CintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada, dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Dia sudah menemukanku, sebelum aku mencariNya (Abu Yazid Al-Bustami qs)

23 Okt 2013

Waliyullah atau Wali Gila, Antara Tasawuf dan Psikologi



Terdapat seorang sufi yang melakukan perbuatan diluar kewajaran agama dan tradisi. Di dalam sufi seorang salik (pelaku ritual kesufian) yang telah mencapai trance (puncak kondisi sufi hingga lupa akan dirinya) sering melakukan hal-hal diluar kebiasaan manusia pada umumnya. Kondisi demikian banyak orang menyebutnya jadzb, yang dalam dunia sufi ini dijadikan sebagai tanda atau bukti derajat kewalian.

Istilah wali banyak dikembangkan oleh kaum syi’ah, karena erat hubungannya dengan pemberian wahyu yang melingkupi mereka. Puncak dari wali adalah ‘Ali Ibn Abi Thalib, sementara imam Syi’ah yang diyakini ma’shum juga dinggap wali. Namun demikian, kaum sunni juga meyakini adanya wali. Hanya saja, wali di kalangan sunni tidak ma’shum, akan tetapi ada istilah lain yaitu mahfuzh. Kaum sunni tidak pernah berpendapat bahwa selain nabi atau rasul adalah ma’shum. 
Dalam bingkai epistemology Islam, sufi merupakan salah satu kekayaan khasanah intelektual Islam. Untuk memahami pernyataan-pernyataan atau tingkah laku para sufi, kita harus menggunakan perspektif yang sama, agar hasilnya menjadi lebih obyektif. Dalam literatur tasawuf ada dimensi ruhani dan dimensi jasmani. Dimensi ruhani diartikan sebagai sifat-sifat ketuhanan yang ada di dalam diri manusia seperti kasih sayang, mahabbah atau kesucian. Sedangkan dimensi jasmani Tuhan atau dimensi kemanusiaan Tuhan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di sisi Tuhan yang pada dasarnya manusia adalah perwujudan dari Tuhan di bumi.

1.  Eksistensi Jadzb dalam Tasawuf
Jazdb sebagai jalan spiritual seorang salik, menuju pengalaman rohani yang lebih tinggi ketimbang melalui jalur tarekat. Jadzb merupakan keniscayaan yang harus dijalani manusia, artinya bukan pilihan hidup. Kata Jadzb berasal dari kata kerja Jadzaba, yang berarti menarik, memikat, dan menawan (hati), memindah dari suatu tempat, cepat, atau sebuah jarak. Dalam al-Qur’an terdapat dalam surat Al-Syura’13 yang sering digunakan sebagai arhumentasi oleh para ulama; 
Para ulama sering mendifinisikan jadzb dengan tarikan Ilahiyah pada seorang hamba yang Dia kehendak, agar hamba itu lebih dekat kepada-Nya dengan mendapat pertolongan-Nya secara langsung tanpa ada usaha atau susah payah (anugerah/minnah) dan kehendak (masyi’ah). Bentuk jadzab ada dua, yakni yang sadar dan tidak sadar artinya Ada jadzb yang dirasakan dalam batin dan tidak nampak, dan adapula yang terlihat dari luar.
  Jazb dalam tasawuf, secara umum, ada yang muktasab (dapat diusahakan atau diperoleh) dengan jalan mujahadah dan ada yang ghayr muktasabm (tidak dapat diusahakan) atau merupakan minnah dan masyi’ah langsung dari Allah.
Berkaitan dengan wali majdzub-yaitu seorang wali yang mendapat tarikan Ilahiyyah dengan minnah dan masyi’ah-Nya, sebagai bentuk cara menjadi wali lebih cepat, ia juga mempunyai pengalaman keberagaman, yang secara otomatis mempunyai kesadaran mistis.

Kesadaran Spiritual
Kesadaran batin yang paling dalam merupakan perkembangan jiwa manusia yang sempurna. Dimana seorang sufi mampu melihat Allah melalui Allah, dan hanya Allah-lah yang merupakan kesadarannya yaitu berisi pengetahuan tentang realitas-realitas yang berlapis-lapis, yang terangkum dalam ke-Esaan Allah SWT. Kesadaran batin terdalam ini yang juga aspek terdalam hikmah, yaitu sebuah kesadaran dimana para sufi merasakan dan mendapat kenikmatan di dalamnya. Dan dengan kondisi itu, mereka menjadi bahagia, yang tidak dapat dilihat oleh akal.
Menurut Al-Ghozali, kesadaran hati manusia ada dua. Pertama yaitu kesadaran terhadap alam malakut (berhubungan dengan al-lawh al-mahfuzh dan alam malaikah). Alam ini hanya dapat dipelajari dengan penuh keyakinan, dengan mengangan-angan pada aja’ib al-ru’ya (keajaiban mimpi). Kedua, yaitu kesadaran terhadap alam empiris, maksudnya bahwa hati mampu memahami dan merespon terhadap semua informasi yang diberikan oleh panca indera. Bernard Spilka dkk, telah membuat sebuah table menarik berisi mode of consciousness (bentuk kesadaran) yang dikaitkan dengan frekuensi gelombang otak yang didapat melalui sebuah penelitian keasadaran manusia saat melakukan meditasi atau ibadah dengan menggunakan electroda.

