CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

20 Mar 2014

Makhluk Yang Dimabuk Cinta Dengan Kanjeng Rosulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam



Sebab terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah karena bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, “Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah SWT telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-tanaman, beberapa gunung dan lain-lain.” 

Berkata langit, “Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa Cakrawala, Buruj, Arasy, Kursi dan Surga ada padaku.” Berkata bumi, “Hai langit, di tempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan sholihin (orang-orang yang baik).” Bumi berkata lagi, “Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. 
Dan dia menjalankan syari’atnya juga di tempatku.” Langit tidak dapat berkata apa-apa apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap Allah SWT dengan berkata, “Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu ya Allah supaya Muhammad Engkau naikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga.” 

Lalu Allah SWT mengabulkan permintaan langit, kemudian Allah SWT memberi wahyu kepada Malaikat Jibril ‘Alaihis Sholatu Wasallam pada malam tanggal 27 Rajab, “Janganlah engkau (Jibril) bertasbih pada malam ini dan engkau Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini.” Malaikat Jibrail Alaihis Sholatu Wasallam bertanya, ” Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?” Allah SWT berfirman, maksudnya, “Tidak, wahai Jibril. Tetapi pergilah engkau ke surga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan buraq itu.” 

Kemudian Malaikat Jibril pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman surga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di antara 40,000 buraq itu, Jibril terpandang pada seekor buraq yang berwarna putih sedang menangis bercucuran air matanya. Malaikat Jibril Alaihis Sholatu Wasallam lalu menghampirinya lalu bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya buraq?” Berkata buraq, “Ya Jibril, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan sesudah itu aku menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mau makan dan minum lagi. 
Aku laksana dibakar oleh api kerinduan.” Berkata Malaikat Jibril Alaihis Sholatu Wasallam, “Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu.” Kemudian Malaikat Jibril memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika sampai di bumi, buraq yang dibawa oleh Malaikat Jibril itu menojang-nojangkan kakinya. Ia seolah-olah enggan ditunggangi. 

Melihat demikian, malaikat Jibril memegangnya dan berkata: “Wahai buraq! tidak malukah engkau? Demi Allah, orang yang akan menunggangi engkau adalah orang yang paling mulia di sisi Allah SWT”. Mendengar perkataan Malikat Jibrail itu maka bercucuranlah peluhnya (keringat dingin). Ia kelihatan kemalu-maluan dan tidak lagi resah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallampun naik ke tempat yang tersedia di atas badan buraq, sebagaimana dilakukan oleh nabi-nabi sebelum baginda nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 

Setelah siap segalanya, terbanglah buraq membawa nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memulakan Isra’. Dalam perjalanan itu, Malaikat Jibril ‘Alaihis Sholatu Wasallam mendampingi nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di sebelah kanan baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Malaikat Mikail ‘Alaihis Sholatu Wasallam di sebelah kiri. 
( Durroh en Nashihin )


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: