CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

20 Des 2016

Ajaran Kebangsaan Maulana Habib Luthfi bin Yahya



Banyak sufi sepanjang beratus-ratus tahun sudah meninggalkan cerita mengenai kebijaksanaan mereka terkait dengan raja-raja serta penguasa. Cerita Imam al-Bashri dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, al-Junaid, al-Bisthami serta al-Karkhi dengan tokoh penguasa semasanya. Walau demikian, sekarang ini masihlah ada beberapa kiai yang mengambil posisi senantiasa berhadap-hadapan, mengritik petinggi dengan argumen itu yang diajarkan beberapa ulama kita dulu selalu untuk mengambil posisi berjarak dengan pemerintah. Lantaran argumen itu, masihlah ada penceramah yang menjamah kehormatan petinggi serta mencabik-cabik nama baiknya di hadapan khalayak, dengan argumen mengritik pejabat merupakan ajaran beberapa ulama dulu serta yang sudah mereka contohkan.

Habib Luthfi mengecam keras pandangan seperti itu. Menurut Habib Luthfi, para ulama dulu sebagian bersikap demikian lantaran sistem pemerintah waktu itu tidak sama dengan saat ini. Dulu berbentuk monarki serta rakyat sekalipun tidak bisa ikut serta dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sekarang ini kita hidup dalam alam demokrasi, dimana peran aktif orang-orang serta tokoh agama begitu perlu untuk memberikan pertimbangan pada beberapa petinggi pemerintah dalam memastikan kebijakan. Lantaran lewat masukan orang-orang serta beberapa input dari golongan cerdik pandai pemerintah dapat mengambil policy yang pas. Pendirian Habib Luthfi seperti ini pada masa Orde Baru pasti tak populis. Nyaris semuanya kiai mengambil posisi berhadap-hadapan atau sekurang-kurangnya acuh pada penguasa.

Seorang sufi besar, Ahmad bin Amad al-Barnasi al-Maghribi yang dikenal dengan Syaikh Zaruq (w. 899 H) menyampaikan: “...menjaga kestabilan itu hukumnya wajib. Serta memerhatikan kemaslahatan umum itu berbentuk pasti. Oleh karenanya beberapa ulama setuju kalau lakukan ‘makar’ pada pemimpin yang sah itu haram hukumnya, baik dalam perkataan ataupun perbuatan. Bahkan juga beberapa ulama setuju (ijma’; konsensus) sah shalat di belakang seseorang petinggi maupun orang umum yang baik ataupun yang dzalim sepanjang kefasikannya itu tak dikerjakan waktu shalat. Oleh karenanya Nabi Saw. bersabda, “Tidak mencemooh satu golongan orang-orang pada pemerintah mereka terkecuali mereka bakal terhambat dari kebaikan pemerintahnya itu.” Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, “Tidak melakukan perjalanan satu golongan orang-orang menuju tempat pemerintah dengan maksud menjelek-jelekan pemerintah, terkecuali Allah bakal mengejekkan mereka".”

Habib Luthfi memanglah cuma menyampaikan kita mesti menghormati pemerintah. Mesti menghormati Presiden. Sebab Presiden itu lambang Negara. Serta beberapa lambang Negara punya sifat sakral. Di balik ajarannya itu, nyatanya ada landasan filosofis serta didasarkan atas sebagian alasan syariat. Seperti dijelaskan dalam keterangan Syaikh Ahmad Zaruq di muka kalau menghormati pemerintah tidak cuma menjadi keharusan yang berasaskan kearifan budaya tetapi ajaran Nabi Saw. Nabi mengingatkan barangsiapa yang mencemooh pemerintah, Allah bakal mengejekkannya. Bila petinggi itu dapat dibuktikan lakukan tindak pidana, menurut Habib Luthfi ada mekanisme serta cara perlakuannya. Walau demikian pada prinsipnya jangan pernah mengakibatkan kerusakan kesakralan beberapa lambang Negara.

Dalam pandangan Habib Luthfi menghormati pemerintah yaitu sisi yang tidak terpisahkan dari bentuk kecintaan pada Bangsa serta Negara. Jalinan baik Habib Luthfi dengan pemerintah dapat dilihat dari kehadiran Presiden RI pada perayaan Maulid Nabi Kanzus Shalawat pada tahun 2004 serta 2014. Gubernur serta Wakil Gubernur dari beragam provinsi, serta menteri-menteri dalam perayaan Maulid Nabi.

(Dikutip dari buku “Sejarah Maulid Nabi; Meneguhkan Semangat Keislaman serta Kebangsaan Mulai sejak Khaizuran 173 H sampai Habib Luthfi bin Yahya 1947 M-Sekarang)