Frekuensi Gelombang Otak
Bentuk Consciousness
Beta (di atas 13 cps*)
Pikiran masih aktif dengan mata terbuka yang berorientasi pada external world (dunia luar)
Alpha (8 hingga 12 cps)
Santai, namun masih sadar. Mungkin mata tertutup dan berorientasi pada internal world (dunia dalam)
Theta (4 hingga 7 cps)
Mengantuk dan merasakan mimpi yang berubah-ubah, bagai angan-angan yang mungkin terjadi.
Delta (hingga 4 cps)
Tidur yang pulas. Seseorang mempunyai consciousness, meskipun ia tidak menyadari atau tidak sadar.
* cycles per second = putaran per menit

            Dari segi brain wafe-nya, seorang wali majdzub yang berada dalam kondisi terpesona dengan keindahan Tuhan serta melayang dalam keesaan Tuhan, dapat dikatakan dalam tingkatan alpha dan theta.
            Wali Majdzub, jika dilihat dari kesadarannya, mereka ada yang masih sadar dengan eksistensi dirinya, dan ada yang kehilangan control kesadaran normalnya.
Bagi wali majdzub wali majdzub yang masih mempunyai kesadaran dan kekuatan mental serta kesiapan menerima jadzab, maka dia akan tetap sadar terhadap eksistensi ciptaan Allah dan dirinya, mampu berpikir secara rasional, dan mempunyai mukasyafah (terbukanya rahasia-rahasia Ilahiyyah) baginya. Atau dengan kata lain, di bisa mengakses alal malakut dan alam hissi. Dalam bahasa psikologi, SoC (state of consciousness) dan ASoC (altered state of consiousness) orang tersebut sama-sama berfungsi dengan baik. Sehingga ada keseimbangan yang menyebabkan adanya keutuhan kesadarannya.
Berbeda dengan wali majdzub yang kehilangan control kesadarannya, yang sudah tidak sadar terhadap fenomena social yang ada di sekitarnya, kesadaran mereka lebih condong dan didominasi oleh alam malakut, malakut, yang tidak diketahui oleh banyak orang. Jika dilihat, orang semacam ini, kesadaran ASoC-nya lebih besar dan mendominasi daripada SoC. oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ada wali majzdub yang tidak puasa di bula Ramadhan atau meninggalkan shalat fardhu. Menurut al-Dabusi , kondisi seperti ini merupakan tingkatan yang terakhir yang menyebabkan linglung-bingung dengan mabuk, yaitu sakrah li al-mahabbah (mabuk cinta yang berasal dari ma’rifat Allah yang sejati), sakrah al-khasyyah (mabuk karena takut, yang timbul dari pengetahuan hamba tentang dirinya dengan sifat-sifat-Nya), sakrah al-humiyyah (mabuk karena semangat yang menggelora yang berasal dari keyakinan kewajiban taat terhadap perintah dan larangan Allah), dan sakrah al-minnah (mabuk karena anugerah, yang berasal dari keyakinan bahwa berbuat baik adalah dari Allah SWT). Kemudian jika mereka telah kembali dari alam kesatuan menuju alam eksistensi ciptaan dan sadar terhadap eksistensi dirinya, maka seluruh perbuatan mereka bisa dipertanggung jawabkan dan ajara-ajaran syariat yang ada juga kembali berlaku pada mereka.

Kisah-kisah wali majdzub
Pertama, mereka yang cenderung lebih terlihat karamahnya di sisi manusia:
1)      Syaikh Baha’ al-Din al-majzdub ra. Beliau termasuk dalam jajaran ahli ma’rifat tingkat tinggi. Ilmu mukasyafah-nya tidak pernah salah dan sangat masyur di kalangan pejabat Mesir dan kalayak umum. Apabila beliau memprediksi seseorang akan menjadi pemimpin, atau dipecat dari jabatannya, maka terjadilah apa yang ia katakana itu.
2)      Sayyid al-Syarif al-majdzub ra, beliau bersikap seperti orang gila berada di rumah sakit jiwa al-Manshiri. Meskipun demikian, beliau mempunyai kasyf dan menguasai persoalan-persoalan berat atau kesusahan orang-orang yang mengingkari eksistensinya. Suatu ketika beliau pernah menyembuhkan sakit yang diderita seseorang yang sudah berlangsung selama lima puluh tujuh hari, yang disebabkan oleh makan roti yang beliau kirimkan pada al-Sya’rani. Selain itu, Sayyid Syarif dengan terang-terangan menelan rumput-rumput kering yang ada. Namun aneh, suatu hari mereka menemukan rumput yang dimakan sang Syaikh terasa seperti manisan. Beliau juga diberi oleh Allah sebuah pengetahuan yang dapat membedakan antara orang-orang celaka dan orang-orang yang beruntung di dunia ini.
3)      Syaikh ‘Abd al-Al al-majdzub ra, yang dimakamkan dekat dari Qantharah. Saat mendekati kematiannya, beliau sudah mengetahui tempat di mana dia akan meninggal dan dikebumikan. Dan terjadilah peristiwa itu sesuai dengan apa yang beliau katakana.

Kedua, wali majdzub yang melakukan kemungkaran dan meninggalkan serta melanggar syari’at:
1)      Syaikh Ibrahim al-uryan, beliau berkhutbah dengan telanjang bulat. Meskipun demikian, seusai dia khutbah, banyak orang yang merasa gembira. Dan saat sadar, ia sangat halus dan sopan berbicaranya, hingga orang-orang di sekitarnay enggan meninggalkannya.
2)      Sayyid Ibrahim al-majdzub ra, yang terkenal dengan sebutan al-Syaikh Ibrahim al-nubah, yang suka dengan tabuhan gendang atau tiupan seruling. Beliau selalu memberikan uang yang dihasilkannya kepada penabuh gendang, seraya berkata: “tabuhlah gendang untukku. Tiuplah seruling untukku.”
3)      Syaikh Ahmad, yang dipanggil dengan sebutan Hamdah al-majzdub al-shahi. Beliau selalu berada berada di antara wanita tuna susila (WTS) di Bab al-Futuh. Namun diluar dugaan, mayoritas wanita itu mati sudah dalam keadaan taubat, karena barakah-nya wali Ahmad. Bahkan tak jarang mereka justru menempati jenjang-jenjang spiritual tertentu.


2. Membongkar Wali Majdzub dalam Pandangan Ulama dan Psikologi
Pandangan Ulama
Dalam merespon wali majdzub, para ulam berbeda-beda pendapat. Ada yang menolak dengan keras, namun ada juga yang menerimanya dengan penuh apresiasif.
Golongan yang menolak mentah-mentah antara lain:

-          Abdurrahman Abdul Khaliq. Dia bersikap demikian karena hanya melihat sisi luar dari perbuatan yang dilakukan oleh wali majdzub yang melanggar batas-batas syari’at, seperti minim-minuman keras, bergaul dengan para WTS dan berdansa dengan mereka, dan mengumbar nafsu kebinatangan di hadapan manusia. Bahkan dia menyebut wali majdzub sebagai orang yang ingin merusak ajaran al-Qur’an dan hadis, dengan memasukkan ajaran sesatnya itu ke dalam Islam, disamping membuat argument-argumen yang membela posisi dan perbuatannya, hingga seolah-olah benar menurut syariat dan menganggapnya sebagai orang yang mengaku dirinya jadzb.

-Ibn Taimiyyah juga menolak keras, bila seorang majnun (gila) dikatakan sebagai seorang wali. Karena seseorang dapat dikatakan wali, jika ia konsisten dalam menjalankan ajaran al-Qur’an dan hadis atau mengikuti syariat Islam. Sedangkan orang majnun, semua amal kebaikannya, keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah tidak akan diterima. Karamah yang ia miliki, adalah kekuatan yang bersumber dari setan.

-Fazlur Rahman memandang bahwa eksistensi para wali majdzub adalah orang-orang yang lain hanyalah sebagai penyeleweng-penyeleweng spiritual. Yaitu syeikh-syeikh sufi yang bergaya sulap tukang obat, pengemis parasitis, dan para darwis tukang pemeras orang yang juga sebagai juru bicara agama Islam.
Adapun tokoh yang mengapresiasi wali majdzub dengan penuh bijaksana diantaranya adalah Ibn Atha’ Allah, al-Hakim al-Tirmidzi, dan Mihrabi, dengan berbagai alas an:

-Wali majdzub bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran amar ma’ruf nahi munkar. Terlihat ketika sering bergaul dengan WTS.

- Ilmu mukasyafah-nya dapat memberi manfaat pada diri dan lingkunganny Setiap kejadian yang mereka lakukan bersifat simbolis, yang sulit diterima seketika, dan membutuhkan penalaran lebih jauh.

