CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

17 Mar 2014

Al Imam Ali Zainal Abidin RA



Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga
Allah meridhoi mereka semua), dijuluki dengan julukan Abal Hasan atau
Abal Husain. Beliau juga dijuluki dengan As-Sajjad (orang yang ahli
sujud). 

Al-Imam Ali Zainal Abidin adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan 
kepada Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling 
dari yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya 
diliputi ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya 
dan rasa takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal 
Abidin.

Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain 
ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in. Beliau juga 
seorang imam agung. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam 
Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, 
Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri 
Nabi SAW (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin, 
mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di didalam ilmu, 
zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam 
setiap sesuatu. 

Berkata Yahya Al-Anshari, “Dia (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani 
Hasyim yang pernah saya lihat.” Berkata Zuhri, “Saya tidak pernah menjumpai di 
kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah 
paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar 
bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal 
dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.” 

Kelahiran beliau dan Az-Zuhri terjadi pada hari yang sama. Sebelum 
kelahirannya, Nabi SAW sudah menyebutkannya. Beliau shalat 1000 rakaat setiap 
hari dan malamnya. Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa 
demikian, beliau menjawab, “Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?.” 
Beliau tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. 
Beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah 
ataupun bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah 
meridhoi mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat, “Labbaikallah…,” 
beliau pingsan. 

Suatu saat ketika Al-Imam Ali Zainal Abidin baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki 
menemuinya dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di 
sekitarnya, baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang 
tersebut, akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, “Tunggulah 
sebentar orang laki-laki ini.” Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata 
kepadanya, “Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi. Apakah 
engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?.” Orang laki-laki itu 
merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata laki-laki itu, “Saya 
bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu Rasulullah.” 

Al-Imam Ali Zainal Abidin berkata, “Kami ini ahlul bait, jika sudah memberi, pantang untuk 
menginginkan balasannya.” Beliau sempat hidup bersama kakeknya, Al-Imam Ali bin 
Abi Thalib, selama 2 tahun, bersama pamannya, Al-Imam Hasan, 10 tahun, dan 
bersama ayahnya, Al-Imam Husain, 11 tahun (semoga Allah meridhoi mereka semua). 

Al-Imam Ali Zainal Abidin setiap malamnya memanggul sendiri sekarung makanan diatas punggungnya 
dan menyedekahkan kepada para fakir miskin di kota Madinah. Beliau berkata, “Sesungguhnya 
sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka Tuhan.” Muhammad bin 
Ishaq berkata, “Sebagian dari orang-orang Madinah, mereka hidup tanpa mengetahui 
dari mana asalnya penghidupan mereka. Pada saat Ali bin Al-Husain wafat, mereka 
tak lagi mendapatkan penghidupan itu.”

Al-Imam Ali Zainal Abidin jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau 
jika meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika 
sudah berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya. 
Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak 
pernah memukul tunggangannya itu. Manaqib dan keutamaan-keutamaan beliau tak 
dapat dihitung, selalu dikenal dan dikenang, hanya saja kami meringkasnya disini. 

Al-Imam Ali Zainal Abidin wafat di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan 
disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan, yang 
disemayamkan di qubah Al-Abbas. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra 
dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, 
kezuhudan dan ibadah.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: