek rencana shalat Istisqa yang akan dilakukan jamaah sufi itu. Dan mereka mengecam negara agar tidak menghiraukan rencana shalat Istisqa masal itu.

Saat waktunya tiba, Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi pun mengimami shalat Istisqa yang diikuti ratusan ribu jamaah di Masjid Agung Umayah dan menyampaikan khutbah. Setelah itu beliau memohon Syaikh al-Arif Billah Ahmad al-Habbal, seorang ahli dzikir yang zuhud, untuk berdoa. Lalu Syaikh Ahmad al-Habbal pun mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah seraya menangis penuh harap. Subhanallah, langit yang awalnya terik seketika menjadi mendung dipenuhi gumpalan awan dan langsung turun hujan dengan derasnya.

Syaikh Ahmad al-Habbal usianya sudah 100 tahun. Usianya yang begitu senja membuatnya tak mampu berdiri dan berjalan kecuali dengan bantuan dua orang yang memapah di kanan dan kiri. Tapi ketika waktu shalat tiba atau waktu mengisi majelis dzikir beliau berjalan sendiri seperti baru lepas dari tali yang mengikatnya dengan kuat.

(Keterangan foto: Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi dan Syaikh al-Arif Billah Ahmad al-Habbal ar-Rifai, semoga Allah melimpahkan rahmat bagi keduanya. 
Sumber: Fp Al-Habib Ali al-Jufri).

Darimana Mengenal Allah??



Pernah suatu ketika Habib Ahmad bin Hasan Alattas berkunjung ke satu daerah yang di sana kebanyakan penghuninya anti ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati, dll. Kebetulan beliau hadir pada saat shalat Jum'at. Melihat kehadiran seseorang yang gerak-geriknya menunjukkan keluhuran, lalu khatib pun meminta beliau untuk menjadi imam shalat Jum'at.

Ketika Habib Ahmad menjadi imam, bacaan al-Qurannya begitu menyihir jamaah hingga jamaah pun tidak puas apabila beliau hanya menjadi imam shalat saja. Akhirnya setelah shalat beliau diminta lagi untuk memberikan nasehat.

Sebelum memberikan nasehat, beliau mengatakan: "Saya ingin bertanya tapi Anda jangan marah."

Mereka menjawab: "Silakan, kami tidak akan marah."

Beliau kemudian bertanya: "Siapa Tuhanmu?"

Suasana menjadi ricuh karena pertanyaan itu. Namun akhirnya mereka pun menjawab: "Tuhan kami Allah."

Kemudian beliau bertanya lagi: "Siapa Nabimu?"

Mereka menjawab: "Nabi kami adalah Nabi Muhammad."

Kemudian beliau melanjutkan lagi: " Kalau begitu dari mana Anda mengenal Allah dan Nabi Muhammad?"

Mereka lalu bingung. Habib Ahmad akhirnya menjawab: "Kalian mengenal Allah dan Nabi Muhammad bukan lewat wahyu, akan tetapi lewat guru. Apa salahnya kalau kita berziarah ke makam guru kita, mendoakannya dan menyebut namanya."

Mereka hanya terdiam tanpa bisa menjawab.

(Diceritakan oleh Habib Taufiq Assegaf dalam tausiahnya pada acara Haul Imamain al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih di Ponpes Darul Hadits al-Faqihiyah Malang).

18 Mar 2016

Jawaban Allah SWT kepada Ahli Dzikir

Wahai Ahli Dzikir bersabarlah ..


Sepanjang malam seorang lelaki memanggil "Allah"
sampai bibirnya berdarah
kemudian setan berbisik,"
Hey, bodoh! bagaimana bisa kamu memanggil setiap malam dan tidak sekalipun terdengar Allah menjawab "Aku disini"?
kamu memanggil begitu bersungguh sungguh dan jawabannya apa? ngga ada!"
pria itu tiba tiba merasa hampa dan merasa tidak dipedulikan.
sedih dan kecewa, dia jatuhkan dirinya k tanah dan kemudian tenggelam dalam tidur yang dalam.
Kemudian dia bermimpi.

Didalam mimpi dia bertemu dengan Rasulullah Ibrahim AS yang bertanya,
"Kenapa kamu menyesal memuji Allah?"
pria itu menjawab,"Aku memanggil dan memanggil tapi Allah tidak pernah membalas dengan berkata, "Aku disini"

Rasulullah Ibrahim AS menjelaskan, "Allah berkata,
"Kau memanggil namaKu adalah jawabanKu.
Kerinduanmu padaKu adalah pesanKu untukmu.
Semua upayamu untuk menjangkauKu sebenarnya adalah upayaKu untuk menjangkaumu.
Ketakutan dan cintamu adlah tali untuk menangkapKu.
di keheningan yang mengelilingi setiap panggilan pada "Allah"
Terdapat ribuan jawaban "Aku disini" ""
(Mawlana Jalaluddin Rumi)

Hikmah Sufi, Tentang Kehebatan



Salah seorang berkata kepada Abu Sa"id AbulKhaer;
Si Fulan hebat yah karena ia mampu terbang.