Dari seluruh sikap luar yang nampak pada wali majdzub jika dikaitkan dengan ajaran-ajaran tasawuf, mereka dapat digolongkan sebagai golongan malamatiyyah yakni golongan yang tidak pernah menampakkan perbuatan baik atau menyimpan kejelekan dalam hati mereka.

Pandangan Psikologis
Untuk mengidentifikasi seseorang, apakah sedang mengalami jadzb atau mengidap penyakit psikologis, sangatlah sulit. Karena keduanya berbeda permasalahannya, yakni berupa pengalaman keagamaan (religious experience) yang bersifat dzawqiyyah (perasaan), yang bersifat psikologis. Diantara penyakit psikologis yang indikatornya ada kemiripan dengan apa yang dialami oleh wali majdzub antara lain: stress, depresi, psikosa, psikoneurose, dan psikopat.  
Stress adalah gangguan yang ditandai dengan besarnya semangat, tajamnya penglihatan tidak seperti biasanya, energy dan gugup yang berlebihan. Secara umum, stress menunjukkan manifestasi di bidang fisik dan psikis, yakni berupa kelelahan dan kecemasan sertqa depresi. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan, yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, tidak ada gairah hidup, perasaan tidak berguan, dan putus asa. Psikosa fungsional adalah sebuah penyakit mental yang cukup parah yang disebabkan oleh factor-faktor non-organis, dan ditandai oleh disorientasi fikiran, gangguan emosional, halusinasi, dan delusi. Psikoneurosis hakikatnya bukanlah penyakit. Akan tetapi yang diderita adalah ketegangan pribadi yang berjalan secara terus menerus, yang diakibatkan oleh konflik-konflik dalam diri orang tersebut yang tidak dapat diatasi. Psikopat, yaitu kelainan tingkah laku yang ditandai dengan anti social. Penderitanya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungannya.
            Wali majdzub jika dilihat dari segi perbuatan lahiriyyahnya, dapat dikatakan telah mengidap penyakit gangguan jiwa. Dia dapat dikatakan sedang mengalami stress tingkat III atau IV bahkan depresi. Dan secara umum, para wali majdzub dikatakan sebagai orang gila. Namun, apakah memang demikian. Bagi seorang wali majdzub yang tidak sadar hingga menampakkan aktivitas abnormal dikarenakan karena kesadarannya berada dalam keesaan Ilahi. Di samping itu, mereka melihat realitas yang ada sebagai satu kesatuan yang utuh. Sehingga sudah tidak ada perbedaan apapun baginya. Semuanya sama, hanya Allah-lah yang ia lihat. Berbeda dengan penyakit jiwa yang ditimbulkan oleh problematika kehidupan yang tidak dapat diatasinya, yang mungkin sangat menekan atau menghimpitnya, baik bersifat psikologis atau yang lain.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengalaman batin yang dialami oleh wali majdzub dan orang yang mengidap penyakit jiwa jelas sangat berbeda. Pengalaman spiritual wali majdzub lebih terarah dan teruji validitasnya, dan jauh lebih sempurna, daripada pengalaman batin seorang pengidap penyakit jiwa yang cenderung ngelantur dan tak terarah.


Kesimpulan
Berangkat dari perdebatan para ulama tentang wali majdzub, dengan berbagai argumentasi yang melatarbelakanginya, maka sebaiknya, ketika ingin mengetahui dan menilai sesuatu hendaknya dilihat secara komprehensif dan obyektif dari berbagai segi. Sehingga disitu, diharapkan akan melahirkan pemikiran positif-konstruktif-solutif atas permasalahan yang ada.
Bagi kita, dalam mensikapi wali majzdub sebagaimana tersebut dia atas, yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan sikap husn al-zhan, berbaik sangka (positive thinking) terhadap semua orang yang kita jumpai, tak terkecuali kepada wali majdzub. Karena apa yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang kita anggap jelek, belum tentu jelek dalam pandangan Allah. seringkali kita saat memperhatikan orang lain, kita terpengaruh oleh tampilan luar yang kamoflase sifatnya dan penuh kepalsuan. Karena, ditinjau dari jenis pengujian validitas kegilaan sufi dapat dimasukkan ke dalam kelompok otoritas. Artinya, bahwa pengetahuan tentang kegilaan sufi merupakan sebuah pengetahuan yang hanya dapat diperoleh dari orang yang pernah mengalami kegilaan atau jadzb itu sendiri (la ya’rifu al-wali ila al-wali), sehingga pengetahuan tentang kegilaan sufi ini akan menjadi sangat absurd ketika diambilkan dari orang yang tidak pernah mengalaminya.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: