CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

11 Apr 2016

Kisah Teladan Dari Abdul Wahab, Duta Santri NU di Papua

Berikut ada Kisah Teladan penulis temukan dan sempet heboh di beranda FB, mari disimak, saya copas dari FB beliau..
------




Sekedar cerita, smoga tidak ada lagi yang menuduh saya Libral, Kapir , bahkan sampe dituduh menghina Agama Islam dll. Walaupun saya sendiri sebenarnya tidak masalah dengan lebel" itu. Saya udah kenyang juga dengan tuduhan macam itu.

Sabtu (9/04/2016 ).Seperti biasa , setiap pagi saya menghabiskan waktu di dapur pesantren Pon Pes Al Payage Angkasapua Papua untuk menyiapkan sarapan buat anak anak papua yang mondok di sini.
Pagi tadi pas saya sedang berjalan di samping dapur, saya melihat ada seekor anjing yang mondar mandir di depan pesantren dengan penuh luka dan seperti sangat kelaparan.

saya kemudian langsung membawa anjing itu kedalam Pondok untuk melihat luka yang di derita anjing tersebut dan langsung memberinya makan. Saya juga sempat menyuapi makan anjing itu. karna saya lihat untuk sekedar menundukan kepalanya anjing tersebut kesusakan karna ada bebrapa luka di skitar leher.

saya melakukan hal itu karna yang saya tahu dari apa yang saya pelajari dari para Ulama " Islam mengajarkan kepada setiap umatnya agar selalu berbuat baik, baik itu terhadap sesama manusia bahkan hewan sekalipun, termasuk kepada anjing yang sperti kita ketahui sebagai hewan yang najis.
Walaupun Anjing itu najis, bagi saya bukanlah sebuah maslah. sudah jelas para ulama" dalam kitab fikih sudah menyediakan sebuah solusi untuk membersihkan sesuatu yang terkena najisnya anjing, baik dalam kitab Safinah Fathul bari dll.

Kalangan syafi’iyyah dan Hanabilah menilai anjing tergolong najis mugholladzoh (najis yang berat) yang mengakibatkan najis tidak hanya sebatas air liurnya saja tapi mencakup juga keringatnya dan setiap anggota tubuhnya

Dalam kitab safinah di jelaskan
(فصل) النجاسة ثلاثه : مغلظة ومخففة ومتوسطة . المغلظة : نجاسة الكلب والخنزير وفرع أحدهما . والمخففة : بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين. والمتوسطة : سائر النجاسات.
Najis terbagi menjadi tiga, yaitu :
Najis berat , dan najis ringan ,dan najis sedang .
Najis berat yaitu najis anjing dan babi dan anak-anak dari salah satu keduanya .
Dan najis ringan yaitu kencing anak kecil yang tidak makan selain air susu dan belum sampai umurnya 2 tahun .
Dan najis sedang yaitu semua najis .

Dari ketrangan di atas kita ketahui bersama bahwa najis anjing termasuk najis yang Mugholadzoh.
Tapi setelah menjelaskan bebrapa macam najis dalam kitab safinah di lanjutkan lagi bab solusi untuk memberaihkan najis.

(فصل ) المغلظة : تطهر بسبع غسلات بعد إزالة عينها ،إحداهن بتراب . والمخففة : تطهر برش الماء عليها مع الغلبة وإزالة عينها .
Najis Mughollazhoh atau berat suci ia dengan membasuhnya 7 kali sesudah menghilangkan dzatnya salah satunya dengan tanah . Dan najis Mukhoffafah atau ringan suci ia dengan memercikkan air diatasnya serta rata dan sudah hilang dzatnya

Dan najis Mutawassithoh atau najis sedang terbagi kepada 2 bagian : ‘Ainiyyah dan Hukmiyyah . Adapun ‘ainiyyah yaitu sesuatu yg baginya ada warna dan bau dan rasa maka tidak boleh tidak dari menghilangkan warnanya dan baunya dan rasanya .
Dan najis hukmiyyah yaitu yg tidak ada warna dan tidak ada bau dan tidak ada rasa maka cukup mengalirkan air diatasnya .

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah
Cara Penyucian Pada Tiga Macam Najis
Cara mencuci Najis Mughalladah adalah membasuh dan mensucikannya dengan tujuh kali basuhan atau sucian, setelah hilangnya bekas najis tersebut. Salah satu dari tujuh sucian tersebut harus dibarengi dengan debu. Sebab ada hadits nabi yang menyatakan bahwa, “basuhan terakhir dari tujuh basuhan harus dicampur dengan debu”; dan hadits yang lain menyatakan bahwa “basuhan pertama dari ketujuh basuhan harus dicampur dengan debu”. Jadi mencampur debu bebas baik di awal atau di akhir basuhan.

Yang dimaksud dengan debu adalah endut atau tanah yang tercampur dengan air sehingga lembab atau pun debu yang berupa pasir lembut yang kering. Sehingga tidak bisa dianggap mensucikan najis mughalladhah dengan sabun, kayu atau yang lainnya.

Najis Mukhaffafah (ringan) dengan memercikkan air pada najis, dan diperkirakan bahwa najisnya dapat dihilangkan. Meskipun memercikkan airnya tanpa dilakukan oleh seseorang atau dengan air hujan yang menetes dari langit dan menetesi tempat atau sesuatu yang najis, maka dianggap cukup sebagai pembasuhan pada najis mukhaffafah (ringan).

Najis Mutawasitah (pertengahan) ada dua, yaitu najis ‘ayniyah dan najis hukmiyah.
Najis ‘ayniyah adalah najis yang memiliki bentuk atau warna, bau, dan rasa. Disebuat dengan najis ‘ayniyah, sebab najisnya dapat ditangkap oleh panca indera. Cara penyuciannya harus secara total menghilangkan baik bentuk atau warna, bau dan rasanya.

Jika warna atau baunya susah dihilangkan setelah dibasuh berkali-kali, maka sudah dianggap cukup dan benda atau tempat yang terkena najis sudah bisa dianggap suci. Batasanya susah menghilangkan najis adalah dengan membasih tiga kali akan tetapi tidak dapat hilang bentuk atau baunya, maka sudah dianggap cukup atau suci. Sedangkan jika rasa najis susah dihilangkan maka benda atau tempat yang terkena najis bisa dikatakan najis yang ma’fu ‘anhu (dimaafkan).

Sedangkan Najis Hukmiyah adalah najis yang tidak memiliki bentuk, bau dan rasa. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda atau tempat yang terkena najis.
Itulah keindahan Islam, selalu ada solusi dalam setiap permaslahan, pun dengan apa yang saya alami pagi tadi, stelah mengbati dan mengasih makan anjing tersebut, saya langsung bersuci sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh ulama di atas.
Lebih ajibnya lagi di kitab safinah juga di terangkan bahwa Anjing yang tidak galak termasuk hewan yang di muliakan.

Saya sangat juga sangat takjub dengan Imam Nawawi AlBantani saat mensyarahi bab ini dalam kitab Syarhu Kaasyifatus Saja ’alaa Safiinatin Najaa Fii Ushuuulidn pada halaman 42, dlm fasal mengenai najis.

Beliau berkata
فى الكلب عشر خصال محمودة ينبغى للمؤمن ان لا يخلومنها:
Di dalam diri seekor anjing terdapat 10 sifat keteladanan, yang diantaranya patut dimiliki oleh setiap insan yg beriman, yakni

اولها : لايزال جائعا. وهده صفات الصالحين.
1. Gemar mengosongkan perut.
Inilah salah satu sifat orang yg sholeh.

الثانية : لاينام من الليل الا قليلا. وهده من صفات المتهجدين
2. Tidak tidur malam hari kecuali sedikit saja. 
Hal ini menjadi salah satu sifat dari orang2 ahli Tahajud.

الثالثة : لو طرد فى اليوم الف مرة ما برح عن باب سيده. وهده من علامات الصادقين.
3. Kalaupun sehari ia diusir seribu kali, ia tak akan pergi dari pintu rumah tuannya. 
Inilai salah satu sifat dari orang2 sidik.

الرابعة : ادا مات لم يخلف ميراثا. وهده من علامات الزاهدين.
4. Bila ia mati tak pernah meninggalkan warisan yang berlebihan. 
Inilah ciri2 orang Zuhud.

الخامسة : ان يقنع من الارض بادنى موضع. وهده من علامات الراضين.
5. Selalu merasa puas meski menempati bumi di tempat yg paling hina sekalipun. 
Inilah salah satu tanda dari orang2 yang ridho terhadap ketentuan Allah.

السادسة : ان ينظر الى كل من يرى حتى يطرح له لقمة. وهده من اخلاق المساكين.
6. Memandangi setiap orang yg memandanginya sampai dilemparkan kepadanya sesuap makanan. 
Inilah sifat orang yg sabar.

السابعة : انه لو طرد وحثى عليه التراب فلا يغضب ولايحقد. وهده من اخلاق العاشقين.
7. Kalaupun diusir dan ditaburi debu, ia tak akan marah dan mendendam tuannya. 
Inilah salah satu akhlak asyikin (rindu bertemu Tuhan).

الثامنة : ادا غلب على موضعه يتركه ويدهب الى غيره. وهده من افعال الحامدين.
8. Jika tempatnya ditempati oleh orang lain, ia rela menyingkir ke tempat yang lain. 
Inilai sebagian tindakan orang2 yang terpuji.

التاسعة : ادا اجدى له اى اعطي له لقمة اكلها وبات عليها. وهده من علامات القانعين
9. Apabila diberi makanan sebesar apapun, ia rela menerimanya. 
Inilah salah satu akhlak orang yg Qona’ah.

العاشرة : انه ادا سافرمن بلد الى غيرها لم يتزود. وهده من علامات المتوكلين.
10. Apabila bepergian dari satu tempat ke tempat yg lain, ia tidak pernah membawa bekal yg diada-adakan, melainkan semampunya, 
inilah ciri2 orang yg tawakal.

yah mungkin bagi teman" ada yang belum tahu kalo saya sekarang tinggal di Papua. saya disini di tugaskan oleh PPM ASWAJA, LDNU dan juga SARKUB Untuk membantu Dakwah dan pendidikan di Papua.

sudah barang tentu, papua bukan sperti daerah lainya, keberdaan anjing di papua sudah barang lumrah, sehingga mau tidak mau saya juga sering berinteraksi dengan hewan ini.
bahkan ada satu anjing di daerah Wamena Jayawijaya yang terkadang suka menemani perjalnan dakwah saya.

saya menyadari tentang apa yang saya lakukan tadi pagi. saya menguplod foto tersebut bukan bermaksud apa apa, saya hanya ingin memberi pesan disaat ada bebrapa orang yang dengan tega menyiksa binatang".

dalam foto diatas saya tulis bahwa "puncak dari agama adalah cinta". karna itu yabg saya tahu dari para ulama ulama NU. Terhadap binatang saja kita harus berbagi cinta dan kasih sayang, apalagi terhadap sesama.

memang sangat di sayangkan, belakang muncul sekelompuk orang yang mengatasnamakan agama tapi justru membuat teror di mana mana. padahal Kanjeng nabi muhammad sendiri mewanti" agar kita selalu berpilakj baik.

Islam mengajarkan kepada setiap umatnya agar selalu berbuat baik, baik itu terhadap sesama manusia bahkan hewan sekalipun, termasuk kepada anjing yang oleh sebagian besar umat Muslim dikatakan sebagai hewan yang najis.

Ingat, haramnya anjing itu bila dikonsumsi. Lalu bagaimana bila kita mendapati anjing yang kondisinya mengenaskan dan kelaparan di jalanan, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja yang harus kita lakukan adalah menolong dan memberi makan anjing tersebut lantaran hal ini akan menjadi sebuah amal shalih yang bisa saja menghapuskan dosa-dosa kita.

Hal ini diperkuat oleh Rasulullah SAW, melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW menceritakan ada seorang laki-laki yang mendapati seekor anjing memakan debu karena kehausan di sebuah padang pasir. Pemuda itu kemudian menuju sebuah sumur dan mengambil air serta memberikan air tersebut kepada anjing sampai anjing itu lepas dahaganya. Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah berterima kasih kepadanya, lalu mengampuni dosa orang itu.”

Saya juga teringat sebuah hadis
«اِرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
“Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”.
(Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Lihat Shahiihul jaami’ no. 896).
Hadits ini menjelaskan akan keutamaan sifat kasih sayang, yang selayaknya setiap Mukmin berhiasi diri dengan akhlak yang mulia ini.

Penjelasan hadits ini ada dalam redaksi lain, di mana Rasulullah bersabda: “Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit -yakni para malaikat-. (HR Abu Daud, Lihat Shahihul jami’ 3522).
Ketahuilah “Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang“(HR Bukhori Muslim).

Ada sebuah kisah , Suatu hari Rasulullah bertutur “Tidak akan sempurna keimanan kalian hingga kalian saling menyayangi”.
Para Sahabat lantas menimpali “Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang.”
“Kasih sayang yang di maksud bukanlah kasih sayang antar sesama kalian saja,”…belaiupun meluruskan…

“melainkan kasih sayang kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk.”….,(HR at-Thabrani)
Oleh sebab itulah hadits ini lebih umum. Kita di anjurkan bukan hanya menyayangi sesama manusia dari orang tua, istri, suami, anak, tetangga, sahabat, faqir miskin dan orang-orang lemah, bahkan binatang, tumbuhan atau makhluk lain disekitar kita sekalipun.
Wallahu alam. Mohon maaf lahir batin apbila ada salah dalam foto yang kemarin saya uptade, saya mohon maaf lahir batin
Jika masih da yang mengganjal di hati teman" , silahkan hubungi saya langsung.
Telfon / Wa 082248030659.

Sumber

Jika Penasaran silahkan kunjungi FB Beliau Abdu L Wahab, dan jangan jadi Jamaah Kagetan (tambahan penulis)

5 Apr 2016

Dasyatnya Sholat Kaum Sufi



Kekeringan terjadi dimana-mana, sementara tanda hujan akan turun berminggu-minggu tidak terlihat. Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi menginisiasi shalat Istisqa bersama jamaah sufi Syria. Kelompok sekuler mengejek rencana shalat Istisqa yang akan dilakukan jamaah sufi itu. Dan mereka mengecam negara agar tidak menghiraukan rencana shalat Istisqa masal itu.

Saat waktunya tiba, Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi pun mengimami shalat Istisqa yang diikuti ratusan ribu jamaah di Masjid Agung Umayah dan menyampaikan khutbah. Setelah itu beliau memohon Syaikh al-Arif Billah Ahmad al-Habbal, seorang ahli dzikir yang zuhud, untuk berdoa. Lalu Syaikh Ahmad al-Habbal pun mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah seraya menangis penuh harap. Subhanallah, langit yang awalnya terik seketika menjadi mendung dipenuhi gumpalan awan dan langsung turun hujan dengan derasnya.

Syaikh Ahmad al-Habbal usianya sudah 100 tahun. Usianya yang begitu senja membuatnya tak mampu berdiri dan berjalan kecuali dengan bantuan dua orang yang memapah di kanan dan kiri. Tapi ketika waktu shalat tiba atau waktu mengisi majelis dzikir beliau berjalan sendiri seperti baru lepas dari tali yang mengikatnya dengan kuat.