Pesan Habib Lutfi Tentang Maulid SAW



“Membaca shalawat jangan malas-malas, bershalawat harus penuh dengan semangat,” begitu pesan yang pernah disampaikan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Menurut beliau, sedikitnya ada tujuh keutamaan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. yang tidak sekadar kegiatan rutinitas:
  1. Nabi Muhammad Saw. pada masa muda, sebelum masa kerasulan, telah mendapat gelar al-Amin oleh pemuka kaum Quraisy pada peristiwa peletakan Hajar Aswad di Mekkah.
  2. Nabi Muhammad Saw. merupakan satu-satunya nabi dan rasul yang kewilayahannya meliputi seluruh dunia, sedangkan nabi atau rasul lain hanya wilayah tertentu saja.
  3. Nabi Muhammad Saw. tidak pernah dipanggil hanya dengan namanya saja oleh Allah Swt. seperti nabi-nabi lain, melainkan beliau Saw. dipanggil dengan gelar-gelarnya diantaranya Thaha, Ya Muzammil, Ya Mudatsir, Yasin, dlsb.
  4. Nabi atau rasul lain hidup sejaman, semisal Nabi Daud dengan Nabi Sulaiman, Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, sedangkan jaman Nabi Muhammad Saw. hanya beliau Saw. saja tidak ada rasul lainnya yang hidup sejaman.
  5. Yatimnya Nabi Muhammad Saw. mengisyaratkan bahwa tarbiyah (pendidikan) al-Quran langsung oleh Allah Swt. bila washithah (tanpa perantara), bukan seperti yatim orang pada umumnya.
  6. Allah Swt. Tuhan pencipta alam semesta dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. (QS. al-Ahzab ayat 56). Dikuatkan dalam riwayat Ibnu Majah: “Bershalawatlah kamu kepadaku, karena shalawat itu menjadi zakat penghening jiwa dan pembersih dosa bagimu.”
Adanya al-Quran (nuzulul Quran), peristiwa Isra’ dam Mi’raj, dlsb. berawal dari lahirnya Baginda Nabi Muhammad Saw. sebagai kekasih Allah Swt.
Demikianlah jaminan malaikat kepada orang yang membawa shalawat. Untuk itu, semua umat Nabi Muhammad Saw. diharuskan memperbanyak membaca shalawat sebagai tanda bukti kecintaan umat terhadap beliau Saw. Malukah kita sebagai umatnya yang hanya manusia biasa tidak bershalawat kepada beliau Saw.?

Adapun inti dari peringatan dan pembacaan Maulid Nabi Saw. adalah syukur kita terhadap Allah Ta’ala karena Allah telah mengutus Nabi Muhammad Saw. dan kita termasuk ke dalam umat beliau Saw. Peringatan dan pembacaan maulid Nabi Saw. juga merupakan ungkapan rasa terimakasih kita kepada Nabi Saw. agar kita mencintai Rasul Saw. Kita iman dan Islam karena kita mengenal Nabi Muhammad Saw. Sehingga, oleh karena bersyukur itu diwajibkan, maka membaca maulid Nabi Saw. itu pun menjadi wajib.

Adapun dalil naqli dari Maulid Nabi Saw. ini sudah jelas terdapat dalam al-Quran. Di dalam al-Quran banyak terdapat maulid Nabi Musa As., Nabi Isa As., dan nabi-nabi lainnya. Bahkan di al-Quran Allah Ta’ala yang menciptakan seluruh makhluk termasuk menciptakan Nabi Muhammad Saw. pun menyaksikan dan menyebutkan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. Apakah hal tersebut bukan termasuk Maulid?

Walhasil, oleh karena pembacaan dan peringatan Maulid Nabi Saw. merupakan wujud syukur dan terimakasih kita kepada Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw., maka perlu untuk semakin gencar dan semangat dilestarikan. Karena apabila kepada Allah dan Rasul Saw. saja tidak mau berterimakasih, apalagi kepada makhlukNya yang lain.

Selain itu, pembacaan Maulid Nabi Saw. juga dilakukan dengan harapan turunnya berkah dan syafaat dari Baginda Nabi Saw. Sehingga kita, keluarga, dan lingkungan kita terhindar dari berbagai macam bala’ dan fitnah, dan tentu saja kita berharap bisa meneladani akhlak Nabi Saw. melalui pembacaan Maulid Nabi Saw.

Kisah Peci Bung Karno dan Surban Diponegoro Mbah Wahab



Mbah Wahab seorang ulama yang multitalenta. Selain menguasai ilmu agama beliau juga seorang politikus ulung, jago silat dan ahli wirid. Beliau menyatakan orang Islam bukan hanya berwibawa dan disegani karena ilmunya, melainkan juga karena wiridnya. Salah satu peninggalan wirid Kiai Wahab yang terkenal dan biasa diamalkan terutama di kalangan Pesantren sampai sekarang adalah:
“Maulaya shalli wasallim da-iman abada # ‘Ala habibika khairil khalqi kullihimi
Huwal habibulladzi turja syafa’atuhu # Likulli haulin minal ahwali muqtahami.”

Di pentas politik nasional, Mbah Wahab memperoleh lawan tanding yang layak: Bung Karno. Konon pernah terjadi ketika seluruh peserta pertemuan sudah siap di ruangan ketika Presiden Soekarno datang. Berjalan menuju tempat duduknya, Bung Karno menyempatkan diri menghampiri Mbah Wahab dan menepuk bahunya, “Ikut pendapatku!” kata Bung Karno, kemudian berlalu.
Mbah Wahab tidak menjawab. Bukan karena taat atau tak punya kata-kata, tapi tubuhnya mendadak kaku, lidahnya kelu. Hampir sepuluh menit beliau terpatung seperti itu. “Astaghfirullahal ‘adzim,” batinnya, “kena aku...”