Lalu Abu Sa'id menyela, "Hebat apanya, lalat juga terbang!"
Bagaimana dengan si Fulan, apakah ia hebat karena bisa berjalan diatas air? "tanya orang itu."
Kembali Abu Sa'id menyela, "Biasa aja, karena sebatang kayu pun bisa mengawang diatas air!"
Lalu menurutmu, kehebatan itu pada apa? "tanya orang itu."

Kemudian Abu Sa'id menjelaskan, "yaitu engkau berada di tengah-tengah masyarakat, namun lidahmu tak pernah menyakiti hati mereka, engkau tak mendustainya, tak menipunya, tidak memanfaatkan kepercayaan mereka, dan tak ada yang kecewa terhadapmu"
Inilah kehebatan !!!

Dosa-dosamu Jangan Memutus Istiqomahmu



Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
"Manakala anda terjerumus dalam dosa, janganlah kenyataan itu membuatmu putus asa dalam meraih
Istiqomahmu dengan Tuhanmu. Kadang-kadang, – siapa tahu – itulah akhir dosa yang ditakdirkan oleh Allah padamu.”

Jadikan keterjerumusan itu sebagai pintu taubat dan inabah demi beharap kepada Allah Ta’ala, sekaligus sebagai pintu khauf (rasa takut) kepadaNya. Sebab putus asa terhadap rahmat Allah itu bentuk tipudaya yang gelap, bahkan syetan harus berputus asa karena tidak mampu memperdayai anda dibalik tindakan dosa itu.

Imam Al-Ghazaly ra, menegaskan, “Sebagaimana dosa merebut anda, dan kembali kepada dosa sebagai aktivitas anda, maka jadikanlah taubat dan kembali kepadaNya sebagai aktivitas. Karena orang yang beristighfar tidak akan mengulang-ulang dosanya, walau ia mengulang tujuhpuluh kali setiap harinya.”

Kita bisa mengambil pelajaran dari Fir’aun, yang dosanya benar-benar memuncak dan paling besar, toh Allah Ta’ala masih memerintahkan kepada Nabi Musa as dan Nabi Harun as, “Katakan padanya dengan kata-kata yang lembut, siapa tahu ia bisa tersadarkan atau ia memiliki rasa gentar dan takut (Kepada Allah Swt).” (Thaha 44)

Betapa banyak orang yang kembali bertobat dan menjadi Istiqomah gara-gara perbuatan dosanya, dan sebaliknya betapa banyak orang yang akhirnya malah maksiat gara-gara ibadahnya, dimana ia bangga dengan prestasi amal ibadah, lalu takjub pada diri sendiri, kemudian riya’ dan takabur.
Optimisme pada rahmat dan anugerah Allah Ta’ala harus menjadi titik utama ke depan. Karena bila manusia bertaubat dengan taubatan Nasuha, malah seluruh dosanya diampuni.

Tetapi jangan sampai manusia meremehkan perbuatan dosa dengan beralibi, “Allah Maha Ampun, atau ampunan Allah lebih besar dibanding dosanya, atau apa artinya dosaku kalau dibanding rahmat Allah….” dst. Yang menggiring seseorang terbelit dosa terus menerus.
Pandangan Ibnu Athaillah untuk mengingatkan kita agar kita tidak putus asa pada RahmatNya, bahkan dalam kondisi terpuruk oleh dosa sekali pun.

Allah Swt, justru menghampiri kepada para pendosa agar kembali kepadaNya, karena dibalik “kembali” itu ada “cinta” yang begitu agung dariNya. Cinta itu sangat luhur dan besar nilainya disbanding apa pun. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat.” Begitu ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Bahkan di awal kitab Al-Hikam ini disebutkan, “Tanda-tanda manusia bergantung dan mengandalkan amalnya, adalah kehilangan harapan (terhadap rahmat Allah) ketika berbuat dosa.”
Rasa kehilangan akan harapan ampunan dan rahmat adalah bentuk pesimisme yang berbahaya, karena pada saat yang sama seseorang tidak menggantungkan diri pada Sang Pencipta Amal, malah menggantungkan pada amal itu sendiri yang diklaim sebagai perbuatannya.
Padahal amal baik tidak menjamin seseorang masuk syurga, dan amal buruk tidak otomatis seseorang pasti masuk neraka. Masuk neraka itu semata karena keadilan Allah, dan masuk syurga karena rahmat dan ridhoNya.

Bila anda meraih rahmat dan ridhoNya, maka taat dan kepatuhan anda sebagai tanda memang anda ditakdirkan masuk syurga. Sedangkan bagi mereka yang mendapat keadilan Allah Swt, (na’udzubillahi min dzaalik) seseorang ditandai dengan berbuat maksiat dan menuruti nafsunya belaka di dunia.

16 Mar 2016

Ucapan Teladan Dua Waliyullah



Karomah Guru Mulia: al-Habib Umar bin Hafidz
Sayyid Salim bin Umar bin Hafidz menceritakan, salah satu "karomah" yang pernah ia lihat dari sang ayah, Habib Umar bin Hafidz:
"Dulu ... sempat tampak cahaya berbentuk lafadz Allah di kening ayahku(Habib Umar bin Hafidz), melihat "keajaiban" itu, kamipun memberitahu beliau akan hal itu, akan tetapi ia sama sekali tidak mempedulikan ucapan kami, ia bahkan sama sekali tak melihat ke kaca untuk memastikan apakah hal itu benar atau tidak."
Ketika akhirnya banyak orang-orang yang berkata padanya bahwa mereka memang melihat ada lafadz Allah yang tertulis di keningnya,ia hanya berkata pada mereka:
"aku lebih tahu siapa diriku yang hina ini daripada kalian."
_____________
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam Munajatnya
Salah seorang ulama (yang hidup di zaman Syaikh Abdul qadir al jilani) menceritakan salah satu pengalamannya ketika berhaji:
"waktu itu,saat aku melaksanakan tawaf aku melihat seseorang sedang bersujud di dekat multazam. aku dekati orang itu, ternyata ia adalah Syaikh Abdul qadir al jailani, aku mendengar ia berdoa, menangis, dan berkata dalam sujudnya:
"Ya Allah ... andai saja engkau memang tidak ingin mengampuniku kelak di hari kiamat, maka bangkitkanlah aku dari kuburku dalam keadaan buta, hingga aku tak malu kepada mereka yang dulu telah berbaik sangka padaku di dunia."
______________
Ta'liq (Kaitannya dengan 2 kisah di atas):
Mereka para kekasih Allah, meski mempunyai ilmu dan amal sebanyak buih lautan tapi mereka tak pernah terlena dengan apa yang telah mereka lakukan, mereka juga tak pernah buta oleh pujian-pujian orang, mereka selalu meyakini bahwa mereka hanyalah seorang hamba hina yang tak punya apa-apa dan hanya pantas mendapatkan neraka.
Coba bandingkan dengan kita, setiap hari berbuat dosa, sholat tahajjud dua raka'at aja udah ngerasa jadi wali, udah merasa paling -masya Allah- diantara yang lain ... seakan-akan kita sudah memastikan satu tempat di surga.

اللهم انفعنا ببركاتهم... آمين

Sumber, kutipan komen fb Salim Altab

Ketika Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari Ingin Tinggal di Tanah Suci

Kisah Kiai Hasyim Asy'ari Dicegah Habib Abdullah Alattas Tinggal di Tanah Suci



Ada kisah menarik mengenai keputusan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari untuk tetap tinggal di Indonesia (tidak menetap di Mekkah) yang tidak termuat dalam lembaran buku-buku sejarah. Berikut adalah sebagaimana yang pernah dituturkan oleh al-Habib Ahmad bin Abdullah Alattas Bojonegoro.

Alkisah setelah Kiai Hasyim Asy'ari lama belajar agama di tanah suci beliau pulang ke Indonesia. Namun setelah beberapa waktu tinggal di Indonesia, beliau merasa tidak kerasan dan ingin kembali ke tanah suci. Di sana majelis ilmu hidup, tiap hari bisa menimba ilmu langsung dari para ulama Allah yang mutafannin (ahli dalam berbagai bidang ilmu agama), bisa beribadah dengan pahala yang berlipat-lipat, bisa hidup bersama-sama ahli ibadah dan ahli ilmu. Keadaan yang sangat menyenangkan para ahli ilmu dan ahli khair (kebaikan). Sangat bertolak-belakang dengan keadaan di Indonesia yang carut-marut, banyak maksiat dan sepinya majelis ilmu serta kurangnya keinginan orang-orang untuk bertafaqquh fiddin (mendalami dan mengamalkan ilmu agama).

Beliau lalu mengkabarkan 'azamnya (keinginan) ini kepada keluarga dan teman-teman dekat beliau. Ketika berita ini didengar oleh al-Habib Abdullah Alattas (ayah dari Habib Ahmad Alattas, beliau adalah sahabat dekat dari Kiai Hasyim Asy'ari), maka langsung saja sang habib berangkat ke Jombang bersama al-Habib Ahmad (yang waktu itu masih kecil) menuju Tebu Ireng untuk menemui Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari.

Al-Habib Ahmad menuturkan bahwa pada saat itu beliau tidak diperkenankan masuk oleh ayahandanya, tetapi disuruh menunggu di luar ruangan (namun beliau bisa melihat dan mendengar isi pembicaraan kedua ulama ini). Beliau melihat tas-tas yang sudah dipack/diikat siap untuk dibawa pergi. Pada saat itu al-Habib Abdullah mengambil posisi duduk di hadapan Kiai Hasyim Asy'ari dengan kaki yang saling menempel sambil berkata (yang intinya): "Ya Syaikh, ilmu Njenengan (Anda) itu sangat diperlukan di sini. Kalau Njenengan kembali ke tanah suci, di sana sudah banyak orang alim. Ilmu jenengan tidak begitu diperlukan di sana. Indonesia sangat butuh ulama seperti Njenengan!"

Mendengar apa yang disampaikan oleh al-Habib Abdullah Alattas ini lalu KH. Hasyim Asy'ari menangis kemudian merangkul beliau dan mengurungkan keinginannya untuk kembali tinggal di tanah suci. Wallahu A'lam.