(Keterangan foto: Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Buthi dan Syaikh al-Arif Billah Ahmad al-Habbal ar-Rifai, semoga Allah melimpahkan rahmat bagi keduanya. 
Sumber: Fp Al-Habib Ali al-Jufri).

Darimana Mengenal Allah??



Pernah suatu ketika Habib Ahmad bin Hasan Alattas berkunjung ke satu daerah yang di sana kebanyakan penghuninya anti ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati, dll. Kebetulan beliau hadir pada saat shalat Jum'at. Melihat kehadiran seseorang yang gerak-geriknya menunjukkan keluhuran, lalu khatib pun meminta beliau untuk menjadi imam shalat Jum'at.

Ketika Habib Ahmad menjadi imam, bacaan al-Qurannya begitu menyihir jamaah hingga jamaah pun tidak puas apabila beliau hanya menjadi imam shalat saja. Akhirnya setelah shalat beliau diminta lagi untuk memberikan nasehat.

Sebelum memberikan nasehat, beliau mengatakan: "Saya ingin bertanya tapi Anda jangan marah."

Mereka menjawab: "Silakan, kami tidak akan marah."

Beliau kemudian bertanya: "Siapa Tuhanmu?"

Suasana menjadi ricuh karena pertanyaan itu. Namun akhirnya mereka pun menjawab: "Tuhan kami Allah."

Kemudian beliau bertanya lagi: "Siapa Nabimu?"

Mereka menjawab: "Nabi kami adalah Nabi Muhammad."

Kemudian beliau melanjutkan lagi: " Kalau begitu dari mana Anda mengenal Allah dan Nabi Muhammad?"

Mereka lalu bingung. Habib Ahmad akhirnya menjawab: "Kalian mengenal Allah dan Nabi Muhammad bukan lewat wahyu, akan tetapi lewat guru. Apa salahnya kalau kita berziarah ke makam guru kita, mendoakannya dan menyebut namanya."

Mereka hanya terdiam tanpa bisa menjawab.

(Diceritakan oleh Habib Taufiq Assegaf dalam tausiahnya pada acara Haul Imamain al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih di Ponpes Darul Hadits al-Faqihiyah Malang).

18 Mar 2016

Jawaban Allah SWT kepada Ahli Dzikir

Wahai Ahli Dzikir bersabarlah ..


Sepanjang malam seorang lelaki memanggil "Allah"
sampai bibirnya berdarah
kemudian setan berbisik,"
Hey, bodoh! bagaimana bisa kamu memanggil setiap malam dan tidak sekalipun terdengar Allah menjawab "Aku disini"?
kamu memanggil begitu bersungguh sungguh dan jawabannya apa? ngga ada!"
pria itu tiba tiba merasa hampa dan merasa tidak dipedulikan.
sedih dan kecewa, dia jatuhkan dirinya k tanah dan kemudian tenggelam dalam tidur yang dalam.
Kemudian dia bermimpi.

Didalam mimpi dia bertemu dengan Rasulullah Ibrahim AS yang bertanya,
"Kenapa kamu menyesal memuji Allah?"
pria itu menjawab,"Aku memanggil dan memanggil tapi Allah tidak pernah membalas dengan berkata, "Aku disini"

Rasulullah Ibrahim AS menjelaskan, "Allah berkata,
"Kau memanggil namaKu adalah jawabanKu.
Kerinduanmu padaKu adalah pesanKu untukmu.
Semua upayamu untuk menjangkauKu sebenarnya adalah upayaKu untuk menjangkaumu.
Ketakutan dan cintamu adlah tali untuk menangkapKu.
di keheningan yang mengelilingi setiap panggilan pada "Allah"
Terdapat ribuan jawaban "Aku disini" ""
(Mawlana Jalaluddin Rumi)

Hikmah Sufi, Tentang Kehebatan



Salah seorang berkata kepada Abu Sa"id AbulKhaer;
Si Fulan hebat yah karena ia mampu terbang.

Lalu Abu Sa'id menyela, "Hebat apanya, lalat juga terbang!"
Bagaimana dengan si Fulan, apakah ia hebat karena bisa berjalan diatas air? "tanya orang itu."
Kembali Abu Sa'id menyela, "Biasa aja, karena sebatang kayu pun bisa mengawang diatas air!"
Lalu menurutmu, kehebatan itu pada apa? "tanya orang itu."

Kemudian Abu Sa'id menjelaskan, "yaitu engkau berada di tengah-tengah masyarakat, namun lidahmu tak pernah menyakiti hati mereka, engkau tak mendustainya, tak menipunya, tidak memanfaatkan kepercayaan mereka, dan tak ada yang kecewa terhadapmu"
Inilah kehebatan !!!

Dosa-dosamu Jangan Memutus Istiqomahmu



Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
"Manakala anda terjerumus dalam dosa, janganlah kenyataan itu membuatmu putus asa dalam meraih
Istiqomahmu dengan Tuhanmu. Kadang-kadang, – siapa tahu – itulah akhir dosa yang ditakdirkan oleh Allah padamu.”

Jadikan keterjerumusan itu sebagai pintu taubat dan inabah demi beharap kepada Allah Ta’ala, sekaligus sebagai pintu khauf (rasa takut) kepadaNya. Sebab putus asa terhadap rahmat Allah itu bentuk tipudaya yang gelap, bahkan syetan harus berputus asa karena tidak mampu memperdayai anda dibalik tindakan dosa itu.

Imam Al-Ghazaly ra, menegaskan, “Sebagaimana dosa merebut anda, dan kembali kepada dosa sebagai aktivitas anda, maka jadikanlah taubat dan kembali kepadaNya sebagai aktivitas. Karena orang yang beristighfar tidak akan mengulang-ulang dosanya, walau ia mengulang tujuhpuluh kali setiap harinya.”

Kita bisa mengambil pelajaran dari Fir’aun, yang dosanya benar-benar memuncak dan paling besar, toh Allah Ta’ala masih memerintahkan kepada Nabi Musa as dan Nabi Harun as, “Katakan padanya dengan kata-kata yang lembut, siapa tahu ia bisa tersadarkan atau ia memiliki rasa gentar dan takut (Kepada Allah Swt).” (Thaha 44)

Betapa banyak orang yang kembali bertobat dan menjadi Istiqomah gara-gara perbuatan dosanya, dan sebaliknya betapa banyak orang yang akhirnya malah maksiat gara-gara ibadahnya, dimana ia bangga dengan prestasi amal ibadah, lalu takjub pada diri sendiri, kemudian riya’ dan takabur.
Optimisme pada rahmat dan anugerah Allah Ta’ala harus menjadi titik utama ke depan. Karena bila manusia bertaubat dengan taubatan Nasuha, malah seluruh dosanya diampuni.

Tetapi jangan sampai manusia meremehkan perbuatan dosa dengan beralibi, “Allah Maha Ampun, atau ampunan Allah lebih besar dibanding dosanya, atau apa artinya dosaku kalau dibanding rahmat Allah….” dst. Yang menggiring seseorang terbelit dosa terus menerus.
Pandangan Ibnu Athaillah untuk mengingatkan kita agar kita tidak putus asa pada RahmatNya, bahkan dalam kondisi terpuruk oleh dosa sekali pun.

Allah Swt, justru menghampiri kepada para pendosa agar kembali kepadaNya, karena dibalik “kembali” itu ada “cinta” yang begitu agung dariNya. Cinta itu sangat luhur dan besar nilainya disbanding apa pun. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat.” Begitu ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Bahkan di awal kitab Al-Hikam ini disebutkan, “Tanda-tanda manusia bergantung dan mengandalkan amalnya, adalah kehilangan harapan (terhadap rahmat Allah) ketika berbuat dosa.”
Rasa kehilangan akan harapan ampunan dan rahmat adalah bentuk pesimisme yang berbahaya, karena pada saat yang sama seseorang tidak menggantungkan diri pada Sang Pencipta Amal, malah menggantungkan pada amal itu sendiri yang diklaim sebagai perbuatannya.
Padahal amal baik tidak menjamin seseorang masuk syurga, dan amal buruk tidak otomatis seseorang pasti masuk neraka. Masuk neraka itu semata karena keadilan Allah, dan masuk syurga karena rahmat dan ridhoNya.

Bila anda meraih rahmat dan ridhoNya, maka taat dan kepatuhan anda sebagai tanda memang anda ditakdirkan masuk syurga. Sedangkan bagi mereka yang mendapat keadilan Allah Swt, (na’udzubillahi min dzaalik) seseorang ditandai dengan berbuat maksiat dan menuruti nafsunya belaka di dunia.

16 Mar 2016

Ucapan Teladan Dua Waliyullah



Karomah Guru Mulia: al-Habib Umar bin Hafidz
Sayyid Salim bin Umar bin Hafidz menceritakan, salah satu "karomah" yang pernah ia lihat dari sang ayah, Habib Umar bin Hafidz:
"Dulu ... sempat tampak cahaya berbentuk lafadz Allah di kening ayahku(Habib Umar bin Hafidz), melihat "keajaiban" itu, kamipun memberitahu beliau akan hal itu, akan tetapi ia sama sekali tidak mempedulikan ucapan kami, ia bahkan sama sekali tak melihat ke kaca untuk memastikan apakah hal itu benar atau tidak."
Ketika akhirnya banyak orang-orang yang berkata padanya bahwa mereka memang melihat ada lafadz Allah yang tertulis di keningnya,ia hanya berkata pada mereka:
"aku lebih tahu siapa diriku yang hina ini daripada kalian."
_____________
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam Munajatnya
Salah seorang ulama (yang hidup di zaman Syaikh Abdul qadir al jilani) menceritakan salah satu pengalamannya ketika berhaji:
"waktu itu,saat aku melaksanakan tawaf aku melihat seseorang sedang bersujud di dekat multazam. aku dekati orang itu, ternyata ia adalah Syaikh Abdul qadir al jailani, aku mendengar ia berdoa, menangis, dan berkata dalam sujudnya:
"Ya Allah ... andai saja engkau memang tidak ingin mengampuniku kelak di hari kiamat, maka bangkitkanlah aku dari kuburku dalam keadaan buta, hingga aku tak malu kepada mereka yang dulu telah berbaik sangka padaku di dunia."
______________
Ta'liq (Kaitannya dengan 2 kisah di atas):
Mereka para kekasih Allah, meski mempunyai ilmu dan amal sebanyak buih lautan tapi mereka tak pernah terlena dengan apa yang telah mereka lakukan, mereka juga tak pernah buta oleh pujian-pujian orang, mereka selalu meyakini bahwa mereka hanyalah seorang hamba hina yang tak punya apa-apa dan hanya pantas mendapatkan neraka.
Coba bandingkan dengan kita, setiap hari berbuat dosa, sholat tahajjud dua raka'at aja udah ngerasa jadi wali, udah merasa paling -masya Allah- diantara yang lain ... seakan-akan kita sudah memastikan satu tempat di surga.