Mbah Wahab jelas bukan orang yang gampang menyerah. Bung Karno baru selesai menyapa orang-orang ketika Mbah Wahab berhasil membebaskan diri dari ‘jurus’ Bung Karno itu. Belum lagi Presiden mantap duduknya, Mbah Wahab bangkit, ganti menghampiri dan menepuk pundaknya. “Aku punya pendapat sendiri!” kata Kiai Wahab.

Setengah jam Bung Karno terhenyak tanpa bergerak, hingga hadirin bengong, tak tahu yang terjadi.
Bagi Bangsa Indonesia, peci hitam memiliki arti penting. Peci ini dipakai Presiden pertama RI keliling dunia. Tak ayal, para pemimpin negara sahabat pun akrab dengan peci tersebut. Di mana peci hitam tampak, di situlah orang Indonesia disebut. Peci hitam memang menjadi identitas kebangsaan kita. Dalam buku “Berangkat dari Pesantren”, Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri menceritakan tentang uniknya peci hitam.

Suatu ketika, di sela-sela sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959 muncul kisah menarik. Bung Karno, kata Kiai Saifuddin Zuhri, menyatakan bahwa dia sebenarnya kurang nyaman dengan segala pakaian dinas kebesaran. Akan tetapi, semuanya dipakai untuk menjaga kebesaran Bangsa Indonesia. “Seandainya saya adalah Idham Chalid yang ketua Partai NU atau seperti Suwiryo, ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” ujar Bung Karno sambil melihat respon hadirin.

Dengan yakin dan percaya, proklamator itu menegaskan tidak akan melepas peci hitam saat acara resmi kenegaraan. “Tetapi soal Peci Hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini. Benar enggak, Kiai Wahab?” tanya Bung Karno pada Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang juga anggota DPA, KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Dengan tangkas, Mbah Wahab pun segera menimpali lontaran Bung Karno itu. “Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para muballigh NU,” jawab sang kiai

Sontak, pernyataan kiai kharismatik ini langsung disambut gelak tawa seluruh anggota DPA. Suasana pun meriah oleh canda tawa dan tepuk tangan hadirin. “Dengan peci itu saudara telah mendapat banyak berkah. Karena itu, ketika berkunjung ke Timur Tengah, saudara mendapat tambahan nama Ahmad. Ya, Ahmad Soekarno,” seloroh Kiai Wahab yang lagi-lagi disambut gelak tawa hadirin.

Dalam buku saku yang diterbitkan Panitia Haul ke-43 KH. A. Wahab Chasbullah disebutkan, kiai perintis, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama itu hampir tak lepas dari sorban dalam segala situasi. Baik di rapat-rapat NU, sidang parlemen, resepsi, istana negara, atau perjalanan. Suatu ketika Kiai Wahab berbicara pada sidang parlemen. Sebelum berdiri, ia membetulkan letak sorbannya. Sekelompok anggota parlemen komentar, “Tanpa sorban, kenapa sih?”
“Sorban Diponegoro,” jawab Kiai Wahab.

Ketika berdiri di podium, Kiai Wahab mengatakan, bahwa Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Kiai Mojo, dan Teuku Umar juga mengenakan sorban. Penjelasannya itu membuat sebagian anggota parlemen tergelak, tapi kemudian terdiam.

Menurut sejarawan, silsilah keturunan Kiai Wahab jika dirunut ke atas maka akan sampai pada kisah heroik Kiai Abdus Salam. Kakek Kiai Wahab itu merupakan salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro di sektor timur (1825-1830). Kiai Abdus Salam merupakan putra Pangeran Sambo bin Pangeran Benowo bin Joko Tingkir (Mas Karebet) bin Kebo Kenongo bin Pangeran Handayaningrat bin Lembu Peteng bin Pangeran Brawijaya VI. Dari trah para pejuang ini wajar jika kemudian Kiai Wahab tampil sebagai ulama yang tak pernah berhenti berpikir dan bergerak untuk umat.

13 Des 2016

Kisah Teladan, Abu Yazid Al Busthami qs dan Seekor Anjing


\
"Siapakah Dirimu Yang Sebenarnya? "
Siapa yang tidak kenal Abu Yazid Al-Busthami Qadasallahu Sirrahu, termasuk pemimpin kaum sufi. Namun siapa sangka beliau pernah mendapat ilmu yang sangat berharga dari seekor anjing.
Seperti biasa, Abu Yazid suka berjalan sendiri di malam hari. Lalu dia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya, anjing itu dengan begitu jalan tidak menghiraukan sang Syeikh, namun ketika sudah hampir dekat, Al-Busthami mengangkat jubahnya khuatir tersentuh anjing yang najis itu.
Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya,

"Tubuhku kering tidak akan menyebabkan najis padamu, kalau pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7x dgn air & tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat jubahmu kerana menganggap dirimu yang berbaju, badan manusia lebih mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan 7 samudra lautan".