اللهم انفعنا ببركاتهم... آمين

Sumber, kutipan komen fb Salim Altab

Ketika Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari Ingin Tinggal di Tanah Suci

Kisah Kiai Hasyim Asy'ari Dicegah Habib Abdullah Alattas Tinggal di Tanah Suci



Ada kisah menarik mengenai keputusan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari untuk tetap tinggal di Indonesia (tidak menetap di Mekkah) yang tidak termuat dalam lembaran buku-buku sejarah. Berikut adalah sebagaimana yang pernah dituturkan oleh al-Habib Ahmad bin Abdullah Alattas Bojonegoro.

Alkisah setelah Kiai Hasyim Asy'ari lama belajar agama di tanah suci beliau pulang ke Indonesia. Namun setelah beberapa waktu tinggal di Indonesia, beliau merasa tidak kerasan dan ingin kembali ke tanah suci. Di sana majelis ilmu hidup, tiap hari bisa menimba ilmu langsung dari para ulama Allah yang mutafannin (ahli dalam berbagai bidang ilmu agama), bisa beribadah dengan pahala yang berlipat-lipat, bisa hidup bersama-sama ahli ibadah dan ahli ilmu. Keadaan yang sangat menyenangkan para ahli ilmu dan ahli khair (kebaikan). Sangat bertolak-belakang dengan keadaan di Indonesia yang carut-marut, banyak maksiat dan sepinya majelis ilmu serta kurangnya keinginan orang-orang untuk bertafaqquh fiddin (mendalami dan mengamalkan ilmu agama).

Beliau lalu mengkabarkan 'azamnya (keinginan) ini kepada keluarga dan teman-teman dekat beliau. Ketika berita ini didengar oleh al-Habib Abdullah Alattas (ayah dari Habib Ahmad Alattas, beliau adalah sahabat dekat dari Kiai Hasyim Asy'ari), maka langsung saja sang habib berangkat ke Jombang bersama al-Habib Ahmad (yang waktu itu masih kecil) menuju Tebu Ireng untuk menemui Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari.

Al-Habib Ahmad menuturkan bahwa pada saat itu beliau tidak diperkenankan masuk oleh ayahandanya, tetapi disuruh menunggu di luar ruangan (namun beliau bisa melihat dan mendengar isi pembicaraan kedua ulama ini). Beliau melihat tas-tas yang sudah dipack/diikat siap untuk dibawa pergi. Pada saat itu al-Habib Abdullah mengambil posisi duduk di hadapan Kiai Hasyim Asy'ari dengan kaki yang saling menempel sambil berkata (yang intinya): "Ya Syaikh, ilmu Njenengan (Anda) itu sangat diperlukan di sini. Kalau Njenengan kembali ke tanah suci, di sana sudah banyak orang alim. Ilmu jenengan tidak begitu diperlukan di sana. Indonesia sangat butuh ulama seperti Njenengan!"

Mendengar apa yang disampaikan oleh al-Habib Abdullah Alattas ini lalu KH. Hasyim Asy'ari menangis kemudian merangkul beliau dan mengurungkan keinginannya untuk kembali tinggal di tanah suci. Wallahu A'lam.

Ya Sayyid, Allah Sedang Ngapain?



Pernah terjadi seseorang mengajukan suatu pertanyaan yang menyulitkan kepada Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas al-Maliki, ulama kesohor Mekkah. Sebuah pertanyaan aneh, bukan bermaksud dan bertujuan untuk mengolok, menyudutkan, ataupun menghina. Sayyid Muhammad al-Maliki tahu orang ini tidak suka shalawatan, Maulidan, maupun pengajian. Pertanyaannya adalah, "Allah sekarang sedang ngapain?"

Maka dijawab oleh Sayyid Muhammad dengan penuh keilmuan dan penuh hikmah. "Tahu sekarang Allah lagi ngapain? Allah sekarang lagi bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Dalilnya adalah surat al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya senantiasa bershalawat untuk Nabi (Saw.). Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Yushalluna di sini masuk ke dalam fi'il mudhari' atau present tense di dalam bahasa Inggris, yang mengandung arti senantiasa (sedang dan seterusnya) bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Imam al-Habib Thahir bin Husin al-Haddad bershalawat atas Nabi Muhammad Saw. setiap harinya 25.000 kali.

Sejarah & Keistimewaan Maulid Adh-Dhiyaul Lami'

Adh-Dhiyaul Lami' artinya cahaya yang terang-benderang, merupakan kitab Maulid yang dikarang oleh al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz pada tahun 1994 di Kota Syihr dekat Mukalla, Yaman. Habib Umar bin Hafidz malam itu memanggil seorang muridnya yang penulis lalu berkata: “Bawakan kertas, tulislah”. Kemudian beliau berucap, melantunkan Maulid adh-Dhiyaul Lami' ini mulai tengah malam. Dan sekitar sepertiga malam terakir seluruh kitab Maulid adh-Dhiyaul Lami’ sudah selesai.

Habib Umar bin Hafidz (Guru Mulia) punya keahlian bahasa yang dipadu dengan kekuatan ruh di dalam makrifah dan kedalaman ilmu syariah serta hadits yang beliau miliki. Dari ribuan syair yang ditulis oleh Habib Umar bin Hafidz Maulid adh-Dhiyaul Lami' adalah satu diantaranya.
Guru Mulia mampu menuliskan dengan penuh hampir seluruh dari sejarah Rasulullah Saw. Mulai dari masa lahir, tanggal lahir, bulan, tahun, jumlah peperangan, perjuangan di Mekkah, perjuangan di Madinah, usia, jumlah Ahlul Badr yang wafat, tahun Perang Badr, tanggal, bulan, hingga ratusan sejarah lain yang terjadi di masa Rasulullah Saw. Semua ini termuat di dalam kitab Maulid adh-Dhiyaul Lami’ dengan kodetifikasi-kodetifikasi yang mungkin belum kita pahami. Hal ini dalam kekeramatan auliya disebut "warad". Semacam ilham tapi dari keahlian manusia yang dipadu Allah, disebut juga ladunni.

Hal inilah yang membuat Maulid adh-Dhiyaul Lami' sangat mulia karena angka-angkanya pun menuliskan sejarah Nabi Saw. Semisal bait-bait shalawat pembukanya berjumlah 12, melambangkan kelahiran Nabi Saw. yang lahir tanggal 12 Rabi'ul Awal. Lalu pasal pertamanya dipadu dari 3 surah, yaitu al-Fath, at-Taubah dan al-Ahzab. Tiga surah ini melambangkan kelahiran Nabi Saw. adalah pada bulan ke-3, yaitu Rabi'ul Awal. Dan bila dihitung baitnya dari pasal pertama sampai Mahallul Qiyam jumlahnya 63, melambangkan usia Nabi Muhammad Saw.

Ruh Rasulullah Saw. tak pernah tidak hadir dalam majelis Maulid adh-Dhiyaul Lami’. Banyak para jamaah bermimpi melihat Ahlul Badr, Ahlul Uhud, para wali masa lalu, bahkan para nabi hadir di majelis Maulid adh-Dhiyaul Lami’. Dan Ruh Rasulullah Saw. sudah ada sebelum satu orang pun sampai, dan tidak keluar sebelum tak tersisa satu orang pun.

Ketika Habib Mundzir al-Musawa sudah lama bertahun-tahun tidak jumpa dengan Habib Zein bin Smith Madinah, karena beberapa kali beliau ke Indonesia saya tak sempat jumpa, maka ketika jumpa saya tertunduk-tunduk mencium tangan beliau. Maka Habib Zein dengan santainya berkata: “Ahlan wahai Mundzir...”

Habib Mundzir bertanya: “Wahai Habibana Zein, bagaimana Habib masih kenal nama saya padahal saya lama tak jumpa Habibana?”
“Bagaimana aku lupa namamu? Engkau tiap malam ada di hadirat Rasulullah Saw.” Jawab Habib Zein kemudian.

Hampir jatuh pingsan Habib Mundzir mendengar ucapan itu, dan Habib Zein dengan santainya pergi begitu saja menghadapi tamu-tamu lain.
Pernah seorang terpercaya bertanya saat di Madinah kepada Habib Umar bin Hafidz, “Wahai Guru Mulia, kapan Madinah ini akan membaca Maulid besar-besaran?"

Habib Umar bin Hafidz menjawab, “Aku dan Engkau akan hidup saat pembacaan Maulid Agung di Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha..."

Makanan dari Barzakh

Suatu ketika al-Imam al-Quthb al-Habib Shaleh bin Muhsin al-Hamid Tanggul, Jember, memberi kabar kepada al-Alim al-Allamah al-Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi Kwitang bahwa dirinya pada hari Ahad besok akan hadir di Majelis Kwitang. Kabar tersebut sangat mendadak yaitu di hari Sabtu. Dan sudah menjadi kebiasaan Habib Muhammad al-Habsyi selalu menjamu tetamu yang datang berkunjung, teristimewa pada Habib Shaleh Tanggul.

Waktu itu Habib Muhammad tidak memiliki persiapan apapun. Akhirnya Habib Muhammad berziarah ke makam ayahnya yang berada di samping Masjid Kwitang, untuk mengadukannya, ”Ya Walid, besok Ahad akan ada tamu yaitu Habib Shaleh dari Tanggul. Bagaimana ini ya Walid? Persediaan tidak ada. Tidak pegang fulus. Tolong bantu ya Walid biar Allah Swt. mudahkan, untuk ikram adh-dhuyuf (memuliakan tetamu) ya Walid.”