Abu Yazid tersentak dan minta maaf. Lalu sebagai permohonan maafnya dia mengajak anjing itu untuk bersahabat & jalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya.
"Engkau tidak patut berjalan denganku, mereka yang memuliakanmu akan mencegahmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang Pencipta wujud ini, lihatlah aku juga tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum", lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid masih terdiam, "Duhai Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaanMU saja aku tak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan bersama denganMU, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari najis "

Sejak itu Abu Yazid memuliakan dan mengasihi semua mahluk Tuhan tanpa syarat.
"Janganlah menganggap dirimu lebih suci dari yang lain, sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang paling suci di antara hamba-hamba-Nya" (Surah an-Najm).
Wallahualam

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'ala 'alihi wa shohbihi wa salim

dikutip dari FB Diah Listyani

24 Nov 2016

Ajaran Toleransi Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya



“Jika sulit mencari alasan untuk menghormati pemeluk agama lain, alasan bahwa dia adalah manusia ciptaan Allah Swt. saja sudah cukup.” (Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya) 

Ketika kita telah menjelma kasih sayang di antara sesama kita pasti kedamaian itu akan semakin kokoh, semakin kuat dan semakin melejit. Dan cahaya kedamaian itu tidak dirasakan untuk Bangsa Indonesia saja, melainkan juga akan ditiru oleh bangsa lain.

Kita melihat tokoh-tokoh sesepuh kita, dari Budha, Hindu, Kristiani, Katolik, Protestan, dlsb. juga yang Muslim, kita melihat secara langsung ternyata semuanya koq Indonesia. Beda memang, ok, beda. Tapi saya kira tidak ada kalimat ‘Beda Indonesia’.

Rahmat Yang Maha Kuasa itu cepat turun karena kedamaian. Coba ribut terus, berkah dicabut, isinya hanya permusuhan, curiga, dan lain sebagainya. Ya ndak ada habisnya. Kalau orang selalu mencari kejelekan, saya jadi teringat nasihat guru saya, “Luth, Luth...”

“Ada apa Kiai?”

“Kamu kalau melihat orang lain, hidungmu itu dikasih minyak wangi, dioleskan. Nantinya mencium siapa pun akan wangi. Jika istrimu saat memasak maka akan berbau kompor, yang memakai kayu bakar maka berbau kayu, tapi tetap sedap karena di bawah hidungmu ada minyak wanginya. Secantik apapun jika di bawah hidungmu ada kotorannya maka jadi tak karuan. Sudah tampil cantik, mandinya sungguhan, ternyata bau kotoran. Dia tidak melihat, ternyata yang ada kotoran di bawah hidungnya adalah dirinya sendiri.”

Itulah kalau kita selalu memandang tidak baik, curiga terus, saya mengingat; ‘Eh di hidungku ada kotorannya tidak’. Nah ini suatu ajaran dari sesepuh-sesepuh kita. Dari sinilah kekuatan yang tanpa kita prediksi. 

Dengan doa bersama ini melambangkan dan menunjukkan suatu kekuatan Indonesia yang tidak main-main. Saya sedikit memperingatkan untuk kita semuanya, kalau Indonesia ini umpanya ditekan oleh oknum-oknum politik entah luar negeri atau siapapun, kita ndak mempan. Digoyahkan tentang faktor ekonomi, Indonesia masih tetap kuat. Ujungnya yang paling berbahaya adalah, ‘benturkan antar-umat beragama’. Itulah 

(Sumber: Fp IbjmArt.com)

22 Nov 2016

Tentang KHR. As'ad Syamsul Arifin



Saya belum pernah berjumpa dengan beliau, tapi saya merasa dekat dan sayang kepada beliau melalui cerita cerita indah nan hebat tentang beliau dari almarhum ayahanda
H. Nadhir Muhammad.

Di bulan dimana beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional,ingin saya mengenang beliau melalui cerita almarhum ayah;

1. "Kiai As'ad itu kiai sakti nak". kalimat dari ayah saya itu masih teringat jelas di ingatan.
bagaimana ketika almarhum ayah berkeinginan kuat melaksanakan haji namun belum memiliki bekal, maka kiai As'ad memakaikan kopiyah putih ke ayah saya sambil berucap "haji, haji". Dan Alhamdulillah setelah itu juga ayah saya mendapat beasiswa kuliah S2 ke baghdad dari kiai idham khalid, dan dari situ bisa menunaikan ibadah haji.

2. "Nak,ketika bapak ditahan tentara di kodim gara gara bapak menjadi ketua pemenangan pemilu PPP tahun 1982 dan Golkar kalah waktu itu, bapak ngamalkan wiridan dari kiai As'ad di penjara, dan alhamdulillah selesai wiridan, langsung ada telpon dari militer pusat supaya bapak dibebaskan". kalimat ini, lebih teringat lagi di benak saya. Mungkin karena waktu itu ibu saya "terpaksa" mengandung saya dalam keadaan almarhum ayah ditahan oleh rezim orde baru golkar. sebuah wirid yang ketika saya telusuri, berasal dari syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi.

3. Yang terakhir walau masih teramat banyak kenangan yang lain, dan ini menurut saya yang paling penting. "Nak, ketika pak harto memberi kiai as'ad mobil sedan karena menerima asas tunggal pancasila, mobil itu tetap diterima supaya tetap menjaga hunungan baik dengan pak harto, tapi setelah itu mobilnya langsung diberikan ke orang lain". Bagaimana Ayah saya menggambarkan kiai As'ad sebagai kiai dan tokoh yang ikhlas berjuang untuk rakyat indonesia. beliau menerima pancasila dan menjaga hubungan baik dengan pemerintah bukan karena materi apalagi jabatan. beliau lakukan itu semua karena rasa sayang kepada rakyat indonesia. Ya, rasa sayang kepada sesama inilah karakter wajib yang harus dimiliki seorang wali Allah, dalam tingkatan apapun juga.

Kiai As'ad, gelar pahlawan nasional ini pasti bukanlah yang kiai As'ad cari, gelar ini tidak lain hanya busyra -kabar gembira- dari Allah, sebagaimana syaikh ibn Athoillah sakandari berhikmah, tanda amal diterima oleh Allah di akhirat adalah adanya "tanda gembira" di dunia.gelar ini hanya salah satu pengingat dari Allah untuk rakyat indonesia, bahwa kiai As'ad memang memiliki tempat yang teramat mulia di sisi Allah. Amin Ya Allah.

الى العارف بالله الشيخ أسعد شمس العارفين ،الفاتحة...

Ahmad Gholban Aunir Rahman
Talangsari Jember

Kisah Teladan, Sang Kyai Mencari Jodoh



Kisah Seorang Kyai Yang Mencari Jodoh

Syahdan, adalah seorang kiai dari suatu daerah. Kiai ini sudah hampir mendekati lima puluh tahun usianya, tetapi masih membujang. Keinginan untuk berkonsentrasi sebagai Kiai tanpa menghiraukan urusan dunia termasuk wanita, membuatnya menjadi bujang lapuk. Tapi soal kebutuhan penyaluran syahwat, tetap saja mengusik setiap hari. Apalagi kalau ia berfikir, siapa nanti yang meneruskan pesantrennya kalau ia tidak punya putra ?

Dengan segala kejengkelan pada diri sendiri dan gemuruh jiwanya, akhirnya Sang Kyai melakukan istikhoroh, mohon petunjuk kepada Allah, siapa sesungguhnya wanita yang menjadi jodohnya?
Petunjuk yang muncul dalam istikhoroh, adalah agar Sang Kyai mendatangi sebuah komplek pelacuran terkenal di daerahnya. “Disanalah jodoh anda nanti…” kata suara/tanda isyarat dalam istikhoroh itu.

Tentu saja Sang Kyai menangis tak habis-habisnya, setengah memprotes Tuhannya. Kenapa ia harus berjodoh dengan seorang pelacur ? Bagaimana kata para santri dan masyarakat sekitar nanti, kalau Ibu Nyainya justru seorang pelacur? “Ya Allah…! Apakah tidak ada perempuan lain di dunia ini ?”

Dengan tubuh yang gontai, layaknya seorang yang sedang mabuk, Sang Kyai nekad pergi ke komplek pelacuran itu. Peluhnya membasahi seluruh tubuhnya, dan jantungnya berdetak keras, ketika memasuki sebuah warung dari salah satu komplek itu. Dengan kecemasan luar biasa, ia memandang seluruh wajah pelacur di sana, sembari menduga-duga, siapa diantara mereka yang menjadi jodohnya.
Dalam keadaan tak menentu, tiba-tiba muncul seorang perempuan muda yang cantik, berjilbab, menenteng kopor besar, memasuki warung yang sama, dan duduk di dekat Sang Kyai. “Masya Allah, apa tidak salah perempuan cantik ini masuk ke warung ini?” kata benaknya.

“Mbak, maaf, Mbak. Mbak dari mana, kok datang kemari ? Apa Mbak tidak salah alamat ?” tanya Sang Kyai pada perempuan itu. Perempuan itu hanya menundukkan mukanya. Lama-lama butiran airmatanya mulai mengembang dan menggores pipinya. Sambil menatap dengan mata kosong, perempuan itu mulai mengisahkan perjalanannya, hingga ke tempat pelacuran ini. Singkat cerita, perempuan itu minggat dari rumah orang tuanya, memang sengaja ingin menjadi pelacur, gara-gara ia dijodohkan paksa dengan pria yang tidak dicintainya.

“Masya Allah…. Masya Allah… Mbak.. Begini saja Mbak, Mbak ikut saya saja .…” kata Sang Kyai, sambil mengisahkan dirinya sendiri, kenapa ia pun juga sampai ke tempat pelacuran itu. Dan tanpa mereka sadari, kedua makhluk itu akhirnya sepakat untuk berjodoh.
Kisah tentang Sang Kyai ini sesungguhnya merupakan refleksi dari rahasia Allah yang hanya bisa difahami lebih terbuka dari dunia Sufi.

Hal ini menggambarkan bagaimana dunia jiwa, dunia moral, dunia keindahan dan kebesaran Ilahi, harus direspon tanpa harus ditimbang oleh fakta-fakta normatif sosial yang terkadang malah menjebak moral seorang hamba Allah.

Sebab tidak jarang, seorang Kiai, sering mempertaruhkan harga dirinya di depan pendukungnya, ketimbang mempertaruhkan harga dirinya di depan Allah. Dan begitulah cara Allah menyindir para Kyai, dengan menampilkan Sang Kyai ini.


Sumber dengan beberapa edit

17 Nov 2016

Penyakit RASIS


Sayyidi al-Habib Umar bin Hafidz:

"Rasisme adalah penyakit dari orang-orang kafir! 
Ketika Abu Bakar RA menebus Bilal RA dari perbudakan dan kebebasannya dikabulkan, Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma memanggil Sayyidina Bilal RA dengan sebutan Tuan karena derajatnya (ketakwaannya) yang tinggi, dekat dengan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Ketika Nabi ﷺ diutus, beliau membawa kesetaraan kedudukan dalam Islam, jika kalian masih memiliki penyakit ini (rasis), ketahuilah bahwa kalian memiliki penyakit yang sama dari orang-orang kafir atau non-Muslim".

Biografi Habib Ali Al-Jufri, Sang Da'i Fenomenal



Rusaknya moral umat manusia sudah bukan lagi berita baru. Semua orang yang merenung pasti menyadarinya. Semakin lama semakin banyak hal-hal tabu yang menjadi suatu hal yang biasa bahkan istimewa. Demikian pula perseteruan antar ideologi yang tak ada habisnya. Saling tuding, saling menuduh dan saling mengafirkan sudah jadi tontonan wajib. Parahnya, saling benci hanya karena berbeda ideologi itu sudah menjadi hal lazim, bahkan saling bunuh.

Kini kita nampak hidup di zaman jahiliah. Wanita sudah malu tuk berbusana. Maksiat pun biasa dilakukan dihadapan ribuan mata. Bahkan maksiat juga bisa bikin orang bangga. Saat ombak kemiskinan moral menggunung. Di tengah gejolak pemikiran yang memanas. Dan di masa modernitas jahiliah. Masih terdapat kebaikan di dalam tubuh umat Islam. Kita masih menemukan sosok-sosok manusia jaman dulu, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya serta membawa manhaj nabawi serta menaburkannya di muka bumi.

Adalah Habib Ali al-Jufri salah satu ulama yang cukup berpengaruh dewasa ini. Sebelum terbitnya fajar Jum’at 20 Shafar 1931 yang bertepatan dengan 16 April 1971 ia meneriakkan tangisan pertamanya di Kota Jeddah, Arab Saudi. Ulama berwajah tampan ini bernama asli Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri dari keluarga Ba’alwi yang nasabnya bersambung sampai pada Rasulullah Saw.

Ayahnya adalah Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali bin Ahmad bin Alwi bin Abdurrahman Maula al-‘Ursah bin Muhammad bin Abdullah at-Turisi bin Ali al-Khawwash bin Abu Bakar al-Jufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Ubaidullah bin Ahmad bin al-Muhâjir ilallâh Ahmad bin Isa ar-Rumi bin Muhammad bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Kw. bin Abu Thalib suami Siti Fathimah binti Rasulullah Saw.

Selain mewarisi garis keturunan dari Rasulullah Saw., ia juga mewarisi ilmu dan akhlaq beliau Saw. Tumbuh di lingkungan akademis nan agamis di sekeliling keluarganya, sejak kecil ia sudah dicekoki dengan wejangan-wejangan keagamaan bernuansa sufi ala tarekat Alawiyah.



Di masa kecilnya, ia sudah banyak menerima sentuhan-sentuhan energi rohani serta pelajaran agama dari bibinya yang juga merupakan seorang wanita salehah yaitu al-Ârifah billah Hababah Shafia binti Alwi al-Jufri.

Selanjutnya ia menjalani jalan setapak para penuntut ilmu agama dengan mengambil ilmu-ilmu agama dari guru-guru yang mempunyai sanad yang bersambung sampai pada Rasulullah Saw. Sejak umur 10 tahun ia mulai berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah. Dari Habib Abdul Qadir ini ia belajar banyak ilmu agama beserta sanadnya sampai pada umur yang ke-21.

Setelah itu ia belajar kepada beberapa ulama lain, seperti Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, Habib Abu Bakar Alattas di Mekkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib Hamid bin Alwi al-Haddad, Habib Abu Bakar al-‘Adani, dan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Basyekh.

Pada tahun 1991 ia bergabung di Fakultas Dirasat al-Islamiyah Universitas San’a Yaman sampai tahun 1993. Selama jenjang waktu tersebut, ia memanfaatkannya untuk berguru kepada Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar sampai sang guru itu menghembuskan nafas terakhirnya di Kota Baidha’ Yaman. Di sini beliau banyak mengambil pelajaran dari metode dakwah Habib Muhammad. Habib Muhammad senantiasa mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dikuasainya di segala sisi kehidupannya. Dari sinilah titik tolak pandangan Habib Ali dalam penyelarasan ilmu teori dan praktik di medan dakwah.

Selanjutnya ia mengambil ilmu dari Habib Umar bin Hafidz dan menetap di kampung nenek moyangnya Tarim Hadhramaut, tepatnya di pondok Darul Musthafa milik Habib Umar dari sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2003.

Selain itu ia juga berkali-kali ke Mesir untuk berguru kepada ulama-ulama Negeri Musa seperti, Syaikh asy-Sya’rawi, Syaikh Isma’il Shadiq al-‘Adawiy Imam dan Khathib Masjid al-Azhar, dan juga berguru kepada asy-Syadzuli Kedua Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim.

Ia juga telah melalang buana ke berbagai negara lainnya hanya untuk berguru. Di Syam beliau berguru dengan Syaikh Abdurrazaq al-Halabi, Syaikh Ahmad al-Khathib, dan Syaikh Husain ‘Usairan di Lebanon. Di India berguru dengan Syaikh Muhammad In’am Hasan. Dan di Maroko dengan Syaikh Idris al-‘Iraqi. Dari perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu ini, beliau meraih lebih dari 300 Ijazah di berbagai disiplin ilmu beserta sanadnya.

Di mata pengagumnya Habib Ali dikenal sebagai da’i yang membawa manhaj moderat dalam usaha mempersempit lingkaran perbedaan antar golongan-golongan yang ada dalam agama Islam. Salah satu usahanya ini dilakukan dengan menggabunggkan metode klasik dan modern dalam berdakwah dan sangat anti untuk mengafirkan golongan lain.

Gerakannya dalam bidang dakwah ini mendapat apresiasi dari banyak ulama di berbagai belahan dunia. Diantara para ulama yang menunjukkan apresiasinya kepada Habib Ali adalah, Salman ‘Audah dan Aidh al-Qarny dari Saudi, beberapa ulama Ja’fariyah dan Zaidiyah. Mayoritas ulama Syam dari Suriah maupun Lebanon seperti, Mufti Suriah Syaikh Ahmad Kiftaro, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Bouty, Mufti Lebanon Muhammad Rasyid Qabbany. Demikian pula masyarakat Mesir pada umumnya, bahkan Mufti Mesir Syaikh Ali Jum’ah menganggap Habib Ali sebagai salah satu anggota kelompok kajian ilmiah dan dakwahnya. Habib Ali juga mempunyai pengagum setia di belahan dunia lain seperti di Indonesia, India, Afrika, Eropa dan Amerika.

Para pengamat tasawuf, khususnya para ulama Syam, Yaman, Mesir dan Maroko memandang Habib Ali sebagai tokoh sufi yang moderat, sesuai dengan yang dicontohkan oleh ulama salaf seperti Hasan al-Basri, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dan juga ulama khalaf seperti Ibnu Taimiyah. Di mata mereka Habib Ali bagaikan reinkarnasi ulama-ulama salaf. Meskipun demikian, tidak dapat diingkari bahwa masih ada beberapa yang menganggap Habib Ali sebagai sufi yang terlalu over dalam praktek tasawuf.

Selain aktif di berbagai kegiatan ilmiah dan dakwah di banyak seminar maupun muktamar internasional, ia juga aktif meramaikan dakwah melalui media masa yang ada. Ia seringkali tampil di channel-channel televisi, bahkan beberapa channel menyediakan program khusus secara bersambung yang khusus menampilkan Habib Ali seperti yang diadakan oleh channel Drama 2, Iqra’, Risalah, Mehwar, CBC dan lain-lain.

Objek dakwah Habib Ali tidak terbatas di Timur Tengah saja, disamping kesibukannya yang padat, ia masih menyempatkan dirinya untuk menyebarkan pesona Islam di negeri Paman Sam. Ia menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Amerika Serikat seperti, Universitas St. Clara, Universitas San Diego, Universitas Miami, Universitas California Selatan di Los Angels. Sebagaimana ia juga menjadi dosen tamu di Universitas SOAS di Uni Emirat Arab.

Walaupun Habib Ali memiliki jasa yang sangat besar pada umat Islam, seringkali ia menerima kritikan pedas dari pembesar-pembesar golongan Salafi Wahabi. Hal itu wajar, karena Habib Ali berafiliasi kepada akidah Asy’ari dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran tasawuf.

Namun di tengah derasnya tuduhan dari golongan Salafi, ia juga mendapat dukungan keras dari banyak ulama Ahlusunnah. Syaikh Muhammad Abdul Ghaffar Sekjen Wakaf Kuwait mengatakan, “Orang-orang yang menyerukan untuk mewaspadai dakwah Dai’ Hebat (Habib Ali) ini kebanyakan hanyalah atas dasar kedengkian.” Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Bouty mengatakan bahwa Habib Ali adalah salah satu dari ulama yang mengamalkan ilmunya dan termasuk orang saleh.

Demikianlah sekilas tentang sosok Habib Ali al-Jufri. Ia bak pemborong warisan Nabi Saw., dari nasab, ilmu sampai akhlaknya. Semoga Allah senantiasa menjaganya dan memanjangkan umurnya. Dan semoga kita mendapatkan barakah ilmunya dan mengikuti jejaknya. Amin. (*Diterbitkan di Majalah La Tansa IKPM Cab. Kairo via http://www.ikpmkairo.com).

Habib Luthfi bin Yahya: Bedanya Orang Thariqah dan Belum Berthariqah



Pertama, thariqah mengajak ruju’ ilallah (kembali menuju Allah), fafirru ilallah (berlari menuju Allah), kembali kepada ajaran Baginda Nabi Saw. Mengikuti ajaran, akhlak dan adabnya Rasulullah Saw.

Kedua, thariqah memiliki madad yang musalsal, yang tidak terputus (sanadnya/sambungannya) kepada guru-guru kita hingga ke Rasulullah Saw. Naqsyabadiyah, al-Ahrariyah, Khalidiyah, begitupula Qadiriyah, bukan semata-mata ciptaan ulama. 

Semisal penamaan Qadiriyah dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Itu tiada lain karena Syaikh Abdul Qadir adalah sebagai imamnya. Namun Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bukanlah yang membuat thariqah tersebut. Tapi ada dasar-dasarnya. Dimana beliau mengambil dari gurunya, Syaikh Abu Sa’id Mubarok al-Makhzimi, dari Syaikh Abul Hasan Ali al-Hakkari, dari Syaikh Abul Faraj at-Tartusi, dari Syaikh Abul Fadhl Abdul Wahid at-Tamimi, dari Syaikh Abu Bakar asy-Syibli, dari Syaikh al-Imam Abul Qasim Junaidi al-Baghdadi, dari Syaikh Abul Hasan Sarri as-Saqati, dari Syaikh Ma’ruf al-Karkhi, dari Syaikh al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa ar-Ridha, dari Syaikh al-Imam Musa al-Kadzim, dari Sayyidina al-Imam Ja’far ash-Shadiq, dari Sayyidina al-Imam Muhammad al-Baqir, dari Sayyidina al-Imam Ali Zainal Abidin, dari Sayyidina al-Imam Abu Abdullah al-Husain, dari Sayyidina al-Imam Ali bin Abi Thalib Ra., dari Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw.

Kalau ditanya apa bedanya orang yang sudah berthariqah dan yang belum berthariqah? Jawabnya sama, tidak ada bedanya. Orang yang berthariqah membaca La ilaha illallah, orang yang belum berthariqah pun membaca La ilaha illallah.

Lha kalau begitu perbedaannya di mana? Bedanya hanya sedikit, tidak banyak. Saya contohkan supaya mudah. Saat para sahabat berkumpul di Masjidil Haram, Rasulullah Saw. mengajarkan sunnah minum air zamzam. Lalu para sahabat berebut meminumnya, berasal dari sumber yang sama. Yang diminum salah seorang sahabat air zamzam, dan yang diminum sahabat lainnya pun air zamzam. Yang diminum Rasulullah Saw. juga air zamzam.

Tapi sahabat yang minumnya di belakang Rasulullah Saw., mendapatkan gelasnya dari Rasulullah Saw. yang isinya air zamzam tadi. Setelah diminum Rasulullah Saw. lalu dioperkan ke barisan belakangnya. Yang satu tidak mendapatkan bekas (atsar) cangkirnya Rasulullah Saw., tapi yang satunya lagi mendapatkan cangkirnya Rasulullah Saw. Sampai kepada tabi’in, tabi’ut tabi’in, dst. yang disebut dengan madad min madadillah. Semoga kita termasuk di jajaran orang yang musalsal hingga ke Rasulullah Saw. Amin. 

(*IBJ. Ditranskrip dari video ceramah Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya

Kisah Syaikh Muhammad Al-Ghazali dengan Wanita Tak Berhijab



Ulama sekaligus dai produktif asal Mesir yang wafat tahun 1996, Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita, “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.

Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.
Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.

Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”
Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”
Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”
Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”

Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”
Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.

Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”

Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”
Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para dai dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”
“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.

“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”
Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:
يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك
“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”

Sungguh cahaya cinta dan kasih sayang yang terpancar dari hati Rasulullah Saw. sanggup mengubah kondisi hati setiap orang yang melihatnya. Maka apakah para dai hari ini telah belajar dari sosok Nabinya, sehingga mereka menjadi dai yang menyatukan, bukan justru memecah-belah? Menjadi dai yang memberikan kabar gembira, bukan justru membuat orang-orang lari dari agama? 

(Disarikan dari kitab al-Haqq al-Murr (Kebenaran yang Pahit) hal. 23 karya Syaikh Muhammad al-Ghazali).

28 Okt 2016

Karomah Karya Ulama Jaman Dahulu

Habib Muhammad bin Ahmad Al-Ahdal menceritakan bahwa setelah Imam Muhammad bin Daud selesai menulis kitab Ajjurumiyah yang ditulisnya di depan Ka'bah, beliau kemudian pergi ke sebuah sungai sambil berkata dalam hati, "Ya Allah, jika karyaku ini tidak bermanfaat, maka bawalah ia bersama air." Beliau lalu meletakan kitabnya di atas air yang mengalir sambil berucap, "Jurru Miyyah (mengalirlah wahai air)." Air tersebut tetap mengalir, namun tanpa membawa serta kitabnya, bahkan tidak basah sedikitpun.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menceritakan bahwa tiada satu Hadits dalam kitab Ihya Ulumuddin kecuali Imam Ghazali akan shalat dua rakaat dan mencium tulisan Hadits tersebut. Jika Hadits itu berbau wangi maka beliau akan memasukannya ke dalam Ihya. Jika tidak, maka ditinggalkan.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menceritakan bahwa ketika Imam Ibnu Arabi selesai menyusun kitab Futuhat Makiyyah, beliau meletakan kitabnya tersebut di atas Ka'bah selama setahun. Beliau meminta kepada Allah agar menghancurkan kitabnya itu jika tidak bermanfaat bagi umat. Namun setelah setahun berlalu, kitab tersebut masih utuh, padahal tahun itu Makkah sempat diguyur hujan dan badai pasir.

Demikian contoh Mawahib (karamah dalam suatu karya) pada ulama-ulama terdahulu sehingga karyanya tersebut masih lestari dan bermanfaat bagi umat hingga kini. Maka hati-hati dengan lidah dan hati kita, jangan seperti Tetangga sebelah yang baru hafal satu-dua ayat telah berani mendhaifkan bahkan menuduh sesat kitab-kitab ulama terdahulu.




Ket. Foto; KH. Lukman Hakim, pengurus Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang menunjukan kitab tulisan tangan Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari yang ditulis puluhan tahun lalu. Tetap utuh tanpa ada satu huruf pun yang buram, dan tak ada satupun kertasnya yang lapuk. Ada sekitar 20 kitab karya beliau yang hingga kini masih utuh.