Setelah itu Habib Muhammad pulang untuk istirahat tidur siang. Setelah beliau terbangun ada tamu yang sudah menunggunya. Tamu itu adalah murid dari ayahnya yang tinggal di Tanah Abang. Dengan sambutan yang khas, Habib Muhammad menerima sang tamu. "Ahlan... apa kabarnya Pak Haji? Dari mana saja? Tumben Sabtu ke sini, ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf ya Habib, ganggu istirahatnya. Ini saya antar kambing dari rumah buat Habib," jawab tamu tersebut.
Tercenganglah Habib Muhammad sejenak, dan langsung berkata, "Ajib... Masya Allah ente tau aja Ji."

Sambil mengikat kambing di pekarangan tamu itu berkata, "Ini yang suruh Abahnya Habib. Tadi saya lagi tidur Habib Ali datang dalam mimpi saya sambil bilang begini: 'Ji, itu kambing ente yang di belakang ente anterin ke walad ana Muhammad di Kwitang. Dia lagi perlu kambing buat menjamu Habib Shaleh dari Tanggul. Lekas ye Ji, kasian walad ana lagi bingung cari buat jamuan besok.' Dapat mimpi begitu saya langsung bangun Bib, langsung saja saya bawa ini kambing ke sini."
Habib Muhammad seraya geleng kepala terkagum-kagum berkata, "Masya Allah… rekes sudah. Syukron ya Ji.”

Esoknya di hari Ahad (Minggu) pagi, Habib Muhammad memimpin pengajian rutin di Kwitang. Tamu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Singkat cerita setelah pengajian selesai Habib Muhammad mempersilakan Habib Shaleh untuk ke kamar yang sudah dipersiapkan. Segala bentuk makanan pun dikeluarkan, termasuk nasi kebuli spesial dengan lauk daging kambingnya.
Sebelum memakannya Habib Shaleh bertanya kepada Habib Muhammad sambil memegang laham (daging kambing yang sudah digoreng), "Ya Habib Muhammad, dari mana ini? Aromanya sungguh menakjubkan tidak seperti biasanya."

"Kemarin ada Pak Haji kirimi kemari, ya Habib." Jawab Habib Muhammad kemudian.
Langsung Habib Shaleh berkata lagi, "Bukan! Ini hadiah dari ahlul barzakh, ya Habib Muhammad. Ayo Bismillah kita makan."
Sambil tersenyum Habib Muhammad mempersilakan para tamu termasuk Habib Shaleh untuk menikmati hidangan dan berkata, "Apa yang Habib Shaleh gak tau... jangan-jangan sudah janjian 'in' dengan Walid Ali."
Kisah ini diceritakan kembali oleh Habib Muhammad al-Habsyi waktu Rauhah Maulid di Kwitang. Semua yang mendengarkannya waktu itu dibuatnya tertawa sebagaimana nampak dalam foto.



Jembatan Siraatal Mustaqim, dan Keutamaan Ahlul Bayt Nabi



Sayyiduna Ali (KW) meriwayatkan melalui Imam Daylami tentang sabda Rasulullah (salLallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam) : “kaki kaki yang paling teguh dari orang orang yang menyebrangi jembatan siraatal mustaqim adalah kaki dari orang orang yang paling mencintai keluargaku dan para sahabatku".

(Al-Sawa’iq al-Muhriqah dari Imam ibn Hajar al-Haytami (‘alayhi al-rahma), dan diulang dalam Ihya-il Mayyit Be Fazaile Ahlul Bayt oleh Imam as Suyuti (semoga rahmat Allah bersamanya):
Tentang para ahlul bait nabi ﷺ sudah jelas dan tak perlu di bahas, dan tentang para Sahabat, Sayyidi Al Habib Umar bin Hafidz menjelaskan:
Jika sehelai rambut dari kepala Sayyidina Abu Bakr al-Siddiq atau salah satu dari Para sahabat, baik dari Muhajirin dan Ansar, sehelai rambut itu dibelah dan dibagikan kepada kita yang hadir dalam pertemuan (majlis) ini, niscaya tak ada satupun dari kita yang bisa tidur berbulan bulan..
Hal ini karena setiap helai rambut yang ada di kepala mereka, terkandung kebenaran yang haq, lengkap, sempurna, tulus dan cinta yang mendalam pada Rasulullah ﷺ .
Untuk alasan ini mereka tidak bisa tidur. Mereka akan meninggalkan tempat tidur mereka, keluarga mereka, 

makanan dan minuman mereka untuk melihat wajahnya ﷺ.
Mereka tidak bisa menahan diri sampai mereka telah melihat wajahnya, meskipun mereka telah melihat beliau beberapa saat sebelumnya. Salah satu dari mereka mengatakan: "Wahai Rasulullah, aku selalu ingat engkau sewaktu di rumah, ketika aku sedang bersama dengan istri dan anak-anak ku, dan aku menjadi seperti
seseorang gila (karena rindu dan cinta)".
Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aali Sayyidina Muhammad